Kamis, 16 April 2020

JAGA DIRI DAN KELUARGA DARI COVID 19 MELALUI GERMAS DALAM BAHASA AGAMA

JAGA DIRI DAN KELUARGA DARI COVID 19 MELALUI GERMAS
(Langkah Ke-1: Makan dengan Gizi Seimbang)

Oleh: Alfiatu Solikah, S. Ag., M.Pd.I.


Penulis adalah seorang penyuluh agama Islam yang sekaligus seorang Kader Posbindu Institusi di Kabupaten Kediri. Usai penulis mengikuti Bimtek kader Posbindu Provinsi Jawa Timur bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, penulis merasa punya tanggungjawab untuk menuangkan beberapa cara menjaga diri dan keluarga dari covid 19 melalui gerakan masyarakat hidup sehat yang tentunya dalam bahasa agama.

Berdasar Standar Operasional Prosedur (SOP) KemenKes, bahwa cara menjaga diri dan keluarga dari covid 19 melalui gerakan masyarakat hidup sehat meliputi:
  1. Makan dengan gizi yang seimbang
  2. Rajin olah raga dan istirahat yang cukup (klik disini)
  3. Jaga kebersihan lingkungan (klik disini)
  4. Tidak merokok (klik disini)
  5. Cuci tangan pakai sabun (klik disini)
  6. Gunakan masker dan bila bersin dan batuk tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam (klik disini)
  7. Minum air mineral 8 gelas per hari (klik disini)
  8. Makan makanan yang dimasak sempurna dan jangan makan daging dari hewan yang berpotensi menularkan (klik disini)
  9. Bila demam dan sesak nafas, segera ke fasilitas kesehatan (klik disini)
  10. Jangan lupa berdoa (klik disini)

Dari SOP di atas, berikut penulis uraikan berdasarkan dalam bahasa agama. Pada bagian pertama ini, penulis hanya akan membahas tentang makan dengan gizi seimbang dalam bahasa Rosulullah saw.

Gizi Seimbang adalah prinsip pengonsumsian makanan harian yang didasarkan pada angka kecukupan jenis dan jumlah zat gizi sesuai karakter (usia, jenis kelamin, dan kondisi fisiologis) dan memerhatikan 4 pilar gizi seimbang.

Perbedaan prinsip gizi seimbang dengan prinsip 4 sehat 5 sempurna. Prinsip 4 sehat 5 sempurna hanya menekankan pada adanya 5 jenis makanan, yaitu makanan pokok, lauk-pauk, sayur, buah, dan susu. Seiring perkembangan zaman dan permasalahan gizi, prinsip ini sudah tidak relevan. Makanan gizi seimbang tidak cukup hanya dengan memerhatikan kehadiran 5 jenis makanan tersebut melainkan juga perlu mencukupi jenis dan jumlah zat gizi sesuai usia dan fisiologis.

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ 
Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (Al A’raf: 31).

Rasul selalu menganjurkan umatnya untuk makan dan minum secukupnya dan menghindari perilaku boros. Tidak hanya itu Rasul juga menyebutkan bahwa perut atau lambung terbagi menjadi tiga bagian, sepertiga untuk udara, sepertiga untuk makanan dan sepertiga untuk minuman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini.

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas” (HR At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah (3349), Ahmad (4/132), dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahiholeh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2265)

Karena, perut yang penuh dengan makanan bisa merusak tubuh. Syaikh Muhammad Al-Mubarakfury menjelaskan,


ﻭﺍﻣﺘﻼﺅﻩ ﻳﻔﻀﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺴﺎﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺪﻧﻴا
“Penuhnya perut (dengan makanan) bisa menyebabkan kerusakan agama dan dunia (tubuhnya)” (Tuhfatul Ahwadzi, Cet Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Prinsip gizi seimbang, menekankan pada kehadiran jenis dan jumlah zat gizi menerapkan 4 pilar gizi seimbang:

  1. Mengonsumsi makanan beragam, karena tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi, kecuali ASI (untuk bayi 0-6 bulan). Beberapa karakteristik makanan yang dianjurkan Allah adalah: Pertama, Makanan yang sehat adalah makanan yang memiliki zat gizi yang cukup dan seimbang. Dalam Al Qur’an disebutkan sekian banyak jenis makanan yang sekaligus dianjurkan untuk dimakan, misalnya padi-padian (QS Al-Sajdah [32]: 27), pangan hewani (QS Ghafir [40]: 79), ikan (QS Al-Nahl [16]: 14), buah-buahan (QS Al-Mu’minun [23]: 19; Al-An’am [6]: 14l), lemak dan minyak (QS Al-Mu’minun [23]: 21), madu (QS Al-Nahl [16]: 69), dan lain-lain. Penyebutan aneka macam jenis makanan ini, menuntut kearifan dalam memilih dan mengatur keseimbangannya. Kedua, Proporsional, dalam arti sesuai dengan kebutuhan pemakan, tidak berlebih, dan tidak berkurang. Karena itu Al Qur’an menuntut orang-tua, khususnya para ibu, agar menyusui anaknya dengan ASI (air susu ibu) serta menetapkan masa penyusuan yang ideal. Para ibu (hendaklah) menyusukan anaknya dua tahun sempurna, bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuan (QS Al-Baqarah [2]: 233). 
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih, Hubungan antara hidup bersih dengan keseimbangan gizi merupakan satu hal yang timbal balik. Kurangnya kesadaran terhadap kebersihan memberi resiko besar mendatangkan penyakit, sehingga memicu terjadinya infeksi di dalam tubuh. Infeksi ini berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Kontaminasi bakteri pada tubuh dan makanan bisa dihindari atau setidaknya dikurangi peluangnya dengan meningkatkan kebersihan diri. Rosulullah saw melakukan wudlu sebelum dan sesudah makan. Tidak hanya sebelum melakukan shalat wajib maupun shalat sunnah, Rasul juga berwudhu sebelum makan untuk menghindari gangguan setan dan menghilangkan kefakiran sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut .
الْوُضُوءُ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ
“Harus wudhu karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Muslim 814)

تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ
“Berwudhulah karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Ahmad 7819, Muslim 815)

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah disebutkan,

تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

Artinya : “Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah ta’ala membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.” (HR Ath-Thabrani).

Hadits lain menyebutkan,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ , نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ , كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ , جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ , فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ

Artinya “Sesungguhnya Allah itu baik dan mencintai kebaikan, Bersih (suci) dan mencintai kebersihan, Mulia dan mencintai kemuliaan, bagus dan mencintai kebagusan, bersihkanlah rumahmu….” (H.R.Tirmidzi dari Saad).

3. Melakukan aktivitas fisik, Saat tubuh dalam keadaan sehat dan normal, rutin melakukan berbagai kegiatan fisik seperti olahraga sangat dianjurkan. Minimal 150 menit dalam seminggu bagi orang dewasa yang bisa dibagi menjadi 2-4 sesi. Sementara anak-anak umumnya lebih aktif. Tujuan rutin berkegiatan fisik adalah agar sistem input-output dalam tubuh yangberupa gizi dan energi menjadi seimbang.

Rosulullah mengajarkan beberapa olah raga seperti: lomba lari 1) Diceritakan oleh Aisyah RA: "Rasulullah SAW mendahuluiku, kemudian aku mendahului beliau, begitulah seterusnya. Hingga saat badanku sudah gemuk, kami pernah berlomba dan beliau yang memenangkan perlombaan itu. Kata beliau, "Kemenangan kali ini merupakan balasan atas kekalahan yang lalu." (HR. Ahmad dan Abu Daud). 2) Bergulat: “Sesungguhnya Rasulullah gulat dengan Rukanah yang terkenal kekuatannya itu, kemudian ia berkata; Domba lawan domba. Kemudian Rasulullah bergulat dan beliau bersabda : Berjanjilah denganku untuk (melakukan gulat) lagi di lain waktu. Kemudian Rasulullah bergulat seraya bersabda: Berjanjilah denganku, lalu Rasulullah saw bergulat untuk ketiga kalinya. Kemudian orang itu bertanya; apa yang harus saya katakan kepada keluargaku? Rasulullah saw menjawab: Katakan “domba telah dimakan oleh serigala, dan seekor dombapun lari.” Kemudian apa pula yang saya katakan untuk yang ketiga? Rasulullah saw menjawab : Kami tidak dapat mengalahkan kamu untuk bergulat karena itu ambillah hadiahmu.” (HR. Abu Daud). 3) Panahan: Rasulullah bersabda : “Lemparlah panahmu itu, dan saya bersama kamu sekalian.” (HR. Bukhari). “Kamu harus belajar memanah, karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (HR. Bazzar dan Thabrani). 4) Anggar: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ia berkata : “Ketika orang-orang Habasyah sedang bermain anggar di hadapan Nabi , tiba-tiba Umar masuk kemudian mengambil kerikil dan melemparkannya kepada mereka. kemudian Rasulullah berkata kepada Umar : Biarkanlah mereka itu, wahai Umar.” (HR. Bukhari dan Muslim). 5) Berkuda: “Sesungguhnya Rasulullah pernah mengadakan pacuan kuda dan memberi hadiah kepada pemenangnya.” (HR. Muslim). 6) Berenang: Rasulullah SAW bersabda: "Ajarilah anakmu (olahraga) berenang dan memanah " (HR. Dailami).

4. Mempertahankan dan memantau berat badan (BB) normal, mempertahankan dan memantau berata badan normal. Atur makanan, sudah. Jaga kebersihan, sudah. Olahraga, sudah juga. Untuk melengkapinya, satu lagi yang perlu kamu lakukan: pantau berat badanmu. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut dengan makanan, beliau berkata,

لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة
Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah.” Siyar A’lam An-Nubala 8/248, Darul Hadits, Koiro, 1427 H, Asy-Syamilah)

Jika sampai full kekenyangan yang membuat tubuh malas dan terlalu sering kekenyangan, maka hukumnya bisa menjadi haram. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan:

وما جاء من النهي عنه محمول على الشبع الذي يثقل المعدة ويثبط صاحبه عن القيام للعبادة ويفضي إلى البطر والأشر والنوم والكسل وقد تنتهي كراهته إلى التحريم بحسب ما يترتب عليه من المفسدة

Larangan kekenyangan dimaksudkan pada kekenyangan yang membuat perut penuh dan membuat orangnya berat untuk melaksanakan ibadah dan membuat angkuh, bernafsu, banyak tidur dan malas. Hukumnya dapat berubah dari makruh menjadi haram sesuai dengan dampak buruk yang ditimbulkan (misalnya membahayakan kesehatan, penyakit).” )Fathul Bari 9/528, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, Asy-Syamilah(

Inilah 10 pesan Gizi Seimbang untuk semua kelompok usia:
1) Syukuri dan nikmati anekaragam makanan
2) Banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan
3) Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi
4) Biasakan mengonsumsi anekaragam makanan pokok
5) Batasi konsumsi pangan manis (gula), asin (garam), dan berlemak (minyak dan mentega)
6) Biasakan Sarapan
7) Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
8) Biasakan membaca label pada kemasan pangan
9) Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir
10) Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan normal (Sumber: Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan)

Dari prinsip makan di atas, berikut penulis uraikan tuntunan makan dalam Islam sesuai tuntunan Rosulullah saw, yang belum terjabar pada uraian di atas. Rosulullah Muhammad SAW adalah suri tauladan bagi umat Islam dan segala perilakunya menjadi pedoman hidup bagi seluruh manusia. Tidak hanya akhlak yang mulia dan tuntunannya dalam beribadah, Rasul juga mencontohkan pada umatnya bagaimana cara melakukan sesuatu dengan baik dan benar seperti halnya saat makan.

