A.
Pendahuluan: Aksiologi dan Urgensi Al-Qur’an dalam Pendidikan Islam
Dalam
perspektif filsafat pendidikan, aksiologi menempati posisi penting karena
membahas nilai, tujuan, dan manfaat pendidikan bagi kehidupan manusia.
Pendidikan tidak hanya dinilai dari seberapa banyak pengetahuan yang
ditransfer, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai tersebut membentuk kepribadian,
moral, dan peradaban. Dalam Islam, sumber nilai tertinggi dalam pendidikan
adalah Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi yang bersifat transenden sekaligus
kontekstual.
Al-Qur’an
tidak hanya mengajarkan aspek ritual keagamaan, tetapi juga memuat
prinsip-prinsip pendidikan yang komprehensif, mencakup pembinaan akal, hati,
dan perilaku manusia. Oleh karena itu, pembahasan tentang aksiologi Al-Qur’an
dalam pendidikan Islam menjadi sangat penting untuk memahami bagaimana
Al-Qur’an memberi arah, tujuan, dan nilai dalam proses pendidikan. Pendidikan
Islam yang kehilangan orientasi Qur’ani berisiko menjadi kering nilai dan
terjebak pada formalitas administratif.
Bagi
mahasiswa sebagai calon pendidik, pemikir, dan pemimpin masa depan, pemahaman
ini sangat strategis. Pendidikan Islam tidak cukup hanya berorientasi pada
pencapaian akademik, tetapi harus mampu melahirkan insan beriman, berilmu, dan
berakhlak mulia. Di sinilah Al-Qur’an berfungsi sebagai fondasi aksiologis yang
menjiwai seluruh proses pendidikan.
B.
Konsep Tarbiyah Qur’aniyah: Pendidikan Berbasis Wahyu
1.
Makna Tarbiyah Qur’aniyah
Secara
etimologis, kata tarbiyah berasal dari kata rabba yang bermakna
menumbuhkan, memelihara, membimbing, dan mengembangkan secara bertahap. Konsep
ini sejalan dengan sifat Allah sebagai Rabb al-‘Alamin, yaitu Tuhan yang
mendidik dan memelihara seluruh alam. Tarbiyah Qur’aniyah berarti proses
pendidikan yang bersumber, berorientasi, dan berlandaskan nilai-nilai
Al-Qur’an.
Allah
Swt. berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(١)
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)
Ayat
ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam dimulai dari kesadaran ketuhanan.
Proses belajar tidak berdiri netral nilai, tetapi selalu terhubung dengan
dimensi ilahiah. Secara aksiologis, tarbiyah Qur’aniyah bertujuan membentuk
manusia yang mengenal Tuhannya, memahami dirinya, dan bertanggung jawab
terhadap lingkungan sosialnya.
2.
Tujuan Tarbiyah Qur’aniyah
Tujuan
utama tarbiyah Qur’aniyah adalah pembentukan insan yang beriman, berilmu, dan
berakhlak. Allah Swt. berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ
“Allah
akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang
yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah [58]: 11)
Ayat
ini menegaskan bahwa iman dan ilmu merupakan dua pilar utama pendidikan Islam.
Tarbiyah Qur’aniyah tidak memisahkan antara kecerdasan intelektual dan
kematangan spiritual. Dalam konteks mahasiswa, tujuan ini tercermin dalam
pembentukan karakter akademik yang jujur, kritis, dan bertanggung jawab.
3.
Prinsip Tarbiyah Qur’aniyah
Beberapa
prinsip utama tarbiyah Qur’aniyah antara lain:
- Tauhid
sebagai fondasi – seluruh proses pendidikan diarahkan untuk memperkuat
keimanan.
- Keseimbangan
(tawāzun) – antara akal, hati, dan amal.
- Bertahap
(tadarruj) – pendidikan dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
- Keteladanan
(uswah) – pendidik menjadi model nilai Qur’ani.
Rasulullah
saw. bersabda:
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ
هِلاَلٍ الصَّوَّافُ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ، عَنْ بَكْرِ بْنِ
خُنَيْسٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
يَزِيدَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى
الله عليه وسلم ـ ذَاتَ يَوْمٍ مِنْ بَعْضِ حُجَرِهِ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا
هُوَ بِحَلْقَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ اللَّهَ
وَالأُخْرَى يَتَعَلَّمُونَ وَيُعَلِّمُونَ فَقَالَ النَّبِيُّ ـ صلى الله عليه
وسلم ـ " كُلٌّ عَلَى خَيْرٍ هَؤُلاَءِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ
اللَّهَ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ وَهَؤُلاَءِ
يَتَعَلَّمُونَ وَيُعَلِّمُونَ وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا " .
فَجَلَسَ مَعَهُمْ .
Diriwayatkan
bahwa Abdullah bin Amr berkata: "Rasulullah saw keluar dari salah satu
apartemennya pada suatu hari dan memasuki masjid, di mana ia melihat dua
lingkaran, satu sedang membaca Al-Qur'an dan berdoa kepada Allah, dan yang
lainnya belajar dan mengajar. Nabi saw berkata: 'Keduanya baik. Orang-orang ini
sedang membaca Al-Qur'an dan berdoa kepada Allah, dan jika Dia menghendaki, Dia
akan memberi mereka, dan jika Dia menghendaki, Dia akan menahan dari mereka.
Dan orang-orang ini sedang belajar dan mengajar. Sesungguhnya aku diutus
sebagai seorang pengajar.' Kemudian ia duduk bersama mereka." (Hadits Sunan Ibnu Majah No.
229; Bab Keutamaan Para Ulama dan Dorongan untuk Mencari Ilmu)
Hadits
ini menegaskan bahwa kedudukan mulia antara ibadah ritual dan aktivitas
keilmuan dalam Islam, sekaligus menunjukkan prioritas dakwah Rasulullah saw
sebagai pendidik umat. Secara lebih rinci, maknanya dapat dijelaskan sebagai
berikut:
- Pengakuan
atas dua bentuk kebaikan
Rasulullah saw menegaskan bahwa kedua
kelompok sama-sama berada dalam kebaikan. Kelompok pertama yang membaca
Al-Qur’an dan berdoa mencerminkan ibadah spiritual (ʿibādah mahdhah),
yaitu hubungan langsung seorang hamba dengan Allah. Kelompok kedua yang belajar
dan mengajar mencerminkan ibadah intelektual dan sosial (ʿibādah ghairu mahdhah), yaitu upaya mentransmisikan ilmu dan membangun
peradaban.
- Ibadah
doa berada dalam kehendak mutlak Allah
Pernyataan Nabi bahwa Allah bisa
mengabulkan atau menahan doa menunjukkan bahwa hasil doa sepenuhnya berada
dalam kehendak Allah, meskipun aktivitas berdoa itu sendiri bernilai ibadah dan
berpahala. Ini mengajarkan sikap tawakal dan kerendahan hati dalam beribadah.
- Belajar
dan mengajar memiliki dampak kemaslahatan luas
Aktivitas belajar dan mengajar
tidak hanya memberi manfaat pribadi, tetapi juga memberi manfaat kolektif bagi
umat. Ilmu yang diajarkan dapat melahirkan pemahaman yang benar, memperbaiki
akhlak, dan membimbing praktik keagamaan yang tepat.
- Penegasan
misi kerasulan sebagai pendidik
Sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya
aku diutus sebagai seorang pengajar”, menegaskan bahwa pendidikan dan
penyebaran ilmu merupakan inti dari risalah Islam. Nabi tidak hanya sebagai
pembawa wahyu, tetapi juga sebagai pendidik yang membimbing umat menuju
pemahaman dan pengamalan agama yang benar.
- Pilihan
Nabi duduk bersama kelompok belajar-mengajar
Tindakan Nabi saw yang memilih
duduk bersama kelompok yang belajar dan mengajar mengandung pesan normatif
bahwa majelis ilmu memiliki keutamaan khusus, bahkan menjadi sarana utama dalam
membangun umat yang berilmu, beriman, dan berakhlak.
- Keseimbangan
antara spiritualitas dan intelektualitas
Hadits ini tidak meniadakan
keutamaan ibadah ritual, tetapi mengajarkan keseimbangan: ibadah spiritual
harus berjalan seiring dengan penguatan ilmu pengetahuan. Islam tidak hanya
membentuk individu yang saleh secara personal, tetapi juga cerdas dan
bertanggung jawab secara sosial.
Makna
utama hadits ini adalah bahwa Islam memuliakan ibadah dan ilmu secara bersamaan,
namun memberikan penekanan kuat pada pendidikan dan pengajaran sebagai sarana
strategis untuk keberlanjutan dan kemajuan umat. Rasulullah saw melalui teladan
ini mengajarkan bahwa majelis ilmu adalah jantung peradaban Islam dan fondasi
utama dalam membentuk masyarakat yang beriman, berilmu, dan beradab.
C.
Aksiologi Tarbiyah Qur’aniyah dalam Praktik Pendidikan
Secara
aksiologis, tarbiyah Qur’aniyah memiliki nilai guna yang sangat luas.
Pendidikan berbasis Al-Qur’an berfungsi sebagai sarana pembebasan manusia dari
kebodohan, ketidakadilan, dan kerusakan moral. Al-Qur’an menegaskan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ
يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan
diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)
Ayat
ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam perubahan
sosial. Dalam praktiknya, tarbiyah Qur’aniyah mendorong peserta didik untuk
menjadi subjek aktif dalam proses belajar dan perubahan masyarakat. Mahasiswa
tidak hanya menjadi pencari gelar, tetapi agen transformasi nilai.
Sebagai
contoh, dalam perkuliahan PAI, dosen dapat mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an
dengan isu-isu aktual seperti etika digital, keadilan sosial, dan lingkungan
hidup. Dengan demikian, mahasiswa memahami bahwa Al-Qur’an relevan dengan
realitas kontemporer dan memiliki nilai praksis dalam kehidupan.
D.
Integrasi Al-Qur’an dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI)
1.
Makna Integrasi Al-Qur’an dalam Kurikulum
Integrasi
Al-Qur’an dalam kurikulum PAI berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber
nilai, inspirasi, dan rujukan utama dalam perumusan tujuan, materi, metode, dan
evaluasi pembelajaran. Integrasi ini bukan sekadar menambahkan ayat sebagai
pelengkap materi, tetapi menjadikan nilai Qur’ani sebagai ruh kurikulum.
Allah
Swt. berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ
شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Dan
Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl [16]: 89)
Ayat
ini menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki fungsi edukatif yang menyeluruh. Oleh
karena itu, kurikulum PAI harus dirancang agar mampu menanamkan nilai-nilai
Qur’ani secara sistematis dan kontekstual.
2.
Bentuk Integrasi dalam Kurikulum PAI
Integrasi
Al-Qur’an dalam kurikulum PAI dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan:
- Integrasi
tujuan: capaian pembelajaran mencerminkan nilai iman, ilmu, dan akhlak.
- Integrasi
materi: setiap topik dikaitkan dengan ayat Al-Qur’an dan hadits relevan.
- Integrasi
metode: pembelajaran dialogis, reflektif, dan partisipatif.
- Integrasi
evaluasi: penilaian tidak hanya kognitif, tetapi juga afektif dan
psikomotorik.
Sebagai
contoh, ketika membahas tema kejujuran akademik, dosen dapat mengaitkannya
dengan QS. Al-Isrā’ [17]: 36 tentang tanggung jawab moral manusia. Hal ini
membantu mahasiswa memahami bahwa nilai akademik memiliki landasan Qur’ani.
3.
Tantangan dan Peluang Integrasi
Tantangan
utama integrasi Al-Qur’an dalam kurikulum PAI adalah kecenderungan pembelajaran
yang masih bersifat tekstual dan normatif. Namun, tantangan ini sekaligus
menjadi peluang untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang kreatif dan
kontekstual. Mahasiswa dapat diajak melakukan studi kasus, diskusi reflektif,
dan proyek berbasis nilai Qur’ani.
E.
Diskusi Interaktif: Pendidikan Islam Berbasis Al-Qur’an
Untuk
menciptakan suasana perkuliahan yang interaktif dan menyenangkan, dosen dapat
mengajukan pertanyaan reflektif seperti: “Apakah pendidikan Islam hari ini
sudah benar-benar mencerminkan nilai Al-Qur’an?” Pertanyaan ini mendorong
mahasiswa berpikir kritis dan reflektif.
Mahasiswa
dapat diminta mendiskusikan contoh konkret integrasi Al-Qur’an dalam pengalaman
belajar mereka, baik di kampus maupun di luar kampus. Diskusi ini membantu
mahasiswa menyadari bahwa pendidikan Qur’ani bukan konsep abstrak, tetapi
realitas yang dapat diupayakan bersama.
F.
Penutup: Relevansi Aksiologi Al-Qur’an dalam Pendidikan Islam
Aksiologi
Al-Qur’an dalam pendidikan Islam menegaskan bahwa nilai guna pendidikan tidak
hanya diukur dari capaian akademik, tetapi dari kontribusinya dalam membentuk
manusia beriman, berilmu, dan berakhlak. Konsep tarbiyah Qur’aniyah dan
integrasi Al-Qur’an dalam kurikulum PAI merupakan fondasi penting untuk
membangun pendidikan Islam yang humanis, transformatif, dan berkeadaban.
Mahasiswa
diharapkan mampu memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Qur’ani dalam
proses belajar dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan Islam
tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas, tetapi juga berkarakter dan
bertanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.
Referensi
Akademik
- Al-Qur’an
al-Karim.
- Al-Ghazali.
Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Fazlur
Rahman. Islam and Modernity. Chicago: University of Chicago Press,
1982.
- Quraish
Shihab. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1999.
- Amin
Abdullah. Pengembangan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2010.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar