Pembangunan dalam Bahasa Agama

https://docs.google.com/presentation/d/1JbrQ9rdm0MXDLxZHDS37qcrWOFTNplYYhxaNaKM6DE8/edit?usp=sharing

Senin, 02 Maret 2015

MENUJU KESALEHAN SOSIAL & TRANSENDENTAL, MELALUI PUASA RAMADLAN




“MENUJU KESALEHAN SOSIAL & TRANSENDENTAL,
MELALUI PUASA RAMADLAN


Pendahuluan
Pada bulan Ramadlan umat Islam yang beriman diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Kewajiban ini disampaikan Allah melalui firman-Nya yang tertuang di dalam al-Qur’an surat al Baqarah 183 : 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Pengertian Puasa
Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus sunnah memberikan pengertian puasa sebagai “imsak” yaitu menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Pengertian tersebut lebih cenderung mengarah pada syar’i dan tentu saja hakekat yang terkandung di dalamnya lebih dalam dan luas.
Puasa hakekatnya adalah riyadhah batiniyah atau latihan batin untuk mengarahkan nafsu yang ada dalam diri kita. Nafsu dalam diri kita adalah potensi yang mendorong semangat kita untuk terus berkembang secara dinamis menuju keadaan yang lebih baik. Tetapi jika nafsu tidak diarahkan dengan baik akan menjadi bumerang dan akan merusak bahkan membunuh sendi-sendi peradaban manusia.
Oleh karena itu Rosulullah menegaskan bahwa puasa adalah tameng. Tameng untuk melindungi manusia dari pengaruh ajakan nafsu syaitan yang seringkali mengajak manusia pada kejahatan dan kemunkaran.

Tujuan Puasa
Tujuan puasa menurut firman Allah dalam surat al Baqarah 183 adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Taqwa adalah derajat tertinggi yang diberikan Allah kepada manusia. Di dalam surat al Hujurat ayat 13 Allah berfirman:
  
“...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu...”
Taqwa pada hakekatnya adalah gabungan serasi antara keimanan dan nilai-nilai amal shalih, sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan dari puasa adalah perilaku shalih manusia dalam hubungannya dengan Allah (trasendental) maupun dalam hubungannya dengan manusia (sosial).
Puasa mengajarkan kepada kita untuk berdekat-dekat dengan Allah di manapun kita berada, sementera ketika kita berlapar-lapar di siang hari kita diajarkan untuk ikut merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang secara ekonomi kurang beruntung, sehingga lahir sifat empati dan simpati kita kepada mereka.
Karena saking muliannya tujuan puasa, sampai-sampai Allah swt berkehendak untuk  membalas sendiri  pahala orang yang berpuasa.
حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى الْقَزَّازُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ وَإِنْ جَهِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ جَاهِلٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ وَفِي الْبَاب عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَسَهْلِ بْنِ سَعْدٍ وَكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ وَسَلَامَةَ بْنِ قَيْصَرٍ وَبَشِيرِ ابْنِ الْخَصَاصِيَةِ وَاسْمُ بَشِيرٍ زَحْمُ بْنُ مَعْبَدٍ وَالْخَصَاصِيَةُ هِيَ أُمُّهُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
Telah menceritakan kepada kami 'Imran bin Musa Al Qazzaz telah menceritakan kepada kami 'Abdul Waris bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid dari Sa'id bin Al Musayyib dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Rabb kalian berfirman: Setiap kebaikan diberi pahala sebanyak sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan puasa diperuntukkan untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahala puasanya (tanpa batasan jumlah pahala), puasa merupakan tameng dari api neraka, dan bau mulut orang yang berpuasa, lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misk (minyak wangi) dan jika salah seorang diantara kalian mengajakmu bertengkar padahal dia sedang berpuasa, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang berpuasa." (Tirmidzi: 695)
Tentu saja puasa yang dimaksud di sini bukanlah sembarang puasa, tetapi puasa yang memenuhi standart kualitas prima atau puasa yang sungguh-sungguh puasa, sebab menurut Rosulullah ada atau banyak orang yang berpuasa, tetapi hakekatnya mereka tidak berpuasa: “Celakalah orang yang berpuasa, yang tidak mendapatkan sesuatupun dari puasanya kecuali kelaparan.” (HR An Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim)
Orang yang semacam ini secara lahiriyah berpuasa, namun secara hakiki mereka tidak mengerti apa gunanya berpuasa, mengapa ia berpuasa dan untuk siapa ia berpuasa.

Balasan Orang yang Berpuasa
Agar puasa kita memiliki arti, marilah kita cermati tuntunan yang diberikan Rosulullah dalam sebuah haditsnya: “Barangsiapa berpuasa Ramadlan dengan dilandasi keimanan dan keikhlasan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.” (Mutafaqun Alaihi)
Jadi menurut hadits di atas setidaknya ada dua syarat agar puasa kita sampai pada hakekat dan sampai pada tujuannya: Pertama, Keimanan yang tulus kepada Allah dan yang Kedua, Keikhlasan dalam menjalankannya.
Orang yang menjalankan puasa dengan memenuhi dua syarat inilah yang dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan balasan yang luar biasa. Balasan tersebut antara lain adalah:
Pertama, ia akan mendapatkan ampunan segala dosa yang telah lampau, sebagaimana dalam hadits diatas.
Kedua, orang yang berpuasa dengan benar, ia akan memperoleh dua kebahagiaan. Yaitu kebahagiaan saat ia berbuka dan kebahagiaan saat ia bertemu dengan Allah pada saat hari kiamat. “Ada dua kebahagiaan yang dimiliki oleh orang yang berpuasa, saat berbuka puasa berbahagia dan saat ia bertemua tuhannya ia berbahagia dengan puasanya” (HR Bukhori Muslim)
Ketiga, orang yang berpuasa akan dijaga oleh Allah dari godaan syetan dan kelak di akhirat ia akan mendapatkan surga yang pintunya dijaga khusus oleh para malaikat.
Dan masih banyak lagi janji-janji Allah yang diberikan Allah kepada orang yang berpuasa dan kesemuanya itu memberikan motivasi kepada kita untuk berlomba-lomba beramal sholih di bulan Ramadlan.

Peringatan bagi Orang yang Berpuasa
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ زُهَيْرٍ عَنِ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَنْ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ قَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصِيَامٍ وَصَلَاةٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ عِرْضَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا فَيُقْعَدُ فَيَقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ مِنْ الْخَطَايَا أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Zuhair dari Al 'Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tahukah kalian siapakah orang yang paling merugi?" para sahabat berkata; "Orang yang paling merugi menurut kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta benda." Rasulullah bersabda: "Orang yang paling merugi dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala puasa, shalat dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa karena mencela kehormatan si fulan, menuduh keji si fulan, serta memakan harta si fulan, lalu ia dihukum dengan diambil bagian kebaikannya oleh si fulan dan kebaikan yang lain diambil oleh si fulan, sehingga jika amalannya telah habis sebelum melunasi dosa-dosanya maka akan diganti dengan dilemparkan kepadanya dosa-dosa mereka (orang-orang yang dizhaliminya) kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka." (Ahmad - 7686) :

Penutup
Semoga ibadah puasa yang kita kerjakan memiliki hikmah yang besar. Sebagai didikan kepercayaan, didikan perasaan empati dan simpati, menjaga kesehatan dan yang terpenting adalah tanda terimakasih kita kepada Allah atas nikmat pemberian-Nya yang tidak terbatas banyaknya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. (Q.S. Ibrahim: 34)
Daftar Pustaka
Al-Qur’an
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah
Kitab Ahmad, Hadits Nomor 7686
Kitab Tirmidzi, Hadits Nomor 695
Kitab Muslim