 Makan dengan tangan kanan
Seorang muslim hendaknya mengikuti sunnah Rasul untuk senantiasa makan dengan tangan kanan dan menurut para ilmuwan hal ini bermanfaat bagi kesehatan terutama untuk melatih saraf sensorik pada tangan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. Dari Ibu 'Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
لاَيَأكُلُ أَحَدُكُمْ بِشِمَالِهِ وِلاَ يَشْرَبَنَّ بِهَا٬ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِهَا
"Janganlah seseorang di antara kalian makan/minum dengan tangan kirinya. Sebab setan makan dan minum dengan tangan kirinya" (HR. Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Malik)

 Berdoa sebelum dan seudah makan
Mengawali segala sesuatu dengan doa sangat dianjurkan bagi umat Islam karena dengan membaca doa seseorang dapat menghindari gangguan setan yang dapat melemahkan iman dan ibadah seseorang. Berdasarkan hadis riwayat Ibn al-Suni dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra diterangkan bahwa apabila beliau dihidangkan suatu makanan, beliau membaca doa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّار
(Ya Allah berkahilah rizki yang telah Engaku berikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa neraka)

Dalam hadis riwayat Abu Dawud, al-Tirmidzi dan Ibn Majah dari Abu Said al-Khudri diterangkan bahwasanya Rasulullah Saw apabila selesai makan beliau membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِين
(Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makan dan minum kepada kami dan menjadikan kami sbagai kaum muslimin)

 Duduk saat makan dan tidak bersandar atau berdiri
Seorang muslim Hendaknya tidak makan atau minum sambil berdiri maupun menyandar dan makan maupun minum sambil duduk. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا آكُلُ مُتَّكِئًا
Aku tidak makan sambil duduk itka’.”

Itka’ yaitu semua cara duduk yang bisa membuat tenang dan santai saat makan. Karena duduk semacam ini mendorong seseorang makan lebih banyak sementara hal ini tercela dalam syariat.

Oleh karena itu Imam Nawawi berkata,
لَا آكُل أَكْل مَنْ يُرِيد الِاسْتِكْثَار مِنْ الطَّعَام وَيَقْعُد لَهُ مُتَمَكِّنًا, بَلْ أَقْعُد مُسْتَوْفِزًا, وَآكُل قَلِيلًا
Makna hadits diatas, ‘Aku tidaklah makan makanan seperti orang yang ingin banyak makan lalu dia mengambil posisi duduk yang nyaman. Namun aku duduk seperti orang yang akan bangkit serta makan sedikit.” (Syarh Muslim)

Al Haafidz Ibnu Hajar menjelaskan, “(Para ulama) berbeda pendapat tentang cara duduk itka’. Ada yang berpendapat itka’ adalah semua jenis duduk yang bisa membuat nyaman saat makan bagaimanapun posisinya. Pendapat lain mengatakan itka’ yaitu duduk miring ke salah satu sisi (kanan atau kiri). Ada yang mngatakan itka’ adalah duduk dengan bersandar pada tangan kiri (yang tegak diatas) tanah.

Al Khathabi mengatakan, “Orang awam mengira bahwa duduk itka’ saat makan berarti makan sambil duduk miring ke salah satu sisi saja. Anggapan ini tentu tidak benar. Bahkan duduk itka’ itu dengan cara duduk dengan bersandar pada alas yang ada dibawahnya. Sehingga makna hadits tersebut adalah ‘Aku tidak duduk santai diatas bantal saat makan seperti yang dilakukan orang yang menyantap banyak makanan. Aku tidaklah makan kecuali secukupnya sesuai kebutuhan. Karena itu aku duduk seperti orang yang hendak bangkit.” Fathul Baari (9/541), Ma’aalimussunan Al Khathabi (4/242), Zaadul Ma’aad (4/202)

Al Qari berkata dalam Al Mirqah, “Dinukil dalam Asy Syifa’ dari ulama peneliti bahwa mereka mendefinisikan itka’ adalah duduk santai, tenang saat makan seperti duduk bersila di atas alas. Karena posisi duduk seperti ini mendorong seseorang banyak makan dan termasuk gaya duduk orang sombong. (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud 10/244)

Kedua, adapun posisi duduk yang dianjurkan bagi orang yang hendak makan.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا
Aku melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam duduk iq’a saat makan kurma.” (HR. Muslim No 3807)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Duduk iq’a yaitu menegakkan kedua telapak kaki lalu duduk diatas kedua tumitnya. Maksud beliau shallallahu’alaihi wasallam makan seperti ini agar beliau tidak tenang saat duduk dan tidak makan banyak. Karena umumnya orang yang duduk iq’a tidak bisa tenang sehingga tidak banyak makan. Sebaliknya jika seseorang duduk tenang, santai maka umumnya akan banyak makan.” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menegaskan, “Posisi duduk yang disunnahkan saat makan yaitu duduk dengan bertumpu pada kedua lutut dan kedua punggung telapak kaki atau duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.”

Kesimpulan, 3 jenis duduk yang dianjurkan ketika makan:
1) Duduk iq’a
2) Duduk bertumpu pada kedua lutut dan punggung telapak kaki.
3) Duduk diatas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang paling baik hendaknya seseorang tidak duduk santai, tenang saat makan agar tidak menyebabkan dirinya makan terlalu banyak. Karena banyak makan tidak pantas dilakukan (seorang muslim).” (Syarh Riyadhush Shalihin)

 Tidak mencela makanan
Seperti apapun makanan yang didapat dan diperoleh apabila kita tidak menyukainya sebaiknya jangan mencela makanan. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

 Dianjurkan untuk makan bersama
Rasulullah jarang makan sendirian, beliau SAW selalu mengajak orang lain untuk makan bersamanya oleh karena itu seorang muslim hendaknya mengajak orang lain untuk makan misalnya keluarganya. Dalam kitab Almu’jam al-Ausath, imam al-Thabrani meriwayatkan hadis tentang perintah Nabi Saw. untuk makan dengan berjamaah dan melarang makan sendirian. Hadis dimaksud dari Ibnu Umar, Nabi Saw bersabda;
كُلُوْا جَمِيْعاً وَلَا تَفْتَرِقُوا ؛ فَإِن طَعَامَ اْلوَاحِدِ يَكْفِي اْلاِثْنَيْنِ، وَطَعَامَ الاثنين يَكْفِي اْلأَرْبَعَةَ، وَطَعَامَ الأَرْبَعَةِ يَكْفِي الثَماَنِيَةَ
“Makanlah kalian dengan berkelompok dan jangan berpisah-pisah. Karena Makanan porsi satu orang sebenarnya cukup untuk dua orang, makanan dua orang sebenarnya cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang sebenarnya cukup untuk delapan orang.”

Salah satu keistimewaan yang akan dilimpahkan oleh Allah bagi sekolompok orang yang makan bersama-sama adalah keberkahan makanan. Bahkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mengatakan, keberkahan ini merupakan satu-satunya alasan dianjurkanya makan dengan berjamaah. Sesuai dengan hadis riwayat Abu Daud tentang kisah para sahabat Nabi Saw. yang tiap kali makan namun tidak perah kenyang. Lalu Nabi Saw. menyarankan untuk makan bersama-sama. 

Dari Wahsyi bin Harb, dari ayahnya, dari kakeknya, para shahabat mengadu kepada Nabi Saw.;
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ قَالَ: فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ؟ قَالُوا: نَعَمْ قَالَ: فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang?”. Beliau bersabda, ‘Mungkin karena kalian makan secara terpisah-pisah (sendiri-sendiri)?.” Mereka menjawab “Ya benar.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan mendapat keberkahan pada makanan kalian.”

 Bersabar untuk mengambil makanan saat makan bersama
Jika makan bersama dengan orang lain atau banyak orang maka Rasul menganjurkan untuk bersabar hingga orangtua atau pemimpin mengambil makanan terlebih dahulu dan orang yang menyajikan makanan akan makan setelah orang lain makan. Rasulullah SAW bersabda: Yang melayani minuman suatu kaum, hendaknya dialah yang terakhir orang yang minum (HR Attirmidzi)

 Ketika makan tidak bernafas atau tidak meniup makanan dan minuman
Dilarang meniup makanan ataupun minuman saat makanan masih panas. Hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ
Artinya: “Nabi shallallahualaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas” (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Hal ini disebabkan karena supaya kotoran yang ada dalam mulut kita tidak masuk ke dalam makanan ataupun minuman yang bisa mendatangkan penyakit dan menjijikkan. Akan tetapi, jika kita mendinginkan makanan dengan kipas angin, maka hal tersebut diperbolehkan asal kipas angin tersebut dalam keadaan bersih.

 Makan dari tepian piring
Jika memakan makanan maka makanlah dari sisi pinggiran atau tepi piring makan hingga ke tengahnya seperti yang senantiasa dicontohkan oleh Rasulullah SAW
كُلُوْا مِنْ جَوَانِبِهَا، وَدَعُوْا ذِرْوَتَهَا! يُبَارَكْ فِيْهَا
Artinya: “Makanlah dari pinggirnya dan tinggalkanlah (terlebih dahulu) bagian tengahnya, (niscaya) akan diberkahi padanya.” (HR. Abu Dawud)

 Mengunyah secara perlahan dan mengecilkan suapan
Rasulullah selalu menyantap makanan dengan mengecilkan suapannya dan mengunyahnya hinga berkali-kali. Selain itu Rasul tidak menyuapkan makanan sebelum suapan yang sebelumnya selesai ditelan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Kecilkan suapan dan baguskan Mengunyahnya” “Janganlah mengulurkan tangan pada suapan yang lain sebelum menelan suapan pertama” Bagaimana idealnya mengunyah makanan dengan baik? Tidak ada patokan yang pasti. Ada pendapat yang mengatakan mengunyah makanan sebaiknya antara 30- 50 kali, malah ada sampai 70 kali. Diserahkan kepada masing-masing individu. Namun kita sebagai ummat Islam, sebaiknya melaksanakan sunnah junjungan kita Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Yaitu beliau jika makan ,beliau makan dengan suapan kecil dan mengunyahnya dengan baik dan beliau tidak akan memasukkan suapan berikutnya sebelum suapan pertama selesai ditelan. Agar suapan kecil, beliau mengambil makanan dengan tiga jari yakni ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah di antara jari telunjuk dan ibu jari. Demikian artikel ini, semoga bermanfaat, salam sehat. (dr. Suwardi Sukri, Dokter Integratif Medicine: Rahasia Rasulullah Menyunnahkan Mengunyah Makanan)

 Tidak menggunakan perkakas makan yang terbuat dari emas dan perak
Makan dengan perkakas emas dan perak adalah kebiasaan kaum kafir oleh karena itu Rasul melarang umatnya untuk tidak menggunakan perkakas yang terbuat dari logam tersebut. (baca kisah mualaf dan sejarah yahudi) Rasulullah SAW melarang kami minum dan makan dengan perkakas makan dan minum dari emas dan perak (Mutafaq ‘alaih)

 Minum dari gelas dan tidak minum sekali teguk
Selain makan dengan perlahan Rasul pun menganjurkan untuk minum dengan benar yakni tidak meminum air dalam gelas dengan sekali teguk dan juga tidak meminumnya langsung dari teko, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini. Jangan minum sekaligus, ambillah jeda (ambil nafas) dua sampai tiga kali . Rasulullah jika minum bernafas sampai tiga kali (HR Al Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW melarang orang yang minum dengan membalik mulut kendi langsung ke mulutnya (HR Al Bukhari dan Muslim)

 Menghabiskan makanan yang diambil
Rasul menganjurkan kita untuk makan secukupnya dan senantiasa menghabiskan makanan yang diambil untuk menghindari perilaku boros dan mubazir serta untuk mendapatkan berkat dari makanan secara utuh. Rasulullah SAW bersabda: Kamu tidak mengetahui di bagian yang manakah makananmu yang berkat (HR Muslim)

 Tidak memberikan makanan yang tidak disukai pada orang lain
Rasul senang berbagi makanan dengan orang lain tetapi beliau tidak pernah memberikan suatu makanan yang tidak disukai oleh dirinya sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini. Janganlah kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak suka memakannya (HR Ahmad)

Demikianlah cara makan Rasulullah yang semestinya dapat ditiru oleh umat islam karena apa yang dicontohkan oleh Rasul pastilah memiliki sisi positif dan manfaat yang besar bagi manusia. Selain itu kita hendaknya menghindari makanan haram dan minuman haram. (Sumber: kisah teladan nabi muhammad SAW dan keutamaan cinta Rasulullah SAW bagi umat muslim).

Demikian Pencegahan Covid 19 langkah Pertama yang dapat penulis uraikan, selanjutnya pencegahan Covid 19 Kedua, tertuang pada postingan selanjutnya.

selanjutnya langkah ke-2 klik disini

Selasa, 14 April 2020

COVID 19 MENGAJAK KEMBALI KEPADA AJARAN AGAMA

COVID 19 MENGAJAK KEMBALI KEPADA AJARAN AGAMA
Oleh: Alfiatus Sholihah
Penyuluh Agama Islam Kemenag Kab. Kediri


Sejak pemerintah mengumumkan untuk belajar, bekerja, beribadah dari rumah, yang dilakukan untuk mencegah mewabahnya pandemi covid 19. Dan membiasakan diri untuk hidup bersih, berkumpul hanya dengan keluarga, hanya keluar rumah untuk hal yang sangat penting dan menghindari madharat. Hal ini menghadirkan kepada kita betapa pentingnya kita melaksanakan ajaran agama. Agama memerintahkan untuk:
  1. Makan makanan yang halal serta baik, baik halal jenisnya maupun halal perolehannya.
  2. Menjaga kebersihan dan kesucian, baik bersih dan suci lahir maupun batin.
  3. Melaksanakan ajaran agama hanya untuk Allah, bukan untuk orang lain, untuk pamrih, untuk diketahui orang lain dan sebagainya.
  4. Berolah raga, agar badan tetap sehat dan tidak mudah kena penyakit.
  5. Menjaga diri dan keluarga dari api neraka, maka utamakan untuk senantiasa berkumpul bersama keluarga bukan bersama orang lain terlebih bukan mukhrimnya.


Kehadiran Covid 19 mengajarkan kepada kita betapa kita harus segera kembali kepada ajaran agama. Karena atas kehadirannya telah memunculkan kebijakan di berbagai negeri. Kebijakan untuk lock down, kebijakan untuk menjaga kebersihan, kebijakan untuk hanya belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Kebijakan menjaga kesehatan. Covid 19 berupaya untuk membentuk kepribadian dan karakter. Dari beberapa hal tersebut, penulis uraian sebagai berikut:

1. Agama memerintahkan untuk makan makanan yang halal serta baik.


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (Al-Baqarah: 168)

Kita diperintah untuk makan makanan yang halal dan baik yang kita sukai dan tidak mengikuti jejak langkah setan yang merayu kita agar memakan yang haram atau menghalalkan yang haram. Makanan yang halal adalah makanan yang dibolehkan oleh agama dari segi hukumnya, baik halal dzatnya, dibolehkan oleh agama, misalnya telor, buah-buahan, sayur-mayur dan lain-lain. Makanan halal hakikatnya adalah makanan yang didapat dan diolah dengan cara yang benar menurut agama, misalnya makanan seperti contoh di atas yang diperoleh dengan usaha yang benar, sapi yang disembelih dengan menyebut nama Allah dan lain-lain. Adapun lawan dari halal adalah haram, yaitu makanan yang secara dzatnya dilarang oleh agama untuk dimakan, misalnya daging babi, daging anjing, darah, bangkai selain bangkai ikan, dan lain-lain. Sedangkan haram karena hakikatnya adalah haram untuk dimakan karena cara memperoleh atau cara mengolahnya, misalnya telor hasil mencuri, daging hasil menipu, dan lain sebagainya.

Adapun makanan yang baik yaitu makanan yang dapat dipertimbangkan dengan akal, dan ukurannya adalah kesehatan. Artinya makanan yang baik adalah yang berguna dan tidak membahayakan bagi tubuh manusia dilihat dari sudut kesehatan. Maka makanan yang baik lebih bersifat kondisional, tergantung situasi dan kondisi manusia yang bersangkutan, misalnya suatu jenis makanan sangat baik untuk si A, belum tentu baik pula untuk si B atau si C. Makanan yang baik belum tentu halal dan yang halal belum tentu baik.

Covid 19 yang semula muncul di Kota Wuhan China berdasar beberapa penelitian berasal dari kelelawar yang dikonsumsi. Sehingga dengan munculnya Covid 19 mengajak kita untuk kembali kepada ajaran agama dengan memakan makanan yang halal dan baik.

2. Agama memerintahkan untuk menjaga kebersihan dan kesucian yang meliputi badan, pakaian, tempat tinggal dan lingkungan

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR. Tirmizi)

Covid 19 mengajarkan kepada kita untuk menjaga kebersihan, rajin cuci tangan memakai sabun, rajin mengenakan masker, rajin ganti baju setelah kita keluar dari rumah dan sebagainya.

3. Agama mengajarkan kita bersih dalam tindakan, perkataan dan sikap kita. 

Bersih dari tindakan tidak terpuji seperti: 
  • Dholim atau menganiyaya adalah perbuatan yang menyakitkan hati orang lain, sedangkan orang itu tidak berdaya untuk membalas dan hanya mampu bertahan atas semua perlakuan si pelaku; 
  • Bertengkar atau berkelahi; 
  • Mencuri yakni mengambil yang bukan haknya termasuk korupsi; 
  • Membunuh; 
  • Qot’ut Thoriq atau begal jalan; 
  • Tajassus yakni mencari-cari kesalahan orang lain; 
  • dan lain-lain.


Bersih dari ucapan yang tidak terpuji seperti: 
  • Berkata kotor; 
  • Kidzbu atau dusta; 
  • Fitnah adalah melontarkan tuduhan kepada orang lain Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 191:"Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan
  • Namimah atau adu domba; 
  • Ghibah atau menggunjing adalah menceritakan keburukan orang lain; 
  • dan lain-lain.


Bersih dari penyakit hati seperti: 
  • Khianat 
  • Ghadhab atau marah 
  • Thoma’ atau Tamak adalah perasaan serakah atas harta dan kenikmatan dunia; 
  • Khiqdu atau benci; 
  • Dendam 
  • Takabbur atau Sombong ("Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar dzarrah dari sifat sombong"). 
  • Sum’ah adalah melakukan sesuatu kebaikan agar didengar oleh orang lain. 
  • Riya adalah melakukan suatu kebaikan agar dirinya dilihat dan dinilai baik oleh orang lain. surat Al-Maun ayat 4-5: "Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) Orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya
  • Iri hati 
  • Hasud atau dengki adalah perasaan tidak senang atas nikmat yang diterima oleh orang lain, berkeinginan agar nikmat itu hilang, dan merasa senang jika orang lain mendapatkan musibah; 
  • Kufur terhadap nikmat dan rohmat Allah; 
  • Nifak berpura-pura dengan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukannya. 
  • Syirik adalah menyekutukan Allah SWT; 
  • Yaksu atau putus asa adalah perasaan tidak akan pernah mendapatkan rohmat dan nikmat dari Allah SWT, dan lain-lain.


Covid 19 mengajarkan kepada kita untuk lock down, dengan belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Hal ini secara langsung menegur kepada manusia yang kelihatannya beribadah ke masjid, ke majlis ta’lim, bahkan tanah sucitetapi dalam batinnya ada rasa riya’, nifak, hasud, takbur dan sebagainya.

4. Agama mengajarkan kepada kita untuk rajin berolah raga, agar kita tumbuh sehat dan kuat tidak mudah terkena penyakit. 
Rosulullah mengajarkan beberapa olah raga seperti: 
  • lomba lari: Diceritakan oleh Aisyah RA: "Rasulullah SAW mendahuluiku, kemudian aku mendahului beliau, begitulah seterusnya. Hingga saat badanku sudah gemuk, kami pernah berlomba dan beliau yang memenangkan perlombaan itu. Kata beliau, "Kemenangan kali ini merupakan balasan atas kekalahan yang lalu." (HR. Ahmad dan Abu Daud). 
  • Bergulat: “Sesungguhnya Rasulullah gulat dengan Rukanah yang terkenal kekuatannya itu, kemudian ia berkata; Domba lawan domba. Kemudian Rasulullah bergulat dan beliau bersabda : Berjanjilah denganku untuk (melakukan gulat) lagi di lain waktu. Kemudian Rasulullah bergulat seraya bersabda: Berjanjilah denganku, lalu Rasulullah saw bergulat untuk ketiga kalinya. Kemudian orang itu bertanya; apa yang harus saya katakan kepada keluargaku? Rasulullah saw menjawab: Katakan “domba telah dimakan oleh serigala, dan seekor dombapun lari.” Kemudian apa pula yang saya katakan untuk yang ketiga? Rasulullah saw menjawab : Kami tidak dapat mengalahkan kamu untuk bergulat karena itu ambillah hadiahmu.” (HR. Abu Daud). 
  • Panahan: Rasulullah bersabda : “Lemparlah panahmu itu, dan saya bersama kamu sekalian.” (HR. Bukhari). “Kamu harus belajar memanah, karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (HR. Bazzar dan Thabrani). 
  • Anggar: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ia berkata : “Ketika orang-orang Habasyah sedang bermain anggar di hadapan Nabi , tiba-tiba Umar masuk kemudian mengambil kerikil dan melemparkannya kepada mereka. kemudian Rasulullah berkata kepada Umar : Biarkanlah mereka itu, wahai Umar.” (HR. Bukhari dan Muslim). 
  • Berkuda: “Sesungguhnya Rasulullah pernah mengadakan pacuan kuda dan memberi hadiah kepada pemenangnya.” (HR. Muslim).
  • Berenang: Rasulullah SAW bersabda: "Ajarilah anakmu (olahraga) berenang dan memanah " (HR. Dailami).


Covid 19 mengajak kita untuk rajin berjemur dan berolah raga untuk memperkuat daya tahan tubuh. Hadist-hadist di atas menjelaskan bahwa Islam sangat peduli dengan kesehatan, yuk mulai terapkan gaya hidup sehat mulai sekarang!

5. Agama memerintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (at Tahrim: ayat 6).

Demikian agama memerintahkan diri kita untuk memelihara diri dan keluarga dari api neraka. Namanya menjaga sudah jalas berada di dalam keluarga. Bukan berada di tempat lain. Seperti halnya satpam dalam sebuah perusahaan, maka satpam tersebut tidak akan pergi ke manapun, karena dia bertugas menjaga sebuah perusahaan. Maka demikian halnya kita yang harus menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Kita hanya biasakan menjaga diri dan keluarga dengan saling percaya, dengan pantauan gadget maupun komunikasi yang lain. Padahal hal ini kadang masih banyak kejadian kecolongan, anak ternyata tidak berangkat sekolah, istri tidak berangkat bekerja dan sebagainya. Dengan demikian yang mesti digarisbawahi yakni betapapun sibuknya kita, keluarga adalah yang utama sebagai pertanggungjawaban kita di hadapan Allah kelak, agar selamat dari siksa api neraka.

Covid 19 memberikan pembelajaran kepada kita kembali menjadi guru untuk anak-anak kita yang selama kita titipkan kepada bapak ibu guru di sekolah. Kembali bersama-sama belajar dengan anak-anak kita, bermain dengan anak-anak kita, beribadah dengan anak-anak kita. Kembali ke rumah untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Proses pembelajaran untuk kita umat agar selalu waspada dan senantiasa peduli dengan kehidupan kita. COVID 19 tidak memandang bulu bagi yg terinfeksi muda, tua, pejabat, rakyat dan lain-lain bisa terkena. Belajar menjadi manusia pembelajar untuk tidak saling menyalahkan, tidak membully, tidak melakukan perundungan. Belajar menjadi manusia yg bersyukur bisa berkumpul dengan keluarga. Belajar untuk bisa bertawaqal kepada allah swt. Belajar untuk menjadi manusia bermanfaat untuk orang banyak.

Sabtu, 11 April 2020

MENGAPA KELELAWAR HARAM ?

MENGAPA KELELAWAR HARAM ?
oleh: Alfiatus Sholihah
Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri



وَيُحْرَمُ الْخُطَّافُ وَالْخُشَّافُ وَالْخُفَّاشُ وَهُوَ الْوَطْوَاطُ وَإِنَّمَا حُرِّمَتْ هَذِهِ لِأَنَّهَا مُسْتَخْبَثَةٌ

"Dan diharamkan memakan al-khuthaf, al-khussyaf, dan al-khuffash, yaitu kelelawar. Binatang-binatang ini diharamkan karena menjijikkan" (Abdullah bin Ahmad bin Qudamah, Al-Mughni, juz 11, h. 66)
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ 

dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (al A’raf 157)

Mengapa kelelawar dikategorikan sebagai binatang yang menjijikkan ?
  1. Kelelawar merupakan salah satu hewan yang dapat menimbulkan penyakit zoonotik adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang tersebar antara hewan dan manusia. Ambil contoh, urine tikus menimbulkan penyakit pes dan gigitan anjing atau monyet bisa berisiko menimbulkan penyakit rabies. Di antara hewan lain, kelelawar merupakan pembawa penyakit paling banyak. Dari total 137 penyakit, sekitar 60 penyakit bisa 'ditransfer' langsung atau tidak langsung dari kelelawar ke manusia. Penyakit-penyakit ini antara lain, virus corona, virus hanta, virus lyssa, virus corona SARS, virus rabies, virus lassa, virus henipah, virus ebola dan virus Marburg (sumber: cnn indonesia: kelelawarhewan pembawa 137virus penyakit).
  2. Kelelawar berfungsi sebagai hewan tempat berlindung virus-virus ganas, agar tidak bertaburan di luar dan mengganggu keselamatan umat manusia, sehingga kelelawar tubunya penuh racun (sumber: Chou Zi Guang, Mari Hidup Selaras Dengan Alam).
Keberadaan kelelawar yang penuh racun tersebut, sehingga Allah menyediakan tinggal di lubang-Lubang goa yang gelap dan dingin. Selama puluhan ribu tahun, semua virus itu bertengger pada kelelawar dengan aman tertutup dan terkunci rapat-rapat. Sebagai tempat berlindungnya para virus, maka Allah menciptakan wajah kelelawar dengan seram dan mengerikan, agar manusia menjauhi dan tidak menyentuhnya. Maka ketika manusia berani membuka kotak pandora, maka seluruh virus Petaka akan berhamburan keluar menjerat manusia. Virus-virus akan berhamburan kehilangan tempat tinggalnya. Virus-virus tersebut perlu mencari rumah baru. Sedangkan tubuh manusia penuh dengan lemak dan daging, dan tempat ini adalah cocok untuk virus-virus ini. 

Berdasar dari paparan di atas, melindungi hewan-hewan di alam semesta, sebenarnya bukan melindungi mereka, tapi justru untuk melindungi umat manusia. Dengan demikian kehidupan ini haruslah harmonis dengan alam. Manusia sebenarnya adalah mahkluk kecil di dalam alam semesta ini.

Dari paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Allah memberikan isyarat kepada manusia agar tidak makan makanan yang menjijikkan, dalam hal ini kelelawar, karena kelelawar membahayakan kesehatan manusia.

Selasa, 01 Oktober 2019

NIKAH sebagai IBADAH


1. Pernikahan itu ibadah yang paling lama kita jalani, ia setengah dari agama yang kita yakini
2. Pernikahan adalah ibadah yang terlama, maka harus dipersiapkan dengan sebaiknya
3. Kecukupan pernikahan tidak disyaratkan pada materi, namun lebih kepada keimanan serta pada kedewasaan emosi
4. Nafkah tidak pernah jadi syarat bolehnya menikah, hanya saja yang sudah menikah wajib memberi nafkah
5. Yang menentukan lelaki siap atau tidaknya menikah, Kapan kita mengetahui nikah itu akan jadi ibadah.
6. Bagi lelaki arti kata "mampu" adalah bila dia dapat meyakinkan, baik meyakinkan dirinya dan meyakinkan calon istrinya meyakinkan walinya dan meyakinkan wali calon istrinya, meyakinkan diri sendiri untuk menikah bisa didapatkan, bila dia memahami betul apa tujuannya menikah
7. Tujuan menikah itu:
a) Memuliakan sunnah,
b) Sesuai fitrah penciptaan,
c) Membentuk keluarga ibadah, dan mendidik anak-anak, agar jadi pengemban dakwah, untuk melanjutkan perjuangan dan menyeru manusia menyembah Allah
8. saat seorang lelaki mengerti arti "lillah", maka dia pasti yakin untuk menikah
9. sedang meyakinkan calon istri yang salihah, hanya bisa dilakukan oleh lelaki salih
10. Lelaki salih sibuk memantaskan diri untuk mengetahui, hak dan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah
11. Lelaki salih akan belajar menguatkan aqidahnya, karena dia tahu dia akan jadi tumpuan
12. Dia akan mengetahui tentang halal-haram syariatnya, karena dia memimpin dan dijadikan tempat bertanya
13. Dia akan belajar jadi teladan dalam Islam dengan berdakwah, karena dia berada di depan dan jadi panutan keluarganya
14. Lelaki salih mengeraskan tangannya dalam bekerja, saat bersama istri dia melembutkan untuk menyayangi
15. Lantang suaranya dalam berdakwah, namun santun dalam menasihati
16. Mampu menguasai emosi
17. Tenang saat diterpa masalah dan bersegera mencari solusi, berpikir untuk masa depan bukan hanya saat ini
18. Bertanggungjawab atas dirinya dan apa yang dipimpinnya , diam dan berbicara pada saat yang tepat dan benar
19. Mudah memaafkan saat yang lain salah, diam saat amarah dan mendahulukan meminta maaf saat salah
20. Bukan menyalahkan tapi menuntun, bukan menghina tapi membimbing
21. Berilah dia makan sebagaimana ayahnya memberinya, berilah dia kasih sayang sebagaimana ayahnya mengasihinya
22. Bermainlah dengannya dan bercandalah dengannya, layaknya ayahnya menjaga dan melindungi putrinya
23. Ajari, pimpin dan tuntun ia ke surganya Allah, halangi, kawal dia dari murka Allah, sebagaimana ayahnya telah melakukannya
24. Lindungi dia dan berilah dia kenyamanan disisimu, sebagaimana ayahnya telah memeluk dan melindungi

Rabu, 19 Juni 2019

Bersama Allah

Ma’allah / Bersama Allah merupakan perasaan terus diawasi oleh Allah merupakan suatu sikap yang harus dijaga. Selayaknya kita mencontoh cerita seorang penggembala cilik di era pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a. Ketika Umar bin Khattab r.a menawari untuk membeli salah satu domba gembalaannya tanpa sepengetahuan si pemilik domba, sang penggembala cilik tersebut menjawab "Memang majikan saya tidak dapat melihat perbuatan itu, tetapi ada yang dapat melihatnya yaitu Allah dan saya takut kepada Allah”.
Selayaknya dimanapun kita berada, kita mengingat bahwa Allah bersama kita dan melihat perbuatan kita. Terdapat pilihan untuk terus merasa di bawah pengawasanNya sehingga kita bersemangat untuk terus istiqamah atau melupakanNya dan menganggap perintahNya sebagai angin lalu. Semoga kita termasuk orang yang memilih pilihan yang pertama.


Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia
bersemayam di atas ´arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi
dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang
naik kepada-Nya. dan DIA BERSAMA KAMU DI MANA SAJA KAMU
BERADA dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Selasa, 26 Februari 2019


MAKNA HIDAYAH
Berbicara tentang hidayah berarti membahas perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling besar dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya.
Hidayah secara bahasa berarti ar-rasyaad (bimbingan) dan ad-dalaalah (dalil/petunjuk)
petunjuk atau bimbingan dari Tuhan: semoga Tuhan Yang Mahakuasa melimpahkan taufik dan -- Nya kepada kita
Allah Ta’ala berfirman:
{مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ}
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).

Dalam ayat lain, Dia Ta’ala juga berfirman:
{مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا}
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (QS al-Kahf:17).
Sesungguhnya Allah Ta’ala banyak sekali memberikan nikmat-nikmat-Nya kepada para hamba-Nya, dengan memberikan hidayah kepada dinul islam, agama yang Allah ridhoi, dimana Allah tidak akan menerima agama selainnya.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu” (QS. al-Maidah: 3).

Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran :19).
Dan juga firman-Nya:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85).

Juga firman-Nya pada ayat yang lain:
وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. al-Hujurat: 7-8).

Oleh karena itu, ketahuilah bahwa karunia Allah yang paling besar kepada para hambanya adalah hidayah kepada agama ini, serta taufiq yang dengannya seorang hamba dapat berpegang teguh dengan hidayah Allah Ta’ala hingga bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat kelak, dan mendapatkan kebahagian yang abadi.
Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang selalu mendapatkan hidayah-Mu. Aamiin.

Rabu, 06 Desember 2017

AKU SABAR, AKU PAHLAWAN !

Apakah pahlawan itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Kata pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta phala-wan. Arti dari istilah Sansekerta tersebut adalah orang yang dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama. Islam sebagai sebuah agama yang menghargai prestasi, pengorbanan dan pengabdian memandang, bahwa siapapun yang bermanfaat dan berkontribusi kepada sesamanya, maka pribadi tersebut pantas disebut sebagai pahlawan atau sebaik-baiknya manusia, Nabi Muhammad bersabda, “Sebaik-baiknya manusia di antara kalian adalah yang bermanfaat bagi manusia” (HR. Bukhori dan Muslim)

Seorang pahlawan ialah mereka yang mampu menempatkan diri pada tempatnya, tidak menzalimi orang lain, bersikap adil dalam segala tindakannya, dan mampu untuk objektif melihat sesuatu, serta bisa menahan gejolak emosi, karena orang kuat adalah pribadi yang kuat membendung kemarahanya ketika ia marah. Nabi bersabda, “orang yang kuat bukanlah seorang yang menang dalam pergulatan, tetapi manusia yang kuat adalah siapa yang mampu mengendalikan dirinya ketika dia marah.” (HR. Bukhari)

Jika berkaca kepada sejarah kepahlawanan dalam Islam, kita akan menemukan figur-figur luar biasa yang memang pantas disebut sebagai pahlawan sejati. Nabi Muhammad adalah sosok utama yang layak menyandang predikat tersebut, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Q.S. Al-Ahzab: 21)

Untuk menjadi pahlawan sejati sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah, kita membutuhkan apa yang dinamakan dengan kesabaran, sebab tanpanya mustahil manusia mampu meraih hakekat kepahlawanan. Berkenaan dengan hal ini Allah berfirman “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”.(Q.S. Al-Anfal: 65)

Sabar adalah penentu kemenangan bagi seorang pahlawan, ia bagaikan segelas jamu yang terasa pahit, tetapi justru dengan kepahitan itu akan menghasilkan kesembuhan yang rasanya lebih manis daripada madu. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu, kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari kesabaran. Demikianlah pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja, dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan.
Mereka yang memiliki naluri kepahlawanan dan keberanian harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal; sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam ketaatan, sabar dalam meninggalkan maksiat, atau menghadapi cobaan. Maka, ketika aku sabar, aku mampu menjadi pahlawan. Karena aku bersungguh-sungguh berbuat dan bertindak demi kemaslahatan manusia, agama dan negara. Aku mampu melakukan sesuatu yang sederhana dikerjakan tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh orang banyak.

Prinsip Keamanan, Kejujuran Akademik, dan Etika Digital

  C. Prinsip Keamanan, Kejujuran Akademik, dan Etika Digital C.1 Tantangan Integritas Akademik dalam Evaluasi Digital PAI Implementasi e...