Mengapa pedoman penskoran penting dalam PAI
Pedoman
penskoran adalah panduan agar guru menilai jawaban/unjuk kerja peserta didik
secara konsisten, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini krusial karena
penilaian PAI mencakup dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang harus
terukur secara terpadu—meliputi pengetahuan, keterampilan, apresiasi,
pembiasaan, dan pengalaman keagamaan (Prihatin & Hamami, 2022; Wiyani,
1970). Tantangan lapangan yang sering muncul ialah guru kesulitan menyusun
penilaian berbasis HOTS sekaligus membuat pedoman penskorannya (Suhardiyanto
& Tijan, 2019). Selain itu, kebijakan penilaian PAI juga mendorong asesmen
yang mengarah pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Fitria & Baroroh,
2023).
Kedudukan pedoman penskoran dalam sistem penilaian
Pedoman
penskoran bukan dokumen tambahan, tetapi bagian akhir dari perencanaan
penilaian: setelah tujuan, instrumen, bentuk/teknik penilaian, kisi-kisi, dan
butir soal ditetapkan, barulah disusun pedoman penskoran (Rizqiani &
Wijayanti, 2022). Dalam praktik PAI, pedoman ini menopang assessment for/of/as
learning dan penilaian autentik karena memastikan umpan balik dan keputusan
nilai tidak semata subjektif (Prihatin & Hamami, 2022).
Jenis pedoman penskoran yang relevan untuk PAI
Jenis
pedoman disesuaikan dengan bentuk instrumen:
- Kunci
jawaban untuk pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, dan isian singkat
(Fitria & Baroroh, 2023).
- Rubrik
(scoring rubric) untuk uraian, kinerja, proyek/portofolio (Prihatin &
Hamami, 2022; Fitria & Baroroh, 2023).
- Pedoman
observasi untuk sikap/perilaku keagamaan (Prihatin & Hamami, 2022).
Prinsip inti penyusunan pedoman penskoran PAI
Pedoman
penskoran yang baik minimal memenuhi lima prinsip berikut:
- Selaras
KD–indikator: skor merefleksikan capaian kompetensi yang dirumuskan
kurikulum, termasuk dimensi spiritual–sosial–pengetahuan–keterampilan
(Hidayati, 2017; Rofik, 2020).
- Objektif
dan konsisten: mengurangi bias penilai melalui kriteria jelas; rubrik
perlu dilatih agar penggunaannya seragam (Prihatin & Hamami, 2022;
Firoozi et al., 2019).
- Komprehensif:
mampu menangkap ragam capaian PAI (pengetahuan, keterampilan, apresiasi,
pembiasaan, pengalaman) (Prihatin & Hamami, 2022).
- Membedakan
LOTS–HOTS: memberi bobot lebih pada analisis, evaluasi, dan kreasi dalam
konteks keislaman dan kehidupan nyata (Fitria & Baroroh, 2023; Basri
et al., 2022).
- Terbaca
dan mudah dipakai: deskriptor tidak multitafsir sehingga guru dapat
memberi skor cepat dan seragam (Firoozi et al., 2019).
Teknik praktis menyusun rubrik penskoran (inti keterampilan evaluasi)
Untuk
soal uraian/kinerja/portofolio, rubrik—terutama rubrik analitik—lebih
disarankan karena memberi umpan balik rinci dan menekan subjektivitas (Firoozi
et al., 2019). Langkah ringkasnya:
- Tentukan
kompetensi & indikator yang diukur (Hidayati, 2017; Rofik, 2020).
- Tetapkan
kriteria (misal: ketepatan konsep/dalil, argumentasi, relevansi konteks,
kualitas solusi, refleksi nilai).
- Susun
level skor (mis. 1–4) dengan deskriptor kinerja yang spesifik (Faizah
& Purwanto, 2021; Firoozi et al., 2019).
- Lakukan
uji coba pada contoh jawaban; revisi bagian yang menimbulkan perbedaan
skor antar penilai (Prihatin & Hamami, 2022).
- Validasi
oleh ahli/rekan sejawat untuk memastikan kesesuaian isi dan kejelasan
kriteria (Faizah & Purwanto, 2021; AlHouli, 2024).
- Periksa
reliabilitas (konsistensi penilaian) bila memungkinkan, terutama untuk
instrumen skala/observasi (Rozali et al., 2024; Faizah & Purwanto,
2021).
Catatan penting: HOTS, autentik, dan integrasi nilai
Pedoman
penskoran PAI yang kuat perlu mengakomodasi soal/tugas kontekstual dan menilai
kualitas penalaran, bukan sekadar benar–salah (Basri et al., 2022; Zahrok,
2009). Dalam tugas berbasis nilai (moderasi, toleransi, etika), rubrik
sebaiknya memasukkan indikator “argumentasi sesuai nilai Islam” agar evaluasi
tidak hanya kognitif, tetapi juga menyentuh aspek sikap dan penerapan (Wiyani,
1970; Muqoyyidin, 1970).
Penguatan kompetensi guru: pelatihan dan literasi penilaian
Kualitas
pedoman penskoran sangat bergantung pada assessment literacy guru: kemampuan
menyusun rubrik, menulis soal, dan memahami materi (Firoozi et al., 2019).
Karena banyak guru masih kesulitan menyusun HOTS dan pedoman penskoran,
pelatihan terbukti efektif meningkatkan kemampuan tersebut (Suhardiyanto &
Tijan, 2019; Andrijati et al., 2022; Latuapo, 2023).
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar