Jumat, 01 Mei 2026

Angket, Wawancara, dan Skala Sikap

 


B.         Angket, Wawancara, dan Skala Sikap

B.1 Angket sebagai Instrumen Non-Tes dalam PAI

Angket merupakan salah satu instrumen non-tes yang penting dalam penilaian PAI, terutama untuk mengukur sikap, persepsi, dan pengalaman keagamaan peserta didik yang tidak dapat diobservasi secara langsung. Dalam penelitian tentang pendidikan karakter di SD Al-Kautsar Bandar Lampung, data diperoleh dari hasil angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi Sagala et al., 2020; , yang menunjukkan bahwa angket merupakan salah satu instrumen pengumpulan data yang penting dalam penilaian PAI, yang harus digunakan bersama dengan instrumen lainnya untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang perkembangan sikap religius peserta didik.

Dalam pengembangan kuesioner pengetahuan, sikap, dan praktik (Knowledge, Attitude, and Practice/KAP) untuk peserta didik Tahfiz, kuesioner dikembangkan untuk mengukur tiga komponen utama, yaitu pengetahuan, sikap, dan praktik keagamaan peserta didik Rozali et al., 2024). Pendekatan pengembangan kuesioner yang komprehensif ini dapat diadaptasi untuk digunakan dalam pengembangan angket penilaian PAI, sehingga dapat mengukur berbagai aspek kompetensi keagamaan peserta didik secara terintegrasi.

Dalam konteks pengukuran toleransi beragama, pengukuran toleransi beragama menggunakan skala yang mencakup tiga aspek atau dimensi, yaitu keadilan (fairness), empati (empathy), dan kewajaran (reasonableness) (Fariz & Saloom, 2021). Pendekatan pengukuran yang sistematis ini dapat diadaptasi untuk digunakan dalam pengembangan angket penilaian sikap toleransi beragama dalam PAI, yang merupakan salah satu aspek penting dari sikap religius peserta didik.

Dalam konteks validasi instrumen pengukuran fundamentalisme agama bagi responden Muslim menggunakan model Rasch, hasil analisis menunjukkan indeks reliabilitas instrumen (α = 0,85), reliabilitas responden (α = 0,82), dan reliabilitas item (α = 0,97), serta instrumen ini bisa menjelaskan 41,8% varians dalam responden Wibisono, 2018). Temuan ini menunjukkan bahwa angket atau kuesioner yang dikembangkan dengan prosedur yang tepat dapat memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi, yang merupakan prasyarat bagi pengembangan instrumen non-tes PAI yang berkualitas.

B.2 Wawancara sebagai Instrumen Non-Tes dalam PAI

Wawancara merupakan instrumen non-tes yang sangat penting dalam penilaian PAI, terutama untuk menggali informasi yang lebih mendalam tentang pemahaman, sikap, dan pengalaman keagamaan peserta didik yang tidak dapat diperoleh melalui angket atau observasi saja. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data terkait implementasi pendidikan karakter religius peserta didik kepada kepala sekolah, waka kurikulum, waka kepesertadidikan, pendidik, dan peserta didik (Abdillah & Syafei, 2020; . Hal ini menunjukkan bahwa wawancara dalam konteks penilaian PAI dapat dilakukan kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran, tidak hanya kepada peserta didik saja.

Dalam konteks penelitian tentang penanaman nilai-nilai religius dalam pembelajaran PPKn di Madrasah Aliyah, pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, pengamatan (observasi), dan dokumentasi (Huda & Aulia, 2019). Kombinasi ketiga teknik pengumpulan data ini memungkinkan guru PAI untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif dan akurat tentang perkembangan nilai-nilai religius peserta didik. Wawancara dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data tambahan atau untuk penguatan data (Fitriyyah, 2017), yang menunjukkan bahwa wawancara berfungsi sebagai instrumen triangulasi yang dapat memperkuat dan memvalidasi data yang diperoleh melalui instrumen lainnya.

Dalam konteks penelitian tentang pembinaan agama Islam di pesantren, metode observasi didukung dengan pencatatan hasil observasi dan pendokumentasian, sementara metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang materi pembinaan, metode pembinaan agama, dan sarana dan prasarana bagi terlaksananya pembinaan agama (Hamruni, 2017). Hal ini menunjukkan bahwa wawancara dalam penilaian PAI harus didukung dengan dokumentasi yang sistematis untuk memastikan akurasi dan reliabilitas data yang diperoleh.

Dalam konteks penelitian tentang implementasi pendidikan karakter berbasis Islam, pengumpulan data sering dilakukan dengan melihat kondisi alamiah (natural setting), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi Rosyad, 2020; . Wawancara mendalam (in depth interview) merupakan teknik wawancara yang paling efektif dalam menggali informasi yang mendalam tentang sikap dan pengalaman keagamaan peserta didik, karena memungkinkan guru PAI untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik dan mendalam berdasarkan respons peserta didik.

B.3 Skala Sikap sebagai Instrumen Non-Tes dalam PAI

Skala sikap merupakan instrumen non-tes yang dirancang khusus untuk mengukur sikap peserta didik terhadap berbagai aspek ajaran Islam secara kuantitatif dan terstandar. Dalam konteks pengukuran toleransi beragama, skala toleransi beragama dikembangkan berdasarkan tiga aspek atau dimensi, yaitu keadilan (fairness), empati (empathy), dan kewajaran (reasonableness), dengan menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk menguji validitas konstruk skala (Fariz & Saloom, 2021). Pendekatan pengembangan skala yang sistematis ini dapat diadaptasi untuk digunakan dalam pengembangan skala sikap religius dalam PAI.

Dalam konteks validasi instrumen pengukuran fundamentalisme agama bagi responden Muslim, instrumen dikembangkan berdasarkan dimensi-dimensi dalam definisi fundamentalisme yang mencakup: (a) sikap terhadap keyakinan bahwa agama mencakup semua hal dan tidak pernah keliru; (b) sikap terhadap keyakinan bahwa terdapat hal yang berlawanan dan harus ditolak; dan (c) sikap terhadap keyakinan bahwa kebenaran agama bersifat absolut dan tidak perlu untuk dijadikan kontekstual Wibisono, 2018). Dimensi-dimensi ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan skala sikap religius dalam PAI, terutama untuk mengukur aspek keyakinan dan komitmen keagamaan peserta didik.

Dalam konteks pengembangan kuesioner KAP untuk peserta didik Tahfiz, validasi konten dilakukan oleh enam orang ahli dari institusi akademik publik, dengan hasil bahwa Indeks Validitas Konten Item (I-CVI) untuk ketiga komponen kuesioner KAP pada tahap evaluasi kedua adalah tinggi (1,0), sementara reliabilitas kuesioner dinilai menggunakan dua metode analisis, yaitu analisis Formula Kuder-Richardson 20 (KR-20) dan analisis Cronbach Alpha Rozali et al., 2024). Proses validasi dan uji reliabilitas yang komprehensif ini merupakan langkah penting dalam memastikan kualitas skala sikap religius yang dikembangkan untuk digunakan dalam penilaian PAI.

B.4 Pengembangan Instrumen Angket dan Skala Sikap yang Berkualitas

Pengembangan instrumen angket dan skala sikap yang berkualitas untuk penilaian PAI harus mengikuti prosedur yang sistematis dan terstruktur. Pertama, identifikasi aspek-aspek sikap religius yang ingin diukur berdasarkan tujuan pembelajaran PAI yang telah ditetapkan dalam kurikulum (Hidayati, 2017; , Rofik, 2020). Kedua, kembangkan item-item angket atau skala sikap yang mencerminkan aspek-aspek sikap religius yang ingin diukur, dengan menggunakan bahasa yang jelas, mudah dipahami, dan tidak menimbulkan penafsiran ganda (Firoozi et al., 2019; .

Ketiga, lakukan validasi instrumen oleh ahli untuk memastikan bahwa instrumen yang dikembangkan benar-benar mampu mengukur aspek-aspek sikap religius yang ingin diukur secara akurat dan komprehensif (Faizah & Purwanto, 2021), Rozali et al., 2024). Keempat, lakukan uji reliabilitas instrumen untuk memastikan konsistensi hasil pengukuran Wibisono, 2018), Rozali et al., 2024). Kelima, lakukan uji coba instrumen kepada sampel peserta didik yang representatif sebelum digunakan dalam penilaian yang sesungguhnya (Faizah & Purwanto, 2021).

Dalam konteks pengembangan standar internasional untuk calon guru pendidikan Islam, dua panel ahli pendidikan Islam berpartisipasi dalam mengembangkan dan memvalidasi standar menggunakan kombinasi metode Delphi dan validitas isi (AlHouli, 2024). Pendekatan validasi yang komprehensif ini dapat diadaptasi untuk digunakan dalam validasi instrumen angket dan skala sikap religius dalam PAI, sehingga dapat memastikan bahwa instrumen yang dikembangkan benar-benar berkualitas tinggi dan mampu mengukur sikap religius peserta didik secara akurat.

B.5 Triangulasi Data dalam Penilaian Non-Tes PAI

Penggunaan berbagai instrumen non-tes secara bersamaan dan saling melengkapi merupakan pendekatan yang paling efektif dalam penilaian sikap religius PAI. Dari hasil angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi yang didapatkan peneliti, terjadi kesinambungan antara semuanya tanpa ada data yang dibuat-buat, di mana antara data yang didapat dari jawaban angket sesuai dengan hasil saat wawancara, ditemukan kembali saat observasi, dan diperkuat dengan dokumentasi Sagala et al., 2020; . Hal ini menunjukkan bahwa triangulasi data melalui penggunaan berbagai instrumen non-tes secara bersamaan dapat meningkatkan akurasi dan reliabilitas penilaian sikap religius dalam PAI.

Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber Himmah et al., 2019), yang menunjukkan bahwa triangulasi merupakan strategi penting dalam memastikan keabsahan data yang diperoleh melalui berbagai instrumen non-tes dalam penilaian PAI. Dalam konteks penelitian tentang penanaman karakter religius melalui budaya sekolah, data yang diambil melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa Ariwibowo & Saifudin, 2019), yang menunjukkan bahwa triangulasi sumber merupakan strategi penting dalam memastikan keabsahan data penilaian sikap religius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Instrumen Evaluasi PAI

C .   Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Instrumen Evaluasi PAI C.1 Faktor Desain dan Konstruksi Instrumen Desain dan konstruksi i...