Rabu, 18 Februari 2026

Taksonomi Dalam Pembelajaran PAI

 


Pendahuluan

Taksonomi merupakan sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengorganisasi, mengelompokkan, dan menyusun informasi secara sistematis berdasarkan karakteristik tertentu. Secara epistemologis, taksonomi berfungsi sebagai alat konseptual yang membantu manusia memahami kompleksitas realitas melalui proses kategorisasi dan hierarkisasi. Dalam berbagai disiplin ilmu, taksonomi memainkan peran sentral dalam membangun struktur pengetahuan yang teratur dan sistematis, sehingga memungkinkan analisis yang lebih mendalam serta pengembangan teori dan praktik yang lebih terarah.

Dalam konteks pendidikan, taksonomi menjadi instrumen penting dalam perencanaan kurikulum, pengembangan strategi pembelajaran, serta penyusunan instrumen penilaian. Salah satu bentuk taksonomi yang paling berpengaruh dalam pendidikan adalah Taksonomi Bloom yang diperkenalkan oleh Benjamin Bloom dan koleganya pada tahun 1956. Seiring perkembangan paradigma pendidikan, taksonomi ini direvisi oleh Anderson dan Krathwohl pada tahun 2001 untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 (Nafiati, 2021; Nasution et al., 2022).

Bagi mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, pemahaman terhadap taksonomi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis. Taksonomi membantu calon pendidik PAI dalam merancang pembelajaran yang terstruktur, berjenjang, dan berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan (CPL), sekaligus selaras dengan nilai-nilai Islam dan visi pendidikan Muhammadiyah. Oleh karena itu, pembahasan ini akan mengkaji secara komprehensif konsep taksonomi, revisi Taksonomi Bloom, implementasinya dalam pembelajaran, serta relevansinya dalam konteks pendidikan tinggi dan disiplin ilmu lain seperti biologi. 


Konseptualisasi Taksonomi: Landasan Teoretis

Secara terminologis, taksonomi berasal dari bahasa Yunani taxis (susunan) dan nomos (aturan). Taksonomi berarti aturan atau sistem dalam menyusun dan mengklasifikasikan objek berdasarkan karakteristik tertentu. Dalam ilmu pengetahuan, taksonomi memfasilitasi proses pengorganisasian konsep, sehingga memudahkan proses analisis, interpretasi, dan generalisasi.

Dalam pendidikan, taksonomi membantu pendidik menyusun tujuan pembelajaran secara hierarkis, mulai dari tingkat berpikir sederhana hingga kompleks. Dengan adanya taksonomi, pendidik dapat merancang proses pembelajaran yang sistematis, progresif, dan terukur.

Taksonomi bukan sekadar alat kategorisasi, tetapi juga mencerminkan asumsi filosofis mengenai bagaimana manusia belajar dan mengembangkan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, penggunaan taksonomi dalam pendidikan harus dipahami dalam kerangka epistemologi pembelajaran.

 

Taksonomi dalam Pendidikan: Revisi Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom awalnya mengklasifikasikan tujuan pendidikan ke dalam tiga domain utama: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif berkaitan dengan kemampuan intelektual, domain afektif berkaitan dengan sikap dan nilai, sedangkan domain psikomotorik berkaitan dengan keterampilan fisik.

Pada tahun 2001, Anderson dan Krathwohl merevisi Taksonomi Bloom dengan melakukan dua perubahan mendasar. Pertama, perubahan terminologi dari kata benda menjadi kata kerja aktif, seperti dari “knowledge” menjadi “remember”, sehingga lebih mencerminkan proses belajar yang dinamis (Nafiati, 2021; Nasution et al., 2022). Kedua, penyusunan ulang hierarki kognitif menjadi: mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan menciptakan (creating).

Revisi ini memberikan implikasi signifikan terhadap penyusunan kurikulum, strategi pembelajaran, dan penilaian. Menurut Nafiati (2021), revisi taksonomi Bloom menekankan pentingnya keterkaitan antara tujuan pembelajaran, aktivitas pembelajaran, dan instrumen evaluasi. Dengan kata lain, terdapat alignment atau keselarasan konstruktif (constructive alignment) antara ketiga komponen tersebut.

Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya PAI di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, revisi taksonomi Bloom mendukung pendekatan Outcome-Based Education (OBE), yang menekankan capaian pembelajaran berbasis kompetensi.

 

Domain Kognitif dan Pengembangan Keterampilan Berpikir

Domain kognitif dalam revisi Taksonomi Bloom mencerminkan jenjang berpikir dari tingkat rendah (lower order thinking skills/LOTS) hingga tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Setiap jenjang memiliki karakteristik dan implikasi pedagogis tersendiri.

Penelitian Suharman dan Ramadhona (2020) menunjukkan bahwa analisis soal berdasarkan taksonomi Bloom dapat membantu mengidentifikasi tingkat kognitif yang diukur. Dalam konteks buku teks matematika SMA, ditemukan bahwa distribusi soal sering kali tidak proporsional pada tingkat berpikir tinggi, sehingga kurang mendorong kemampuan analitis dan evaluatif siswa.

Temuan ini relevan bagi mahasiswa PAI. Dalam pembelajaran PAI, sering kali materi hanya menekankan hafalan ayat atau konsep fiqh tanpa mengembangkan kemampuan analisis kritis terhadap konteks sosial dan kontemporer. Oleh karena itu, dosen PAI perlu merancang soal dan aktivitas pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk menganalisis isu-isu keagamaan, mengevaluasi perbedaan pendapat ulama, dan bahkan menciptakan solusi berbasis nilai Islam terhadap problematika masyarakat.

Sebagai contoh, pada level “menciptakan”, mahasiswa PAI dapat diminta merancang model pembelajaran integratif antara nilai Islam dan isu lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab sosial.

 

Implementasi Taksonomi dalam Metodologi Pembelajaran

Implementasi taksonomi tidak terbatas pada penyusunan tujuan dan evaluasi, tetapi juga menyangkut strategi pembelajaran. Gaya belajar mahasiswa yang beragam menuntut pendekatan pembelajaran yang variatif dan adaptif.

Penelitian Syarifah dan Lestari (2021) serta Din dan Seman (2022) menunjukkan bahwa variasi metode pengajaran dapat meningkatkan hasil belajar, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Arab. Bahasa Arab sering dianggap sulit karena kompleksitas struktur gramatikal dan kosakata. Dengan pendekatan yang sesuai dengan gaya belajar mahasiswa, proses pembelajaran menjadi lebih efektif.

Dalam konteks taksonomi Bloom, metode pembelajaran harus disesuaikan dengan level kognitif yang ditargetkan. Untuk mencapai level memahami dan menerapkan, metode ceramah interaktif dapat digunakan. Namun, untuk mencapai level menganalisis dan menciptakan, diperlukan metode seperti diskusi kritis, studi kasus, dan Project-Based Learning (PjBL).

Nasution et al. (2022) menegaskan bahwa Project-Based Learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar di perguruan tinggi karena mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif. Pendekatan ini sejalan dengan level tertinggi dalam taksonomi Bloom, yaitu menciptakan.

Bagi mahasiswa PAI di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, penerapan PjBL dapat berupa proyek pengabdian masyarakat berbasis nilai Islam, pengembangan media dakwah digital, atau perancangan kurikulum pendidikan karakter Islami.

 

Taksonomi dalam Biologi: Relevansi Konseptual

Taksonomi dalam biologi memiliki fungsi mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri morfologi, genetik, dan ekologis. Penelitian Buih dan Susandarini (2023) serta Erwyansyah et al. (2018) menekankan pentingnya klasifikasi yang akurat dalam pengelolaan sumber daya alam. Identifikasi spesies seperti Citrus jambhiri menunjukkan bahwa ketepatan taksonomi berkontribusi pada konservasi dan pengembangan pertanian.

Meskipun konteksnya berbeda, prinsip dasar taksonomi dalam biologi memiliki kesamaan dengan taksonomi dalam pendidikan, yaitu sistematisasi informasi untuk memudahkan analisis dan pengambilan keputusan.

Kurniawan et al. (2021) dan Fitriyati et al. (2021) menggunakan taksonomi Bloom dalam menganalisis soal penilaian biologi, menekankan pentingnya distribusi tingkat kognitif yang seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa taksonomi berfungsi lintas disiplin, baik dalam klasifikasi makhluk hidup maupun dalam penyusunan instrumen evaluasi pembelajaran.

Bagi mahasiswa PAI, pemahaman lintas disiplin ini penting untuk mengembangkan pendekatan integratif antara ilmu agama dan ilmu umum, sebagaimana semangat integrasi keilmuan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

 

Pengembangan Komprehensif dan Integratif

Penerapan taksonomi dalam berbagai disiplin menunjukkan bahwa pengelompokan informasi secara sistematis merupakan fondasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam pendidikan, taksonomi membantu memastikan bahwa proses pembelajaran tidak berjalan secara acak, tetapi terstruktur dan berorientasi pada capaian.

Bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah, penerapan taksonomi mendukung sistem penjaminan mutu internal dan akreditasi eksternal. Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) harus mencerminkan level kognitif yang jelas dan terukur.

Lebih dari itu, taksonomi dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, pada level evaluasi, mahasiswa tidak hanya menilai secara rasional, tetapi juga mempertimbangkan nilai moral dan etika Islam. Pada level menciptakan, mahasiswa dapat menghasilkan inovasi pembelajaran berbasis dakwah dan pemberdayaan umat.

Dengan demikian, taksonomi tidak hanya menjadi alat teknis, tetapi juga sarana pembentukan insan akademik yang berintegritas, kritis, dan kreatif.

 

Implikasi bagi Mahasiswa PAI di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Mahasiswa PAI sebagai calon pendidik harus mampu:

  1. Memahami konsep dan hierarki taksonomi Bloom revisi.
  2. Merancang tujuan pembelajaran berbasis level kognitif.
  3. Menyusun instrumen evaluasi yang sesuai dengan jenjang berpikir.
  4. Mengimplementasikan metode pembelajaran yang mendukung HOTS.
  5. Mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap level kognitif.

Kemampuan ini penting untuk menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 yang menuntut literasi kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. 

Kesimpulan

Taksonomi merupakan sistem klasifikasi yang fundamental dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam pendidikan, Taksonomi Bloom dan revisinya oleh Anderson dan Krathwohl memberikan kerangka kerja sistematis dalam merancang tujuan, strategi, dan evaluasi pembelajaran (Nafiati, 2021; Nasution et al., 2022).

Domain kognitif yang meliputi mengingat hingga menciptakan menjadi dasar pengembangan keterampilan berpikir mahasiswa. Penelitian Suharman dan Ramadhona (2020), Syarifah dan Lestari (2021), Din dan Seman (2022), serta Nasution et al. (2022) menunjukkan bahwa penerapan taksonomi secara tepat dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Dalam konteks biologi, taksonomi juga berperan penting dalam klasifikasi makhluk hidup (Buih & Susandarini, 2023; Erwyansyah et al., 2018), menunjukkan bahwa sistem klasifikasi merupakan fondasi pengembangan ilmu pengetahuan. Analisis penilaian berbasis taksonomi dalam biologi (Kurniawan et al., 2021; Fitriyati et al., 2021) semakin menegaskan relevansinya dalam evaluasi pembelajaran.

Bagi mahasiswa PAI di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, pemahaman taksonomi menjadi bekal penting dalam merancang pembelajaran yang sistematis, integratif, dan berlandaskan nilai Islam. Dengan penerapan taksonomi yang tepat, pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter Islami dan siap berkontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Taksonomi Dalam Pembelajaran PAI

  Pendahuluan Taksonomi merupakan sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengorganisasi, mengelompokkan, dan menyusun informasi secara si...