Minggu, 21 Mei 2023

Mempersiapkan Perkawinan yang Kokoh Menuju Keluarga Sakinah

 


Pendahuluan

Materi ini mengajak peserta untuk memaknai status yang melekat pada setiap manusia sebagai  di muka bumi termasuk dalam kehidupan perkawinan dan keluarga. Perkawinan dan keluarga harus memiliki cita-cita jangka panjang ketika menghadap Ilahi di akhirat kelak, dan dikelola sesuai dengan status dan amanah yang melekat pada manusia. 

Tujuan

Peserta mampu merumuskan cita-cita tertinggi hidup, mengaitkannya dengan tujuan jangka panjang dan pendek perkawinan, serta mewujudkannya selaras dengan status sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. 

Status sebagai Hamba Allah dan Amanah sebagai Khalifah di Muka Bumi

Status Manusia sebagai Hamba Allah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Surat Az-Zariyat Ayat 56)

Amanah sebagai Kholifah di muka bumi

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (Surat Al-Ahzab Ayat 72)

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.( Surat Fatir Ayat 39)

Perlunya kerjasama laki-laki dan perempuan sebagai khalifah

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat At-Taubah Ayat 71)

Keluarga Sakinah

Ayat tentag Keluarga Sakinah

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Surat Ar-Rum Ayat 21)


Makna Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah

Sakinah

Kata sakinah disebutkan sebanyak enam kali dalam al Qur’an, yaitu pada QS al Baqarah 248; at Taubah 26 & 40, al Fath ayat 4, 18, 26 sebagai berikut:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. (Surat Al-Baqarah Ayat 248)

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.( Surat At-Taubah Ayat 26) 

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Surat At-Taubah Ayat 40)

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Surat Al-Fath Ayat 4) 

۞ لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).( Surat Al-Fath Ayat 18) 

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surat Al-Fath Ayat 26) 

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa sakinah diberikan Allah ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman agar tabah dan tidak gentar menghadapi berbagai masalah. Atas dasar makna tersebut, maka keluarga sakinah dapat dipahami sebagai keluarga yang tetap tenang (harmonis), meskipun ketika menghadapi masalah sebesar dan seberat apapun. 

Mawaddah

Mawaddah adalah perasaan cinta yang melahirkan keinginan untuk membahagiakan dirinya. Ungkapan ini cukup menggambarkan mawaddah. “Aku ingin menikahimu, karena aku bahagia bersamamu”. Rasa ini tidak cukup karena orang yang mencintai hanya peduli pada kebahagiaan orang yang dicintainya. Seseorang yang hanya memiliki mawaddah mampu mencintai sekaligus menyakiti Misalnya ketika dia memperoleh kebahagiaan dengan cara menyakiti pasangannya. 

Rohmah

Rohmah adalah perasaan cinta yang melahirkan keinginan untuk membahagiakan orang yang dicintainya. Ungkapan ini menggambarkan rahmah, “Aku ingin menikahimu, karena aku ingin membuatmu bahagia”. Rohmah saja tidak cukup, karena rasa cinta ini bisa disalahgunakan oleh orang yang dicintai untuk kebahagiaan dirinya secara spesifik tanpa peduli dengan kebahagiaan orang yang mencintainya. 

Pasangan suami istri memerlukan mawaddah dan rahmah sekaligus, yakni perasaan cintna yang melahirkan keinginan untuk membahagiakan dirinya sendiri sekaligus pasangannya dalam suka maupun duka.

 

Perkawinan yang Kokoh

Empat pilar perkawinan yang terencana:

1. Berpasangan (Zawaj)

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ

Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (Al Baqarah: 187) 

 

2. Janji kokoh (Mitsaqan ghalizhan)

 

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

 

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (An-Nisa' Ayat 21)

 

3. Saling memperlakukan pasangan dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (An-Nisa' Ayat 19)

 

4. Musyawarah

فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. (Al Baqarah ayat 233)

Selasa, 28 Februari 2023

Adab Muslim Saat Mendengar Adzan

 

Pengertian adzan secara bahasa adzan bermakna al i’lam yang berarti pengumuman atau pemberitahuan, adzan merupakan pemberitahuan bahwa waktu sholat telah tiba dengan menggunakan lafal-lafal tertentu dan cara tertentu, sebagaimana firman Allah swt

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُه

Dan pengumuman dari Allah dan Rasul-Nya kepada ummat manusia di hari haji akbar bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kaum musyrikin…..” (QS. At Taubah: 3)

وإذا سمعت المؤذن فقل مثل ما يقول إلا في الحيعلتين فقل: "لا حول ولا قوة إلا بالله" وفي التثويب صدقت وبررت، فإذا فرغت من جوابه فصل على النبي صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Dan apabila Anda mendengar suara adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin kecuali ketika ia mengucapkan: حَیَّ عَلَی الصَّلاةِ dan .حَیَّ عَلی الفَلٰاحِ Sebagai jawabannya, ucapkanlah  لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ. (Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah).

Demikian pula ketika mendengar seruannya: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ  (Shalat lebih baik dari pada tidur) pada adzan Shubuh, ucapkanlah: صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ  (Engkau benar dan engkau telah berbuat kebajikan).

Berikut adab dan amalan yang harus dilakukan umat muslim saat mendengarkan adzan, antara lain:

Mengikuti Bacaan Mu’adzin

Ada adab yang perlu diperhatikan muslim saat mendengar azan berkumandang sekaligus larangan saat azan tersebut. Salah satunya adalah menjawab azan tersebut dengan bacaan yang dilafalkan oleh muazin atau orang yang mengumandangkan azan sesuai dengan hadits berikut,

إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ، فَقُولُوا كَما يقُولُ المُؤذِّنُ

Artinya: "Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin," (HR Bukhari dan Muslim).

Segera melakukan sholat

Adzan sendiri adalah panggilan Allah kepada umat muslim untuk melaksanakan sholat. Maka sebaiknya ketika adzan berkumandang, kita bersiap menunaikan sholat.

فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ‌ ۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, (Q.S. Maryam 19:59)

Tidak berjual beli saat azan

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا نُوۡدِىَ لِلصَّلٰوةِ مِنۡ يَّوۡمِ الۡجُمُعَةِ فَاسۡعَوۡا اِلٰى ذِكۡرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الۡبَيۡعَ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ خَيۡرٌ لَّـكُمۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Jumu'ah Ayat 9)

Berdo'a Setelah Adzan

Rasulullah saw bersabda:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ اِنَكَ لاَ تُخْلِفُ اْلمِيْعَاد

Artinya: "Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan memiliki salat yang didirikan. Berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah ia ke tempat yang terpuji sebagaimana yang Engkau telah janjikan."

Berdo'a diantara Adzan dan Iqomah

Di antara waktu adzan dan iqomah disebut sebagai salah satu waktu paling mustajab untuk muslim memanjatkan doa.

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

Artinya: "Sesungguhnya do'a yang tidak tertolak adalah do'a antara adzan dan iqomah, maka berdo'alah (kala itu)." (HR Ahmad).

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Artinya: "Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa'atku." (HR Muslim).

Nabi saw mengabarkan ketidaksukaan setan dengan suara adzan. Sampai-sampai setan berusaha agar tidak mendengarnya dengan cara yang cukup hina menurut pandangan manusia yaitu dengan mengeluarkan kentut dan suaranya. Rosulullah saw bersabda:

ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮﺩِﻯَ ﺑِﺎﻷَﺫَﺍﻥِ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻟَﻪُ ﺿُﺮَﺍﻁٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻻَ ﻳَﺴْﻤَﻊَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻰَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥُ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺛُﻮِّﺏَ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻰَ ﺍﻟﺘَّﺜْﻮِﻳﺐُ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻳَﺨْﻄُﺮُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ

“Apabila azan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar azan tersebut. Apabila azan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqamah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya” (HR. Bukhari no. 608 dan Muslim no. 389).

Hadits ini menjelaskan dalil keutamaan azan dan setan lari dari adzan sampai-sampai setan mengeluarkan kentut agar tidak mendengar adzan. Sama saja halnya ketika adzan dan iqamah (setan juga lari)

 


Jumat, 30 Desember 2022

Menciptakan Dapur Bersih & Sehat

 


Tulisan ini berangkat dari keprihatinan penulis melihat masih banyaknya dapur yang pemiliknya belum sadar kebersihan. Padahal sering mengucap: “Kebersihan adalah bagian dari Iman” bahkan kadang juga tertulis di dinding. Yang berarti mereka mengetahui merawat kebersihan adalah perintah agama. Mereka rata-rata taat ibadah, pernampilan menarik tapi ternyata perilaku hidup bersih belum dimiliki. Padahal agama mengajarkan untuk berperilaku bersih. Karena Islam dibangun atas kebersihan, Aisyah ra menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

بُنِيَ الديْنُ عَلَى النظَافَة

Artinya: "Agama itu dibangun berasaskan kebersihan." (HR Muslim).

Maka untuk menguatkan agama kita, perilaku hidup bersih juga harus kita miliki. Allah Sang Maha Suci, Maha Mulia, serta Indah memerintahkan untuk membersihkan segala sesuatu. Sebagaimana dalam hadits berikut:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ, نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ, كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ, جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ, فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ

Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu." (HR. Tirmizi).

Untuk itu, marilah kita menjaga kebersihan, terutama dapur. Meskipun dapur kita belum seindah milik konten kreator di medsos, setidaknya dapur kita bersih.  Dapur menjadi area paling sibuk di rumah karena ada beragam kegiatan yang dilakukan, seperti meracik, memasak, mempersiapkan, menyimpan, bahkan terkadang menghidangkan makanan untuk keluarga. Makanan adalah segala sesuatu yang bakal masuk ke dalam mulut dan menjadi sumber energi. Maka makanan haruslah bersih, sehat dan halal. Melihat beraneka ragamnya fungsi dapur, maka menjadikan dapur bersih adalah harus. Apalagi sebagai umat Islam menjadikan dapur bersih adalah kewajiban. Menciptakan dapur sehat dengan menjaga kebersihannya harus dilakukan, agar makanan selalu higienis dan kesehatan keluarga tetap terjaga (Atmoko, 2017).

Begitu banyaknya fungsi dapur, maka dapur merupakan ruang yang rentan bakteri, virus, hama, serta kuman yang membawa dampak terhadap kesehatan. Oleh karena itu, kita harus menjaga kebersihannya agar tercipta dapur sehat bebas kuman. Memang yang namanya bakteri, virus dan kuman berbahaya tidak terlihat di dapur. Maka, untuk memastikan dapur kita sehat dan aman dari bakteri dan virus berbahaya, marilah kita jaga kebersihan dapur. Antara lain dapat kita ikuti beberapa tips di bawah ini:

Kebersihan tempat cuci piring, wastafel dan countertop dapur (meja dapur)

Tempat yang digunakan untuk membersihkan dan mencuci harus bersih. Bebas dari jamur, bekas minyak, bekas makanan, bekas cipratan apapun yang menempel di tempat cuci. Sehingga tempat ini harus selalu dibersihkan.

  • Untuk merawat kebersihan wastafel dapur tempat cuci piring dan countertop, bisa kita gunakan air hangat, sabun, atau larutan desinfektan setiap hari atau tiap selesai digunakan.
  • Jika menggunakan desinfektan kita harus bersarung tangan dan membuka jendela.
  • Untuk mencuci piring dan peralatan makan lainnya di tempat cuci piring sebisa mungkin sisa-sisa makanan sudah dibersihkan terlebih dahulu. Sehingga tidak ada kotoran yang terjatuh di wastafel/tempat cuci piring.
  • Mencuci piring dan peralatan masak lainnya harus dengan air mengalir (bukan dicelup). Hal ini dilakukan agar kotoran yang menempel benar-benar lepas dari peralatan; dan air bekas celupan sudah mengandung bakteri, virus, maupun kuman maka air ini sudah tidak dapat digunakan untuk membersihkan dan tidak mensucikan.
  • Jika ada sisa makanan dan bahan makanan yang tertinggal di tempat cuci, harus segera dibersihkan (Milenia, 2021).

Kebersihan Alat: spons, kawat serabut dan sikat pembersih

Setelah tempat yang kita gunakan untuk melakukan bersih-bersih, selanjutnya alat yang dipakai untuk membersihkan juga harus bersih.

  • Spons, kawat serabut dan sikat yang digunakan untuk membersihkan peralatan dapur juga dapat menjadi tempat pertumbuhan jamur, kuman, dan berbagai patogen pembawa penyakit. Karena itu, bersihkan dan keringkan alat-alat tersebut setiap kali selesai digunakan.
  • Spon, kawat serabut dan sikat pembersih yang digunakan untuk mencuci piring dan peralatan memasak lainnya harus sesering mungkin dibersihkan. Sehingga peralatan ini bebas bakteri, seperti bakteri E-Coli, Salmonella ataupun yang lainnya
  • Kita bisa merendam spon, kawat serabut dan sikat pembersih dengan pemutih selama 1 menit kemudian bilas dengan air panas
  • Peralatan pembersih harus dicuci setiap hari (setelah selesai digunakan) dengan pembersih desinfektan
  • Spons, kawat serabut dan sikat pembersih bukan untuk membersihkan daging maupun bahan olahan yang lain
  • Sering mengganti spons pencuci atau minimal 2 pekan sekali (Milenia, 2021). 

Kebersihan lantai dapur

Kita harus rajin membersihkan lantai dapur

  • Untuk membersihkan lantai dapur bisa menggunakan pembersih khusus lantai dan desinfektan, bisa juga kita gunakan: cuka putih, baking soda, sabun pencuci piring serta air
  • Upayakan lantai dapur tetap kering dan bersih
  • Mencuci alat pel  dan sapu setelah digunakan
  • Keringkan alat pel dan sapu (Claudia, 2021) 

Kebersihan tempat sampah

  • Tempat sampah harus sering dicuci.
  • Upayakan tempat sampah dilapisi kantong plastik agar tempat sampah awet bersih.
  • Jika tempat sampah sudah mulai ada noda harus segera dicuci.
  • Kita bisa menggunakan desinfektan untuk membersihkan tempat sampah.
  • Membuang sampah harus setiap hari dilakukan.
  • Upayakan sebelum tidur, kondisi dapur bersih dan bebas dari sampah (Kusumaningtiar, 2016). 

Kebersihan peralatan masak

  • Segera mencuci peralatan setelah digunakan, hal ini untuk menekan penyebaran bakteri.
  • Hindari merendam panci meski merendam panci sebelum dicuci dapat memudahkan pembersihkan, membiarkan merendam panci terlalu lama dapat membuat dapur terlihat tidak nyaman.
  • Menggunakan air sabun panas untuk mencuci alat masak setiap selesai menyiapkan makanan dan sebelum menyiapkan makanan berikutnya.
  • Tidak membiarkan perabotan dapur yang kotor menumpuk lama karena dapat mengundang serangga dan memicu pertumbuhan bakteri (Pranatha, 2020). 

Kebersihkan semua permukaan yang banyak disentuh

Semua permukaan yang sering disentuh harus sering dibersihkan dengan cairan pembersih, contohnya:

  • Gagang pintu,
  • Saklar,
  • Kran,
  • Gagang gayung,
  • Gagang pisau
  • Gagang kulkas,
  • Kompor gas,
  • Lap dapur,
  • Handuk pengering tangan (Kementerian Kesehatan, 2020; Juminten, 2022) 

Kebersihan telenan

  • Telenan dapat menjadi tempat bertemunya para bakteri, virus ataupun kuman. Sehingga untuk menghindari kontaminasi dan bakteri yang membahayakan, maka telenan harus dibedakan.
  • Setelah selesai digunakan, telenan harus segera dicuci bersih dengan air mengalir, cairan pembersih, dan air hangat jika diperlukan.
  • Spon pembersih telenan daging dengan telenan sayur harus dibedakan (Perikanan, 2020). 

Kebersihan pisau

  • Mencuci pisau dapur setelah dipakai dan sebelum dipakai
  • Bedakan pisau untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi silang antara daging mentah, sayuran, makanan matang, buah, salad dan sebagainya.
  • Menggunakan pisau dapur yang sama untuk beragam jenis bahan makanan rentan menyebabkan kontaminasi (Pranatha, 2020). 

Kebersihan tangan

Tangan bisa menjadi salah satu perantara yang memudahkan penyebaran bakteri di dapur. Untuk merawat kebersihannya dapat dilakukan:

  • Mencuci tangan sebelum dan setelah makan dan setiap kali setelah membersihkan area dapur.
  • Mencuci tangan dengan air mengalir serta menggunakan sabun, setidaknya selama 20 detik.
  • Basahi tangan dengan air bersih.
  • Gunakan sabun pada tangan secukupnya .
  • Gosok telapak tangan yang satu ke telapak tangan lainnya.
  • Gosok punggung tangan dan sela jari.
  • Gosok telapak tangan dan sela jari dengan posisi saling bertautan.
  • Genggam dan basuh ibu jari dengan posisi memutar.
  • Gosok bagian ujung jari ke telapak tangan agar bagian kuku terkena sabun.
  • Gosok tangan yang bersabun dengan air bersih mengalir.
  • Keringkan tangan dengan lap sekali pakai atau tissu
  • Gosok punggung jari ke telapak tangan dengan posisi jari saling bertautan
  • Bersihkan pemutar keran air dengan lap sekali pakai atau tissu (Kementerian Kesehatan, 2020). 

Kebersihan bahan makanan

  • Cuci sayur, buah dan bahan makanan lain di bawah air kran yang mengalir untuk menghilangkan kotoran, serangga, hingga pestisida.
  • Hindari mencuci dengan cara dicelup hal ini untuk menekan agar kotoran, serangga maupun pestisida kembali menempel pada sayur dan buah
  • Menggosok buah dan sayuran berkulit keras dengan sikat sayuran untuk memastikan kebersihannya (Irawan, 2016; Euis Yuniastuti, 2020). 

Kebersihan kulkas

  • Perhatikan juga kebersihan dan penyimpanan makanan di dalam kulkas.
  • Pisahkan daging dengan sayuran, buah-buahan, atau makanan lainnya.
  • Pastikan suhu kulkas di bawah 4°C dan freezer di bawah -18°C, ini akan membantu memperlambat pertumbuhan kuman.
  • Buang makanan di dalam kulkas yang telah basi.
  • Bersihkan kulkas setidaknya dua mingg sekali dengan air hangat yang telah dicampur sabun (Khalisah, 2018). 

Kebersihan kain lap

Kain lap merupakan perlengkapan dapur yang dapat menjadi tempat pertumbuhan bakteri dan jamur. Apalagi, jika peralatan sering berada dalam kondisi basah atau lembap. Maka hal ini dapat diselesaikan dengan:

  • Menggunakan handuk kertas untuk membersihkan permukaan dapur. Hal ini lebih sehat dan praktis
  • Jika lebih suka menggunakan lap kain, sering-seringlah mencucinya dengan air panas, detergen dan keringkan kembali (Sarah Ika Widyowati, 2021). 

Jauhkan hewan peliharaan

Jika memiliki hewan peliharaan, maka harus dipastikan:

  • Hewan tidak berada di dapur bahkan sampai  menaiki meja dapur, konter, atau tempat makanan saji.
  • Pastikan untuk melatih hewan peliharaan agar tidak mendekati atau berada di area dapur (Mu’annisa, 2022).

Itulah beberapa langkah merawat dapur yang bersih dan sehat. Marilah kita menjaga kebersihan dapur merupakan hal yang sangat penting. Tujuannya agar kuman tidak masuk ke dalam makanan hingga membahayakan kesehatan kita sekeluarga (Atmoko, 2017). Disamping itu, kita berniat melaksanakan perintah agama, sebagai sarana menuju surga Allah swt: 

تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

Artinya: "Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah ta'ala membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih." (HR Ath-Thabrani).

 

Bibliography

Atmoko, T. P. H. (2017). Peningkatan Higiene Sanitasi sebagai Upaya Menjaga Kualitas Makanan dan Kepuasan Pelanggan di Rumah Makan Dhamar Palembang. Jurnal Khasanah Ilmu, 8(1), 1–9. https://journal.unsika.ac.id/index.php/barometer/article/view/905

Claudia, L. V. (2021, September). Tips Membersihkan Lantai Dapur yang Berminyak. Kompas,Com, 3. https://www.kompas.com/homey/read/2021/12/23/074800976/tips-membersihkan-lantai-dapur-yang-berminyak

Euis Yuniastuti. (2020). Upaya Menciptakan Lingkungan Bersih Dan Sehat di Kawasan Kampung Atas Air di Kelurahan Margasari Balikpapan Barat. 3(2), 17–21.

Irawan, D. W. P. (2016). Prinsip Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman di Rumah Sakit. In Forum Ilmiah Kesehatan (FORIKES). https://kesling.poltekkesdepkes-sby.ac.id/wp-content/uploads/2020/03/Buku-Isbn-Prinsip-2-Hs-Makanan-Di-RS.pdf

Juminten. (2022). Implementation of A Clean and Healthy Lifestyle Through Education and Simulation On How To Wash Hands. 2(3). https://doi.org/10.35877/454RI.mattawang1186

Kementerian Kesehatan. (2020). Panduan Cuci Tangan Pakai Sabun. Kesehatan Lingkungan, 42, 1–34.

Khalisah, (2018). SOP Membersihkan Kulkas. Kesehatan.

Kusumaningtiar, (2016). Optimalisasi Tempat Sampah Warna Sebagai Pemecahan Masalah Di Sdn 11 Duri Kepa , Jakarta Barat. Jurnal Abdimas, 3.

Milenia, T. F. (2021). Studi Komparatif Penggunaan Spons Busa Dengan Sabut Kelapa Sebagai Alat Pencuci Terhadap Jumlah Angka Kuman Pada Piring. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mu’annisa. (2022). Teknik Manajemen Pengelolaan Hewan Percobaan. Biologi MIPA UNM, 1–109.

Perikanan, (2020). Prosedur Operasi Standar Sanitasi. Perikanan, 5. https://dkp.jatengprov.go.id/index.php/artikel/bp2mhpsemarang/prosedur-operasi-standart-sanitasi-ssop

Pranatha, (2020). Kitchen Equipment & Utensil. https://repository.dinus.ac.id/docs/ajar/3._kitchen_equipment_and_utensils_.pdf

Sarah Ika Widyowati. (2021). Perbedaan Jumlah Usapan Penggunaan Kain Lap Terhadap Jumlah Angka Kuman Pada Piring.

 

Senin, 26 September 2022

Ciri-ciri Orang yang Mendapatkan Keberkahan Ilmu

 



Keberkahan ilmu yang diperoleh diketahui dari peningkatan amal shaleh pada diri seorang muslim. Jika sudah dapat ilmu tapi tidak berbekas pada diri kita, bisa jadi, itu adalah tanda kita tidak mendapat keberkahan ilmu. Misalnya, bertahun-tahun belajar serta mendatangi majelis ilmu (majlis ta'lim), tetapi masih banyak keburukan pada diri, berarti itu tidak ada keberkahan. 

Lantas, bagaimanakah cara untuk mengetahui bahwa ilmu itu sudah diberkahi oleh Allah Ta'ala dan bermanfaat bagi diri sendiri? Menurut pengasuh kajian As-Sunnah di Jakarta, Ustadz Najmi Umar Bakkar, menukil dari kalam ulama, ciri-ciri orang yang mendapat keberkahan ilmu, antara lain: 

Ikhlas dalam Ibadah

Semakin ikhlas dalam beribadah kepada Allah serta dalam mempelajari dan mengamalkan ilmu, mendakwahkan dan mempertahankan ilmu.

فَادۡعُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَهُ الدِّيۡنَ

"Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..." (QS Ghaafir ayat 14).

Imam al-Barbahari Rahimahullah berkata:

"Dan ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwasanya (keberkahan) ilmu itu bukanlah dengan banyaknya (hafalan) riwayat serta beberapa kitab. Hanyalah (dikatakan) seorang yang 'alim itu adalah siapa yang telah mengikuti (mengamalkan) ilmu dan sunnah2, sekalipun sedikit ilmu dan kitab-kitabnya. Dan barangsiapa menyelisihi al-Quran dan as-Sunnah, maka dia adalah pelaku bid'ah, sekalipun banyak ilmu dan kitab-kitabnya" (Kitab Syarhus Sunnah). 

Semakin sesuai syariat

Orang yang berilmu akan beribadah lebih sesuai syariat & sunnah Nabi saw dalam  beribadah, dibandingkan sebelumnya.

...وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ...

"... Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ..." (QS Al-Hasyr ayat tujuh).

Rosulullah saw bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

"Barangsiapa melakukan amalan yang tidak termasuk dalam urusan agama kami, maka amalan tersebut tertolak."  (HR Muslim).

Taqwa

Ilmu itu semakin menumbuhkan rasa takutnya seseorang kepada Allah Ta'ala.

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَآبِّ وَالۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَ لۡوَانُهٗ كَذٰلِكَ ؕ اِنَّمَا يَخۡشَى اللّٰهَ مِنۡ عِبَادِهِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ غَفُوۡرٌ

"...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (ahli ilmu)" (QS. Fathir : 28)

Siapa yang takut kepada Allah, maka dialah ‘alim, yaitu seorang yang berilmu. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah, maka dialah jahil (orang yang jauh dari ilmu).

Semangat Taat

Ilmu tersebut mendorong seseorang untuk semakin semangat dalam melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi berbagai kemaksiatan. Ibn Taimiyah menjelaskan, terdapat korelasi antara orang yang memiliki ilmu dengan takut kepada Allah.

Seseorang yang semakin berilmu, maka rasa takutnya untuk senantiasa melaksanakan ketaatan, melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan semua yang dilarang akan bertambah kuat. Sehingga orang yang berilmu akan mempertimbangkan terlebih dahulu perintah dan larangan Allah SWT. Ia menyadari, Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tersirat maupun tersurat. Rasa takut dan harapnya kepada Allah pun akan meningkat.

Qona’ah

Ilmu akan mengantarkan seseorang pada sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan zuhud pada dunia. Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah berkata : "Zuhud itu terbagi tiga: 1) meninggalkan yang haram, maka itu ialah zuhudnya orang yang awam; 2) tidak berlebihan dari sesuatu yang halal, & itu zuhudnya dari orang yang khusus; 3) meninggalkan setiap hal yang menyibukkan serta menjauhkan dari Allah, maka itu zuhudnya al-arifin (yaitu orang yang berma'rifat kepada Allah)" (kitab Mawaa'izh Imam Ahmad).

Surat al-Fatihah ayat 7:

....وَلَا الضَّالِّينَ

…. dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Qona’ah termasuk ciri orang yang memiliki keberkahan ilmu, karena orang yang qona’ah tidak akan melakukan hal yang sia-sia bahkan sesat. Orang yang sesat menurut Syaikh Muhammad Abduh terbagi atas empat tingkat, yaitu:

  • Tidak sampai kepadanya pendidikan, atau sampai tetapi hanya didapat dengan panca indera dan akal, tidak ada tuntutan agama
  • Sampai kepada mereka pendidikan, atas jalan yang dapat membangun pikiran. Meraka telah mulai tertarik oleh dakwah itu, sebelum menjadi keimanannya, ia pun mati.
  • Sudah memiliki ilmu dan sudah paham serta sudah mengakui, tetapi masih berpegang teguh juga kepada hawa nafsu atau kebiasaan lama atau menambah-nambah.
  • Sesat dalam beramal, timbul dari kepintaran otak, tetapi batinnya kosong daripada iman. (Hamka, Tafsir Al Azhar, 85-87)

Tawadhu’

Ilmu yang telah diraih menjadikan semakin tawadhu’ (rendah hati). Menjadikan hati tunduk dan khusyuk kepada Allah swt, merasa hina di hadapan-Nya dan semakin mudah untuk menerima kebenaran dari siapapun. Malik bin Dinar berkata: "Sesungguhnya jika engkau menuntut ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatmu tawadhu. Jika engkau menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanyalah akan membuatmu semakin berbangga diri (sombong)" (Kitab Az-Zuhd oleh Imam Ahmad).

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: "Dan di antara tanda bahwa amal ibadah kita diterima adalah kita akan merendahkan, mengkerdilkan dan menganggapnya kecil di hati kita" (Buku Madarijus Saalikiin). halaman ke-1 1 2

Benci pada Pujian

Ilmu tersebut akan menjadikan pada diri seseorang benci kepada pujian dan ia juga enggan menyucikan diri sendiri serta tidak suka ketenaran.

Imam Ibnu Rajab berkata: "Dan di antara tanda ilmu yang bermanfaat adalah membimbing pemiliknya untuk lari meninggalkan dunia, dan yang terbesar adalah kepemimpinan, ketenaran, serta pujian. Dan sesungguhnya orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat itu tidak akan mengaku memiliki ilmu, dia pun tidak akan membanggakannya kepada siapapun, dan juga tidak akan menganggap orang lain bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi Sunnah Nabi saw serta yang berpegang teguh dengannya" (Kitab Majmu’ur Rasail).

Bersih Hati

Ilmu tersebut akan menjadikan pada diri seseorang semakin bersih hatinya, semakin bersabar, mudah meredam amarah, mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain, tidak ada hasad serta dendam, dan semakin mulia dan luhur akhlaknya.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa" (al Maidah 27)

Prinsip Keamanan, Kejujuran Akademik, dan Etika Digital

  C. Prinsip Keamanan, Kejujuran Akademik, dan Etika Digital C.1 Tantangan Integritas Akademik dalam Evaluasi Digital PAI Implementasi e...