C.1 Konsep Dasar Portofolio dalam PAI
Portofolio merupakan salah satu bentuk penilaian autentik yang paling
komprehensif dalam konteks PAI. Penilaian portofolio adalah evaluasi
berkelanjutan berdasarkan pengumpulan tugas dan informasi dari peserta didik
untuk menunjukkan kemajuan pengembangan kompetensi dalam periode tertentu (Umam
et al., 2023; . Dalam konteks PAI, portofolio dapat mencakup berbagai jenis
karya dan tugas peserta didik yang mencerminkan perkembangan kompetensi
keagamaan mereka, mulai dari catatan refleksi keagamaan, laporan kegiatan
ibadah, karya tulis tentang nilai-nilai Islam, hingga dokumentasi kegiatan
keagamaan yang diikuti peserta didik.
Pelaksanaan penilaian ranah psikomotorik dilakukan dalam bentuk
portofolio atau kumpulan-kumpulan tugas Rizqiani & Wijayanti, 2022; , yang
menunjukkan bahwa portofolio merupakan instrumen penilaian yang sangat relevan
untuk mengukur aspek psikomotorik dalam PAI, seperti kemampuan peserta didik
dalam mempraktikkan ibadah dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam
kehidupan sehari-hari. Penilaian portofolio merupakan jenis penilaian autentik
yang paling komprehensif karena melibatkan jenis penilaian lainnya seperti
penilaian kinerja, penilaian diri, proyek, esai, dan tes objektif (Umam et al.,
2023; , yang menunjukkan bahwa portofolio dalam PAI dapat mengintegrasikan
berbagai bentuk penilaian secara holistik.
C.2 Jenis-Jenis Portofolio dalam PAI
Dalam konteks PAI, terdapat beberapa jenis portofolio yang dapat
digunakan sesuai dengan tujuan penilaian yang ingin dicapai. Pertama,
portofolio perkembangan (developmental portfolio) yang mendokumentasikan
perkembangan kompetensi keagamaan peserta didik dari waktu ke waktu. Kedua,
portofolio pameran (showcase portfolio) yang menampilkan karya-karya
terbaik peserta didik yang mencerminkan pencapaian kompetensi keagamaan
tertinggi mereka. Ketiga, portofolio evaluasi (evaluation portfolio)
yang digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi keagamaan peserta didik pada
akhir periode pembelajaran tertentu (Umam et al., 2023; .
Dalam konteks implementasi pendidikan karakter religius di SMP Hikmah
Teladan Bandung, hasil dari penilaian kartu monitoring akan masuk ke dalam
penilaian psikomotor pelajaran PAI dan sangat berpengaruh pada nilai akhir
peserta didik di rapor setiap semester (Abdillah & Syafei, 2020; . Kartu
monitoring ini merupakan salah satu bentuk portofolio yang dapat digunakan
dalam penilaian PAI, yang mendokumentasikan perkembangan perilaku keagamaan
peserta didik secara berkelanjutan. Dalam konteks implementasi pendidikan
karakter melalui pembiasaan membaca Al-Qur'an, guru serta kepala sekolah
melakukan pengamatan nilai-nilai karakter terhadap peserta didik dengan cara
penilaian sikap peserta didik menggunakan huruf A (sangat baik), B (baik), C
(perlu bimbingan), dan D (perlu dampingan dan bimbingan) (Solekha &
Suyatno, 2022), yang menunjukkan bahwa portofolio penilaian sikap dalam PAI
dapat menggunakan sistem penilaian deskriptif yang lebih informatif
dibandingkan dengan sistem penilaian angka.
C.3 Pengembangan Portofolio PAI yang Berkualitas
Pengembangan portofolio PAI yang berkualitas harus mempertimbangkan
beberapa aspek penting. Pertama, jenis tugas atau karya yang akan dikumpulkan
dalam portofolio harus relevan dengan tujuan pembelajaran PAI dan mencerminkan
berbagai aspek kompetensi keagamaan yang ingin diukur (Umam et al., 2023; ,
Prihatin & Hamami, 2022). Kedua, kriteria penilaian yang akan digunakan
untuk menilai setiap tugas atau karya dalam portofolio harus jelas, spesifik,
dan terukur (Firoozi et al., 2019; .
Ketiga, cara mengintegrasikan skor dari berbagai tugas atau karya menjadi
skor portofolio keseluruhan harus ditetapkan secara jelas dan transparan (Umam
et al., 2023; . Keempat, peserta didik harus dilibatkan dalam proses
pengembangan portofolio, termasuk dalam pemilihan karya yang akan dimasukkan ke
dalam portofolio dan dalam proses refleksi tentang perkembangan kompetensi
keagamaan mereka Prihatin & Hamami, 2022). Dalam konteks penilaian sebagai
pembelajaran (assessment as learning), peserta didik juga dapat
dilibatkan dalam merumuskan prosedur penilaian, kriteria, dan rubrik/pedoman
penilaian sehingga mereka mengetahui dengan tepat apa yang harus dilakukan
untuk memperoleh capaian tertentu Prihatin & Hamami, 2022).
Dalam konteks inovasi penilaian portofolio non-tes untuk meningkatkan
keterampilan menulis bahasa Arab (maharah al-kitabah), hasil penelitian
menunjukkan bahwa inovasi penilaian portofolio dapat meningkatkan keterampilan
menulis mahasiswa (Umam et al., 2023; . Temuan ini menunjukkan bahwa portofolio
yang dikembangkan dengan baik dapat menjadi instrumen penilaian yang efektif
sekaligus alat pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik dalam konteks PAI.
C.4 Penilaian Kinerja dalam PAI
Penilaian kinerja (performance assessment) merupakan salah satu
bentuk penilaian autentik yang sangat relevan untuk digunakan dalam evaluasi
PAI, terutama untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mempraktikkan ajaran
Islam secara langsung. Penilaian kinerja dikembangkan untuk menilai kemampuan
peserta didik dalam mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilannya pada
berbagai situasi nyata dan konteks tertentu (Zahrok, 2009). Dalam konteks PAI,
penilaian kinerja dapat digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam
mempraktikkan ibadah, membaca Al-Qur'an, berdakwah, dan mengaplikasikan
nilai-nilai Islam dalam berbagai situasi nyata.
Teknik penilaian yang sesuai untuk menilai hasil belajar kognitif dan
psikomotorik adalah teknik tes verbal, baik dalam bentuk objektif maupun
uraian, sementara hasil belajar psikomotorik dalam pembelajaran PAI dapat
diukur menggunakan tes penampilan atau kinerja, dengan instrumen untuk
memperoleh data menggunakan skala penilaian dan daftar periksa (checklist)
Prihatin & Hamami, 2022). Hal ini menunjukkan bahwa penilaian kinerja dalam
PAI memerlukan instrumen yang terstruktur dan terstandar, seperti skala penilaian
dan daftar periksa, untuk memastikan konsistensi dan objektivitas penilaian.
Dalam konteks pelatihan menulis cerita dengan tema religi, untuk
mengevaluasi keterampilan peserta pelatihan, penting adanya rubrik penilaian
yang dapat mengukur tingkat keterampilan mereka secara objektif, di mana rubrik
ini akan menjadi instrumen penilaian yang sangat berguna untuk mengidentifikasi
dan menilai aspek-aspek dalam penulisan cerita dengan fokus tema religi, dengan
kriteria-kriteria yang mencakup pengembangan tema, struktur cerita, penggunaan
bahasa, dan keseluruhan kualitas penyampaian pesan religius dalam cerita
Piliang et al., 2024). Pendekatan pengembangan rubrik penilaian yang
komprehensif ini dapat diadaptasi untuk digunakan dalam pengembangan rubrik
penilaian kinerja dalam PAI.
C.5 Jenis-Jenis Penilaian Kinerja dalam PAI
Dalam konteks PAI, terdapat berbagai jenis penilaian kinerja yang dapat
digunakan sesuai dengan aspek kompetensi yang ingin diukur. Pertama, penilaian
kinerja ibadah, yang mengukur kemampuan peserta didik dalam mempraktikkan
berbagai ibadah seperti shalat, wudhu, membaca Al-Qur'an, dan ibadah lainnya.
Kedua, penilaian kinerja akhlak, yang mengukur kemampuan peserta didik dalam
mendemonstrasikan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai akhlak Islam dalam
berbagai situasi nyata. Ketiga, penilaian kinerja dakwah, yang mengukur
kemampuan peserta didik dalam menyampaikan pesan-pesan Islam kepada orang lain
secara efektif dan persuasif Prihatin & Hamami, 2022), Wiyani, 1970).
Dalam konteks implementasi pendidikan karakter berbasis Islam, penilaian
aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan yang
diberikan oleh guru, sementara hasil penilaian dilaporkan dalam bentuk nilai
angka, predikat, dan deskripsi pencapaian kompetensi mata pelajaran Rosyad,
2020; . Hal ini menunjukkan bahwa penilaian kinerja dalam PAI harus
diintegrasikan dengan bentuk penilaian lainnya untuk menghasilkan gambaran yang
komprehensif tentang pencapaian kompetensi peserta didik.
Dalam konteks penerapan HOTS untuk memperkuat moderasi beragama peserta
didik di Madrasah Aliyah, kemampuan analitis peserta didik tentang moderasi
beragama diukur melalui tes tertulis dan wawancara (Basri et al., 2022), yang
menunjukkan bahwa penilaian kinerja dalam PAI dapat dikombinasikan dengan
instrumen penilaian lainnya untuk menghasilkan penilaian yang lebih
komprehensif dan akurat.
C.6 Pengembangan Rubrik Penilaian Kinerja dalam PAI
Pengembangan rubrik penilaian kinerja yang komprehensif merupakan
komponen penting dalam penilaian kinerja PAI yang berkualitas. Rubrik penilaian
kinerja harus mencakup kriteria-kriteria penilaian yang spesifik dan terukur,
yang mencerminkan berbagai aspek keterampilan keagamaan yang ingin diukur
(Firoozi et al., 2019; , Piliang et al., 2024). Dalam konteks penilaian bahasa,
guru memerlukan pelatihan dalam mengembangkan rubrik untuk digunakan dalam
menilai keterampilan produktif berbicara dan menulis (Firoozi et al., 2019) yang
menunjukkan bahwa pengembangan rubrik penilaian kinerja merupakan keterampilan
yang harus dikuasai oleh setiap guru PAI.
Dalam konteks pelatihan menulis cerita dengan tema religi, rubrik
penilaian mencakup kriteria-kriteria seperti pengembangan tema, struktur
cerita, penggunaan bahasa, dan keseluruhan kualitas penyampaian pesan religius
dalam cerita Piliang et al., 2024). Pendekatan pengembangan rubrik yang
komprehensif ini dapat diadaptasi untuk digunakan dalam pengembangan rubrik
penilaian kinerja dalam PAI, dengan menyesuaikan kriteria-kriteria penilaian
dengan aspek-aspek keterampilan keagamaan yang ingin diukur.
Dalam konteks pengembangan instrumen penilaian karakter spiritual di
taman kanak-kanak, penskoran pada setiap item instrumen bergerak dari skor 1
hingga 4 (Faizah & Purwanto, 2021), yang menunjukkan bahwa rubrik penilaian
kinerja dalam PAI dapat menggunakan skala penilaian berjenjang yang
memungkinkan guru untuk membedakan berbagai tingkat kemampuan kinerja peserta
didik. Penggunaan skala penilaian berjenjang ini akan meningkatkan akurasi dan
reliabilitas penilaian kinerja dalam PAI.
.7 Integrasi Portofolio dan Penilaian Kinerja dalam Sistem Penilaian PAI
Integrasi portofolio dan penilaian kinerja dalam sistem penilaian PAI
yang komprehensif merupakan pendekatan yang paling efektif dalam mengukur
berbagai aspek kompetensi keagamaan peserta didik secara holistik. Instrumen
penilaian keterampilan berupa rubrik penilaian yang meliputi beberapa teknik
penilaian seperti praktik, projek, produk, portofolio, dan teknik lainnya
Rizqiani & Wijayanti, 2022; , yang menunjukkan bahwa portofolio dan
penilaian kinerja merupakan komponen integral dari sistem penilaian keterampilan
yang komprehensif dalam PAI.
Dalam konteks penilaian autentik PAI, penilaian autentik secara
konseptual jauh lebih bermakna daripada tes pilihan ganda yang terstandar
Prihatin & Hamami, 2022). Integrasi portofolio dan penilaian kinerja dalam
sistem penilaian PAI merupakan salah satu bentuk penilaian autentik yang paling
komprehensif, karena memungkinkan guru PAI untuk mengukur kemampuan peserta
didik dalam mengaplikasikan ajaran Islam dalam konteks kehidupan nyata yang
relevan dengan pengalaman mereka sehari-hari.
Dalam konteks evaluasi kurikulum humanis religius, terdapat 5 prinsip
evaluasi yaitu: 1) kehadiran saat pembekalan dan pelaksanaan, 2) kedisiplinan
dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas, 3) sikap, 4) kemampuan
melaksanakan tugas-tugas, dan 5) kemampuan membuat laporan (Rizal et al.,
2023). Kelima prinsip evaluasi ini dapat menjadi landasan dalam pengembangan
sistem penilaian PAI yang mengintegrasikan portofolio dan penilaian kinerja
secara komprehensif.
Tantangan dan Solusi dalam
Pengembangan
Instrumen Non-Tes PAI
Tantangan dalam Pengembangan Instrumen
Non-Tes PAI
Pengembangan instrumen non-tes dalam PAI menghadapi berbagai tantangan
yang perlu diatasi secara sistematis. Pertama, subjektivitas dalam penilaian
merupakan tantangan utama dalam penggunaan instrumen non-tes, terutama dalam
penilaian sikap religius dan penilaian kinerja (Firoozi et al., 2019; . Kedua,
keterbatasan waktu dalam pelaksanaan dan penilaian merupakan tantangan lain
yang sering dihadapi oleh guru PAI dalam menggunakan instrumen non-tes secara
optimal. Ketiga, keterbatasan kemampuan guru PAI dalam mengembangkan instrumen
non-tes yang berkualitas merupakan tantangan yang tidak kalah penting
Suhardiyanto & Tijan, 2019).
Instrumen penilaian keterampilan hanya berupa rubrik penilaian
keterampilan tiap KD dan tidak ada instrumen penilaian secara spesifik aspek
apa saja yang perlu dikuasai oleh peserta didik sebagai bentuk penilaian, serta
pada pelaksanaannya instrumen penilaian yang telah dibuat tidak semua
terlaksana, hanya beberapa instrumen saja yang dipakai oleh guru Rizqiani &
Wijayanti, 2022; . Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan dan penggunaan
instrumen non-tes dalam PAI masih menghadapi berbagai tantangan praktis yang
perlu diatasi melalui pelatihan dan pendampingan yang komprehensif bagi guru
PAI.
Solusi dalam Pengembangan Instrumen
Non-Tes PAI
Untuk mengatasi berbagai tantangan dalam pengembangan instrumen non-tes
PAI, diperlukan beberapa solusi yang sistematis dan komprehensif. Pertama,
pengembangan rubrik penilaian yang komprehensif dan terstruktur untuk
meminimalkan subjektivitas dalam penilaian (Firoozi et al., 2019; , Piliang et
al., 2024). Kedua, pelatihan dan pendampingan bagi guru PAI dalam mengembangkan
dan menggunakan instrumen non-tes yang berkualitas (Andrijati et al., 2022; ,
Suhardiyanto & Tijan, 2019). Ketiga, kolaborasi antar berbagai pihak di
sekolah, termasuk guru PAI, wali kelas, dan guru BK, dalam pelaksanaan
penilaian sikap religius peserta didik Rosyad, 2020; .
Dalam konteks pelatihan penyusunan soal HOTS bagi guru SD, hasil pretes
dan postes mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan skor
peserta sebelum dan setelah pelatihan sebesar 24,8 atau 47,55% (Andrijati et
al., 2022; . Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan yang tepat dapat meningkatkan
kemampuan guru PAI dalam mengembangkan instrumen non-tes yang berkualitas
secara signifikan. Dalam konteks pengembangan modul pelatihan untuk
pengembangan profesional guru di madrasah, hasil penelitian menunjukkan bahwa
pelatihan menggunakan modul dapat secara efektif meningkatkan profesionalisme
guru SKI di lingkungan Kementerian Agama di Provinsi Maluku Latuapo, 2023),
yang menunjukkan bahwa pengembangan modul pelatihan yang komprehensif merupakan
salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan kompetensi guru PAI dalam
mengembangkan instrumen non-tes yang berkualitas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar