Minggu, 02 Agustus 2020
Jumat, 01 Mei 2020
Meneguhkan solidaritas, Menebar Kebaikan dan Mencerahkan Semesta
REFLEKSI
HARI PEMUDA MUHAMMADIYAH
02 MEI 1932
– 02 MEI 2020
Oleh:
Alfiatus Sholihah, M.Pd.I.
Penyuluh
Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Kediri
Usia 88 tahun bukanlah usia yang muda lagi, sudah cukup umur dan bahkan
lebih tua dari umur bangsa ini. Usia 88 tahun bisa digambarkan sebagai bentuk
kematangan, kedewasaan dan kesuksesan. Sebab sudah melewati berbagai macam
tantangan masa sulit dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, eksistensi untuk
bisa bertahan dan terus mencerahkan itu suatu prestasi dan hal yang luar biasa,
artinya organisasi ini memang memiliki mental pejuang, mental penggerak serta
mental pemenang sebagaimana apa yang menjadi tujuan dari organisasi ini
didirikan.
Memasuki usia yang semakin dewasa diharapkan pemuda muhammadiyah lebih
mampu lagi memberikan nilai kemanfaatan akan kehadirannya ditengah persoalan
bangsa yang semakin kompleks, pemuda muhammadiyah harus lebih berpikir maju
kedepan untuk terus menggerakkan potensi pemuda ke arah yang diharapkan, pemuda
muhammadiyah diharapkan memperkuat internalisasi diri dan memperbaiki kualitas
ekternalisasi organisasinya.
Umat Islam telah diberikan teladan-teladan oleh para Nabi, bahwa
pemudalah yang mampu melakukan perubahan besar terhadap bangsa, agama dan tanah
airnya. Dalam agama, ada Ibrahim muda yang menentang Namrud demi tegaknya nilai
ketauhidan, ada juga Musa yang menentang Fir’aun yang dzolim, hingga saat
reformasi pemerintahan Indonesia yang berperan dan memberikan andil besar yaitu
para pemuda khususnya para mahasiswa.
Meneguhkan solidaritas, Menebar Kebaikan dan Mencerahkan Semesta, demikianlah
tema milad ke-88 Pemuda Muhammadiyah kali ini. Hal ini merupakan relevansi dari
kondisi yang sedang dihadapi bangsa kita sekarang ini yaitu wabah Covid-19. Seluruh
lini kehidupan nyaris lemes, namun kita semua harus tetap semangat, sabar,
serta beriman kepada Allah swt Sang Pencipta. Solusi kreatif harus muncul untuk
permasalahan yang sedang kita hadapi. Segala hal biasanya dilakukan dengan offline,
kita upayakan online. Biasanya kita menjadikan agama sekedar melaksanakan atas
dasar kewajiban mulai saat ini harus move on, yakni melaksanakan ajaran agama
atas dasar kebutuhan
Dalam mencegah mewabahnya covid-19 kita mesti harus membangun dan
meneguhkan solidaritas terhadap sesama. Selalu bersemangat ta’awani ‘alal birri
wa taqwa harus senantiasa terwujud. Semua
masyarakat tidak boleh frustasi menerima ganjaran ini. Ini merupakan
penyemangat Kita dalam melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya dan
selurus-lurusnya. Untuk itu menyiapkan
bekal keimanan, keilmuan dan kemandirian kepada kader dan anggotanya merupakan
hal yang mesti dan terus dilakukan. Imam syafi’i pun berkata, “Tidaklah mungkin
orang yang punya mimpi dan bercita-cita besar hanya duduk berpangku tangan.
Tinggalkanlah watan dan kenyamanan maka kau akan menemukan gantinya karena
kenikmatan hidup didapatkan setelah kau melewati kelelahan”. Begitupun pepatah
mengajarkan, “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakitlah
terlebih dahulu, dan bersenang-senaglah kemudian.”
“Pemuda saat ini adalah pemimpin masa depan. Karenanya jika kau ingin
mengetahui bagaimana suatu negara dimasa yang akan datang maka lihatlah
pemudanya yang sekarang”. Begitulah Nabi Muhammad menuturkan. Oleh karena itu
perlu adanya suatu pendidikan moral, pengembangan wawasan, ketrampilan serta
penanaman rasa nasionalisme pada generasi muda, karena merekalah tulang
punggung negara di masa yang akan datang. Tetap menanamkan nilai-nilai agama yaitu
shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas), dan Tabligh
(menyampaikan) hingga mereka mampu bertanggung jawab atas segala tindakan atau
kebijakan yang telah diambilnya.
Pemuda adalah harapan bangsa dan sungguh sebaik-baik manusia adalah
mereka yang paling baik akhlaknya dan paling banyak manfaatnya. Oleh karena itu
jadilah pemuda laksana mutiara dan permata bangsa yang tetap menjadi pelita
ditengah gelap dan suramya generasi muda. Pemuda Muhammadiyah harus menyadari
hal ini dan lebih serius menyiapkan bekal Itu kepada kader dan anggotanya. Ini
guna menyongsong hari esok dan masa depan yang tantangannya akan jauh lebih
besar dari sekarang. Kader Pemuda Muhammadiyah harus tetap eksis meskipun
berada di tengah krisis sekalipun. Begitulah semangatnya.
Semangat milad 88 pemuda muhammadiyah adalah Semangat membangun
kebersamaan dan solidaritas, semangat untuk terus menebar kebaikan terhadap
sesama serta semangat untuk selalu mencerahkan dalam ide dan gagasan, dan
semoga kita sebagai bagian dari keluarga besar pemuda muhammadiyah mampu
menjaga dan terus merawat semangat itu. Fastabiqulkhairat
Rabu, 29 April 2020
Corona Bukan Pihak Ketiga
Corona
Bukan Pihak Ketiga
Oleh: Alfiatus Sholihah, S.Ag.,
M.Pd.I.
Penyuluh Agama Ahli Madya
Kementerian Agama Kabupaten Kediir
Kemarin kita dikejutkan berita tentang seseorang
yang tega mengakhiri hidupnya dengan membakar diri dan ada juga yang minum
sebotol premium setelah dinyatakan sebagai ODP. Di sisi lain ketika ada info
tetangga atau warga masyarakat yang terinfeksi, yang lain langsung mengucilkan
bahkan menjauhi. Mereka yang terinfeksi
sudah barang tentu susah. Hal ini bisa kita balik, andai kita yang terinfeksi
kemudian dijauhi dan dikucilkan oleh orang di sekitar kita, bagaimana perasaan
kita ? Maka jaga jarak aman itu harus.
Sepanjang wabah corona kita tidak jabat tangan bukan berarti putus kasih sayang
dan persaudaraan, tetapi sebaliknya. Kita hindari jabat tangan karena kita
saling menjaga kasih sayang.
Masyarakat telah dicerdaskan secara komprehensif
bahwa langkah terpenting yang bisa dilakukan untuk menjaga diri dari infeksi
corona tidak semata dengan melindungi diri dengan masker atau alat perlengkapan
kesehatan sejenis, tetapi juga bagaimana menunjukkan etika sosial yang tepat
kepada sesama di tengah ancaman virus corona yang telah menjangkiti Indonesia.
Virus corona yang telah menjangkiti Indonesia
berdampak pada sikap masyarakat yang menjadi lebih over-protektif terhadap
lingkungan sekitarnya. Ketakutan terhadap virus corona akan memberikan pengaruh
terhadap sikap sosial masing-masing individu. Kita akan lebih mudah menaruh
curiga pada orang yang batuk, bersin, atau terlihat pucat di sekitar lingkungan
kita. Kita akan lebih cenderung memutuskan menjauh ketimbang menanyakan kabar
atau sekadar menunjukkan bentuk kepedulian kecil lainnya. Asumsi-asumsi ini
sifatnya memang masih spekulatif, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa
ancaman virus corona ini tidak hanya akan merenggut kesehatan seseorang tetapi
juga merenggut rasa sosial kita terhadap sesama.
Ketidakmampuan kita dalam mengelola rasa curiga,
takut, sikap over-protektif dalam merespons isu corona ini memiliki potensi
untuk merusak hubungan sosial dengan individu lain. Apalagi, jika kita hidup
dan aktif dalam lingkungan pergaulan di kantor, sekolah, masyarakat, bahkan
keluarga. Adalah hal yang manusiawi ketika kita mulai memberikan respons
antisipatif dalam melihat situasi. Namun, ada etika sosial yang perlu dijunjung
tinggi dan dipelihara agar hubungan dengan sesama tetap terjaga.
Sebagai contoh, jika kita tengah mengalami kondisi
badan yang kurang fit segera berobat ke dokter. Segera gunakan alat proteksi
diri seperti masker jika hendak bersosialisasi kendati dokter tidak memberi
diagnosis positif corona atau penyakit parah lainnya. Selain itu, kita juga
perlu memiliki inisiatif untuk mengurangi interaksi bersentuhan dengan orang
lain seperti berjabat tangan dan berpelukan. Hal ini dilakukan sebagai upaya
"sadar diri" dan memastikan orang lain aman dan nyaman bersama kita.
Lain halnya jika kita dalam kondisi sehat dan menemukan orang di sekitar kita
yang terlihat tidak baik-baik saja. Etika sosial kita terhadap mereka bisa
ditunjukkan dengan membujuk mereka untuk pergi ke klinik atau rumah sakit
terdekat untuk periksa, atau sekadar bertanya kabar dan memberikan nasihat
secara baik untuk menjaga kesehatan.
Tindakan-tindakan sederhana tersebut kita lakukan
dengan tetap menjaga kehati-hatian. Hal ini dilakukan sebagai wujud antisipasi
kolektif, tindakan melindungi diri dengan memastikan orang-orang di sekitar
kita juga terlindungi. Sikap seperti ini adalah cermin dari etika sosial kita
terhadap sesama, bahkan dalam kondisi genting sekalipun.
Wabah corona menjadi ketakutan kita bersama. Namun,
jangan sampai wabah ini menjadi pihak ketiga yang merenggut cara kita
memanusiakan sesama. Selain mengedepankan aspek materiil seperti menjaga
perilaku hidup sehat, mengenakan masker, berolahraga rutin, dan asupan bergizi,
aspek non materiil juga perlu dipelihara seperti etika sosial kita terhadap sesama
yang tercermin dari sikap peduli, saling pengertian, dan aware dengan
lingkungan sosial kita. Corona mungkin bisa merenggut nyawa manusia, tetapi ada
satu hal yang tidak bisa direnggut olehnya, yakni kemanusiaan.
Minggu, 26 April 2020
FAKTOR RISIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM) Dalam Bahasa Agama
FAKTOR RISIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)
Dalam Bahasa Agama
Oleh:
ALFIATUS SHOLIHAH. S.Ag., M.Pd.I.
Penyuluh Agama Ahli Madya
Kementerian Agama Kabupaten Kediri
Sebagai penyuluh
agama Islam yang sekaligus juga sebagai kader Posbindu Institusi, penulis
merasa memiliki kewajiban menyampaikan faktor resiko penyakit tidak menular
(PTM). Korban covid-19 ini yang telah menelan kurban
ribuan orang. Mereka yang rawan terinveksi adalah mereka memiliki penyakit
komorbid (penyakit penyerta) seperti diabetes melitus, hipertensi, kanker,asma
dan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK), stroke, diabetes melitus, kanker dan
sebagainya (penyakit tidak menular / PMT). Untuk itu idealnya kita tidak
menyepelekan PTM.
Faktor risiko
dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Faktor risiko
yang tidak dapat diubah (umur, jenis kelamin dan keturunan/genetik)
2. Faktor risiko
yang dapat diubah:
a) Faktor risiko perilaku: merokok, diet rendah serat, konsumsi
garam berlebih, kurang aktivitas fisik, konsumsi alcohol, stress
b) Faktor risiko lingkungan: polusi udara, jalan raya, kendaraan
yang tidak layak jalan
c) Faktor risiko fisiologis: antara lain: obesitas, gangguan
metabolism kolesterol dan tekanan darah tinggi
Jika faktor
risiko PTM yang dapat dirubah tidak dikendalikan, maka secara alami penyakit
akan berjalan menjadi fase akhir PTM seperti penyakit jantung coroner, stroke,
diabetes mellitus, kanker, asma dan lain sebagainya.
Sebelum menjadi fase akhir, PTM dapat dideteksi secara dini dengan menemukan
adanya factor fisiologis seperti obesitas, gangguan metabolism kolesterol dan
tekanan darah tinggi, lemak darah tinggi, benjolan payudara, lesi prakanker,
dan lain-lain. (Sumber: Modul
Pengendalian Faktor Risiko PTM bagi Kader Posbindu Institusi)
Beberapa penyakit
tersebut tidak akan menjangkiti kita, jika kita mengikuti pola hidup Rosulullah
saw. Pola ibadah, pola makan dan juga pola hidup lainnya.
Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan bagi umat
islam dan segala perilakunya menjadi pedoman hidup bagi seluruh manusia. Tidak
hanya akhlak yang mulia dan tuntunannya dalam beribadah (baca cara meningkatkan
akhlak terpuji), Rasul juga mencontohkan pada umatnya bagaimana cara melakukan
sesuatu dengan baik dan benar seperti halnya saat makan. Berikut ini adalah
beberapa anjuran dan cara makan rasulullah (baca juga: makan dengan gizi
seimbang, klik di sini):
1. Makan secukupnya dan tidak berlebihan:
“Hendaklah kamu makan, minum,berpakaian, dan bersedekah dengan tidak
berlebihan dan sombong” (HR Ahmad dan Abu Daud). Adapun sebenarnya
kekenyangan dapat mengeraskan hati, memberatkan tubuh, mengurangi kecerdasan,
menyebabkan ngantuk dan tidur lebih banyak serta melemahkan seseorang untuk
beribadah.
2.
Makan dengan tangan kanan: “Hendaklah
kamu sekalian makan dengan tangan kanan. Sebab setan makan dan minum dengan
tangan kirinya” (HR Muslim)
3. Membaca Basmalah: Jika lupa
membaca Bismillah, bacalah “Bismillahi Awwa-lahu wa Akhirahu” (Dengan nama Allah dari mula hingga akhir)
(HR Abu Dawud dan Attirmidzi)
4. Duduk saat makan dan tidak
bersandar atau berdiri: “Seorang muslim Hendaknya tidak makan atau minum
sambil berdiri maupun menyandar dan makan maupun minum sambil duduk lebih
utama dan sebaiknya makanan yang dimakan
diletakkan di atas tanah untuk menjaga kerendahan diri (HR Muslim)
5. Tidak mencela makanan: “Rasulullah
SAW tidak pernah mencela makanan; Jika ia suka dimakannya, jika tidak suka
ditinggalkannya” (HR Al Bukhari dan
Muslim)
6. Dianjurkan untuk makan bersama: “Makanan
dua orang cukup untuk tiga orang, makanan untuk tiga orang cukup untuk empat
orang” (HR Al Bukhari dan Muslim)
7. Tidak meniup makanan: Rasulullah
SAW melarang orang untuk meniup-niup minuman/makanan (HR Abu Dawud)
8. Makan dari tepian piring: “Berkat
itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari tepi-tepinya dan jangan
makan dari tengah-tengahnya” (HR Abu Dawud,Attirmidzi)
9. Mengunyah secara perlahan dan
mengecilkan suapan: “Kecilkan suapan dan baguskan Mengunyahnya” “Janganlah
mengulurkan tangan pada suapan yang lain sebelum menelan suapan pertama”
10. Tidak menggunakan perkakas makan yang terbuat dari emas dan
perak: Rasulullah SAW melarang kami minum dan makan dengan perkakas makan
dan minum dari emas dan perak (Mutafaq ‘alaih)
11. Minum dari gelas dan tidak minum sekali teguk: Jangan minum
sekaligus, ambillah jeda (ambil nafas) dua sampai tiga kali . Rasulullah jika
minum bernafas sampai tiga kali (HR
Al Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW melarang orang yang minum dengan
membalik mulut kendi langsung ke mulutnya
(HR Al Bukhari dan Muslim)
12. Menghabiskan makanan yang diambil: Kamu tidak mengetahui di
bagian yang manakah makananmu yang berkat (HR Muslim)
13. Membaca hamdalah setelah selasai makan: Rasulullah SAW jika
selesai makan dan mengangkat hidangannya membaca: alhamdulillahi hamdan
katsiran thoyyiban mubaarokan fihi, ghoiro makfiyin wala mustaghnan ‘anhu
rabbana (segala puji bagi Allah, pujian yang sebaik-baiknya, yang baik dan
berkat. Tiada terbalas, dan tidak dapat tidak, tentu kami membutuhkan
kepadanya, wahai Tuhan kami) (HR Al Bukhari)
14. Tidak memberikan makanan yang tidak disukai pada orang lain: Janganlah
kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak suka memakannya (HR Ahmad)
Demikianlah cara
makan Rasulullah yang semestinya dapat ditiru oleh umat Islam karena apa yang
dicontohkan oleh Rasul pastilah memiliki sisi positif dan manfaat yang besar
bagi manusia, sehingga kita terhindar dari segala macam penyakit.
Jumat, 24 April 2020
Antara Kebijakan LOCKDOWN dengan Tradisi TAHANNUTS Nabi SAW
Antara
Kebijakan LOCKDOWN
dengan Tradisi TAHANNUTS Nabi SAW
Oleh:
Alfiatus Sholihah, S.Ag., M.Pd.I.
Penyuluh
Agama Ahli Madya
Kementerian
Agama Kabupaten Kediri
Lockdown, merupakan
status yang ditetapkan pemerintah menanggapi kondisi terkini yang berkembang untuk
pencegahan penyebaran wabah Covid-19. Lockdown
itu artinya karantina. Jadi lockdown itu sebenarnya rujukannya pada undang-undang
karantina kesehatan. Kebijakan untuk melakukan Lockdown ada di tangan
pemerintah pusat. Pemerintah RI sudah
mengambil kebijakan lockdown sebulan yang lalu hingga kini Ramadlan tiba, yang
belum tahu sampai kapan kebijakan lockdown ini selesai. Kebijakan lockdown ini
memberikan konsekuensi bahwa kita diharuskan untuk mengkarantina diri,
beraktifitas apapun hanya boleh dilakukan di rumah masing-masing. Mulai
belajar, bekerja dan beribadah hanya dari rumah. Puasa, bekerja, buka puasa,
tarawih, tadarus, dan makan sahur hanya dari rumah. Harapan dan tujuan yang
didapat dari lockdown adalah seluruh keluarga selamat dari tertularnya
covid-19.
Sedangkan dalam
kehidupan Nabi saw sebelum diangkat sebagai Rosul, Beliau memiliki kebiasaan
rutin pada bulan Rajab hingga Ramadlan melakukan tahannuts. Secara etimologi,
tahannuts berarti menyendiri, menyepi ke suatu tempat yang sunyi, bertapa, atau
menjauhkan diri dari keramaian untuk berkontemplasi; beribadah dalam waktu beberapa malam untuk
menjauhkan diri dari berbuat dosa. Pengertian tersebut mengacu dan didasarkan
pada sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, “Nabi pergi ke Gua
Hira’ setiap malam kemudian melakukan ibadah di dalam gua itu dalam jumlah yang
tak terhitung,” (HR. Bukhari). (Ahmad bin Faris, Maqayis al-Lughat). Harapan
dan tujuan yang didapat dari tahannuts Nabi saw adalah seluruh umat manusia
selamat di dunia dan akhirat.
Dari definisi
lockdown dan tahannuts di atas, tampaknya sejalan dengan peristiwa histori Nabi
saw. Lockdown sebagai karantina yang bertujuan untuk menyelamatkan diri dan
keluarga dari wabah sedangkan tahannuts sebagai kontemplasi yang bertujuan
untuk mendekatkan diri kepada Sang Kholiq untuk memperoleh petunjuk kebenaran
beragama, agar seluruh umat manusia dari siksa api neraka. Kebijakan lockdown
berlangsung dimulai bulan Rajab hingga sekarang dan belum tahu kapan selesai,
sedangkan tradisi tahannuts Nabi saw berlangsung 7 tahun sebelum kenabian
setiap bulan Rajab hingga Ramadlan. Aktivitas yang dilakukan ketika lockdown
adalah belajar, bekerja dan beribadah hanya dilakukan di dalam rumah, sedangkan
aktivitas yang dilakukan Nabi saw dalam tahannuts adalah meditasi, pencerahan batin
dan beribadah sepanjang malam di dalam gua. Lockdown dilatarbelakangi adanya
wabah covid-19 sebagai akibat kelompok manusia yang mengkonsumsi makanan yang
diharamkan Allah swt sedangkan tahannuts dilatarbelakangi adanya ibadah yang diselewengkan
dan dikotori oleh praktik-praktik kemusyrikan dengan cara menyembah
berhala-berhala yang diletakan di sekitar Ka’bah. Tempat lockdown adalah di
rumah masing-masing dengan harapan tidak terkontaminasi dengan manusia lain
yang barangkali membawa wabah, sedangkan
tempat tahannuts adalah di dalam gua Hira’
dengan harapan tidak terkontaminasi dengan hiruk pikuk kota Makkah dan
tradisi ibadah syirik di sekitar ka’bah. Bekal lockdown adalah seluruh kebutuhan
sehari-hari untuk diri dan keluarga demikian
juga bekal tahannuts Nabi saw adalah kebutuhan diri dan juga kebutuhan orang
miskin yang berada di sepanjang perjalanan menuju Gua Hira’.
Tabel
antara Lockdown dan Tahannuts
|
Perihal
|
Lockdown
|
Tahannuts
|
|
Definisi
|
Karantina
|
Kontemplasi
|
|
Pelaksana
|
Masyarakat
rawan wabah
|
Nabi
saw
|
|
Latarbelakang
|
akibat
kelompok manusia yang mengkonsumsi makanan yang diharamkan Allah swt hingga
memunculkan wabah covid-19 (virus yang sudah mutasi dari hewan ke manusia)
|
adanya
ibadah yang diselewengkan dan dikotori oleh praktik-praktik kemusyrikan
dengan cara menyembah berhala-berhala yang diletakan di sekitar Ka’bah
|
|
Bekal
|
Kebutuhan
diri dan keluarga
|
kebutuhan
diri dan juga kebutuhan orang miskin yang berada di sepanjang perjalanan
|
|
Waktu
|
Sebulan
jelang ramadlan hingga belum bisa dipastikan
|
Rajab
dan Ramadlan (sejak 7 tahun sebelum menjadi Rosul)
|
|
Tempat
|
Rumah
masing-masing
|
Gua
Hira’
|
|
Tujuan
|
Menyelamatkan
diri dan keluarga dari wabah covid-19
|
mendekatkan
diri kepada Sang Kholiq untuk memperoleh petunjuk kebenaran beragama, agar seluruh
umat manusia dari siksa api neraka
|
|
Aktivitas
|
Belajar,
bekerja dan beribadah
|
Meditasi,
pencerahan batin dan beribadah. Nabi serasa telah terhubung langsung dengan
Tuhan yang Maha Meliputi seluruh jagad raya ini
|
|
Hasil
|
Insaallah
selamat dari wabah
|
Nabi
memperoleh konsepsi yang benar tentang Tuhan yang Maha Tinggi, satu-satunya
Tuhan yang wajib disembah. Nabi menerima wahyu pertama kali (surat al alaq
ayat 1-5). Nabi diangkat menjadi Rosul
|
Nabi saw tahannuts
membuahkan hasil konsepsi yang benar tentang Tuhan yang Maha Tinggi,
satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, Nabi menerima wahyu pertama kali (surat
al alaq ayat 1-5).
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ
عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
1. Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Mahamulia,
4. Yang mengajar (manusia) dengan
pena.
5. Dia mengajarkan manusia apa
yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq/ 96: 1-5).
Ayat-ayat itu begitu
mengesankan dan membekas dalam jiwanya. Peristiwa itu terjadi pada hari Senin
tanggal 17 Ramadhan (610 M). Itulah wahyu pertama kali yang diterima Nabi dari
Allah melalui Malaikat Jibril. Dan peristiwa inilah yang menandai kerasulan
Muhammad SAW.
Sedangkan hasil dari lockdown adalah selamat dari wabah
yang ternyata bisa juga dimungkinkan sudah lockdown ternyata tetap terkena
wabah. Contohnya adalah yang terjadi di Cileungsi: anak ke 2 dan ke 4 kena
wabah, keluarga sudah stay at home sedangkan ayah bekerja di luar rumah. Dugaan
team medis sang anak terinveksi dari pakaian sang ayahnya yang pulang kerja.
Meskipun hal ini merupakan sebuah kelalaian untuk selalu mandi dan ganti
pakaian selepas dari luar rumah (Baca juga: Jaga Diri dan Keluarga dari Covid 19 dalam Bahasa Agama. Klik di sini).
Berangkat dari
peristiwa ini maka alangkah baiknya jika kita melaksanakan lockdown sekalian bertahannuts.
Sebab pada dasarnya peristiwa covid-19 mengandung hikmah mengajak untuk kembali
kepada ajaran agama (baca juga covid-19 mengajak untuk kembali kepada ajaran
agama klik disini), maka alangkah baiknya jika lockdown yang kita lakukan bukan
sekedar lockdown, melainkan tahannuts (yang dalam tradisi kaum sufi disebut
khalwat). Kebiasaan Nabi melakukan tahannuts itu menjadi teladan yang sangat
baik bagi kalangan sufi untuk melakukan pendekatan diri kepada Tuhan, melalui
shalat, dzikir dan amaliah tertentu. Karena sebenarnya lockdown itu juga sudah
menjadi ajaran Rosulullah saw dalam haditsnya yang berbunyi:
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ
ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ
بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا
تَفِرُّوا مِنْهُ
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu
peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari
kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu
negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di
negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang
sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari
Abu Hurairah)
Dengan demikian maka
sebenarnya lockdown adalah juga sebuah ibadah, tatkala kita meniatkan dengan
mentaati perintah Allah, Rosulullah dan juga ulil amri.
Lockdown yang juga dibarengi
dengan tahannuts, dengan tujuan
mengikuti jejak Nabi saw seorang pencari kebenaran sejati (the seeker of
truth). Nabi saw senantiasa memikirkan keadaan kaumnya yang sudah melupakan
ajaran Nabi Ibrahim. Ketika tiba masanya, dalam tahannuts-nya di Gua Hira,
Allah memberi wahyu kepada manusia yang ummi ini untuk menjadi rasul-Nya dalam
memperbaiki kondisi moral kaum Quraisy yang sangat buruk. Allah memerintahkan
Nabi Muhammad SAW untuk menyeru umat manusia agar beriman kepada Allah. Di Gua
Hira, beliau mulai diangkat menjadi utusan-Nya dengan wahyu pertamanya ayat 1
sampai ayat 5 dari surah Al-Alaq. Nabi Muhammad SAW pun memulai reformasi
global, memperbaiki kehidupan akhlak manusia. Tak hanya Quraisy, melainkan juga
seluruh manusia, baik keturunan Arab maupun ‘Ajam (non-Arab). Semua diserukan
untuk menyembah Allah, mengerjakan perbuatan baik (makruf), dan menjauhi
perbuatan mungkar.
Dari point hasil
tahannuts Nabi memperoleh wahyu pertama dan akhirnya memulai reformasi global
memperbaiki akhlak manusia, maka jika kita lockdown yang dibarengi dengan
tahannuts insaallah kitapun juga akan siap menjadi keluarga-keluarga yang
bereformasi dari kebiasaan yang tidak baik dan tidak agamis menuju
keluarga-keluarga agamis. Sehingga kita semua sukses mewujudkan negeri yang
baldatun thoyibatun wa robbun ghofur. Huwallahu a’lam.
Literatur:
Mahyuddin, Kuliah
Akhlak Tasawuf
Rivay Siregar, Tasawuf
News Analysis
Isu-Isu Terkini Persepektif Republika
Rabu, 22 April 2020
JANGAN LUPA BERDOA
JAGA DIRI
DAN KELUARGA DARI COVID 19
MELALUI GERMAS DALAM
BAHASA AGAMA
(Langkah
Ke-10: Jangan Lupa Berdoa)
Oleh:
Alfiatu Solikah, S. Ag., M.Pd.I.
Setelah kita
berikhtiar untuk menjaga diri dan keluarga dari covid-19 mulai dari makan
dengan gizi yang seimbang; rajin olah raga dan istirahat yang cukup; jaga
kebersihan lingkungan; tidak merokok; cuci tangan pakai sabun; gunakan masker
bila batuk atau tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam; minum air mineral
8 gelas per hari; makan makanan yang dimasak sempurna dan hindari makan daging
dari hewan yang berpotensi menularkan; bila demam dan sesak nafas, segera ke
fasilitas kesehatan dan yang terakhir adalah jangan lupa berdoa.
Orang yang tengah
dilanda penyakit biasanya tidak bisa banyak berbuat apa-apa maupun pergi ke
mana-mana. Bahkan banyak dokter atau orangtua yang menyarankan untuk banyak
beristirahat demi menjaga kesehatan. Dan jangan lupa memperbanyak doa meminta
kesembuhan kepada Allah SWT. Karena, setiap apa yang terjadi di muka bumi
adalah atas kehendak-Nya. Kita diserang penyakit merupakan keputusan Allah
Ta’ala dan penyakit diangkat dari tubuh kita juga menjadi hal yang bisa
dilakukan oleh-Nya.
Kita harus selalu
berpikir positif dan tetap percaya bahwa apa yang diberikan Allah SWT bila
bukan merupakan cobaan, maka adalah hal yang terbaik bagi kita. Tentu bila
sakit parah dalam jangka waktu yang lama akan merepotkan orang lain, serta kita
tidak bisa melakukan berbagai macam aktivitas seperti hari-hari biasa. Tidak
selamanya penyakit buruk, ada beberapa berkah atau hikmah dibalik sakit yang
kita derita. Beberapa diantaranya telah diriwayatkan oleh Imam Muslim.
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ
عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
Artinya: “Tidak
ada satupun musibah (cobaan) yang menimpa seorang muslim berupa duri atau yang
semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus
kesalahannya.”
Dalam hadits di atas
dijelaskan bahwa penyakit merupakan sebuah cobaan yang menimpa manusia. Namun
setelah sakit, Allah akan meninggikan
orang-orang yang merenung dan berusaha memperbaiki diri.
Dalam riwayat lain
dijelaskan bahwa penyakit bisa menjadi salah satu hal yang membuat dosa seorang
manusia dihapus. Berikut adalah hadits penyakit merupakan penghapus dosa ooleh
Imam Bukhari dan Muslim.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ
يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ
كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
Artinya: “Tidaklah
seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan
mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.”
Benar bahwa penyakit
adalah musibah yang dapat menggugurkan dosa, namun itu tidak serta merta
apabila dalam hati seseorang tidak ikhlas dan sabar menerima penyakit. Sifat
sabar tidak hanya diuji ketika orang sakit, namun juga saat telah sembuh.
Apakah dia memperbanyak membaca doa saat sakit atau justru makin menjauh dan
membenci Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Intinya kita harus sabar dan ikhlas
menerima setiap keputusan dari Allah SWT. Yakinlah dan terus berpikir positif
karena setiap penyakit pasti ada obatnya, sesuai hadits yang diriwayatkan oleh
Muslim berikut ini.
لِكُلِّ دَاءٍ
دَوَاءٌ فإذا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عز وجل
Artinya: “Setiap
penyakit ada obatnya, jika obat itu sesuai dengan penyakitnya, akan sembuh dengan
izin Allah Azza wajalla.”
Doa Ketika Sakit
Ini adalah doa yang
biasa dibaca Rasulullah saat sakit, untuk keluarga, diri sendiri, orang tua,
anak, istri, suami ataupun saudara dan teman.
اللَّهُمَّ رَبَّ
النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً
لَا يُغَادِرُ سَقْمًا
Artinya: “Tuhanku,
Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah
penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan
yang tidak menyisakan rasa nyeri.”
Adab Ketika Sakit
Dalam Islam
Berikut adalah
hal-hal sikap dan sifat yang perlu dijaga ketika sedang sakit menurut agama
Islam:
- Selalu berprasangka baik bahwa Allah SWT menurunkan penyakit untuk cobaan, bukan azab atau bencana.
- Yakin bahwa tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, selalu ada obat dan peluang bagi mereka yang terus berdoa menyebut nama Allah SWT.
- Ikhlas dan siap menerima apa saja keputusan dari Allah SWT, termasuk kemungkinan terburuknya.
- Merenung ketika sakit, mungkin ada perbuatan dosa yang pernah diperbuat atau janji yang belum ditebus.
- Selalu memposisikan diri diantara takut (khauf) dan harao (raja’).
- Sekalipun sakit bertambah parah, tetap tidak boleh mengharapkan kematian.
- Jika memiliki tanggungan, maka segeralah tunaikan dan lunasi.
- Orang-orang yang sakit sudah seharusnya cepat-cepat membuat wasiat (sumber: etika sakit dalam Islam).
Itulah beberapa
penjelasan mengenai doa ketika sakit memohon kesembuhan kepada Allah SWT,
semoga yang memperbanyak doa dapat segera diangkat penyakitnya dan dijauhkan
dari kambuh atau penyakit menular lainnya.
Demikian seluruh
prosedur ikhtiar menjaga diri dan keluarga dari covid-19 telah kami uraikan. Semoga
ada guna dan manfaatnya. Aamiin.
Kembali keawal, klik disini
BILA DEMAM & SESAK NAFAS, SEGERA KUNJUNGI FASILITAS KESEHATAN
JAGA DIRI
DAN KELUARGA DARI COVID 19
MELALUI GERMAS DALAM BAHASA AGAMA
MELALUI GERMAS DALAM BAHASA AGAMA
(edisi Ke-9: Bila Demam & Sesak
Nafas, Segera Kunjungi Fasilitas Kesehatan)
Oleh: Alfiatu Solikah, S. Ag., M.Pd.I.
Langkah ke-9 dari ikhtiar menjaga diri dan keluarga
dari Covid-19 adalah bila demam dan sesak nafas,
segera ke fasilitas kesehatan. Hal ini adalah sebuah kewajiban untuk menyelamatkan
diri. Begitu cepatnya Covid-19 menular dan mengancam kelangsungan hidup
manusia, maka demi kemaslahatan bersama, sebaiknya orang yang mengalami gejala
di atas, sesegera mungkin memeriksakan diri ke dokter.
إن الله تعالى
أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فتداووا ولا تداووا
بالحرام
Artinya: “Sesungguhnya Allah
menurunkan penyakit dan obatnya dan menjadikan bagi setiap penyakit ada
obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan kalian berobat dengan yang haram.”
(HR. Abu Dawud dari Abu Darda)
إنَّ اللَّهَ
لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
Artinya: “Sesungguhnya
Allah tidak menurunkan satu penyakit kecuali diturunkan pula baginya obat.”
Dari kedua hadits di atas bisa diambil satu kesimpulan bahwa
ketika Allah memberikan satu penyakit kepada hamba-Nya maka kepadanya pula akan
diberikan obat yang bisa menyembuhkannya. Tentunya orang yang sakit dituntut
untuk berusaha mendapatkan obat tersebut agar teraih kesembuhannya.
COVID-19 adalah
penyakit yang disebabkan oleh Novel Coronavirus (2019-nCoV), jenis baru
coronavirus yang pada manusia menyebabkan penyakit mulai flu biasa hingga
penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan
Sindrom Pernapasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Pada
11 Februari 2020, World Health Organization (WHO) mengumumkan nama penyakit
yang disebabkan 2019-nCov, yaitu Coronavirus Disease (COVID-19).
Gejala umum berupa
demam ≥38°C, batuk kering, dan sesak napas. Jika ada orang yang dalam 14 hari
sebelum muncul gejala tersebut pernah melakukan perjalanan ke negara
terjangkit, atau pernah merawat/kontak erat dengan penderita COVID-19, maka
terhadap orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut
untuk memastikan diagnosisnya.
Penyebaran virus
corona (Covid-19) masih terus meluas ke banyak negara, termasuk Indonesia.
Penderita yang terjangkit virus corona jenis baru ini umumnya akan mengalami
gejala seperti demam, flu, sesak nafas, batuk-batuk, sampai sakit pernafasan
ringan hingga berat. Pada tahap yang lebih parah, infeksi ini dapat menyebabkan
pneumonia, yakni sakit pernafasan parah yang dapat mengakibatkan kematian.
Ketika virus corona
telah menjangkiti manusia, ia akan dapat dengan mudah menularkan kepada sesama
manusia. Seseorang dapat terinfeksi dari penderita COVID-19. Penyakit ini dapat
menyebar melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat batuk
atau bersin. Droplet tersebut kemudian jatuh pada benda di sekitarnya. Kemudian
jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet
tersebut, lalu orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut (segitiga wajah),
maka orang itu dapat terinfeksi COVID-19. Seseorang juga bisa terinfeksi
COVID-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Inilah sebabnya
mengapa kita penting untuk menjaga jarak hingga kurang lebih satu meter dari
orang yang sakit.
Virus corona
(SARS-CoV-2) bisa mengancam siapa saja dan berbahaya, terutama pada orang tua,
serta orang yang sedang sakit atau memiliki kekebalan tubuh lemah. Virus ini
diperkirakan memiliki masa inkubasi mulai dari satu hingga 14 hari (Harvard
Health Publishing).
Namun, banyak kasus
yang menunjukkan masa inkubasi virus ini bisa lebih dari dua pekan. Jika Anda,
kerabat, atau keluarga terdekat memiliki gejala yang mirip dengan penyakit
tersebut, terutama flu, batuk, pilek, dan demam, dan tidak kunjung sembuh dalam
beberapa hari, lebih baik untuk segera dibawa ke dokter atau rumah sakit guna
mendapatkan penanganan lebih lanjut. Hal itu juga untuk memastikan apakah
gejala itu pertanda sakit biasa atau karena Covid-19.
Satu hal yang juga mesti dipahami dan diyakini oleh setiap
orang yang sakit, bahwa ketika ia telah berusaha berobat dan mendapatkan
kesembuhannya maka ia mesti berkeyakinan bahwa yang menyembuhkan penyakitnya
adalah Allah semata, bukan obat yang diminumnya. Usaha berobat yang ia lakukan
adalah ikhtiar seorang hamba untuk mendapatkan anugerah kesembuhan dari
Tuhannya. Obat yang ia minum hanyalah sarana belaka. Sedangkan kesembuhan yang
didapatkannya adalah semata karena kehendak dan anugerah Allah yang tanpa
ikhtiar dan sarana sekalipun Allah berkuasa untuk melakukannya. Rasulullah
bersabda:
لِكُلِّ دَاءٍ
دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرِئَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: “Setiap penyakit memiliki obat. Bila cocok obat
dengan penyakitnya maka akan sembuh dengan izin Allah Ta’ala.”
Karena kesembuhan mutlak kehendak dan anugerah Allah semata
maka juga perlu dipahami bahwa obat yang hanya sebagai sarana bisa berbentuk
apa saja. Obat medis, obat herbal, ramuan tradisional, air putih yang didoakan orang
tua dan lain sebagainya adalah sarana-sarana yang bisa dijadikan obat. Dengan
sarana yang mana seseorang yang sakit akan mendapatkan kesembuhannya hanya
Allah yang tahu sesuai dengan kehendak-Nya.
selanjutnya langkah terakhir (langkah ke-10)
adalah Jangan lupa berdoa klik di sini
adalah Jangan lupa berdoa klik di sini
Langganan:
Postingan (Atom)
Menguatkan Iman Dan Akhlak Melalui Literasi Al-Qur’an Dan Majelis Ilmu
A. Pendahuluan Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam yang diturunkan Allah Swt. sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidu...
-
A. Pendahuluan Setiap wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad saw tidak datang begitu saja tanpa makna, melainkan hadir sebagai jawaban ...
-
1.1 Definisi dan Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang memuat wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Mu...
-
A. Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi dalam Pendidikan Dalam praktik pendidikan, khususnya pada mata kuliah Pendidikan ...





