1. Perspektif Keimanan: Ujian dan Penggugur Dosa
Dalam Islam, setiap penyakit termasuk urtikaria (biduran) bukan sekadar gangguan fisik, tetapi juga bagian dari ujian dari Allah. Rasulullah saw bersabda bahwa:
حَدَّثَنِي
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو،
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ
حَلْحَلَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، وَعَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " مَا يُصِيبُ
الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ
غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ
خَطَايَاهُ "
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amr, telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad, dari Muhammad bin Amr bin Halhalah, dari Athaa' bin Yasar, dari Abu Sa'id Al-Khudri dan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw bersabda: "Tidaklah seorang Muslim terkena keletihan, penyakit, kesedihan, kesusahan, atau rasa sakit, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapuskan sebagian dosanya dengan itu." (Hadits Shahih Al-Bukhari No. 5641 - Kitab Penyakit)
Biduran yang terasa
gatal, muncul tiba-tiba, dan berpindah-pindah di tubuh bisa menjadi media
tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) jika disikapi dengan sabar. Maka sikap utama
adalah:
- Sabar (ṣabr)
- Ridha terhadap takdir Allah
- Tidak berkeluh kesah
berlebihan
2. Perspektif
Syariat: Ikhtiar Itu Wajib
Islam tidak
mengajarkan pasrah tanpa usaha. Rasulullah saw bersabda:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ عَبَادَةَ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا
إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ ثَعْلَبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ
الأَنْصَارِيِّ، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ
وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا
بِحَرَامٍ " .
Diriwayatkan dari Abu Darda: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan Dia telah menetapkan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah kalian, tetapi janganlah berobat dengan yang haram." (Hadits Sunan Abu Dawud No. 3874 - Kitab Pengobatan)
Artinya, ketika seseorang mengalami biduran, maka:
- Wajib mencari tahu penyebabnya
(alergi, makanan, cuaca, stres, dll.)
- Boleh menggunakan obat medis
maupun herbal
- Tidak bertentangan dengan
tawakal, justru bagian dari tawakal itu sendiri
3. Perspektif
Hikmah: Isyarat Tubuh dan Jiwa
Dalam banyak kasus,
biduran bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga:
- Reaksi tubuh terhadap sesuatu
yang tidak cocok (makanan, lingkungan)
- Bisa dipicu oleh stres atau
kelelahan
Dalam pendekatan
hikmah (terutama dalam tradisi tasawuf), ini bisa menjadi peringatan halus agar
seseorang:
- Menjaga pola makan (halalan
thayyiban)
- Menata emosi dan pikiran
- Menghindari hal-hal yang
“tidak baik” bagi tubuh dan jiwa
4. Ikhtiar Ruhani
(Pengobatan Spiritual)
Selain pengobatan
medis, seorang Muslim dianjurkan melakukan ikhtiar ruhani:
- Membaca doa:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ
مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ
“Dengan
nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakan,
baik di bumi maupun di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Al-ma’tsurat)
- Membaca Surah Al-Fatihah
sebagai ruqyah
- Membaca ayat-ayat syifa
(penyembuh) dalam Al-Qur’an
- Memperbanyak dzikir dan
istighfar
5. Keseimbangan:
Jangan Ekstrem
Perlu diluruskan,
jangan sampai muncul dua sikap ekstrem:
- Menganggap biduran murni
“gangguan gaib” ini tidak tepat
- Mengabaikan aspek spiritual
sama sekali ini juga kurang lengkap
Islam mengajarkan keseimbangan
(tawazun) antara:
- Ikhtiar medis (lahir)
- Ikhtiar doa dan dzikir (batin)
Kesimpulan
Biduran dalam
pandangan Islam adalah:
- Ujian yang mengandung pahala
- Isyarat agar menjaga diri
- Sesuatu yang harus
diikhtiarkan penyembuhannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar