Minggu, 14 Juli 2013

PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA



PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA
(SUB KONTINENTAL 2 MODEL PENDIDIKAN ISLAM & BARAT, STUDY KELEMBAGAAN, SISTEM PENGELOLAAN &
MUATAN KURIKULUM)
oleh : Alfiatu Solikah


A.  Pendahuluan
Sebelum tahun 1813 perhatian penjajah Inggris terhadap pendidikan sangat kecil, karena tujuan kedatangan mereka ke India memang untuk berdagang dan mencari keuntungan sebesar mungkin.  Sampai dengan tahun tersebut kompeni dagang Inggris hanya berhasil membangun dua buah sekolah, masing-masing untuk masyarakat Muslim dan Hindu.
Madrasah Aliyah di Calcuta (1781) dibangun dengan dukungan dari kompeni. Madrasah ini dibangun untuk menghasilkan lulusan-lulusan untuk bekerja sebagai hakim di pengadilan.[1] Pada tahun yang sama, kompeni tersebut membangun sekolah berbahasa Sansekerta untuk masyarakat Hindu.[2]
Salah satu alasan mengapa Inggris ambivalen dalam kebijakan pendidikannya karena mereka takut bahwa pendidikan untuk masyarakat pribumi itu dikhawatirkan akan memunculkan kesadarannya akan hak mereka sehingga membahayakan keberlanjutan penjajahan Inggris di kawasan tersebut.[3] Kekhawatiran ini menghantui Inggris yang akan mengeksploitasi penduduk India dan membiarkan mereka dalam ketidaktahuan akan kondisi mereka yang sebenarnya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Kekhawatiran ini ada benarnya karena ada bukti bahwa yang mempelopori kemerdekaan India adalah dari kaum terdidik.
Kebijakan “tidak campur tangan” ini berubah pada tahun 1813 ketika pemerintah mengeluarkan sebuah undang-undang yang menyebutkan bahwa  “...sejumlah uang tidak kurang dari satu lak Rupee setiap tahunnya harus dialokasikan dan diaplikasikan untuk membangkitkan dan meningkatkan kemampuan baca tulis, mendorong orang-orang India asli yang berpendidikan dan mengenal dan mempromosikan ilmu pengetahuan kepada penduduk di wilayah pendudukan Inggris di India.”[4]
Ketika undang-undang itu dijalankan ternyata mengecewakan umat Islam karena ternyata dana tersebut hanya digunakan untuk peningkatan pembelajaran bahasa Sansekerta sebagaimana diatur oleh Dewan Direktur.[5]
Kebijakan semacam ini menunjukkan ketidak seriusan pemerintah dalam mengaplikasikan undang-undang tersebut, karena ada kecenderungan untuk menganak emaskan mereka yang beragama Hindu. Pada tanggal 7 Maret 1835,Gubernur Jendral Lord Bentinck mengeluarkan peraturan yang lain yang semakin menyengsarakan orang-orang Islam. Peraturan yang baru ini bahkan bertentangan dengan semangat undang-undang sebelumnya. Ia berbunyi : “...semua dana yang disediakan untuk keperluan pendidikan akan dialokasikan untuk keperluan pendidikan berbahasa Inggris saja.”[6]
Peraturan ini dan kebijakan yang lain menjadi bukti adanya upaya pemerintah untuk merugikan rakyat pribumi khususnya mereka yang beragama Islam. Orang-orang India bukannya diberi kesempatan untuk mengembangkan pendidikan dan kebudayaan mereka, tetapi justru harus menyesuaikan pada kebudayaan yang asing buat mereka.[7] Demikian juga kata Chaube :
Tidak ada ruang sedikitpun untuk mengembangkan jiwa mandiri dalam  sistem  pendidikan ini. Sebagian besar penguasa Inggris berpikiran bahwa pendidikan yang menanamkan kemandirian akan menumbuhkan keinginan untuk merdeka dan bebas pada orang-orang India dan mereka sangat terbius dengan pemikiran semacam ini. Tujuannya adalah membuat orang India tetap berada dalam genggaman mereka, untuk menghancurkan kebesarannya dan merampas kekayaannya sendiri kepada negara-negara lain.[8]
Pengaruh kolonialisme Inggris terhadap pembaharuan pendidikan Muslim di India memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembaharuan pendidikan islam di India, sehingga memunculkan gerakan Aligarh (1877-1898) di India. Aligarh merupakan nama kota di India utara, tetapi kemudian menjadi sebutan bagi gerakan pembaharuan yang dipelopori oleh Sayid Ahmad Khan di kota tersebut. Ahmad Khan lahir pada tahun 1817 di Delhi. Menurut salah satu riwayat, Ia berasal dari keturunan Husain, cucu nabi Muhamad SAW, dari jalur Fatimah dan Ali. Ahmad Khan adalah cucu sayyid Hadi salah seorang pembesar Istana pada zaman Alamghir II (1754-1759).[9]
Ia mendapatkan pendidikan dan pengajaran termasuk membaca Al Qur’an di rumahnya sendiri. Ia adalah tokoh pendidikan yang besar di India, pendiri Universitas Islam di India (Aligarch College, 1875). Pada tahun 1889 mendapat gelar doktor honoris causa dalam ilmu hukum dari Universitas Edenburgh, dan meninggal dunia pada tahun 1899. Cita-citanya adalah mewujudkan masyarakat Islam yang modern dengan mengambil Turki sebagai contoh. Semboyannya adalah “tolonglah dirimu sendiri, hanya dengan demikian engkau dapat maju”.[10]
Salah satu hal yang perlu dikemukakan bahwa penjajah Inggris lebih mengutamakan kepentingan penjajah sendiri daripada kepentingan penduduk asli  dan tidak memberikan peluang kepada mereka kecuali harus menyesuaikan diri terhadap norma-norma kaum penjajah.
Ahmad Khan mengajak kaumnya untuk membekali diri dengan sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan jaman yang sudah berbeda dengan jaman sebelumnya. Salah jalan yang paling efektif adalah dengan pembangunan lembaga pendidikan  yang mampu membekali anak didiknya dengan nilai-nilai moral sesuai dengan ajaran Islam sekaligus membekali anak didiknya dengan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk peningkatan kesejahteraan. Dalam rangka itu maka reformasi pendidikan Muslim dipandang sebagai suatu keharusan. Gerakan Aligarh yang termanifestasikan dalam bentuk lembaga pendidikan memiliki Peran yang dapat dilihat dari munculnya lembaga pendidikan baru yang mengadopsi ilmu-ilmu pengetahuan umum, meskipun dalam pelaksanaan pendidikannya tidak sepenuhnya mengikuti pola yang dikembangkan Aligarh.
Ahmad Khan adalah seorang yang banyak belajar tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan tradisional yang menjadi bekal yang sangat penting dalam memformulasikan pemikiran dan program-program pembaharuan pendidikannya. Keterlibatan Ahmad Khan dalam pemerintahan kolonial, dari sudut pandang pemerintahan Inggris, merupakan bukti bahwa ia adalah orang yang bisa dipercaya. Bagi Ahmad Khan sendiri kehadiran pemerintahan Inggris merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dihindarkan, oleh karena itu ia (dan kaum Muslim India) harus mengambil manfaat.
Dalam rangka mendekatkan Muslim dengan pemerintah, Ahmad Khan menerapkan dua pendekatan yang berbeda terhadap dua kelompok itu. Kepada Muslim India ia mengatakan bahwa sikap mereka terhadap ilmu pengetahuan Barat telah membawa mereka ke keterbelakangan. Ia berarguentasi bahwa kecurigaan Muslimin kepada ilmu pengetahuan Barat merupakan satu kesalahan karena pendahulu mereka juga telah mempelajari ilmu-ilmu yang mereka butuhkan tanpa harus mempertanyakan siapa yang membawa ilmu itu. Ahmad Khan berpendapat bahwa konservatisme yang mempengaruhi pola hidup mereka. Sebaliknya kepada pemerintah Inggris Ahad Khan meyakinkan bahwa pemberontakan itu tidak direncanakan oleh orang-orang Muslim, tetapi merupakan pemberontakan yang sporadis dan tidak terkoordinasi yang dilakukan oleh masyarakat India yang kecewa terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.[11]
Sayyid ahmad berpendapat bahwa meningkatkan kedudukan umat Islam India, hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan Inggris. Sebab saat itu, Inggris merupakan penguasa yang menjajah India dan masih mempunyai kekuasaan yang kuat. Menentang kekuasaannya tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India, bahkan akan membuat mereka tetap mundur dan akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindu India.
B.  Pertemuan 2 Model Pendidikan Islam & Barat
Jalan bagi ummat Islam India untuk melepaskan diri dari kemunduran dan selanjutnya mencapai kemajuan, ialah memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern Barat. Agar usaha ini dapat dicapai sikap mental ummat yang kurang percaya kepada kekuatan akal, kurang percaya pada kebebasan manusia dan kurang percaya pada adanya hukum alam, harus dirubah terlebih dahulu. Perubahan sikap mental itu ia usahakan melalui tulisan-tulisan dalam bentuk buku dan artikel-artikel dalam bentuk majalah Tahzib Al Akhlaq.
Bagi Ahmad Khan, pendidikan adalah instrumen yang dengannya umat Islam dapat merealisasikan potensinya dan mencapai kemajuan. Ahmad Khan sangat bangga dengan pendidikan para pendahulunya dan mengakui pendidikan yang demikian telah menghasilkan orang-orang besar sepanjang sejarahnya. Akan tetapi Ahmad Khan juga mengakui bahwa jaman telah berubah ; karena itu ia berpendapat meniru model pendidikan para pendahulunya tidak akan membuahkan hasil yang diiginkan, motode-metode baru yang sesuai dengan jaman harus digali. Ahmad berpendapat bahwa pendidikan  sangat penting dalam pembentukan kepribadian.
Selain dasar ketinggian dan kekuasaan Barat, termasuk yang dimiliki Inggris adalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) modern. Bagi umat Islam, untuk dapat maju, juga dapat menguasai IPTEK seperti mereka. Jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk memperoleh IPTEK yang diperlukan itu bukan bekerja sama dengan Hindu dalam menentang Inggris, tapi memperbaiki dan memperkuat hubungan baik dengan mereka.
Scientific Society (Masyarakat ilmiah Aligarh), dan sepuluh tahun kemudian menjadi Mahomedan Anglo Oriental College (MAOC). Kedua lembaga itu, dipimpin oleh sayid Ahmad Khan (1817-1898), didirikan dengan tujuan agar Ilmu-ilmu Eropa kontemporer dapat diakses oleh public yang memiliki hak istimewa khususnya kaum Muslim. Pada tahun 1920, lembaga tersebut dikembangkan menjadi Universitas Muslim Aligarh (UMA) yang otonom dan berhak menganugrahkan gelar kesarjanaan. Setelah pemisahan India, dan terbentuknya Pakistan sebagai Negara-negara tersendiri bagi Muslim Asia selatan, UMA masih tetap di India sebagai salah satu di antara kelompok kecil universitas nasional.
Sesuai dengan pemikiran Ahmad Khan bahwa umat Islam harus mempelajari ilmu-ilmu Barat maka MAOC memiliki 2 fakultas : Inggris dan Timur. Di fakultas Inggris matakuliah diajarkan dengan bahasa Inggris, sementara bahasa Arab dan Persi menjadi bahasa ke dua. Di fakultas Timur, sastra dan sejarah diajarkan dengan bahasa Arab dan Persia, sementara geografi, matematika, kesenian dan sains diajarkan dengan bahasa Urdu. Di fakultas ini bahasa Inggris menjadi bahasa ke dua. Pada tahun 1880, dari dua fakultas ini hanya fakultas Inggris yang tetap hidup. Karena terlalu sedikit yang mendaftar di fakultas timur. Ahmad Khan sendiri tidak antusias mempromosikan fakultas ini, dengan alasan bahwa :
 “.........Fakultas ketimuran tidak akan membawa kebaikkan, tidak akan membawa manfaat untuk masyarakat.......Cuma akan membuang waktu bagi mereka yang dengan malangnya masuk pada perangkapnya.”[12]
Ahmad Khan menggunakan pendekatan “Self-Corrective” terhadap Muslim. Menurutnya kaum tradisionalis yang terlalu menitik beratkan pada aspek spiritual dalam kehidupan sehari-hari mengakibatkan kemandekan bahkan kemunduran dunia Islam, sementara kelompok lain telah mengalami kemajuan di bidang ekonomi. Ahmad Khan terobsesi  dengan kebesaran Barat, yang ia saksikan ketika berhubungan dengan pemerintahan Inggris dan ketika ia berkunjung ke Inggris. Ia berpendapat bahwa kemajuan material merupakan prioritas, karena dengan cara itu kesejahteraan mereka akan bisa sejajar dengan kaum kolonial.


C.  Study Kelembagaan
Keinginan Ahmad Khan untuk mengembangkan pendidikan Muslim India pertama kali mendapatkan sambutan dengan berdirinya the Scientific Society di Ghazipur pada tanggal 9 Januari 1864. Lembaga ini melakukan penerjemahan karya-karya dalam bahasa Inggris kedalam bahasa Urdu, agar isinya dapat dipahami oleh Muslim India. Ahmad Khan berpandangan bahwa umat Islam harus menguasai sejarah, filsafat alam dan ekonomi politik, karena tiga cabang ilmu itu merupakan alat yang sangat penting untuk mencapai kemajuan.
Pada tanggal 1 April 1869, bersama dua anaknya Sayid Hamid dan Sayid Mahmud, Ahmad Khan berangkat ke Inggris. Perjalanan itu semakin menyuburkan minatnya pada sistem pendidikan di Inggris. Disini pula Ahmad Khan mendapatkan kesempatan untuk lebih kenal dengan peradaban Barat dan sekaligus untuk merenungkan kondisi umat Islam di India. Dalam perjalanan di negeri penjajah itu pula Ahmad Khan berkesempatan untuk mengunjungi Universitas Cambridge dan Oxford dan beberapa sekolah dasar seperti Eton dan Harrow dimana ia dapat melihat secara langsung sistem pendidikan Inggris yang akan menjadi model pendidikan di MAOC (Muhammadan Anglo Oriental College) yang akan didirikannya kelak.
Setelah 7 bulan ia di Inggris, kembali ke India ide-idenya untuk reformasi pendidikan mulai mengkristal. Untuk itu dibentuklah sebuah panitia lomba penulisan karya ilmiah yang berisi tentang alasan mengapa Muslim India menolak pendidikan pemerintah. Dari karya ilmiah yang masuk dapat ditemukan beberapa alasan yang berhubungan dengan pemerintah dan Muslim. Pemerintah dianggap bersalah karena telah menghilangkan pelajaran agama. Disamping itu sekolah pemerintah juga dikritik karena tidak mengijinkan siswanya  melakukan ibadah termasuk sholat 5 waktu. Murid-murid Muslim juga merasa dihina oleh guru Hindu dan Kristen. Beberapa buku yang isinya merendahkan bahkan anti Islam dimasukkan kedalam kurikulum sekolah. Sedangkan para bangsawan Muslim dikriktik karena tidak mau mengirmkan anak-anaknya belajar di sekolah pemerintah, karena dianggapnya didirikan untuk anak-anak dari golongan rendah. Sedang masyarakat Muslim umumnya tidak tahu manfaat dari pendidikan pemerintah, karena mereka tidak pernah berkumpul dengan orang-orang Inggris. Setelah mengkaji beberapa alasan tersebut, panitia sepakat untuk mendirikan  sebuah lembaga pendidikan yang akan menutup kelemahan pendidikan pemerintah dan Muslim.
Pada bulan berikutnya panitia lomba tersebut berganti nama menjadi Muhammadan Anglo Oriental College Fund Committee. Anggota panitia ini terdiri dari para zamindar (tuan tanah), pegawai pemerintah dan perwakilan kerajaan-kerajaan India. Panitia ini bertugas untuk membuat keputusan yang berkaitan dengan rekruitmen siswa dan guru, kurikulum, tempat pendirian college dan kewenangan college.
Selanjutnya kami akan memberikan analisa mengenai sejauh mana gerakan Aligarh telah berhasil didalam proses pembaharuan pendidikan Muslim di India. Untuk itu paling tidak ada beberapa variabel yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan tersebut, yakni respon para ulama’, lembaga pendidikan tradisional,  lembaga pendidikan baru dan lulusan MAOC maupun Aligarh.
Respon para ulama’, dengan munculnya MAOC di India tidak langsung ditanggapi secara positif oleh para ulama’ pada umumnya. Begitu proposal untuk pendirian MAOC diumumkan, para ulama’ India mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dukungan pada college tersebut. Penentangan mereka terus berlanjut bahkan ketika perguruan tersebut berhasil dibangun, yakni dengan dikeluarkannya seruan kepada orang tua Muslim untuk memboikot lembaga pendidikan tersebut.[13]
Ada beberapa alasan ulama’ India melakukan pemboikotan, antara lain karena mereka memiliki pemahaman yang sempit terhadap Islam, dimana Islam dipahami hanya memiliki aspek spiritual. Ilmu-ilmu Barat seperti Fisika, matematika, membaca dan menulis dengan skrip selain Arab dianggap tidak Islami. Mempelajari hal-hal semacam itu dianggap sebagai sesuatu diluar sistem Islam. Selain alasan itu, para ulama’ mungkin memiliki alasan pribadi dimana pendirian MAOC di India akan mengancam status kepemimpinan mereka dalam masyarakat.[14]
Para ulama, memiliki pengalaman dalam berhubungan dengan penjajah. Mereka kehilangan basis kultural dan kehidupannya akibat kebijakan pemerintah yang tidak aspiratif bahkan diskriminatif. Ulama’ sangat dipinggirkan oleh kebijakan pemerintah Inggris dengan mengganti bahasa administrasi pemerintah dari Urdu ke Inggris pada tahun 1837. Demikian juga tindakan-tindakan pemerintah  setelah peristiwa tahun 1857 meninggalkan luka yang sangat dalam bagi ulama’ dan umat Islam pada umumnya.
Dengan kondisi seperti itu, Ahmad Khan terus maju dengan program pendidikannya, dengan suatu keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan bukan untuk kepentingan mereka tetapi untuk kepentingan Muslim. Akhirnya berhasil menghadapi opisisi ulama. Dalam sejarah India Ahmad Khan memiliki kehormatan yang demikian tinggi seorang pelopor yang gigih dan seorang pemimpin yang dicintai, yang meskipun menghadapi tantangan yang tidak berhenti tetap memberikan jalan baru untuk diikuti oleh saudara-saudaranya sesama Muslim.
Untuk mengukur sejauhmana pengaruh MAOC terhadap pendidikan Muslim, maka kita harus melihat kondisi pendidikan tradisional setelah melihat pendirian sekolah baru tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa lembaga pendidikan tradisional tetap berperan sebagai pusat studi agama tetapi mengalami perubahan internal. Madrasah Deoband misalnya menjadi lebih populer diluar India setelah menjalin kerjasama dengan Universitas al Azhar di Cairo, Mesir. Akan tetapi Deoband juga bekerjasama dengan MAOC melalui pertukaran guru.
Lembaga pendidikan MAOC tidak dapat diterima sepenuhnya oleh semua Muslim India. Hal ini dapat dimaklumi karena Muslim pada umumnya masih terikat dengan tradisi berkaitan dengan pendidikan agama. Mereka masih mengukur kualitas pendidikan agama di lembaga tersebut. Disamping itu karena problem keuangan, MAOC tidak mampu mengembangkan seluruh program pendidikan. Oleh karena itu MAOC itu kuat didalam pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan umum tetapi lemah didalam pendidikan agama. Lembaga pendidikan seperti Nadwat al-Ulama, yang dibangun pada tahun 1894, yang menekankan pendidikan agama, ada juga lembaga pendidikan model  baru yang mengikuti garis tradisional dengan memfokuskan pada pendidikan agama, seperti Madzahir al-Ulum di Saharanpur dan sekolah Ahl al-Hadits di Benares.
Pengaruh MAOC dapat dilihat dari jumlah alumni lembaga tersebut dalam pembangunan masyarakat di India. Pendirian MAOC semakin menambah jumlah kaum intelektual. Pada tahun 1920 MAOC berkembang menjadi Aligarh University, yang tentunya akan meningkatkan peran didalam pembangunan tidak hanya di bidang pendidikan, tentunya juga bidang yang lain. Kenyataannya para alumni Aligarh mampu memainkan peranan yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat Muslim. MAOC telah menghasilkan lulusan untuk semua bidang kehidupan yang telah menunjukkan karyanya dalam bidang masing-masing. Selain pendidik, ilmuwan, olahragawan, bahkan sejarawan MAOC menghasilkan pejuang kemerdekaan, seperti Maulana Muhammed Ali, Maulana Syaukat Ali, Raja Mahinder Pratap, dan lain-lain. Disamping itu Aligarh juga telah menghasilkan orang-orang yang memiliki posisi penting yang tampil sebagai presiden India, seperti Ayub Khan dan Ghulam Muhammad yang menjadi presiden Pakistan, Lia Qat Ali Khan dan Khwaja Nazimuddin, keduanya menjadi perdana menteri Pakistan. Bidang-bidang pelayanan baik urusan pemerintah maupun swasta menjadi bidang yang banyak dilakukan  oleh para alumni Aligarh.[15]
Dengan bukti-bukti tersebut diatas, tidak dapat dipungkiri bahwa Aligarh telah berhasil meningkatkan status Muslim India.


D.  Sistem Pengelolaan
Dengan bantuan dari pemerintah Inggris, yang diperkuat oleh oposisi Ahmad Khan pada 1887 terdapat kongres Nasional India yang baru didirikan, lembaga Aligarh berhasil dalam tujuannya menciptakan generasi baru pemimpin yang diyakini oleh Ahmad Khan sebagai jamaah kaum  atau Community (komunitas) Muslim.
Ide-ide pembaharuan yang dicetuskan Ahmad Khan dianut dan disebarkan selanjutnya oleh murid serta pengikut dan timbullah apa yang dikenal dengan gerakan Aligarh. Pusatnya adalah sekolah MAOC yang didirikan pemimpin pembaharuan Islam India di Aligarh. Setelah ditingkatkan menjadi universitas, dengan nama Universitas Islam Aligarh ditahun 1920, perguruan tinggi ini meneruskan tradisi sebagai pusat gerakan pembaharuan Islam India. Gerakan Aligarh inilah yang menjadi penggerak utama bagi terwujudnya pembaharuan dikalangan ummat Islam India. Tanpa adanya gerakan ini, ide-ide pembaharuan selanjutnya seperti yang dicetuskan oleh Amir Ali, Muhammad Iqbal, Maulana Abdul Kalam Azad, dan sebagainya sulit dimunculkan. Gerakan ini pula yang meningkatkan ummat Islam India dari masyarakat yang bangkit menuju kemajuan. Pengaruhnya terasa benar di golongan intelegensia Islam India.
Setelah Sayyid Ahmad Khan menghadapi masa tua, maka pimpinan MAOC digantikan oleh pengikutnya, diantaranya adalah : Sayyid Mahdi Ali (1837-1907) dan Viqar Al Mulk (1841-1917).
Setelah Sayyid Ahmad Khan menghadapi masa tua, pimpinan Muhammedan Angol Oriental Conference (M.A.O.C.) pindah ketangan Sayyid Mahdi Ali yang lebih dikenal dengan nama Nawab Muhsin Al-Mulk (1837-1907). Pada mulanya ia adalah pegawai Serikat India Timur, kemudian menjadi pembesar di Hyderabad. Ia pernah berkunjung ke Inggris untuk keperluan Pemerintah Hyderabad. Di tahun 1863 ia berkenalan dengan Sayyid Ahmad Khan dan antara keduanya terjalin tali persahabatan yang erat. la banyak menulis artikel Tahzib Al Akhlaq dan kemudian juga di majalah yang diterbitkan M.A.O.C. la pindah ke Aligarh dan menetap di sana mulai dari tahun 1893. Pada tahun 1897 ia menggantikankan kedudukan Sayyid Ahmad Khan di M.A.O.C. Ia mempunyai jasa yang besar dalam menyebarkan ide ide Sayyid Ahmad Khan yang dilakukannya melalui Muhammedan Educational Conference.[16]
Muhsin al-Mulk tidak hanya membawa para ulama dekat dengan Aligarh, lebih jauh ia mampu menarik beberapa lawan politik pendiri Perguruan Tinggi tersebut. Ia adalah orang yang paling cinta damai, namun ia dihadapkan juga kepada kontraversi Hindu-Urdu yang telah ada sejak akhir-akhir kehidupan Sayyid Ahmad Khan. Inilah yang pada akhirnya menyebabkan ia mengundurkan dari Perguruan Tinggi tersebut. Ia wafat 16 Oktober 1907, dan dikuburkan di samping kuburan Sayyid Ahmad Khan di Aligarh.[17]
Yang menjadi perbedaan faham keagamaan dan politik Aligarh dan Deoband. Dari segi politik Deoband anti terhadap Inggris dan Aligarh justru sebaliknya pro terhadap Inggris. Dari segi keagamaan Deoband tetap mempertahankan taklid kepada ulama’ klasik dan menutup pintu ijtihad, beda halnya dengan gerakan Aligarh mereka tidak menutup pintu ijtihad. Tetapi pada akhirnya sikap Deoband yang tadinya keras bisa melembut dan berubah terhadap sikap yang tadinya mempertahankan tradisi dan menutup pintu ijtihad, perlahan mulai membuka pintu ijtihad. Karena “Dalam menghadapi golongan ulama Nawab Muhsin al-Mulk bersikap lebih lembut dari Sayyid Ahmad Khan.”[18] 
Dari bidang politik Nawab Muhsin Al-Mulk jelas terlihat. Nawab Muhsin Al-Mulk tidak ragu-ragu memasuki bidang politik. Ini terlihat dari usahanya dalam membentuk Delegasi Umat Islam India karena pada waktu itu pemimpin-pemimpin Islam India yang duduk di dalam Dewan-Dewan Perwakilan Daerah melihat bahwa sebagai minoritas umat Islam tidak dapat menandingi golongan mayoritas Hindu, dalam pemilihan yang akan diadakan. Oleh karena itu, kepada umat Islam harus diberikan daerah-daerah pemilihan terpisah. Delegasi umat Islam India diterima oleh Lord Minto dan tuntutan diterima. Peristiwa itulah yang membawa kepada terbentuknya Liga Muslimin India di tahun itu juga 1906.[19]
Dalam bidang politik terlihat antara Sayyid Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk mempunyai perbedaan prinsip, Sayyid Mahdi Ali yang lebih dikenal dengan Nawab Muhsin Al-Mulk ia tidak ragu-ragu dalam memasuki bidang politik. Dan sebaliknya, Sayyid Ahmad Khan berprinsip turut campur dalam bidang politik akan merugikan umat Islam India. Ia berpendapat bahwa kemajuan bukannya melalui jalan politik.
Viqar al-Mulk (1841-1917) bernama Mushtaq Hussain yang lahir, di Distrik Moradabad, United Pravinces. Ia adalah rekan Sayyid Ahmad Khan dan juga Muhsin al-Mulk. Bersama dengan Muhsin al-Mulk ia selalu bekerja sama dalam masalah administrasi Aligarh. Dan setelah Muhsin al-Mulk meninggal pada tahun 1907, ia dipilih menjadi Sekretaris Badan Pendiri. Masa inilah terjadinya perubahan-perubahan besar dalam adminsitrasi Perguruan Tinggi Aligarh, bahkan dalam kebijaksanaan politik umat Muslim India. 
Pada masa Viqar ini terjadi pertentangan antara Viqar al -Mulk dengan Mr. Archbold yang menjadi Direktur M.A.O.C. di waktu itu. Dalam pertentangan ini Gubernur Daerah menyebelah Archbold sedang Viqar al Mulk disokong oleh Agha Khan serta Amir Ali dan selanjutnya oleh masyarakat Islam di luar. Archbold akhirnya terpaksa mengundurkan diri. Kekuasaan Iriggris di M.A.O.C. dari semenjak itu mulai berkurang. Pada masa Viqar inilah berakhirnya kontraversi tentang administrasi Perguruan Tinggi, dan di mulainya era baru bagi perjalanan Aligarh.[20]
Ini berarti bahwa di masa Sayyid Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk kekuasan besar yang menjadi direktur M.A.O.C. yang pada saat itu ialah orang Inggris, tetapi pada masa Viqar Al-Mulk kekuasaan besar yang menjadi direktur M.A.O.C. yang dipegang oleh orang Inggris berkurang. Karena tersingkirnya orang Inggris (Archbold) yang menjadi direktur dalam M.A.O.C. yang mengundurkan diri akibat terjadinya pertentangan antara dia dengan Viqar Al-Mulk yang banyak mendapat dukungan atau sokongan dari masyarakat Islam di luar.
Viqar Al-Mulk populer di kalangan ulama’ India, ia mendapat simpati dari kalangan ulama’ India dengan menerapkan dengan kuat hidup keagamaan di MAOC pelaksanaan ibadat misalnya : shalat dan puasa dan memperketat pengawasannya. Lulus dalam ujian agama menjadi syarat untuk dapat naik tingkat. Hal ini wajar jika Viqar Al-Mulk lebih populer dan disenangi ulama’ India dari pada Sayyid Ahmad Khan pada waktu itu. Sedangkan Ahmad Khan lebih populer di kalangan pelajar.
Dalam pandangan politik ia tidak sama dengan Ahmad Khan meskipun dahulunya ia sependapat bahwa Inggris lah yang dapat menciptakan kelanjutan wujud umat Islam India akan dapat terjamin hanya dengan berlanjutnya kekuasaan Inggris. Tetapi ia pada akhirnya merubah pandangan bahwa Inggris bukan tempat orang Islam menggantungkan nasib dalam kelanjutan wujud umat Islam India. Karena ia berpendapat Inggris tidak akan pernah peduli terhadap penderitaan dari umat Islam di India, bisa kami gambarkan melalui pepatah habis manis sepah dibuang.
Tetapi terhadap partai Kongres Nasional India, pendiriannya tetap tidak berubah. Orang Islam harus mempunyai partai sendiri dan harus mempertahankan Liga Muslimin India. Yang dahulu pada masa  Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Muk ketergantungan gerakan Aligarh kepada Inggris kuat, tetapi pada masa Viqar Al-Mulk telah mulai berkurang dan tidak lagi sekeras dizaman Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk dahulu. Hal ini menggambarkan bahwa Viqar Al-Mulk tidak mau bergantung kepada Inggris seperti yang dilakukan oleh Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk pada masa sebelumnya.
Tokoh India lainnya yang terkenal sebagai penyebar ide ide pembaharuan Ahmad Khan adalah Altaf Husain Hali (1837- 1914). Ia pernah bekerja sebagai penerjemah di kantor Pemerintah Inggris di Lahore, tetapi kemudian pindah ke Delhi. Di sinilah ia berkenalan dengan Ahmad Khan dan keduanya menjadi teman baik. Hali terkenal sebagai seorang penyair, tetapi ia juga menulis karangan karangan untuk Tahzib Al Akhlaq.
Atas permintaan Ahmad Khan ia menulis syair tentang peradaban Islam di Zaman Klasik. Ia menyebarkan ide – ide pembaharuan gerakan Aligarh dengan cara yang berbeda dari tokoh yang lain. Ia menyebarkan ide –ide pembaharuan melalui syair yang terkenal dengan nama musaddas. Musaddas sangat berpengaruh terhadap ummat Islam India, sehingga dikatakan bahwa di samping MAOC dan Muhammedan Educational Conference. Musadddaslah yang mempunyai jasa besar dalam mempopulerkan gerakan Aligarh.[21]
Dalam bidang politik ia berpandangan bahwa umat Islam India merupakan suatu kesatuan tersendiri di samping umat Hindu. Tetapi bukan anti Hindu. Semangat patriotisme Hal ini terlihat dalam Syairnya: Jika Anda ingin kebaikan dari negerimu. Maka janganlah menganggap sebagai orang asing sesama patriot dari tanah airmu, Apakah ia Muslim atau Hindu, Apakah Budhis atau Brahma, Pandanglah mereka dengan mata persahabatan yang syahdu, Anggaplah mereka seperti bagian hitam dari matamu.[22]
Dalam dunia pendidikan ia berbeda pendapat menurutnya pendidikan wanita ia lebih bersifat progresif. Sedangkan, Ahmad Khan yang memandang kaum wanita belum perlu mendapatkan pendidikan sebagaimana kaum laki-laki.
Maulvi Nazir Ahmad termasuk orang menyebarkan ide-ide pembaharuan dengan cara yang berbeda yaitu melalui gerakan keilmiahan. Karangan-karangannya berkisar sekitar soal agama, budi pekerti, dan problem-problem sosial. Maulvi berpendapat kemunduran umat Islam, terletak pada umat Islam itu sendiri dan bukan datang dari luar. Umat Islam tidak hidup lagi sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Ia juga menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Urdu yang pada saat itu banyak dibaca dan berpengaruh pada masyarakat Islam India, dari hal itu gerakan Aligarh semakin dekat dengan golongan ulama’ India.`
Dengan berdirinya MAOC maka Muslim India memiliki lembaga pendidikan tinggi yang sangat diimpikan oleh Ahmad Khan.  Ia melihat bahwa ditingkat inilah Muslim jauh tertinggal oleh umat-umat agama lain.
E.  Muatan Kurikulum
Pembentukan kepribadian sebagai target penting dalam tujuan-tujuan pendidikan. Ahmad Khan berpendapat tak seorangpun dapat mencapai kebesaran di dunia ini dan akhirat kecuali ia memiliki kepribadian yang baik. Seorang yang berkepribadian yang baik adalah yang mengamalkan ajaran al-Qur’an dan Hadits. Karena Nabi merupakan teladan pengamalan al-Qur’an dan Hadits, maka proses  pembentukan kepribadian siswa harus diperkenalkan pada kehidupan dan ajaran-ajaran Nabi.[23]
Pendidikan harus membekali siswa dengan ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan material. Karena itu pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat dimana siswa itu hidup. Maka pendidikan yang turun temurun tanpa memperhatikan perkembangan jaman dan tanpa melihat relevansinya, dipandang lemah dalam kaitan untuk kemajuan dibidang ekonomi.
Ahmad Khan (dalam tulisan Muhammad Akhlak Ahmad), memberi nasehat kepada kaumnya yang dikutip oleh “orang-orang India akan maju jika mereka sendiri tanpa intervensi dari pemerintah mengurus pendidikannya sendiri untuk anak-anak mereka dengan memberikan sumbangan yang sukarela, mereka sendiri yang mengurus dan mengontrolnya.” “Muslim sendirilah yang akan merubah nasib mereka bukan pemerintah”
Dalam rangka pembentukan kepribadian siswa, MAOC memberikan pembinaan keagamaan, kegiatan ekstra kurikuler dan penyediaan asrama siswa. Pendidikan agama memang bukan pokok perhatian Ahmad Khan, karena yang ia impikan adalah kemajuan di bidang ilmu pengetahuan modern. Mengutip ucapan Muhammad Ali Jinnah (1876-1948) dalam bukunya Hafeedz Malik :
“Ia (Ahmad Khan) tidak menginginkan masyarakatnya (Muslim India) dikagumi karena semangat keberagamaan mereka, akan tetapi kemajuan, kebijaksanaan dan kemajuan moral mereka.”[24]
Ini tidak berarti bahwa Ahmad Khan tidak menyutujui pengajaran Agama, yang ia inginkan adalah bahwa pendidikan agama jangan sampai mengorbankan ilmu pengetahuan modern. Untuk itu di MAOC tetap diberikan pendidikan agama yang dikelola oleh dua komite, satu untuk kelompok sunni dan satu lagi untuk kelompok syi’ah.
Disamping itu siswa-siswa Muslim diwajibkan untuk sholat dan puasa ramadlan. Mereka juga dilibatkan untuk perayaan-perayaan agama Islam, seperti peringatan maulid nabi dan perayaan hari raya ied. Dengan pembinaan keagamaan semacam itu diharapkan siswa-siswa Muslim dapat memiliki sense of Muslim identity yang telah luntur akibat kekuasaan pemerintah Inggris.
Disamping itu para mahasiswa ditempatkan di asrama, dengan hidup disana para siswa mendapatkan pembinaan yang penuh sehari-semalam, dengan pengawasan yang ketat dari para pengelola MAOC. Diluar jam belajar para siswa mendapatkan kegiatan ekstra meliputi berbagai jenis cabang olah raga seperti menunggang kuda dan menembak, latihan berdebat, berpidato dan berbagai jenis kegiatan sosial. Semua kegiatan itu dilakukan untuk membentuk calon-calon pemimpin Muslim India yang tangguh dan mempersiapkan generasi baru masyarakat Muslim yang cohesive.
F.   Penutup
Pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh gerakan Aligarh merupakan produk dialektik Muslim dengan setting sosial dan politik dibawah kekuasaan kolonial Inggris. Ahmad Khan berkeyakinan bahwa lembaga pendidikan Muslim tidak dapat berjalan berdasarkan model tradisional karena kebutuhan umat Islam sudah berubah. Maka Aligarh menyelenggarakan pendidikan yang menyesuaikan diri dengan kebijakan pemerintah kolonial Inggris. Dengan cara demikian MAOC mewakili model lembaga pendidikan baru telah mendorong modernisasi pendidikan Muslim untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki kemampuan lebih baik dibawah pemerintahan kolonial Inggris.


BIBLIOGRAFI

Altaf Husain Hali, Hayat-I-Javed, translated by KH Qadiri and David J. Mathew, Delhi : Idarah-i Adabiyat-i Delli, 1979

Basu : History of Education

Bhatt and Anggarwal, Educational Development, 4 ; B.D. Basu, History of Education in India under the Rule of the East India Company, Calucutta : The Modern Review Office, TT

D. Bhatt and J.C. Aggarwal, Educational Documents in India (1813-1968), New Delhi : Arya Book Depot, 1969

David Lelyveld, Aligarh’s First Generation, Princeton : Princeton University Press, 1978

Drs. Ahmad Syaukani M.A, Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka Setia  Bandung, Bandung, 1997

Dyah Kumalasari, Pengantar Sejarah Pendidikan, Yogyakarta : FISE UNY, 2008

Hafeedz Malik, Sir Sayyed Ahmad Khan and Mulim Modernization in India and Pakistan, New York : Columbia University Press, 1968

Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Pergerakan, Jakarta : Bulan Bintang, 1990

Imam Zafar, Muslim in India, New Delhi : Orient Longman, 1975

M.S. Jain, The Aligarh Movement : Its Origin and Development 1858-1906, Agra : Sir Ram Mehra, 1965

Mohammad Akhlaq Ahmad, Tradisional Among Muslim, New Delhi : B.R. Publishing Corporation, 1985

Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993

S.P. Chaube, A History of Education in India, Allahabad : Ram Narain Lal Beni Madho, 1965

Shaista Azizalamm, “Sayyid Ahmad Khan and the Ulama : A Study in Socio-Political Contex“, McGill University, 1992

Shan Muhammad, The Aligarh Movement : Basic Document : 1864-1898, Nachiketa Publication Limited, 1978

Suja’,  Muhammadiyah dan pendirinya, Yogyakarta : Majlis Pustaka, 1989

Syed Masroor Ali Akhtar Hashmi, Muslim Response to Western Education (A Study of Four Pionerr Institutions), New Delhi : Commonwelt Publishers, 1989

Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 2, Jakarta : Ichtiar Baru, 2002



[1]  Imam Zafar, Muslim in India, (New Delhi : Orient Longman, 1975), 204.
[2] Mohammad Akhlaq Ahmad, Tradisional Among Muslim, (New Delhi : B.R. Publishing Corporation, 1985), 146.
[3]  Ibid., 145
[4] D. Bhatt and J.C. Aggarwal, Educational Documents in India (1813-1968), (New Delhi : Arya Book Depot, 1969), 1.
[5] Syed Masroor Ali Akhtar Hashmi, Muslim Response to Western Education (A Study of Four Pionerr Institutions), (New Delhi : Commonwelt Publishers, 1989), 3.
[6] Bhatt and Anggarwal, Educational Development, 4 ; B.D. Basu, History of Education in India under the Rule of the East India Company, (Calucutta : The Modern Review Office, TT), 122.
[7] Basu : History of Education, 98.
[8] S.P. Chaube, A History of Education in India, (Allahabad : Ram Narain Lal Beni Madho, 1965), 624.
[9] Drs. Ahmad Syaukani M.A, Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka Setia  Bandung, Bandung: 1997 h. 70
[10]  Dyah Kumalasari, Pengantar Sejarah Pendidikan, (Yogyakarta : FISE UNY, 2008), 21-23.

[11] Altaf Husain Hali, Hayat-I-Javed, translated by KH Qadiri and David J. Mathew, (Delhi : Idarah-i Adabiyat-i Delli, 1979), 61-62.
[12] M.S. Jain, The Aligarh Movement : Its Origin and Development 1858-1906, (Agra : Sir Ram Mehra, 1965), 42.
[13] Shan Muhammad, The Aligarh Movement : Basic Document : 1864-1898, (Nachiketa Publication Limited, 1978), 20-21.
[14]  Shaista Azizalamm, “Sayyid Ahmad Khan and the Ulama : A Study in Socio-Political Contex“, (McGill University, 1992), 71-72.
[15] David Lelyveld, Aligarh’s First Generation, (Princeton : Princeton University Press, 1978), 325.
[16]  Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 2, (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 174-175
[17]  Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993, 73
[18] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Pergerakan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1990), 175
[19] Ibid., 175-176
[20] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, 73
[21] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Pergerakan,177
[22] Ibid, 178
[23] Suja’,  Muhammadiyah dan pendirinya, (Yogyakarta : Majlis Pustaka, 1989), 17.
[24] Hafeedz Malik, Sir Sayyed Ahmad Khan and Mulim Modernization in India and Pakistan, (New York : Columbia University Press, 1968), 106.