Pendahuluan
Taksonomi
merupakan sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengorganisasi,
mengelompokkan, dan menyusun informasi secara sistematis berdasarkan
karakteristik tertentu. Secara epistemologis, taksonomi berfungsi sebagai alat
konseptual yang membantu manusia memahami kompleksitas realitas melalui proses
kategorisasi dan hierarkisasi. Dalam berbagai disiplin ilmu, taksonomi
memainkan peran sentral dalam membangun struktur pengetahuan yang teratur dan
sistematis, sehingga memungkinkan analisis yang lebih mendalam serta
pengembangan teori dan praktik yang lebih terarah.
Dalam
konteks pendidikan, taksonomi menjadi instrumen penting dalam perencanaan
kurikulum, pengembangan strategi pembelajaran, serta penyusunan instrumen
penilaian. Salah satu bentuk taksonomi yang paling berpengaruh dalam pendidikan
adalah Taksonomi Bloom yang diperkenalkan oleh Benjamin Bloom dan koleganya
pada tahun 1956. Seiring perkembangan paradigma pendidikan, taksonomi ini
direvisi oleh Anderson dan Krathwohl pada tahun 2001 untuk menyesuaikan dengan
kebutuhan pembelajaran abad ke-21 (Nafiati, 2021; Nasution et al., 2022).
Bagi mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, pemahaman terhadap taksonomi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis. Taksonomi membantu calon pendidik PAI dalam merancang pembelajaran yang terstruktur, berjenjang, dan berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan (CPL), sekaligus selaras dengan nilai-nilai Islam dan visi pendidikan Muhammadiyah. Oleh karena itu, pembahasan ini akan mengkaji secara komprehensif konsep taksonomi, revisi Taksonomi Bloom, implementasinya dalam pembelajaran, serta relevansinya dalam konteks pendidikan tinggi dan disiplin ilmu lain seperti biologi.
Konseptualisasi
Taksonomi: Landasan Teoretis
Secara
terminologis, taksonomi berasal dari bahasa Yunani taxis (susunan) dan nomos
(aturan). Taksonomi berarti aturan atau sistem dalam menyusun dan
mengklasifikasikan objek berdasarkan karakteristik tertentu. Dalam ilmu
pengetahuan, taksonomi memfasilitasi proses pengorganisasian konsep, sehingga
memudahkan proses analisis, interpretasi, dan generalisasi.
Dalam
pendidikan, taksonomi membantu pendidik menyusun tujuan pembelajaran secara
hierarkis, mulai dari tingkat berpikir sederhana hingga kompleks. Dengan adanya
taksonomi, pendidik dapat merancang proses pembelajaran yang sistematis,
progresif, dan terukur.
Taksonomi
bukan sekadar alat kategorisasi, tetapi juga mencerminkan asumsi filosofis
mengenai bagaimana manusia belajar dan mengembangkan kemampuan berpikir. Oleh
karena itu, penggunaan taksonomi dalam pendidikan harus dipahami dalam kerangka
epistemologi pembelajaran.
Taksonomi
dalam Pendidikan: Revisi Taksonomi Bloom
Taksonomi
Bloom awalnya mengklasifikasikan tujuan pendidikan ke dalam tiga domain utama:
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif berkaitan dengan kemampuan
intelektual, domain afektif berkaitan dengan sikap dan nilai, sedangkan domain
psikomotorik berkaitan dengan keterampilan fisik.
Pada
tahun 2001, Anderson dan Krathwohl merevisi Taksonomi Bloom dengan melakukan
dua perubahan mendasar. Pertama, perubahan terminologi dari kata benda menjadi
kata kerja aktif, seperti dari “knowledge” menjadi “remember”, sehingga lebih
mencerminkan proses belajar yang dinamis (Nafiati, 2021; Nasution et al.,
2022). Kedua, penyusunan ulang hierarki kognitif menjadi: mengingat
(remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis
(analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan menciptakan (creating).
Revisi
ini memberikan implikasi signifikan terhadap penyusunan kurikulum, strategi
pembelajaran, dan penilaian. Menurut Nafiati (2021), revisi taksonomi Bloom
menekankan pentingnya keterkaitan antara tujuan pembelajaran, aktivitas
pembelajaran, dan instrumen evaluasi. Dengan kata lain, terdapat alignment atau
keselarasan konstruktif (constructive alignment) antara ketiga komponen
tersebut.
Dalam
konteks pendidikan tinggi, khususnya PAI di Perguruan Tinggi Muhammadiyah,
revisi taksonomi Bloom mendukung pendekatan Outcome-Based Education (OBE), yang
menekankan capaian pembelajaran berbasis kompetensi.
Domain
Kognitif dan Pengembangan Keterampilan Berpikir
Domain
kognitif dalam revisi Taksonomi Bloom mencerminkan jenjang berpikir dari
tingkat rendah (lower order thinking skills/LOTS) hingga tingkat tinggi (higher
order thinking skills/HOTS). Setiap jenjang memiliki karakteristik dan
implikasi pedagogis tersendiri.
Penelitian
Suharman dan Ramadhona (2020) menunjukkan bahwa analisis soal berdasarkan
taksonomi Bloom dapat membantu mengidentifikasi tingkat kognitif yang diukur.
Dalam konteks buku teks matematika SMA, ditemukan bahwa distribusi soal sering
kali tidak proporsional pada tingkat berpikir tinggi, sehingga kurang mendorong
kemampuan analitis dan evaluatif siswa.
Temuan
ini relevan bagi mahasiswa PAI. Dalam pembelajaran PAI, sering kali materi
hanya menekankan hafalan ayat atau konsep fiqh tanpa mengembangkan kemampuan
analisis kritis terhadap konteks sosial dan kontemporer. Oleh karena itu, dosen
PAI perlu merancang soal dan aktivitas pembelajaran yang mendorong mahasiswa
untuk menganalisis isu-isu keagamaan, mengevaluasi perbedaan pendapat ulama,
dan bahkan menciptakan solusi berbasis nilai Islam terhadap problematika
masyarakat.
Sebagai
contoh, pada level “menciptakan”, mahasiswa PAI dapat diminta merancang model
pembelajaran integratif antara nilai Islam dan isu lingkungan. Pendekatan ini
tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif, tetapi juga membentuk karakter dan
tanggung jawab sosial.
Implementasi
Taksonomi dalam Metodologi Pembelajaran
Implementasi
taksonomi tidak terbatas pada penyusunan tujuan dan evaluasi, tetapi juga
menyangkut strategi pembelajaran. Gaya belajar mahasiswa yang beragam menuntut
pendekatan pembelajaran yang variatif dan adaptif.
Penelitian
Syarifah dan Lestari (2021) serta Din dan Seman (2022) menunjukkan bahwa
variasi metode pengajaran dapat meningkatkan hasil belajar, khususnya dalam
pembelajaran Bahasa Arab. Bahasa Arab sering dianggap sulit karena kompleksitas
struktur gramatikal dan kosakata. Dengan pendekatan yang sesuai dengan gaya
belajar mahasiswa, proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
Dalam
konteks taksonomi Bloom, metode pembelajaran harus disesuaikan dengan level
kognitif yang ditargetkan. Untuk mencapai level memahami dan menerapkan, metode
ceramah interaktif dapat digunakan. Namun, untuk mencapai level menganalisis
dan menciptakan, diperlukan metode seperti diskusi kritis, studi kasus, dan
Project-Based Learning (PjBL).
Nasution
et al. (2022) menegaskan bahwa Project-Based Learning efektif dalam
meningkatkan hasil belajar di perguruan tinggi karena mendorong mahasiswa untuk
berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif. Pendekatan ini sejalan dengan level
tertinggi dalam taksonomi Bloom, yaitu menciptakan.
Bagi
mahasiswa PAI di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, penerapan PjBL dapat berupa
proyek pengabdian masyarakat berbasis nilai Islam, pengembangan media dakwah
digital, atau perancangan kurikulum pendidikan karakter Islami.
Taksonomi
dalam Biologi: Relevansi Konseptual
Taksonomi
dalam biologi memiliki fungsi mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri
morfologi, genetik, dan ekologis. Penelitian Buih dan Susandarini (2023) serta
Erwyansyah et al. (2018) menekankan pentingnya klasifikasi yang akurat dalam
pengelolaan sumber daya alam. Identifikasi spesies seperti Citrus jambhiri
menunjukkan bahwa ketepatan taksonomi berkontribusi pada konservasi dan
pengembangan pertanian.
Meskipun
konteksnya berbeda, prinsip dasar taksonomi dalam biologi memiliki kesamaan
dengan taksonomi dalam pendidikan, yaitu sistematisasi informasi untuk
memudahkan analisis dan pengambilan keputusan.
Kurniawan
et al. (2021) dan Fitriyati et al. (2021) menggunakan taksonomi Bloom dalam
menganalisis soal penilaian biologi, menekankan pentingnya distribusi tingkat
kognitif yang seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa taksonomi berfungsi lintas
disiplin, baik dalam klasifikasi makhluk hidup maupun dalam penyusunan
instrumen evaluasi pembelajaran.
Bagi
mahasiswa PAI, pemahaman lintas disiplin ini penting untuk mengembangkan
pendekatan integratif antara ilmu agama dan ilmu umum, sebagaimana semangat
integrasi keilmuan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
Pengembangan
Komprehensif dan Integratif
Penerapan
taksonomi dalam berbagai disiplin menunjukkan bahwa pengelompokan informasi
secara sistematis merupakan fondasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam
pendidikan, taksonomi membantu memastikan bahwa proses pembelajaran tidak
berjalan secara acak, tetapi terstruktur dan berorientasi pada capaian.
Bagi
Perguruan Tinggi Muhammadiyah, penerapan taksonomi mendukung sistem penjaminan
mutu internal dan akreditasi eksternal. Penyusunan Rencana Pembelajaran
Semester (RPS) harus mencerminkan level kognitif yang jelas dan terukur.
Lebih
dari itu, taksonomi dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya,
pada level evaluasi, mahasiswa tidak hanya menilai secara rasional, tetapi juga
mempertimbangkan nilai moral dan etika Islam. Pada level menciptakan, mahasiswa
dapat menghasilkan inovasi pembelajaran berbasis dakwah dan pemberdayaan umat.
Dengan
demikian, taksonomi tidak hanya menjadi alat teknis, tetapi juga sarana
pembentukan insan akademik yang berintegritas, kritis, dan kreatif.
Implikasi
bagi Mahasiswa PAI di Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Mahasiswa
PAI sebagai calon pendidik harus mampu:
- Memahami
konsep dan hierarki taksonomi Bloom revisi.
- Merancang
tujuan pembelajaran berbasis level kognitif.
- Menyusun
instrumen evaluasi yang sesuai dengan jenjang berpikir.
- Mengimplementasikan
metode pembelajaran yang mendukung HOTS.
- Mengintegrasikan
nilai-nilai Islam dalam setiap level kognitif.
Kemampuan ini penting untuk menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 yang menuntut literasi kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
Kesimpulan
Taksonomi
merupakan sistem klasifikasi yang fundamental dalam berbagai disiplin ilmu.
Dalam pendidikan, Taksonomi Bloom dan revisinya oleh Anderson dan Krathwohl
memberikan kerangka kerja sistematis dalam merancang tujuan, strategi, dan
evaluasi pembelajaran (Nafiati, 2021; Nasution et al., 2022).
Domain
kognitif yang meliputi mengingat hingga menciptakan menjadi dasar pengembangan
keterampilan berpikir mahasiswa. Penelitian Suharman dan Ramadhona (2020),
Syarifah dan Lestari (2021), Din dan Seman (2022), serta Nasution et al. (2022)
menunjukkan bahwa penerapan taksonomi secara tepat dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran.
Dalam
konteks biologi, taksonomi juga berperan penting dalam klasifikasi makhluk
hidup (Buih & Susandarini, 2023; Erwyansyah et al., 2018), menunjukkan
bahwa sistem klasifikasi merupakan fondasi pengembangan ilmu pengetahuan.
Analisis penilaian berbasis taksonomi dalam biologi (Kurniawan et al., 2021;
Fitriyati et al., 2021) semakin menegaskan relevansinya dalam evaluasi
pembelajaran.
Bagi
mahasiswa PAI di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, pemahaman taksonomi menjadi
bekal penting dalam merancang pembelajaran yang sistematis, integratif, dan
berlandaskan nilai Islam. Dengan penerapan taksonomi yang tepat, pendidikan
tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga
berkarakter Islami dan siap berkontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar