Kamis, 07 Oktober 2021

Penggunaan Teori dalam Penelitian Kualitatif

 

Penelitian kualitatif antara lain berguna untuk menemukan dan mengembangkan pengetahuan. Seperti: (1) Pengetahuan berupa teori, yang merupakan penjelasan terhadap gejala-gejala; (2) Menemukan konsep  atau pola regulasi yang terdapat di alam; (3) Menemukan pengetahuan yang berupa strategi untuk pemecahan suatu masalah (Bahar, 2011).

Untuk menemukan atau mengembangkan pengetahuan, penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertolak dari ketidaktahuan. Dalam hal ini peneliti belum memiliki pengetahuan tentang obyek yang diteliti, baik jenis data dan kategori yang kemungkinan akan ditemukan. Hal ini berbeda dengan penelitian kuantitatif yang mendasarkan dari suatu teori dan kemudian bermaksud mengujinya. Penelitian kualitatif memiliki 6 kriteria sebagaimana dalam tabel 1 berikut:

Kriteria penelitian kualitatif

1

Melihat melalui mata dari …. Atau menurut perspektif subjek

2

Menggambarkan detil kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari

3

Memahami tindakan dan makna dalam konteks sosialnya

4

Menekankan waktu dan proses

5

Lebih terbuka dan desain penelitiannya relatif tidak teratur

6

Menghindari konsep dan teori pada tahap pemulaan


Penelitian kualitatif merupakan penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif. Landasan teori digunakan untuk: (1) memandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan; (2) memberikan gambaran umum tentang latar penelitian; (3) bahan pembahasan hasil penelitian.

Perbedaan peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan. Sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data yang sarat dengan konteks, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori.

Dengan demikian penelitian kualitatif temuannya tidak diperoleh melalui prosedur hitungan. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada esensi dari fenomena yang diteliti. Penelitian kualitatif naturalistik lebih bersifat membangun, mengembangkan maupun menemukan teori-teori sosial. Dengan metode kualitatif, maka peneliti dapat menemukan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi sosial yang kompleks, memahami interaksi dalam situasi sosial tersebut sehingga dapat ditemukan hipotesis, pola hubungan yang akhirnya dapat dikembangkan menjadi teori.

Teori Bagi Peneliti Kualitatif

Teori sebagai seperangkat dalil mengenai hubungan antara berbagai konsep. Dalam penelitian kualitatif, teori yang sudah ada memiliki kegunaan yang cukup penting, teori dalam penelitian kualitatif digunakan secara lebih longgar, teori memungkinkan dan membantu untuk memahami apa yang sudah diketahui secara intuitif pada saat pertama, tetapi bersifat jamak untuk berubah sebagaimana teori sosial berubah. Pada umumnya teori bagi penelitian kualitatif berguna sebagai sumber inspirasi dan pembanding (Bahar, 2011). Konsep Dasar Penelitian

Konsep

Pengertian

Relevansi

Teori

Serangkaian konsep penjelas

Sesuai kegunaan

Hypotesis

Pernyataan/proposisi yang bisa diuji

Validitas

Metodologi

Pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian

Sesuai kegunaan

Metode

Teknik penelitian tertentu

Harus sebangun dengan teori, hipotesis dan metodologi

  • Penelitian kualitatif yang bersifat holistik, jumlah teori yang harus dimiliki peneliti kualitatif jauh lebih banyak daripada peneliti kuantitatif dan harus disesuaikan dengan fenomena yang berkembang di lapangan.
  • Peneliti kualitatif yang baik,  ia harus menguasai banyak teori agar wawasannya lebih luas. Walaupun teori tersebut harus dilepaskan/tidak digunakan sebagai panduan dalam menyusun instrumen wawancara maupun observasi.
  • Bagi peneliti kualitatif, teori merupakan bekal agar dapat memahami konteks sosial secara lebih luas dan mendalam.
  • Peneliti kualitatif menggali data berdasarkan apa yang diucapkan, dirasakan, dan dilakukan oleh partisipan atau sumber data.
  • Peneliti kualitatif  memperoleh data bukan yang seharusnya (sesuai pikiran peneliti) tetapi harus sesuai yang terjadi di lapangan (bersifat “perspektif emic”).

Posisi dan Fungsi Teori Dalam Penelitian Kualitatif

Menurut J.W Creswell, peneliti kualitatif harus mempelajari tata cara penggunaan teori di dalam kajiannya. Seorang peneliti harus membingkai penelitiannya dengan sebuah teori yang digunakan. Yang dimaksud membingkai adalah menggunakan sebuah teori ilmu tertentu untuk menginterpretasikan temuan penelitian dan bukan untuk menentukan variabel-variabel yang perlu ditemukan, apalagi untuk membuktikan kebenaran sebuah teori. Posisi teori pada pendekatan kualitatif harus diletakkan sesuai dengan maksud penelitian yang dikerjakan.

Pertama, penelitian yang bertujuan menemukan teori dari dasar, teori dimanfaatkan untuk:

  • Konsep-konsep yang ditemukan pada teori terdahulu dapat "dipinjam" sementara (sampai ditemukan konsep yang sebenarnya) untuk merumuskan masalah, membangun kerangka berpikir, dan menyusun bahan wawancara;
  • Ketika peneliti sudah menemukan kategori-kategori dari data yang dikumpulkan, ia perlu memeriksa apakah sistem kategori serupa telah ada sebelumnya. Jika ya, maka peneliti perlu memahami tentang apa saja yang dikatakan oleh peneliti lain tentang kategori tersebut. Hal ini dilakukan hanya untuk perbandingan saja, bukan untuk mengikutinya; dan
  • Proposisi teoritik yang ditemukan dalam penelitian kualitatif (yang memiliki hubungan dengan teori yang sudah dikenal) merupakan sumbangan baru untuk memperluas teori yang sudah ada. Demikian pula, jika ternyata teori yang ditemukan identik dengan teori yang sudah ada, maka teori yang ada dapat dijadikan sebagai pengabsahan dari temuan baru itu.

Kedua, untuk penelitian yang bermaksud memperluas teori yang sudah ada, teori tersebut bermanfaat bagi peneliti pada tiga hal berikut:

  • Penelitian dapat dimulai dari teori terdahulu tersebut dengan merujuk kerangka umum teori itu. Dengan kata lain, kerangka teoritik yang sudah ada bisa digunakan untuk menginterpretasi dan mendekati data. Namun demikian, penelitian yang sekarang harus dikembangkan secara tersendiri dan terlepas dari teori sebelumnya. Dengan demikian, penelitian dapat dengan bebas memilih data yang dikumpulkan, sehingga memungkinkan teori awalnya dapat diubah, ditambah, atau dimodifikasi;
  • Teori yang sudah ada dapat dimanfaatkan untuk menyusun sejumlah pertanyaan atau menjadi pedoman dalam pengamatan/wawancara untuk mengumpul data awal; dan
  • Jika temuan penelitian sekarang berbeda dari teori yang sudah ada, maka peneliti dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa temuannya berbeda dengan teori yang ada.

Landasan teori dalam penelitian kualitatif bukan pathok bangkrong (harga mati) melainkan bersifat sementara. Maka peneliti kualitatif dituntut untuk menemukan teori, dengan dasar data dari lapangan. Bagaimana agar sukses memperoleh teori? Maka peneliti kualitatif dituntut mampu menata / mengornisir semua teori yang dibaca dalam landasan teori yang dituliskan dalam proposal penelitian. Dari sini,  dapat diketahui seberapa jauh peneliti memiliki teori dan memahami permasalahan yang diteliti walaupun permasalahan tersebut masih bersifat sementara.

Ada dua bentuk perangkat yang digunakan dalam merancang kerangka konseptual sebagai panduan kerja dalam penelitian kualitatif.

  1. Paradigma alamiah (naturalistic paradigm):  alamiah mengarahkan kegiatan penelitian, dari mana dimulai dan ke mana arahnya, serta bagaimana cara atau proses kerjanya dan
  2. Pengembangan pengetahuan dalam “bidang ilmu” yang diteliti: mempertegas obyek material atau substansi yang layak diteliti. Seperti pola pengembangan ilmu sosial, yang pada mulanya metode kualitatif muncul dari penelitian antropologi, etnologi, serta aliran fenomenologi dan aliran idealisme. Karena metode- metode ini bersifat umum dan terbuka maka ilmu sosial lainnya mengadopsi sebagai sarana penelitiannya.

Pada dasarnya kedua perangkat ini bersifat saling melengkapi. Sejalan dengan asumsi di atas, peneliti kualitatif tidak membawa konsep-konsep yang diperoleh dari teori (yang sudah ada) ke lapangan, melainkan berusaha memahami dan memaknai fenomena sesuai dengan pemahaman dan pemaknaan yang diberikan oleh subyek yang diteliti. Ini sangat prinsip dalam penelitian kualitatif.


Kesimpulan

Teori dalam penelitian kualitatif digunakan untuk memungkinkan dan membantu peneliti kualitatif memahami apa yang sudah diketahui secara intuitif pada saat pertama, tetapi pada fase berikutnya bisa berubah sebagaimana teori sosial berubah. Fungsi dan posisi sebuah teori dalam pengertian sederhana adalah bingkai dari sebuah penelitian kualitatif.

Akhrinya, sebagaimana ditemukan dalam beberapa literatur metode penelitian (Moleong, 1999; Creswell, 2002, Lindloft, 1995), menyebutkan langkah penelitian yang harus didahulukan adalah data berdasarkan fakta, gejala, fenomena, realitas yang menjadi tema, kemudian diolah, diproses, sehingga akhir penelitian dapat menjadi proposisi, model atau bahkan teori. Hampir semua disepakati bahwa teori pada penelitian kualitatif bukan untuk diuji keabsahan, kebenaran atau kesalahannya, melainkan sebagai “guidance” atau “petunjuk jalan” saja.

Prinsip Dasar & Mekanisme MPI

 


Prinsip-prinsip Dasar MPI

Sumber beberapa prinsip dasar MPI di sini bersifat normatif-inspiratif yakni berupa ayat al Qur’an, Hadits dan perkataan sahabat, yang membutuhkan tindak lanjut berupa pemahaman, penafsiran serta pemahaman kontekstual. Beberapa sumber yang dapat dijadikan prinsip MPI ini, antara lain sebagai berikut:

Ayat tentang Perencanaan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (al Hasyr: 18).

Ayat tersebut memberikan pesan kepada orang yang beriman untuk memikirkan masa depan. Dalam bahasa manajemen, pemikiran masa depan yang dituangkan dengan konsep yang jelas dan sistematis merupakan perencanaan (planning).

Perencanaan ini menjadi sangat penting karena berfungsi sebagai pengarah bagi kegiatan, target dan hasil yang hendak dicapai di masa depan sehingga apapun kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan tertib.

Perkataan Sahabat tentang Pentingnya Organisasi

اَلْحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِالنِّظَامٍ

Kebenaran yang tidak terorganisasi, dapat dikalahkan oleh ketidak benaran yang terorganisasi” (qawl Ali bin Abi Thalib)

Qawl di atas mengingatkan kita terhadap pentingnya berorganisasi dan ancaman terhadap kebenaran yang tidak diorganisasi melalui langkah-langkah yang nyata dan strategi-strategi yang mantap. Dengan demikian, perkumpulan apapun yang menggunakan identitas Islam walaupun memenangkan pertandingan, persaingan maupun perlawanan tidak memiliki garansi apabila tanpa diorganisasi dengan baik.

Dengan demikian qawl Ali bin Abi Thalib memberikan inspirasi kepada pentingnya pendidikan beroganisasi. Dari sisi wadah, organisasi memayungi manajemen, yang berarti organisasi lebih luas daripada manajemen. Akan tetapi dari sisi fungsi, organisasi (organizing) merupakan bagian dari fungsi manajemen, yang berarti organisasi lebih sempit daripada manajemen.

Hadits Rosulullah saw tentang penyerahan amanah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ. قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

Dari Abu Hurairah ra mengatakan; Rasulullah saw bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya: bagaimana meletakkan amanah itu ya Rosulallah? Nabi menjawab; "Jika suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran itu." (HR. Bukhari No. 6015)

Hadits tersebut mengkaitkan amanah dengan keahlian. Memberikan perspektif manajerial sebab amanah berarti menyerahkan suatu perkara kepada orang yang profesional. Pada hadits di atas, kalimat فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ diucapkan dua kali, sehingga dapat diterjemahkan bahwa profesionalitas sangat penting.

Implikasi dari hadits tersebut memberikan pendidikan kepada kita untuk mengedepankan pertimbangan profesional dalam menentukan pegawai yang diamanati suatu pekerjaan atau tanggungjawab. Apalagi dalam perkara yang menyangkut persoalan banyak orang.

Hadits Rosulullah saw tentang pemberian gaji

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ: أَعْطُوْا الأَجِيْرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

Rosulullah saw bersabda: “Berikanlah gaji/upah pegawai sebelum kering keringatnya!” (H.R. Ibnu Majah)

Hadits ini memerintahkan kita untuk memberikan gaji/upah/insentif/honor kepada pegawai/pekerja/buruh secepatnya (secara langsung). Hadits secara tidak langsung memberikan pendidikan penghargaan, dan dalam mengelola suatu lembaga termasuk lembaga pendidikan Islam. Dengan memberikan gaji secepatnya merupakan ikhtiar untuk mewujudkan iklim kerja yang kondusif sekaligus menciptakan kepuasan pegawai yang selanjutknya mampu membangkitkan tanggungjawab dan kedisiplinan.

Ayat al Qur’an tentang Manajemen Konflik

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (an-Nisa’: 35).

Pengelolaan konflik menurut ayat ini ditempuh dengan cara melibatkan orang ketiga sebagai mediator.

Ayat al Qur’an tentang Konsistensi bagi Manajer  dan Pemimpin

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (ash Shaff 2-3)

Mekanisme membangun Konsep MPI

Kelemahan umat Islam, antara lain sudah merasa puas hanya dengan hafal dalil al Qur’an dan hadits, sehingga langka karya kreatif yang membangkitkan peradaban Islam. Dalam merespon hal ini ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Pertama, merubah tradisi berpikir normatif kearah berpikir teoritis (tradisi berpikir dakwah menuju tradisi berpikir ilmiah.
  • Kedua, meramu materi dalam berbagai bidang keilmuan, seperti MPI. Dari ilmu manajemen pendidikan dan lembaga pendidikan Islam di berbagai tempat.
  • Ketiga, mensosialisasikan dan mempublikasikan hasil ramuan ilmu kepada masyarakat luas.
  • Keempat, mempertegas sikap bahwa Islam melalui wahyu hadir untuk memberikan inspirasi-kreatif dalam membangun konsep ilmiah.
  • Kelima, rincian detail diserahkan kepada ahli pendidikan Islam berdasarkan inspirasi- kreatif dari wahyu.
  • Keenam, adaptif-selektif terhadap kaidah manajemen pendidikan yang terdapat dalam berbagai literatur dan dipengaruhi oleh pemikiran dan pengalaman para ahli Barat. Dalam hal ini jika pada literatur Barat ada yang tidak sesuai dengan syari’at Islam.
  • Ketujuh, mengkritisi kaidah manajemen pendidikan secara umum, untuk diganti dan disempurnakan (Mujamil Qomar, 2007).

Kamis, 30 September 2021

Tinjauan Pustaka dalam Penelitian Kualitatif

 


Tujuan:

Membantu mahasiswa dalam menyusun proposal dengan mempertimbangkan literatur-literatur yang memiliki kesesuaian dengan tema penelitian yang diambil, serta menuliskan tinjauan pustaka untuk proposalnya.

Pendahuluan

Sebelum merancang proposal, Anda harus melakukan kajian pustaka terkait dengan tema penelitian yang akan Anda bahas. Dengan demikian, Anda harus memulainya dengan mencari topik apa yang bisa diteliti dan kemudian mengeksplorasi literatur-literatur dengan menerapkan beberapa langkah penting. Untuk melakukan tinjauan pustaka, Anda harus memprioritaskan beberapa literatur untuk direview, menyusun peta literatur yang berhubungan dengan tema yang Anda ambil, menuliskan abstaksi, menggunakan petunjuk-petunjuk gaya serta mendefinikan istilah-istilah yang Anda anggap penting. Tinjauan pustaka akan membantu peneliti untuk menentukan apakah tema yang diambil layak atau tidak. Tinjauan pustaka juga membantu peneliti membatasi ruang lingkup penelitiannya.

Langkah yang dilakukan dalam kegiatan peninjauan pustaka

Identifikasi Topik / Tema

  • Sebelum mempertimbangkan pustaka/literatur yang akan ditinjau, pertimbangkan terlebih dahulu, topik/tema yang akan diteliti bermanfaat secara praktis atau tidak.
  • Topik/tema, harus dipilih oleh peneliti bukan oleh pembimbing.
  • Pertimbangkan alasan-alasan utama mengapa topik penelitian tersebut benar-benar dapat dan perlu diteliti.
  • Beberapa hal yang melabarbelakangi, mulai dari sekedar menambah pengetahuan yang sudah ada, sekedar menduplikasi penelitian sebelumnya, menyuarakan kembali hak-hak kelompok marginal yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, membantu kelompok marginal memperoleh hak pendidikan yang layak, atau bahkan mentransformasikan penelitian sebelumnya. Maka solusinya adalah perbanyaklah membaca penelitian terdahulu.
  • Pertimbangkan penelitian Anda memiliki sesuatu yang baru, tanyakan pada diri sendiri: “Bagaimana proyek saya ini memiliki kontribusi pada literatur?”; “Apakah penelitian saya membahas topik yang belum diteliti?”; “ataukah menduplikasi penelitian sebelumnya?”

Bahan Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka berarti menempatkan dan menyimpulkan kajian-kajian tentang suatu topik tertentu. Kajian tersebut seringkali berupa studi-studi penelitian (karena anda memang sedang menggarap suatu penelitian), bisa juga berupa artikel atau pemikiran yang memberikan kerangka kerja dalam menjelaskan suatu topik.

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka memiliki beberapa tujuan, yakni:  (1) menginformasikan kepada pembaca tentang hasil penelitian lain yang berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukannya; (2) menghubungkan penelitiannya dengan literatur yang telah ada; (3) mengisi celah-celah dalam penelitian sebelumnya; (4) menyediakan kerangka kerja dan tolok ukur untuk mempertegas pentingnya penelitiannya; (5) membandingkan hasilnya dengan penemuan-penemuan lain.

Pemanfaatan pustaka/literatur

Dalam penelitian kualitatif, peneliti menggunakan literatur secara konsisten dan tidak memberi ruang bagi pandangan pribadi peneliti. Penelitian kualitatif pada umumnya dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa penelitian tersebut eksploratif. Peneliti harus berusaha mendengarkan opini partisipan dan membangun pemahaman berdasarkan apa yang ia dengar. Penggunakan literatur dalam penelitian dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beragam cara:

Model Penggunaan

Kriteria

Strategi Penelitian yang sesuai

Tinjauan pustaka disajikan dalam pendahuluan untuk menjelaskan kerangka “teoritis-kronologis” masalah penelitian

Harus ada beberapa literatur yang tersedia

Model ini biasanya digunakan dalam penelitian kualitatif, apa pun itu jenis strateginya

Tinjauan pustaka disajikan dalam bagian terpisah dengan judul “Tinjauan Pustaka”

Pendekatan ini lebih disukai oleh para pembaca yang sudah terbiasa dan nyaman dengan pendekatan pospositivis tradisional untuk tinjaun pustaka

Pendekatan ini biasanya diterapkan dalam penelitian-penelitian yang menggunakan teori yang sudah kuat di awal penelitian, seperti etnografi dan kajian teori kritis

Tinjauan pustaka disajikan di akhir penelitian.

Biasanya berjudul “Bacaan/Literatur untuk membandingkan dan membedakan hasil penelitian dengan apa yang terdapat dalam literatur”

Pendekatan ini cocok untuk penelitian kualitatif yang bersifat induktif; literatur tidak membimbing dan mengarahkan penelitian, tetapi menjadi petunjuk dan pembanding atas pola-pola atau kategori-kategori yang diperkenalkan dalam penelitian

Pendekatan ini dapat diterapkan di semua jenis rancangan kualitatif, tetapi lebih sering diterapkan dalam penelitian grounded theory dimana seseorang dapat membedakan dan membandingkan satu teori dengan teori yang lain yang terdapat dalam literatur

Langkah dalam Melakukan Tinjauan Pustaka

Ada banyak cara dalam menggarap tinjauan pustaka, tetapi sebagian besar sarjana melakukannya dengan cara yang sistematis untuk menangkap, mengecaluasi dan menyimpulkan literatur yang ada. Beberapa ini adalah langkah yang direkomendasikan oleh Creswell:

    1. Mulailah dengan mengidentifikasi kata kunci penelitian.
    2. Kunjungi perpustakaan untuk menemukan jurnal dan buku terkait topik penelitian.
    3. Berusahalah menemukan sedikitnya 50 laporan penelitian, seperti jurnal atau buku yang terkait dengan penelitian
    4. Bacalah sepintas sekumpulan artikel atau bab-bab dalam buku, lalu salinlah yang relevan dengan topik Anda.
    5. Mulailah merancang peta literatur
    6. Buatlah ringkasan dari beberapa artikel yang relevan. Ringkasan inilah yang akan diinput sebagai tinjauan pustakan Anda. Masukkan referensinya sesuai dengan petunjuk kampus Anda.
    7. Membuat tinjauan pustaka secara tematis atau berdasarkan konsep-konsep penting. Di akhir tinjauan pustaka, utarakan pandangan umum anda tentang tema keseluruhan yang anda peroleh dari literatur yang ada, lalu jelaskan “mengapa penelitian anda ini benar-benar memiliki kebaruan tersendiri dibandingkan dengan literatur sebelumnya?”
Peta Literatur Penelitian

Peta literatur merupakan ringasan visual dari penelitian yang sudah dilakukan oleh orang lain. Peta ini disusun dalam bentuk gambar dan bisa disusun dalam berbagai cara. Salah satunya adalah secara hirarkis, yakni menyajikan literatur dengan top-down, bisa juga flawchart dan sebagainya mana yang sekiranya efektif.

Mengabstrasikan Literatur

Abstraksi literatur merupakan tinjauan singkat atas literatur dalam bentuk paragrap pendek yang meringkas elemen-elemen utama, agar pembaca dapat memahami keunggulan dasar dari setiap literatur. Untuk membuat abstraksi, peneliti perlu mempertimbangkan materi apa yang akan diringkas dari literatur yang ada. Abstraksi yang baik mencakup beberapa point berikut:

    1. Menyatakan masalah yang akan dibahas
    2. Menyatakan tujuan dan fokus penelitian
    3. Menyatakan secara singkat tentang populasi, sampel atau data
    4. Membahas hasil inti penelitian
    5. Tunjukkan kekurangan teknis dari metodologis dalam literatur tersebut (jika tinjauan pustakanya bersifat metodologis)


Area Penelitian Pendidikan Agama Islam

 



1.       Lembaga Pendidikan Agama Islam

A.      Formal (Madrasah, PT Islam, Pesantren)

B.      Non Formal  (Majelis Ta’lim, Masjid, Musholla, Remas, Remus, TPQ)

C.      Informal (Keluarga)

2.       Komponen Pendidikan Agama Islam

A.      Kepala Madrasah

B.      Guru

C.      Siswa

D.      Kurikulum

E.       Metode

F.       Strategi

G.     Lingkungan



Mananajemen Pendidikan Islam dan Implikasinya


 

MPI adalah proses pengelolaan LPI secara Islami dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Yang dimaksud sumber belajar adalah segala hal yang dapat dimanfaatkan untuk memfasiltasi belajar seseorang. Dari definisi tersebut, terdapat beberapa implikasi yang saling terkait yang membentuk kesatuan, dengan penjabaran sebagai berikut:

Pertama, proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami.

Aspek ini menghendaki adanya muatan-muatan nilai Islami dalam proses pengelolaan LPI. Antara lain, penekanan pada manfaat, maslahah, kualitas, kemajuan dan pemberdayaan. Selanjutnya upaya pengeloaan agar selalu menjaga sifat Islami, yakni bersandar pada pesan-pesan al Qur’an dan Hadits.

Kedua, terhadap lembaga pendidikan Islam.

Aspek ini menunjuk pada obyek manajemen yang secara khusus  untuk menangani pendidikan Islam dengan segala keunikannya. Maka manajemen ini dapat mendiskripsikan cara pengelolaan madrasah, pesantren, perguruan tinggi Islam dan sebagainya.

Ketiga, Proses pengelolaan LPI secara Islami menghendaki adanya sifat inklusif dan eksklusif.

Sifat inklusif, di mana kaidah yang digunakan dalam manajerial lembaga pendidikan Islam dapat pula dipakai pada selain LPI jika ada kesesuaian sifat dan misinya. Sedangkan yang dimaksud sifat eksklusif di sini adalah LPI disebut sebagai obyek langsung (special). Kaidah lembaga pendidikan umum juga dapat dipakai LPI selama sesuai dengan nilai-nilai Islam, realita dan kultur yang dihadapi LPI.

Keempat, dengan cara menyiasati.

Hal ini mengandung strategi yang menjadi pembeda dengan manajemen. Manajemen merupakan siasat/strategi untuk mencapai tujuan. Demikian pula dengan MPI yang senantiasa diwujudkan melalui strategi tertentu, yang terkadang strategi tersebut sesuai dengan strategi dalam mengelola lembaga pendidikan secara umum, namun kadang juga berbeda sebab yag dihadapi berbeda situasi dengan LPI.

Kelima, sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait.

Sumber belajar berupa: (1) manusia (guru, ustadz/ah, dosen, siswa/santri/mahasiswa, pegawai, pengurus yayasan); (2) bahan (perpustakaan, buku paket, buku ajar, dsb); (3) lingkungan; (4) alat dan peralatan (laboratorium, dst); (5) Aktivitas (sosio politik, sosio klutural, sosio ekonomik, sosio religius).

Keenam, tujuan pendidikan Islam.

Arah dari seluruh kegiatan pengelolaan LPI sehingga tujuan ini sangat mempengaruhi komponen lainnya, bahkan mengendalikannya.

Ketujuh, efektif dan efisien.

Berhasil guna dan berdaya guna. Berhasil mencapai tujuan dengan penghematan daya, waktu dan biaya.

Menguatkan Iman Dan Akhlak Melalui Literasi Al-Qur’an Dan Majelis Ilmu

A. Pendahuluan Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam yang diturunkan Allah Swt. sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidu...