Jumat, 30 Desember 2022

Menciptakan Dapur Bersih & Sehat

 


Tulisan ini berangkat dari keprihatinan penulis melihat masih banyaknya dapur yang pemiliknya belum sadar kebersihan. Padahal sering mengucap: “Kebersihan adalah bagian dari Iman” bahkan kadang juga tertulis di dinding. Yang berarti mereka mengetahui merawat kebersihan adalah perintah agama. Mereka rata-rata taat ibadah, pernampilan menarik tapi ternyata perilaku hidup bersih belum dimiliki. Padahal agama mengajarkan untuk berperilaku bersih. Karena Islam dibangun atas kebersihan, Aisyah ra menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

بُنِيَ الديْنُ عَلَى النظَافَة

Artinya: "Agama itu dibangun berasaskan kebersihan." (HR Muslim).

Maka untuk menguatkan agama kita, perilaku hidup bersih juga harus kita miliki. Allah Sang Maha Suci, Maha Mulia, serta Indah memerintahkan untuk membersihkan segala sesuatu. Sebagaimana dalam hadits berikut:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ, نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ, كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ, جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ, فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ

Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu." (HR. Tirmizi).

Untuk itu, marilah kita menjaga kebersihan, terutama dapur. Meskipun dapur kita belum seindah milik konten kreator di medsos, setidaknya dapur kita bersih.  Dapur menjadi area paling sibuk di rumah karena ada beragam kegiatan yang dilakukan, seperti meracik, memasak, mempersiapkan, menyimpan, bahkan terkadang menghidangkan makanan untuk keluarga. Makanan adalah segala sesuatu yang bakal masuk ke dalam mulut dan menjadi sumber energi. Maka makanan haruslah bersih, sehat dan halal. Melihat beraneka ragamnya fungsi dapur, maka menjadikan dapur bersih adalah harus. Apalagi sebagai umat Islam menjadikan dapur bersih adalah kewajiban. Menciptakan dapur sehat dengan menjaga kebersihannya harus dilakukan, agar makanan selalu higienis dan kesehatan keluarga tetap terjaga (Atmoko, 2017).

Begitu banyaknya fungsi dapur, maka dapur merupakan ruang yang rentan bakteri, virus, hama, serta kuman yang membawa dampak terhadap kesehatan. Oleh karena itu, kita harus menjaga kebersihannya agar tercipta dapur sehat bebas kuman. Memang yang namanya bakteri, virus dan kuman berbahaya tidak terlihat di dapur. Maka, untuk memastikan dapur kita sehat dan aman dari bakteri dan virus berbahaya, marilah kita jaga kebersihan dapur. Antara lain dapat kita ikuti beberapa tips di bawah ini:

Kebersihan tempat cuci piring, wastafel dan countertop dapur (meja dapur)

Tempat yang digunakan untuk membersihkan dan mencuci harus bersih. Bebas dari jamur, bekas minyak, bekas makanan, bekas cipratan apapun yang menempel di tempat cuci. Sehingga tempat ini harus selalu dibersihkan.

  • Untuk merawat kebersihan wastafel dapur tempat cuci piring dan countertop, bisa kita gunakan air hangat, sabun, atau larutan desinfektan setiap hari atau tiap selesai digunakan.
  • Jika menggunakan desinfektan kita harus bersarung tangan dan membuka jendela.
  • Untuk mencuci piring dan peralatan makan lainnya di tempat cuci piring sebisa mungkin sisa-sisa makanan sudah dibersihkan terlebih dahulu. Sehingga tidak ada kotoran yang terjatuh di wastafel/tempat cuci piring.
  • Mencuci piring dan peralatan masak lainnya harus dengan air mengalir (bukan dicelup). Hal ini dilakukan agar kotoran yang menempel benar-benar lepas dari peralatan; dan air bekas celupan sudah mengandung bakteri, virus, maupun kuman maka air ini sudah tidak dapat digunakan untuk membersihkan dan tidak mensucikan.
  • Jika ada sisa makanan dan bahan makanan yang tertinggal di tempat cuci, harus segera dibersihkan (Milenia, 2021).

Kebersihan Alat: spons, kawat serabut dan sikat pembersih

Setelah tempat yang kita gunakan untuk melakukan bersih-bersih, selanjutnya alat yang dipakai untuk membersihkan juga harus bersih.

  • Spons, kawat serabut dan sikat yang digunakan untuk membersihkan peralatan dapur juga dapat menjadi tempat pertumbuhan jamur, kuman, dan berbagai patogen pembawa penyakit. Karena itu, bersihkan dan keringkan alat-alat tersebut setiap kali selesai digunakan.
  • Spon, kawat serabut dan sikat pembersih yang digunakan untuk mencuci piring dan peralatan memasak lainnya harus sesering mungkin dibersihkan. Sehingga peralatan ini bebas bakteri, seperti bakteri E-Coli, Salmonella ataupun yang lainnya
  • Kita bisa merendam spon, kawat serabut dan sikat pembersih dengan pemutih selama 1 menit kemudian bilas dengan air panas
  • Peralatan pembersih harus dicuci setiap hari (setelah selesai digunakan) dengan pembersih desinfektan
  • Spons, kawat serabut dan sikat pembersih bukan untuk membersihkan daging maupun bahan olahan yang lain
  • Sering mengganti spons pencuci atau minimal 2 pekan sekali (Milenia, 2021). 

Kebersihan lantai dapur

Kita harus rajin membersihkan lantai dapur

  • Untuk membersihkan lantai dapur bisa menggunakan pembersih khusus lantai dan desinfektan, bisa juga kita gunakan: cuka putih, baking soda, sabun pencuci piring serta air
  • Upayakan lantai dapur tetap kering dan bersih
  • Mencuci alat pel  dan sapu setelah digunakan
  • Keringkan alat pel dan sapu (Claudia, 2021) 

Kebersihan tempat sampah

  • Tempat sampah harus sering dicuci.
  • Upayakan tempat sampah dilapisi kantong plastik agar tempat sampah awet bersih.
  • Jika tempat sampah sudah mulai ada noda harus segera dicuci.
  • Kita bisa menggunakan desinfektan untuk membersihkan tempat sampah.
  • Membuang sampah harus setiap hari dilakukan.
  • Upayakan sebelum tidur, kondisi dapur bersih dan bebas dari sampah (Kusumaningtiar, 2016). 

Kebersihan peralatan masak

  • Segera mencuci peralatan setelah digunakan, hal ini untuk menekan penyebaran bakteri.
  • Hindari merendam panci meski merendam panci sebelum dicuci dapat memudahkan pembersihkan, membiarkan merendam panci terlalu lama dapat membuat dapur terlihat tidak nyaman.
  • Menggunakan air sabun panas untuk mencuci alat masak setiap selesai menyiapkan makanan dan sebelum menyiapkan makanan berikutnya.
  • Tidak membiarkan perabotan dapur yang kotor menumpuk lama karena dapat mengundang serangga dan memicu pertumbuhan bakteri (Pranatha, 2020). 

Kebersihkan semua permukaan yang banyak disentuh

Semua permukaan yang sering disentuh harus sering dibersihkan dengan cairan pembersih, contohnya:

  • Gagang pintu,
  • Saklar,
  • Kran,
  • Gagang gayung,
  • Gagang pisau
  • Gagang kulkas,
  • Kompor gas,
  • Lap dapur,
  • Handuk pengering tangan (Kementerian Kesehatan, 2020; Juminten, 2022) 

Kebersihan telenan

  • Telenan dapat menjadi tempat bertemunya para bakteri, virus ataupun kuman. Sehingga untuk menghindari kontaminasi dan bakteri yang membahayakan, maka telenan harus dibedakan.
  • Setelah selesai digunakan, telenan harus segera dicuci bersih dengan air mengalir, cairan pembersih, dan air hangat jika diperlukan.
  • Spon pembersih telenan daging dengan telenan sayur harus dibedakan (Perikanan, 2020). 

Kebersihan pisau

  • Mencuci pisau dapur setelah dipakai dan sebelum dipakai
  • Bedakan pisau untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi silang antara daging mentah, sayuran, makanan matang, buah, salad dan sebagainya.
  • Menggunakan pisau dapur yang sama untuk beragam jenis bahan makanan rentan menyebabkan kontaminasi (Pranatha, 2020). 

Kebersihan tangan

Tangan bisa menjadi salah satu perantara yang memudahkan penyebaran bakteri di dapur. Untuk merawat kebersihannya dapat dilakukan:

  • Mencuci tangan sebelum dan setelah makan dan setiap kali setelah membersihkan area dapur.
  • Mencuci tangan dengan air mengalir serta menggunakan sabun, setidaknya selama 20 detik.
  • Basahi tangan dengan air bersih.
  • Gunakan sabun pada tangan secukupnya .
  • Gosok telapak tangan yang satu ke telapak tangan lainnya.
  • Gosok punggung tangan dan sela jari.
  • Gosok telapak tangan dan sela jari dengan posisi saling bertautan.
  • Genggam dan basuh ibu jari dengan posisi memutar.
  • Gosok bagian ujung jari ke telapak tangan agar bagian kuku terkena sabun.
  • Gosok tangan yang bersabun dengan air bersih mengalir.
  • Keringkan tangan dengan lap sekali pakai atau tissu
  • Gosok punggung jari ke telapak tangan dengan posisi jari saling bertautan
  • Bersihkan pemutar keran air dengan lap sekali pakai atau tissu (Kementerian Kesehatan, 2020). 

Kebersihan bahan makanan

  • Cuci sayur, buah dan bahan makanan lain di bawah air kran yang mengalir untuk menghilangkan kotoran, serangga, hingga pestisida.
  • Hindari mencuci dengan cara dicelup hal ini untuk menekan agar kotoran, serangga maupun pestisida kembali menempel pada sayur dan buah
  • Menggosok buah dan sayuran berkulit keras dengan sikat sayuran untuk memastikan kebersihannya (Irawan, 2016; Euis Yuniastuti, 2020). 

Kebersihan kulkas

  • Perhatikan juga kebersihan dan penyimpanan makanan di dalam kulkas.
  • Pisahkan daging dengan sayuran, buah-buahan, atau makanan lainnya.
  • Pastikan suhu kulkas di bawah 4°C dan freezer di bawah -18°C, ini akan membantu memperlambat pertumbuhan kuman.
  • Buang makanan di dalam kulkas yang telah basi.
  • Bersihkan kulkas setidaknya dua mingg sekali dengan air hangat yang telah dicampur sabun (Khalisah, 2018). 

Kebersihan kain lap

Kain lap merupakan perlengkapan dapur yang dapat menjadi tempat pertumbuhan bakteri dan jamur. Apalagi, jika peralatan sering berada dalam kondisi basah atau lembap. Maka hal ini dapat diselesaikan dengan:

  • Menggunakan handuk kertas untuk membersihkan permukaan dapur. Hal ini lebih sehat dan praktis
  • Jika lebih suka menggunakan lap kain, sering-seringlah mencucinya dengan air panas, detergen dan keringkan kembali (Sarah Ika Widyowati, 2021). 

Jauhkan hewan peliharaan

Jika memiliki hewan peliharaan, maka harus dipastikan:

  • Hewan tidak berada di dapur bahkan sampai  menaiki meja dapur, konter, atau tempat makanan saji.
  • Pastikan untuk melatih hewan peliharaan agar tidak mendekati atau berada di area dapur (Mu’annisa, 2022).

Itulah beberapa langkah merawat dapur yang bersih dan sehat. Marilah kita menjaga kebersihan dapur merupakan hal yang sangat penting. Tujuannya agar kuman tidak masuk ke dalam makanan hingga membahayakan kesehatan kita sekeluarga (Atmoko, 2017). Disamping itu, kita berniat melaksanakan perintah agama, sebagai sarana menuju surga Allah swt: 

تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

Artinya: "Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah ta'ala membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih." (HR Ath-Thabrani).

 

Bibliography

Atmoko, T. P. H. (2017). Peningkatan Higiene Sanitasi sebagai Upaya Menjaga Kualitas Makanan dan Kepuasan Pelanggan di Rumah Makan Dhamar Palembang. Jurnal Khasanah Ilmu, 8(1), 1–9. https://journal.unsika.ac.id/index.php/barometer/article/view/905

Claudia, L. V. (2021, September). Tips Membersihkan Lantai Dapur yang Berminyak. Kompas,Com, 3. https://www.kompas.com/homey/read/2021/12/23/074800976/tips-membersihkan-lantai-dapur-yang-berminyak

Euis Yuniastuti. (2020). Upaya Menciptakan Lingkungan Bersih Dan Sehat di Kawasan Kampung Atas Air di Kelurahan Margasari Balikpapan Barat. 3(2), 17–21.

Irawan, D. W. P. (2016). Prinsip Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman di Rumah Sakit. In Forum Ilmiah Kesehatan (FORIKES). https://kesling.poltekkesdepkes-sby.ac.id/wp-content/uploads/2020/03/Buku-Isbn-Prinsip-2-Hs-Makanan-Di-RS.pdf

Juminten. (2022). Implementation of A Clean and Healthy Lifestyle Through Education and Simulation On How To Wash Hands. 2(3). https://doi.org/10.35877/454RI.mattawang1186

Kementerian Kesehatan. (2020). Panduan Cuci Tangan Pakai Sabun. Kesehatan Lingkungan, 42, 1–34.

Khalisah, (2018). SOP Membersihkan Kulkas. Kesehatan.

Kusumaningtiar, (2016). Optimalisasi Tempat Sampah Warna Sebagai Pemecahan Masalah Di Sdn 11 Duri Kepa , Jakarta Barat. Jurnal Abdimas, 3.

Milenia, T. F. (2021). Studi Komparatif Penggunaan Spons Busa Dengan Sabut Kelapa Sebagai Alat Pencuci Terhadap Jumlah Angka Kuman Pada Piring. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mu’annisa. (2022). Teknik Manajemen Pengelolaan Hewan Percobaan. Biologi MIPA UNM, 1–109.

Perikanan, (2020). Prosedur Operasi Standar Sanitasi. Perikanan, 5. https://dkp.jatengprov.go.id/index.php/artikel/bp2mhpsemarang/prosedur-operasi-standart-sanitasi-ssop

Pranatha, (2020). Kitchen Equipment & Utensil. https://repository.dinus.ac.id/docs/ajar/3._kitchen_equipment_and_utensils_.pdf

Sarah Ika Widyowati. (2021). Perbedaan Jumlah Usapan Penggunaan Kain Lap Terhadap Jumlah Angka Kuman Pada Piring.

 

Senin, 26 September 2022

Ciri-ciri Orang yang Mendapatkan Keberkahan Ilmu

 



Keberkahan ilmu yang diperoleh diketahui dari peningkatan amal shaleh pada diri seorang muslim. Jika sudah dapat ilmu tapi tidak berbekas pada diri kita, bisa jadi, itu adalah tanda kita tidak mendapat keberkahan ilmu. Misalnya, bertahun-tahun belajar serta mendatangi majelis ilmu (majlis ta'lim), tetapi masih banyak keburukan pada diri, berarti itu tidak ada keberkahan. 

Lantas, bagaimanakah cara untuk mengetahui bahwa ilmu itu sudah diberkahi oleh Allah Ta'ala dan bermanfaat bagi diri sendiri? Menurut pengasuh kajian As-Sunnah di Jakarta, Ustadz Najmi Umar Bakkar, menukil dari kalam ulama, ciri-ciri orang yang mendapat keberkahan ilmu, antara lain: 

Ikhlas dalam Ibadah

Semakin ikhlas dalam beribadah kepada Allah serta dalam mempelajari dan mengamalkan ilmu, mendakwahkan dan mempertahankan ilmu.

فَادۡعُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَهُ الدِّيۡنَ

"Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..." (QS Ghaafir ayat 14).

Imam al-Barbahari Rahimahullah berkata:

"Dan ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwasanya (keberkahan) ilmu itu bukanlah dengan banyaknya (hafalan) riwayat serta beberapa kitab. Hanyalah (dikatakan) seorang yang 'alim itu adalah siapa yang telah mengikuti (mengamalkan) ilmu dan sunnah2, sekalipun sedikit ilmu dan kitab-kitabnya. Dan barangsiapa menyelisihi al-Quran dan as-Sunnah, maka dia adalah pelaku bid'ah, sekalipun banyak ilmu dan kitab-kitabnya" (Kitab Syarhus Sunnah). 

Semakin sesuai syariat

Orang yang berilmu akan beribadah lebih sesuai syariat & sunnah Nabi saw dalam  beribadah, dibandingkan sebelumnya.

...وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ...

"... Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ..." (QS Al-Hasyr ayat tujuh).

Rosulullah saw bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

"Barangsiapa melakukan amalan yang tidak termasuk dalam urusan agama kami, maka amalan tersebut tertolak."  (HR Muslim).

Taqwa

Ilmu itu semakin menumbuhkan rasa takutnya seseorang kepada Allah Ta'ala.

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَآبِّ وَالۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَ لۡوَانُهٗ كَذٰلِكَ ؕ اِنَّمَا يَخۡشَى اللّٰهَ مِنۡ عِبَادِهِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ غَفُوۡرٌ

"...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (ahli ilmu)" (QS. Fathir : 28)

Siapa yang takut kepada Allah, maka dialah ‘alim, yaitu seorang yang berilmu. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah, maka dialah jahil (orang yang jauh dari ilmu).

Semangat Taat

Ilmu tersebut mendorong seseorang untuk semakin semangat dalam melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi berbagai kemaksiatan. Ibn Taimiyah menjelaskan, terdapat korelasi antara orang yang memiliki ilmu dengan takut kepada Allah.

Seseorang yang semakin berilmu, maka rasa takutnya untuk senantiasa melaksanakan ketaatan, melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan semua yang dilarang akan bertambah kuat. Sehingga orang yang berilmu akan mempertimbangkan terlebih dahulu perintah dan larangan Allah SWT. Ia menyadari, Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tersirat maupun tersurat. Rasa takut dan harapnya kepada Allah pun akan meningkat.

Qona’ah

Ilmu akan mengantarkan seseorang pada sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan zuhud pada dunia. Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah berkata : "Zuhud itu terbagi tiga: 1) meninggalkan yang haram, maka itu ialah zuhudnya orang yang awam; 2) tidak berlebihan dari sesuatu yang halal, & itu zuhudnya dari orang yang khusus; 3) meninggalkan setiap hal yang menyibukkan serta menjauhkan dari Allah, maka itu zuhudnya al-arifin (yaitu orang yang berma'rifat kepada Allah)" (kitab Mawaa'izh Imam Ahmad).

Surat al-Fatihah ayat 7:

....وَلَا الضَّالِّينَ

…. dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Qona’ah termasuk ciri orang yang memiliki keberkahan ilmu, karena orang yang qona’ah tidak akan melakukan hal yang sia-sia bahkan sesat. Orang yang sesat menurut Syaikh Muhammad Abduh terbagi atas empat tingkat, yaitu:

  • Tidak sampai kepadanya pendidikan, atau sampai tetapi hanya didapat dengan panca indera dan akal, tidak ada tuntutan agama
  • Sampai kepada mereka pendidikan, atas jalan yang dapat membangun pikiran. Meraka telah mulai tertarik oleh dakwah itu, sebelum menjadi keimanannya, ia pun mati.
  • Sudah memiliki ilmu dan sudah paham serta sudah mengakui, tetapi masih berpegang teguh juga kepada hawa nafsu atau kebiasaan lama atau menambah-nambah.
  • Sesat dalam beramal, timbul dari kepintaran otak, tetapi batinnya kosong daripada iman. (Hamka, Tafsir Al Azhar, 85-87)

Tawadhu’

Ilmu yang telah diraih menjadikan semakin tawadhu’ (rendah hati). Menjadikan hati tunduk dan khusyuk kepada Allah swt, merasa hina di hadapan-Nya dan semakin mudah untuk menerima kebenaran dari siapapun. Malik bin Dinar berkata: "Sesungguhnya jika engkau menuntut ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatmu tawadhu. Jika engkau menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanyalah akan membuatmu semakin berbangga diri (sombong)" (Kitab Az-Zuhd oleh Imam Ahmad).

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: "Dan di antara tanda bahwa amal ibadah kita diterima adalah kita akan merendahkan, mengkerdilkan dan menganggapnya kecil di hati kita" (Buku Madarijus Saalikiin). halaman ke-1 1 2

Benci pada Pujian

Ilmu tersebut akan menjadikan pada diri seseorang benci kepada pujian dan ia juga enggan menyucikan diri sendiri serta tidak suka ketenaran.

Imam Ibnu Rajab berkata: "Dan di antara tanda ilmu yang bermanfaat adalah membimbing pemiliknya untuk lari meninggalkan dunia, dan yang terbesar adalah kepemimpinan, ketenaran, serta pujian. Dan sesungguhnya orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat itu tidak akan mengaku memiliki ilmu, dia pun tidak akan membanggakannya kepada siapapun, dan juga tidak akan menganggap orang lain bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi Sunnah Nabi saw serta yang berpegang teguh dengannya" (Kitab Majmu’ur Rasail).

Bersih Hati

Ilmu tersebut akan menjadikan pada diri seseorang semakin bersih hatinya, semakin bersabar, mudah meredam amarah, mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain, tidak ada hasad serta dendam, dan semakin mulia dan luhur akhlaknya.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa" (al Maidah 27)

Rabu, 22 Desember 2021

Manajemen Kesiswaan Pendidikan Islam

 


Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan, agar pendidikan berjalan dengan lancar, tertib, teratur, serta mampu mencapai tujuan pendidikan sekolah. Yang dimaksud kesiswaan di sini berlaku pula untuk santri dan mahasiswa. Manajemen kesiswaan meliputi tahap penerimaan siswa (penjaringan), tahap proses pembelajaran (pemrosesan) dan tahap persiapan studi lanjut/bekerja (pendistribusian). Untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka diperlukan proses yang maksimal dalam setiap tahap.

Tahap penerimaan siswa/santri/mahasiswa baru

Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh, yakni:

  1. Promosi dan publikasi sepanjang tahun, terutama pada moment penting
  2. Mengalokasikan dana yang memadai untuk publikasi
  3. Memiliki media promosi pribadi, seperti radio untuk memaksimalkan publikasi
  4. Membentuk group khusus sesuai minat masyarakat sekitar. Misalnya jika masyarakat hobby basket, maka sekolah/madrasah/pesantren/perguruan tinggi dalam membentuk kelompok tersebut.
  5. Melakukan pembinaan pada lembaga yang memiliki level lebih rendah, yang diharapkan dapat menjadi basis calon siswa.
  6. Menjalin hubungan baik dengan pemimpin lembaga  pendidikan pada level yang lebih rendah
  7. Menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh kunci (key people)
  8. Memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi dan lemah secara ekonomi
  9. Memberikan kebebasan seluruh biaya pendidikan dan memberikan tambahan fasilitas kepada siswa yang berprestasi terbaik.
  10. Menerima siswa/santri/mahasiswa dari seluruh lapisan intelektual, sosial dan budaya meskipun masing-masing juga perlu pembatasan (Mujamil, 2016).

Manajer lembaga pendidikan Islam, baik pada level lembaga yang baru berkembang maupun yang sudah maju, harus menekankan proses untuk mencapai tujuan yang maksimal baik pada ranah kognitif, afektif, psikomotorik, serta metakognitif. Inilah misi pendidikan Islam yang sebenarnya yakni mengubah keadalah siswa/santri/mahasiswa menjadi keadaan yang positif-konstruktif, dinamis emansipatoris dan potensial-kompetitif.

Pada pesantren tradisional, terdapat penerimaan santri sewaktu-waktu. Hal ini sebenarnya tidak mempermudah dalam proses pengajaran.

Penerimaan siswa baru terdapat beberapa pendekatan, yang perlu ditempuh, yakni:

  1. Pendekatan formal: melalui brosur, spanduk, baliho, radio, televisi dan media massa.
  2. Pendekatan sosial: pemberian santunan
  3. Pendekatan kultural: mendirikan club sesuai minat masyarakat
  4. Pendekatan rasional-profesional: menunjukkan kelebihan lembaga pendidikan Islam yang sedang dikelola
  5. Pendekatan ideologis: ditempuh dengan menggunakan bahasa agama

Tahap Pembelajaran

Setelah siswa/santri/mahasiswa diterima, ada beberapa langkah lanjutan yang ditempuh, yakni:

  1. Pengelompokkan secara homogen atau heterogen
  2. Penentuan program belajar
  3. Penentuan strategi pembelajaran
  4. Pembinaan disiplin dan partisipasi siswa dalam belajar
  5. Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler
  6. Penentuan kenaikkan kelas atau prestasi belajar

Terkait dengan tahapan diatas, terdapat prinsipdasar dalam manajemen kesiswaan, yakni sebagai berikut:

  1. Siswa diperlakukan sebagai subjek. Siswa diharapkan berperan aktif, berinisiatif, dan berkreasi dalam proses pembelajaran di sekolah.
  2. Kondisi siswa beragam baik fisik, intelektual, ekonomi, minat dan sebagainya. Mereka tidak dapat dipaksa untuk melakukan hal yang sama. Keragaman perlakuan bukan dimaksudkan untuk mendiskriminasikan, akan tetapi penyesuaian yang bersifat solutif.
  3. Siswa akan termotivasi belajar, jika mereka menyukai apa yang diajarkan. Guru diharapkan mampu menampilkan pola-pola pembelajaran bagi siswa dengan berbagai metode dan media. Siswa tidak dibebani dengan tugas yang memberatkan, guru hendaknya dapat membuat pikiran siswa rileks dan nyaman, akan tetapi proaktif dan menggembirakan.
  4. Pengembangan potensi siswa meliputi kognitif, afektif, psikomotorik (Mujamil, 2016) serta metakognitif.. Sebagai pengalaman Thomas Alfa Edison yang dikeluarkan dari sekolah, karena kognitifnya dinilai lemah. padahal ternyata psikomotoriknya sangat menonjol, hingga menemukan listrik yang sangat bermanfaat bagi umat sejagad raya

Persiapan studi lanjut atau bekerja

Pada tahap ini, masih banyak lembaga pendidikan yang tidak memperhatikan nasib siswa. Hal ini adalah sebagai kewajiban, bagi guru mengarahkan dan mengambil langkah bimbingan atau penyuluhan untuk mengelola mereka, sesuai dengan bakat dan minatnya, kemampuan mereka, ekonomi serta intelektual mereka.

Lembaga pendidikan bisa melakukan jaringan kerjasama dengan instansi terkait. Pada saat wisuda instansi atau perusahaan terkait dapat diundang untuk menyaksi dan sekaligus menjadi wahana penyaluran lebih lanjut.

Siapapun yang menjadi manajer dan apapun nama lembaga pendidikannya, selama pihak lembaga dapat mempromosikan para alumninya, maka lembaga tersebut akan mereka serbu. Karena orientasi siswa atau mahasiswa belajar terkadang bukan semata mencari ilmu melainkan untuk memperoleh pekerjaan.

Kecenderungan pragmatis diatas, perlu dibaca, dipahami dan direspon melalui pelaksanaan strategi pengembangan siswa, sehingga para calon siswa tertarik memasuki lembaga pendidikan Islam. Kelebihan lembaga harus dijaga, seperti unggul dalam intelektual, unggul dalam kepedulian, unggul dalam mengakses lapangan kerja.

Kamis, 16 Desember 2021

Tujuan Penelitian Kualitatif

 



Tujuan penelitian kualitatif pada umumnya mencakup informasi tentang fenomena utama yang dieksplorasi dalam penelitian, partisipan penelitian dan lokasi penelitian. tujuan penelitian kualitatif juga dapat menunjukkan rancangan yang dipilih. Peneliti perlu memperhatikan beberapa hal mendasar dalam menulis tujuan penelitian kualitatif, sebagai berikut:

Gunakan istilah tujuan, maksud atau sasaran. Tulislah tujuan penelitian dalam paragrap yang terpisah, dan gunakan bahasa-bahasa penelitian, seperti “tujuan (maksud atau sasaran) penelitian ini adalah:

  1. Fokuslah pada satu fenomena (konsep atau gagasan) utama.
  2. Gunakan kata kerja seperti mendeskripsikan, memahami, mengembangkan, meneliti makna, mengamati dan sebagainya.
  3. Gunakan kata-kata dan frasa-frasa yang netral, bukan problematik.
  4. Gunakan definisi yang tentatif, karena penelitian harus berkembang
  5. Gunakan kata-kata teknis strategis/teori penelitian yang digunakan ketika pada bagian pengumpulan data, analisis data, dan proses penelitian, seperti teori etnografi, study kasus, fenomenologi, naratif dan juga lainnya.
  6. Jelaskan para partisipan yang terlibat dalam penelitian, individu, kelompok, atau organisasi
  7. Tunjukkan lokasi dilakukannya penelitian
  8. Sebagai langkah akhir dalam tujuan penelitian kualitatif, gunakan beberapa bahasa yang membatasi ruang lingkup partisipan atau lokasi penelitian (Creswell, 2014).



Masalah Etis dalam Penelitian

 



 

A.       Masalah Etis yang Perlu Diantisipasi

Selain mengkonsep proses penulisan bagian-bagian proposal, peneliti juga perlu mengantisipasi masalah etis yang dapat terjadi dalam penelitiannya. Untuk memahami masalah etis yang perlu diantisipasi, peneliti harus terlibat langsung dalam pengumpulan data dari ataupun tentang orang lain.

Masalah-masalah etis harus dipahami guna membangun argumentasi dalam penelitian dan menetapkan suatu topik penting untuk format proposal. Peneliti harus:

  1. Memproteksi para partisipan mereka
  2. Membangun kepercayaan kepada partisipan
  3. Jujur dalam penelitian
  4. Mencegah kelalaian dan kecerobohan yang dapat mencemarkan nama baik organisasi dan atau institusinya
  5. Berupaya menyelesaikan masalah yang dihadapi secara arif dan bijaksana.

Permasalahan etis dapat terjadi seperti pembocoran rahasia individu, autentisitas dan kredibilitas laporan penelitian, peran peneliti dalam konteks lintas-budaya hingga masalah-masalah privasi dari data-data internet (Hesse-Bieber & Leavey, 2006; Punch, 2006; Isreal & Hey, 2006, Creswell, 2014). 

B.      Masalah Etis dalam Masalah Penelitian

Bagaimana masalah etis masuk dalam bagian latar belakang masalah penelitian?. Dalam pendahuluan proposal, peneliti mengidentifikasi satu masalah atau isu yang penting untuk diteliti dan menyajikan rasionalisasi atas pentingnya penelitian tersebut. Selain itu peneliti juga perlu mengidentifikasi suatu masalah yang menguntungkan invidu yang akan diteliti, yakni suatu masalah yang nantinya akan berguna bagi orang lain.

Gagasan inti penelitian aksi/partisipatoris adalah peneliti tidak boleh memarginalisasi atau melemahkan partisipan yang ditelitinya. Hal ini kadang terjadi, sehingga masalah penelitiannya justru semakin memarginalkan para partisipan yang diteliti. Untuk menghindari hal ini terjadi, peneliti harus membuat proyek utama agar kepercayaan partisipan dapat terbangun sehingga peneliti dapat mendeteksi marginalisasi apa saja yang tidak boleh dilakukan sebelum penelitian benar-benar dilaksanakan (Punch, 2005).

 

C.    Masalah Etis dalam Tujuan Penelitian dan Rumusan Masalah

Dalam merancang tujuan penelitian dan rumusan masalah, peneliti perlu menjelaskan tujuan penelitian kepada para partisipan. Penipuan terkadang juga muncul ketika partisipan memahami satu tujuan, tetapi penelitian memiliki tujuan lain yang berbeda. Untuk menyelesaikan masalah ini, peneliti perlu menentukan permasalahan penelitiannya. Misalnya, dalam merancang surat-surat pendahuluan untuk penelitian survey, sponsorship merupakan elemen penting yang dapat membangun kepercayaan dan kredibilitas intrumen survey yang disebarkan peneliti (Sarantakos, 2005).

 

D.       Masalah Etis dalam Pengumpulan Data

Selain mempersiapkan data apa yang akan dikumpulkan, peneliti juga perlu respek terhadap para partisipan dan tempat-tempat yang akan diteliti. Banyak masalah etis muncul selama tahap pengumpulan data.  Peneliti jangan sampai membahayakan partisipan, dan juga harus menghargai kelompok-kelompok yang rawan kekerasan. Pada beberapa perguruan tinggi dibentuk Institutional Review Board (IRB) / Intitusi peninjau atau lembaga sejenis. Komite IRB dibangun atas dasar peraturan pemerintah untuk mencegah adanya kekerasan atau pelanggaran HAM. Bagi seorang peneliti, IRB dibutuhkan untuk meninjau kemungkinan terjadinya resiko-resiko penelitian, seperti resiko fisik, psikologis, sosial, ekonomi, atau hukum (Sieber, 1998) yang mungkin saja muncul secara tiba-tiba.

Peneliti juga mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan tertentu bagi komunitas yang rawan kekerasan, seperti: anak dibawah usia 19 tahun, partisipan yang lemah mental, korban kekerasan dan bencana, para napi, pengidap AIDS.

Peneliti juga harus menyimpan proposal penelitian yang berisi prosedur-prosedur dan informasi mengenai partisipan di komite IRB kampus yang bertugas meninjau proposal penelitian. selain proposal, peneliti juga harus membuat formulir izin tertulis yang ditanda-tangani oleh partisipan sebelum mereka terlibat dalam penelitian. Formulir ini menjelaskan bahwa hak-hak partisipan akan dijaga selama mengumpulkan data. Eleman dalam formulir tersebut meliputi beberapa informasi:

  1. Informasi mengenai peneliti
  2. Informasi mengenai institusi yang mensponsori
  3. Informasi mengenai prosedur-prosedur pemilihan partisipan
  4. Informasi mengenai tujuan penelitian
  5. Informasi mengenai keuntungan bagi partisipan
  6. Informasi mengenai tingkatan dan jenis keterlibatan partisipan
  7. Jaminan kerahasiaan bagi partisipan
  8. Jaminan bahwa partisipan dapat mundur kapan saja
  9. Klausa nama-nama person yang dapat dihubungi jika ada pertanyaan (Sarantakos, 2005)

Selain prosedur etis di atas, prosedur etis yang harus dipahami peneliti dalam pengumpulan data adalah persetujuan individu yang berwenang, seperti satpam yang memberikan akses peneliti untuk melakukan penelitian.

Peneliti juga harus respek pada lokasi yang diteliti agar mereka tidak memperoleh gangguan setelah melakukan penelitian.

E.        Masalah Etis dalam Analisis dan Interpretasi Data

Ketika peneliti menganalisis dan menginterpretasi data, tidak jarang masalah-masalah muncul yang mengharuskan peneliti untuk membuat keputusan etis yang tepat. Dalam mengantisipasi masalah etis ini, mempertimbangkan beberapa hal berikut:

  1. Peneliti memproteksi anonimitas individu (menggunakan nama alias) untuk memproteksi identitas mereka
  2. Data harus dijaga kerahasiannya dan setelah selesai penelitian harus dibuang agar tidak jatuh ke tangan peneliti lain yang ingin menyalahgunkannya (Sieber, 1998).
  3. Harus ada proses saling memahami antara peneliti, partisipan dan pihak fakultas (Punch, 2005)
  4. Dalam interpretasi data, peneliti perlu memastikan bahwa informasi yang diperoleh benar-benar akurat.

 

F.         Masalah Etis dalam Menulis dan Menyebarluaskan Hasil Penelitian

Selain masalah pengumpulan dan analisis data, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan:

  1. Peneliti tidak menggunakan bahasa yang bias
  2. Menekan pemalsuan dan praktik curang
  3. Memberikan gandaan publikasi pada pihak yang diteliti
  4. Tidak perlu eksploitasi nama staf akademik, jika mereka tidak terlibat dalam suksesnya penelitian
  5. Peneliti harus mengeskpos detil penelitian, agar pembaca dapat mengetahui kridebilitas penelitian tersebut.


Prinsip Keamanan, Kejujuran Akademik, dan Etika Digital

  C. Prinsip Keamanan, Kejujuran Akademik, dan Etika Digital C.1 Tantangan Integritas Akademik dalam Evaluasi Digital PAI Implementasi e...