A. Pendahuluan: Aksiologi dan Posisi Al-Qur’an dalam Kehidupan Manusia
Dalam
kajian filsafat, aksiologi merupakan cabang filsafat yang membahas tentang
nilai, kegunaan, dan tujuan suatu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Jika
ontologi menanyakan “apa” dan epistemologi menanyakan “bagaimana”, maka
aksiologi menanyakan “untuk apa”. Dalam konteks keilmuan Islam, Al-Qur’an tidak
hanya dipahami sebagai teks suci yang dibaca dan dihafalkan, tetapi juga
sebagai sumber nilai yang hidup dan membimbing perilaku manusia. Oleh karena
itu, pembahasan tentang aksiologi Al-Qur’an menjadi sangat relevan, terutama
bagi mahasiswa sebagai generasi intelektual dan agen perubahan sosial.
Al-Qur’an
hadir bukan sekadar untuk dikagumi keindahan bahasanya, melainkan untuk
diinternalisasi nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kebangsaan.
Allah Swt. menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup yang
membimbing manusia menuju kebaikan dan keselamatan. Hal ini menunjukkan bahwa
nilai guna (aksiologis) Al-Qur’an bersifat komprehensif, mencakup aspek
spiritual, moral, sosial, dan kemanusiaan.
Dalam
realitas mahasiswa hari ini, tantangan kehidupan semakin kompleks: krisis
moral, disorientasi nilai, tekanan akademik, serta pengaruh budaya digital yang
sering kali menjauhkan manusia dari nilai-nilai transendental. Oleh karena itu,
memahami Al-Qur’an secara aksiologis berarti menjadikannya sebagai rujukan
nilai dalam menyikapi persoalan kehidupan modern secara kritis, rasional, dan
berkeadaban.
B.
Fungsi Al-Qur’an sebagai Hudā (Petunjuk Hidup)
Salah
satu fungsi utama Al-Qur’an adalah sebagai hudā, yakni petunjuk hidup
bagi manusia. Allah Swt. berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ
“Bulan
Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk
(hudā) bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta
pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Secara
filosofis, manusia adalah makhluk pencari makna (meaning seeker). Tanpa
petunjuk nilai, manusia mudah tersesat dalam menentukan arah hidupnya.
Al-Qur’an hadir sebagai kompas moral dan spiritual yang mengarahkan manusia
pada tujuan hidup yang benar, yaitu pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan
sesama manusia. Petunjuk Al-Qur’an tidak bersifat teknis semata, tetapi
normatif dan prinsipil, sehingga dapat diterapkan lintas ruang dan waktu.
Dalam
kehidupan mahasiswa, fungsi hudā ini dapat diwujudkan melalui sikap akademik
yang jujur, etos belajar yang disiplin, serta keberanian menolak
praktik-praktik tidak etis seperti plagiarisme dan manipulasi akademik.
Al-Qur’an mengajarkan kejujuran dan integritas, sebagaimana firman Allah Swt.:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah [9]: 119)
Dengan
menjadikan Al-Qur’an sebagai hudā, mahasiswa tidak hanya cerdas secara
intelektual, tetapi juga matang secara moral. Inilah esensi petunjuk Al-Qur’an
yang membentuk manusia paripurna (insān kāmil).
C.
Fungsi Al-Qur’an sebagai Syifā’ (Penyembuh)
Selain
sebagai petunjuk, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai syifā’, yaitu
penyembuh bagi penyakit lahir dan batin. Allah Swt. berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ
وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan
Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang
yang zalim selain kerugian.
(QS. Al-Isrā’ [17]: 82)
Dalam
perspektif aksiologi, syifā’ tidak hanya dimaknai sebagai penyembuhan fisik,
tetapi terutama penyembuhan psikologis dan spiritual. Banyak problem manusia
modern bersumber dari kegelisahan batin, kekosongan makna, dan krisis
identitas. Al-Qur’an hadir memberikan ketenangan, harapan, dan kekuatan moral
untuk menghadapi realitas hidup.
Bagi
mahasiswa, tekanan akademik, kecemasan masa depan, dan konflik relasi sosial
sering kali menimbulkan stres dan kelelahan mental. Membaca, memahami, dan
merenungi Al-Qur’an dapat menjadi terapi spiritual yang menenangkan jiwa. Allah
Swt. berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ
بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)
Secara
praktis, mahasiswa dapat menjadikan Al-Qur’an sebagai ruang refleksi diri, misalnya dengan tadabbur ayat-ayat tentang
kesabaran, tawakal, dan optimisme. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi syifā’
Al-Qur’an sangat relevan dalam konteks kesehatan mental mahasiswa di era
modern.
D.
Fungsi Al-Qur’an sebagai Rahmah (Kasih Sayang dan Kemanusiaan)
Fungsi
ketiga Al-Qur’an adalah sebagai rahmah, yakni sumber kasih sayang dan
nilai kemanusiaan. Allah Swt. berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107)
Rahmah
dalam Al-Qur’an tidak bersifat eksklusif, tetapi universal, mencakup seluruh
manusia tanpa memandang latar belakang agama, budaya, dan sosial. Secara
aksiologis, Al-Qur’an mendorong terciptanya kehidupan yang adil, damai, dan
bermartabat. Nilai rahmah ini menjadi fondasi etika sosial dalam Islam.
Dalam
konteks kehidupan kampus, nilai rahmah dapat diwujudkan melalui sikap
toleransi, empati, dan kepedulian sosial. Mahasiswa yang menjadikan Al-Qur’an
sebagai rahmah akan peka terhadap ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi.
Rasulullah saw. bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani,
ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:
3289)
Dengan
demikian, Al-Qur’an tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga
kesalehan sosial. Mahasiswa diharapkan mampu menerjemahkan nilai rahmah
Al-Qur’an dalam aktivitas pengabdian masyarakat, advokasi sosial, dan
kepemimpinan yang beretika.
E.
Diskusi Interaktif: Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup Mahasiswa
Pada
bagian ini, dosen dapat mengajak mahasiswa berdiskusi secara reflektif dengan
pertanyaan pemantik, seperti: “Apakah Al-Qur’an sudah benar-benar menjadi
pedoman hidup kita, atau hanya sebatas bacaan ritual?” Pertanyaan ini
mendorong mahasiswa untuk melakukan introspeksi dan dialog kritis.
Mahasiswa
dapat dibagi dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan pengalaman pribadi mereka
dalam mengamalkan nilai Al-Qur’an. Misalnya, bagaimana Al-Qur’an memengaruhi
cara mereka mengambil keputusan, bersikap terhadap perbedaan, atau menghadapi
kegagalan. Diskusi ini penting untuk menghubungkan teks Al-Qur’an dengan
realitas kehidupan sehari-hari.
Pendekatan
ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan integrasi antara
ilmu, iman, dan amal. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup harus dihidupkan melalui
praksis nyata, bukan sekadar dipahami secara teoritis. Dengan demikian,
mahasiswa belajar bahwa Al-Qur’an adalah “living guidance” yang relevan dalam
setiap fase kehidupan.
F.
Penutup: Relevansi Aksiologi Al-Qur’an bagi Generasi Intelektual
Aksiologi
Al-Qur’an menegaskan bahwa nilai guna Al-Qur’an bersifat holistik: sebagai hudā
yang membimbing, syifā’ yang menyembuhkan, dan rahmah yang menebarkan kasih
sayang. Dalam kehidupan mahasiswa, ketiga fungsi ini harus terintegrasi secara
seimbang agar terbentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, dan berkeadaban.
Menjadikan
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bukan berarti menolak modernitas, melainkan
menyaring dan mengarahkannya agar selaras dengan nilai-nilai ilahiah. Mahasiswa
diharapkan mampu menjadi generasi yang kritis secara intelektual, kokoh secara
spiritual, dan peduli secara sosial. Inilah tujuan utama pendidikan Islam yang
berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.
Daftar Referensi
- Al-Ghazali.
Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Fazlur
Rahman. Islam and Modernity. Chicago: University of Chicago Press,
1982.
- Quraish
Shihab. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1999.
- Amin
Abdullah. Islam sebagai Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar