Pembangunan dalam Bahasa Agama

https://docs.google.com/presentation/d/1JbrQ9rdm0MXDLxZHDS37qcrWOFTNplYYhxaNaKM6DE8/edit?usp=sharing

Minggu, 14 Juli 2013

MANAJEMEN PROSES PEMBELAJARAN PAI




MANAJEMEN PROSES PEMBELAJARAN PAI

Komponen proses pembelajaran, adalah interaksi semua komponen pengajaran seperti bahan pengajaran, methode dan alat, sumber belajar, sistem penilaian dan lain-lain.[1]
Berdasar dari kutipan diatas, maka kami akan menguraikan  tugas penulisan makalah manajemen proses pembelajaran PAI, dengan pembahasan :
A.    Pengertian Manajemen
B.     Pengertian Proses Pembelajaran
C.     Komponen proses pembelajaran
D.    Manajemen Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

A.           Pengertian Manajemen
Ahmad Tohardi, mengatakan bahwa : “Manajemen adalah ilmu dan seni dalam mengatur tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dengan melakukan kerjasama dengan orang lain”.[2]
Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa, yaitu pertama, adanya tujuan yang ingin dicapai, kedua, tujuan dicapai dengan menggunakan kegiatan orang lain, dan ketiga, kegiatan-kegiatan orang lain tersebut harus dibimbing dan di awasi. Dengan kata lain bahwa dengan segenap orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.
B.            Pengertian Proses Pembelajaran
Sebelum penulis menguraikan tentang pengertian proses pembelajaran,  terlebih dahulu diuraikan satu persatu di antaranya adalah:
1. Proses
a. Proses adalah runtunan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu.[3]
b. Proses adalah jalannya suatu peristiwa dari awal sampai akhir.[4]
Dari batasan pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses adalah suatu perubahan yang langsung dari awal hingga akhir secara terus menerus yang saling berkaitan atau berhubungan dalam suatu ikatan untuk mencapai suatu tujuan.
2. Pembelajaran
Pembelajaran berasal dari kata "ajar" yang mendapat awalan "ber" sehingga terjadi kata pembelajaran.[5]
Dalam proses selanjutnya, bentuk baru ini mendapat awalan "pe" dan akhiran "an" yang berarti kata benda abstrak dari kata kerja asal.
Dilihat dari asal kata pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berasal dari kata belajar, yang ditambahkan afiks awalan pe dan afiks akhiran an, yang dasarnya dari kata ajar.
Dari segi arti, kata ini kemudian mengandung proses atau peristiwa dari kata kerja tersebut. Dengan kata lain istilah pembelajaran mengandung arti suatu proses yang berhubungan dengan belajar. Melihat dari arti menurut asal kata di atas, maka dapat dikemukakan tentang pengertian pembelajaran itu sendiri. Mengenai ini, ada beberapa orang ahli berpendapat yang berbeda, di antaranya :
a.       Harjanto dalam bukunya Perencanaan Pengajaran, mengatakan bahwa pembelajaran berasal dari bahasa Asing, yaitu instruction yang diterjemahkan menjadi "pembelajaran atau pengajaran" dan "bahan intruksi". Bertolak dari konsep tersebut, istilah "sistem instruksional" digunakan untuk menunjukkan suatu "proses belajar mengajar" atau "proses pengajaran" atau lebih tepat lagi proses pembelajaran.[6]
b.      Chalijah Hasan, mendefenisikan bahwa: "proses pengajaran adalah berjalannya suatu pengajaran dengan suatu susunan dari beberapa bagian dari suatu bahan pelajaran yang merupakan satu kesatuan yang berhubung-hubungan".[7]
Istilah pembelajaran merupakan istilah lain dari proses belajar mengajar yang mempunyai arti dan ruang lingkup yang lebih mendalam. Istilah ini lebih dikhususkan untuk mengembangkan proses belajar mengajar.
Pembelajaran adalah suatu kata yang pengertiannya sama dengan pengajaran. Kedua kata tersebut hanya berbeda dari segi penulisan dan dari kata yang dipergunakan, sedangkan makna yang dikandungnya tetap sama. Hanya saja kata pembelajaran ini merupakan istilah popular yang sekarang digunakan dalam dunia pendidikan.
Untuk memudahkan dalam memahami apa yang dimaksud dengan pembelajaran atau pengajaran, di bawah ini akan penulis kemukakan beberapa pendapat para ahli pendidikan yang mencoba mendefinisikannya dengan istilah lama yaitu pengajaran.
Dalam Kamus Istilah Pendidikan Dan Umum yang disusun oleh M. Sastrapradja menyatakan : "pengajaran adalah cara mengajar atau mengajarkan".[8]
Oemar Hamalik juga menambahkan bahwa: "pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran".[9]
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang melibatkan guru, siswa dan komponen lainnya dalam proses pembelajaran yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam rangka tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Dengan adanya komponen-komponen pembelajaran di atas, maka seorang guru kiranya mampu memungkinkan terciptanya situasi yang tepat,sehingga memungkinkan pula terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.[10]
C.           Komponen Proses Pembelajaran :
1.        Bahan Pengajaran, menurut Panen adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran.[11]Muhaimin  dalam modul Wawasan Pengembangan Bahan Ajar mengungkapkan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digukan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.[12]
2.        Methode
Metode diibaratkan sebagai alat yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan. Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan pembelajaran menuju tujuan pendidikan.
Secara etimologi kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu meta yang berarti ”yang dilalui” dan hodos yang berarti ”jalan”, yakni jalan yang harus dilalui. Jadi secara harfiah metode adalah cara yang tepat untuk melakukan sesuatu.[13]  Sedangkan dalam bahasa Inggris, disebut dengan method yang mengandung makna metode dalam bahasa Indonesia.[14] Dalam bahasa Arab, metode disebut dengan tharīqah yang berarti jalan atau cara.[15] Demikian pula menurut Yunus, tharīqah adalah perjalanan hidup, hal, mazhab dan metode.[16]
Secara terminologi, para ahli memberikan definisi yang beragam tentang metode, di antaranya, bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.[17] Metodologi adalah ilmu yang mengkaji atau membahas tentang bermacam-macam metode mengajar, keunggulannya, kelemahannya, kesesuaian dengan bahan pelajaran dan bagaimana penggunaannya.[18] Metode pembelajaran berarti jalan ke arah suatu tujuan yang mengatur secara praktis bahan pelajaran, cara mengajarkannya dan cara mengelolanya.[19]
Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai pengertian metode pendidikan, beberapa hal yang mesti ada dalam metode yaitu:
a.     Melaksanakan aktivitas pembelajaran dengan  penuh kesadaran dan tanggung jawab ;
b.    Aktivitas tersebut memiliki cara yang baik dan tujuan tertentu;
c.     Tujuan harus dicapai secara efektif.

3.        Alat pembelajaran merupakan alat untuk membantu proses belajar mengajar agar proses komunikasi dapat berhasil dengan baik dan efektif. Pemakaian alat pembelajaran dalam proses pembelajaran akan mengkomu-nikasikan gagasan yang bersifat konkret, di samping juga membantu siswa mengintegrasikan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dengan demikian diharapkan alat pembelajaran dapat memperlancar proses belajar siswa serta mempercepat pemahaman dan memperkuat daya ingat di dalam diri siswa.
Selain itu alat pembelajaran diharapkan menarik perhatian dan membangkitkan minat serta motivasi siswa dalam belajar. Dengan demikian pemakaian alat pembelajaran akan sangat mempengaruhi keefektifan proses pembelajaran yang diberikan kepada siswa-siswa. Unsur metode dan alat juga merupakan unsur yang tidak dapat dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pengajaran agar sampai kepada tujuan.
4.        Sumber Belajar, segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan proses / aktivitas pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, diluar diri peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung.[20]
Misalnya : pesan (bahan pengajaran), orang (dosen), bahan (majalah), alat (slide), tehnik (simulasi), lingkungan (ruang kelas).
5.        Sistem Penilaian, penilaian terhadap proses pengajaran dilakukan oleh guru sebagai bagian integral dari pengajaran itu sendiri. Artinya penilaian harus tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pengajaran. Penilaian proses bertujuan melalui efektifitas dan efisiensi kegiatan pengajaran kegiatan pengajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program dan pelaksanaannya.

D.       Manajemen Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Sebagai seorang muslim, tentu semua tahu, bahwa Nabi Muhammad saw adalah panutan terbaik bagi kita. Semua apapun yang beliau lakukan adalah bentuk dari pembelajaran dan percontohan untuk menuntun kita pada sebuah kehidupan dan masa depan yang lebih cerah. Beliau adalah contoh dalam segala hal. Semua itu bisa kita baca dan bisa kita ikuti dalam biografi hidup beliau yang telah terdeskripsikan di beberapa karya monumental para ulama’ terdahulu.
“Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS An Nisa’, 4: 165)[21]
Dari seluruh nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt, Rasulullah saw adalah  utusan terbesar. Beliau dididik dan diajari langsung oleh Allah Al ‘Alim, Zat Yang Maha Mengetahui. Al Qur’an menyebutkan sebagai berikut :
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur‘an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (QS Al Baqarah, 2: 151)[22]
Dengan kedudukannya itu, Rasulullah saw memikul tugas yang sangat berat untuk mengajari umatnya aneka ilmu dan kebaikan. Atas bimbingan Allah Swt. beliau mengajari para sahabatnya. “Telah diciptakan dari ta’limnya sebaik-baik generasi, dan menyelamatkan mereka dari kezaliman dan kejahiliyahan menuju cerahnya nur Islam. Para sahabat disucikan dengan keimanan mereka, dididik oleh Islam, dan ditinggikan dengan ihsan,” (ungkapan Dr. Yusuf Al Qaradhawi, tentang generasi yang diajari langsung oleh Rasulullah saw). Merekalah orang-orang beruntung yang bisa mereguk ilmu dari sumbernya. Kepada merekalah generasi selanjutnya belajar  dan kemudian mengajarkannya kepada generasi berikutnya, hingga kita yang berada di akhir zaman. Dan yang lebih daripada semua itu adalah, beliau juga ternyata memberi tahukan pada kita bagaimana tata cara mendidik dan mengajar yang baik. Bagaimana cara menyikapi perbedaan individu dan ketidaksamaan pemikiran dan cara berpikir murid-murid kita, siswa kita, santri kita, mahasiswa kita, umat kita, jamaah kita, atau apapun istilahnya, orang yang kita ajar. Semuanya telah beliau contohkan pada kita, dan beliau adalah seorang Guru Besar yang harus kita ikuti. Sebab bagaimanapun, jika kita berposisi sebagai pengajar, maka di hati kecil kita pasti terbersit sebuah keinginan agung nan mulia, yaitu mencerdaskan anak bangsa, dan itu terilustrasikan dengan keinginan sukses dalam mengajar, dan materi yang kita ajarkan bisa dipahami dengan baik oleh mereka-mereka yang kita ajar, juga bermanfaat bagi masa depan mereka, dan terpraktekkan dalam keseharian dan perikehidupan mereka. Puncak dan tujuan utama dari mengajar. Tanpa melihat materi pelajaran apa yang kita ajarkan, baik itu ilmu-ilmu umum atau (terlebih lagi) ilmu-ilmu agama. Semua telah Rosulullah saw contohkan, tanpa terspesifikasi pada apa yang kita ajarkan. Sebab apa yang beliau bawa, dan cara beliau membawa, adalah universal, mencakup keseluruhan, tidak membedakan profesi atau apapun. Walau sebenarnya mengajar sendiri adalah profesi orisinal dari pada para Rosul dan Nabi dan tujuan asal dari pengutusan mereka, Beliau sendiri telah berstatemen :
  إنما بعثت معلما  
“Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar” (HR. Ibnu Majah) ; “Sesungguhnya, Allah yang mengutusku sebagai seorang mualim dan pemberi kemudahan (bagi manusia).” HR Muslim[23]
Jadi sudah seyogyanya dan seharusnya jika kita mengikuti dan mencontoh karakteristik beliau dalam mengajar. Sebab apa yang beliau contohkan pada kita, di samping universal, juga relevan sepanjang masa, cocok dengan segala keadaan dan cuaca. Itu jika memang kita ingin sukses dalam mendidik, mengajar dan mencerdaskan anak bangsa. Tidak Cuma itu, tetapi kita dihormati dan nama kita dikenang dengan baik dan harum oleh murid-murid kita, dan oleh tinta sejarah. Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan pada beliau ilmu yang tidak seorangpun bisa  menyamainya. Tak hanya itu, beliau juga diberi kepribadian sempurna, hal itu dinyatakan Allah ta’ala dalam firmanNya :
Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. ”(Q.S.An-nisa: 113)[24]
Metode yang ditempuh Rasulullah dalam mengajar para sahabatnya tidak terlepas dari metode yang ditempuh oleh Al Qur’an. Karena Rasulullah adalah penyampai Kitabullah, Beliau menjelaskan aspek-aspek hukum, menegaskan ayat-ayatnya serta mengaplikasikan Al Qur’an dalam kehidupan keseharian. Al Qur’an turun secara bertahap kepada beliau selama kurang lebih 23 tahun. Rasulullah bertabligh kepada kaumnya dan masyarakat sekitarnya, merinci ajaran-ajarannya secara terperinci serta mempratikkan hukum-hukumnya.  Bila kita sadar kenyataan tersebut, maka seakan-akan kita menemukan sekolah yang besar, yang pengasuhnya adalah Rasulullah. Materi pelajarannya adalah Al Qur’an dan as Sunnah. Murid-muridnya adalah para sahabatnya. Seperti halnya Al Qur’an yang turun secara bertahap, as Sunnah juga tidak di bentuk sekaligus. Rasulullah menyebarkan ilmu pada semua manusia. Beliau adalah pengajar pertama kebaikan di muka bumi itu. Beliau pun memiliki keindahan susunan kata, ketajaman logika, sistem dan style mengajar yang bijak, dada yang lapang, hati yang lembut, jiwa yang cerah dan bercahaya, kasih sayang, kebijaksanaan, kecerdasan danperhatian. Beliau sangat care terhadap ummatnya. Beliau tidak suka menggunakan cara yang keras dalam mengajar, kecuali sesekali saja. Bahkan jika keadaan menuntut itu, semacam ada ketidak tepatan dari sahabatnya, akhlak yang tidak pas, beliau tidak menegur atau membentak dengan terus terang, tetapi dengan kode ataupun sindiran, sehalus mungkin. Beliau tahu, bahwa ketika mengajar dengan cara keras apalagi cenderung kasar, justru reaksi yang terjadi adalah sebaliknya. Bukannya ilmu yang masuk ke hati, yang ada adalah perlawanan. Malah terkadang keterus terangan dalam membentak, atau mendidik dengan cara mengolok, bisa menjatuhkan wibawa seorang pengajar di depan muridnya, karena bias jadi murid menilai gurunya sebagai guru yang arogan. Dan tabiat umum manusia adalah benci akan sikap kekerasan dan kearogansian. Nah, saat murid apriori pada gurunya, maka secara otomatis guru itu tidak akan bisa menanamkan nilai dan ilmu dalam hati muridnya. Sebab yang sangat dibutuhkan untuk masuknya sebuah ilmu dalam hati murid, adalah ketulusan dan keikhlasan guru itu sendiri,di samping respon positif dari si murid. [25]
Poin-poin umum yang harus selalu  diperhatikan oleh seorang pengajar :
· Rendah hati
· Lemah lembut, dan santun (sebab bisa dipastikan, jika seorang pengajar temperamen dan killer – tidak pada waktunya – akan banyak murid yang kabur darinya)
· Keep smile
· Tidak mudah membentak dan memarahi murid saat melakukan kesalahan
· Tidak langsung mencela, menjelekkan atau membodohkan murid saat melakukan kekeliruan
· Tidak memuji murid secara langsung di hadapan teman-temannya
· Sabar terhadap kenakalan yang muncul dari muridnya
· Sebisa mungkin tidak melakukan hukuman fisik terhadap murid, karena yang mereka butuhkan sebenarnya adalah perhatian, bukan kekerasan
· Rata dalam perhatian, antara yang bodoh dan yang pintar, yang miskin dan yang kaya, yang bagus rupa dan yang buruk rupa. Jangan sekalipun pilih kasih pada murid tertentu, dan ini adalah kunci untuk meraih cinta dari semua murid, yang merupakan kunci utama kesuksesan mengajar
· Bila ada pertanyaan yang tiba-tiba dan menyudutkan, atau logat yang kasar dan perlawanan dari murid, tidak langsung marah, tetapi tetap senyum dan menghadapi dengan lembut
· Memiliki ketegaran hati, dan keberanian menyampaikan sesuatu yang benar[26]

Poin-poin di atas adalah sekian poin yang kesemuanya dicontohkan oleh Nabi kita. Allah ta’ala berfirman :
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS.Ali Imron : 159)

Ketika usai ekspedisi Hunain, Rosul membagi harta pampasan perang, tiba-tiba saat itu datang seorang arab dari pedesaan mendesak beliau meminta jatah dari harta itu, bahkan dia menarik selendang Nabi dengan keras, sehingga beliau tertarik ke belakang dan di leher beliau terlihat bekas goresan selendang yang menjerat leher beliau. Dan dalam keadaan seperti itu, beliau tetap mengulas senyum dan tidak marah.
Jadi sudah seyogyanya jika seorang pengajar muslim mencontoh Nabi saw dalam semua perilakunya, kepribadiannya, pemikirannya, moralitasnya, tindakannya, gaya interaksinya, kecakapannya dalam mengajar, juga penampilannya.
Atribut Moral dan Psikis yang harus dimiliki pengajar berkapasitas adalah :
1.        Selalu menjadi contoh yang baik (Uswah hasanah)
2.        Murah hati, sabar, dan memiliki kontrol diri yang bagus
3.        Lemah lembut, penuh dengan kasih sayang, belas kasihan, perasaan, perhatian dan cinta, terhadap murid-muridnya
4.        Pemaaf dan baik hati
5.        Luwes dan ramah
6.        Moderat
7.        Konsisten, istiqomah, bertakwa, sopan dan menjaga image
8.        Rendah hati, tidak sombong, egois, pongah, bangga diri dan terpedaya oleh diri sendiri
9.        Jujur
10.    Amanat
11.    Memiliki ketenangan diri, keteguhan, balance, dan wibawa
12.    Mempunyai cita-cita yang luhur, selalu optimis, dan enerjik
13.    Menerima apa adanya, tidak tamak
14.    Selalu menata hati dan niat yang ikhlas
15.    Memiliki jiwa keadilan, persamaan, tidak membeda-bedakan status dan netral
16.    Tidak malu mengatakan “Aku tidak tahu”, jika tidak mengerti
17.    Tidak malu dan gengsi mengambil pelajaran dari orang yang di bawah tingkatannya dan ilmunya, walaupun pada anak kecil
18.    Memiliki rasa tanggung jawab, tanpa pamrih, dan selalu semangat dengan profesinya sebagai pengajar[27]

Atribut sosial yang harus dimiliki pengajar berkapasitas, adalah :
1.        Memiliki skill dan jiwa kepemimpinan
2.        Selalu berusaha memberikan pengarahan, orientasi, nasihat, dan konseling
3.        Membangun hubungan kekeluargaan dengan murid-murid, dan menyebarkan ruh kasih sayang dan cinta di antara mereka
4.        Sanggup memberikan solusi dan jalan keluar dalam problem-problem yang dialami murid
5.        Berjiwa koperatif 
6.        Bisa berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan kompleks kemasyarakatan
7.        Selalu berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman dan nilai moral yang jadi adat dalam suatu masyarakat[28]

Target pendidikan dalam Islam
Pada dasarnya, target utama pendidikan dalam Islam, adalah tidak untuk hal-hal ruhaniyah murni dan keagamaan saja. Juga tidak untuk hal-hal yang berbau keduniaan dan pemikiran (logika) murni. Namun yang ditargetkan oleh pendidikan Islam, adalah konvergensi antara pendidikan ilmu-ilmu duniawi dan ukhrowi (akhirat) secara seimbang. Sebab Islam sangat memperhatikan balance antara interaksi horizontal (antar sesama makhluk) dan interaksi vertikal (antar makhluk dan Pencipta-Nya). Hal itu terekam dalam al-qur’an surat al-qoshosh ayat 77
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.[29]

Dalam mengajar, beliau selalu memilih metode dan sistem terbaik. Metode yang paling mengesankan, juga yang memudahkan dan membantu dalam memahami suatu ajaran atau permasalahan. Beliau telah memformulasikan sistem dan metode pendidikan yang memiliki kekhasan tersendiri. Beliau memilih metode yang memiliki daya tancap kuat dalam memory para sahabatnya, apalagi kala itu alat tulis tidak semudah dan sebanyak serta semodern saat ini (bahkan pada zaman beliau diutus, kertas belum ditemukan). Orang-orang arab terdahulu menggunakan daya ingat mereka yang kuat luar biasa untuk menerima dan menyimpan ilmu yang mereka terima.
Dan bagi siapapun yang mempelajari kitab-kitab hadits, dan membacanya dengan perhatian penuh serta teliti, maka dia akan menemukan banyak warna cara mengajar dalam sabda-sabda dan ajaran yang beliau sampaikan.
Terkadang beliau memberikan pelajaran dengan cara berkisah Terkadang beliau tidak menjawab langsung sebuah pertanyaan, tetapi memancing sahabatnya untuk menjawab pertanyaan itu. Tidak hanya itu, beliaupun juga memiliki jadwal khusus mengajar di kaum wanita, untuk mengajarkan pada mereka segala hal yang mereka butuhkan untuk menempuh kehidupan mereka. Pada anak-anak pun Nabi saw juga memberikan perhatian, mengajar mereka sembari bermain dan bercanda. Tentu saja dengan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan usia mereka.
Satu dari berbagai komponen penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah ketepatan menentukan metode. Sebab dengan metode yang tepat, materi pendidikan dapat diterima dengan baik.


Dalam membahas manajemen pembelajaran PAI, kita ikuti Rosulullah SAW dalam mengajar
Ø   Praktek secara langsung / Dakwah bil haal / Demontrasi
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا.

Artinya: Hadis dari Abdullah ibn Yusuf, katanya Malik memberitakan pada kami dari Amir ibn Abdullah ibn Zabair dari ‘Amar ibn Sulmi az-Zarâqi dari Abi Qatadah al-Anshâri, bahwa Rasulullah saw. salat sambil membawa Umâmah binti Zainab binti Rasulullah saw. dari (pernikahannya) dengan Abu al-Ash ibn Rabi’ah ibn Abdu Syams. Bila sujud, beliau menaruhnya dan bila berdiri beliau menggendongnya.
[30]

Hadis di atas tergolong syarîf marfû’ dengan kualitas perawi yang sebagian terdiri dari şiqah mutqinũn, ra’su mutqinũn, şiqah dan perawi bernama Qatadah adalah sahabat Rasulullah saw. (CD Room, Kutub at-Tis’ah).

Menurut al-Asqalâni, ketika itu orang-orang Arab sangat membenci anak perempuan. Rasulullah saw. memberitahukan pada mereka tentang kemuliaan kedudukan anak perempuan. Rasulullah saw. memberitahukannya dengan tindakan, yaitu dengan menggendong Umamah (cucu Rasulullah saw.) di pundaknya ketika salat. Makna yang dapat dipahami bahwa perilaku tersebut dilakukan Rasulullah saw untuk menentang kebiasaan orang Arab yang membenci anak perempuan. Rasulullah saw menyelisihi kebiasaan mereka, bahkan dalam salat sekalipun.[31]
Hamd, mengatakan bahwa pendidik itu besar di mata anak didiknya, apa yang dilihat dari gurunya akan ditirunya, karena anak didik akan meniru dan meneladani apa yang dilihat dari gurunya, maka wajiblah guru memberikan teladan yang baik.[32]
Memperhatikan kutipan di atas dapat dipahami bahwa keteladanan mempunyai arti penting dalam mendidik, keteladanan menjadi titik sentral dalam mendidik, kalau pendidiknya baik, ada kemungkinan anak didiknya juga baik, karena murid meniru gurunya. Sebaliknya jika guru berperangai buruk, ada kemungkinan anak didiknya juga berperangai buruk.
Rasulullah saw merepresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin diajarkan melalui tindakannya dan kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalam kata-kata. Bagaimana memuja Allah swt, bagaimana bersikap sederhana, bagaimana duduk dalam salat dan do’a, bagaimana makan, bagaimana tertawa, dan lain sebagainya, menjadi acuan bagi para sahabat, sekaligus merupakan materi pendidikan yang tidak langsung.
Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah satu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya, merupakan cerminan kandungan Alquran secara utuh, sebagaimana firman Allah swt. berikut:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [33]
Makna uswatun hasanah pada ayat di atas adalah perbuatan baik yang dapat dicontoh. Dengan demikian, keteladanan menjadi penting dalam pendidikan, keteladanan akan menjadi metode yang ampuh dalam membina perkembangan anak didik. Keteladanan sempurna, adalah keteladanan Rasulullah saw, yang dapat menjadi acuan bagi pendidik sebagai teladan utama, sehingga diharapkan anak didik mempunyai figur pendidik yang dapat dijadikan panutan.
Dalam ilmu-ilmu yang pengajaran dan penyampaiannya membutuhkan praktek, Rosululloh saw selalu melakukannya dengan memberi contoh langsung, tidak cuma teori saja. Bahkan sebelumnya beliau telah melakukan dan mengamalkannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, dengan praktek langsung, pengaruhnya lebih besar dan illustrasinya menancap lebih kuat di hati dan memory murid, sebab dia tahu secara langsung contoh, bukti dan gerakannya, sehingga murid dapat langsung mempraktekkannya dan lebih terdorong untuk itu. Berbeda dengan hanya teori saja tanpa praktek. Kepercayaan murid lebih besar saat melihat guru melakukan dan memberi contoh secara langsung. Malah terkadang, imajinasi yang berkembang di pikiran murid tidak sama dengan apa yang dimaksudkan guru jika hanya sekedar toerema saja. Dan contoh metode yang diterapkan Rosul saw ini sangat banyak. Beliau menganjurkan para sahabatnya untuk profesional dalam olahraga renang, memanah dan berkuda, beliau sendiri ahli dan piawai dalam tiga cabang olahraga itu. Beliau menganjurkan sahabatnya untuk berani dan ksatria dalam bertempur. Beliau sendiri dalam setiap ekspedisinya, dan saat perang berkecamuk, selalu ada di garda terdepan. Apalagi dalam hal ibadah, beliau adalah orang yang nomor satu dalam hal ini. Praktek secara langsung dan terus melakukannya secara kontinyu, sampai kaki beliau bengkak sebab panjangnya beliau dalam beribadah. Contoh pengajaran secara praktek yang terucap dalam hadits beliau semisal hadits

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيمًا رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لا أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
Artinya: Hadis dari Muhammad ibn Muşanna, katanya hadis dari Abdul Wahhâb katanya Ayyũb dari Abi Qilâbah katanya hadis dari Mâlik. Kami mendatangi Rasulullah saw. dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah saw adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya. Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat.[34]
Dalam pandangan paham belajar sosial, sebagaimana dikemukakan Grendler, orang tidak dominan didorong oleh tenaga dari dalam dan tidak oleh stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan. Tetapi sebagai interaksi timbal balik yang terus-menerus yang terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi dan lingkungannya.
Metode demonstrasi dimaksudkan sebagai suatu kegiatan memperlihatkan suatu gerakan atau proses kerja sesuatu. Pekerjaannya dapat saja dilakukan oleh pendidik atau orang lain yang diminta mempraktekkan sesuatu pekerjaan. Metode demonstrasi dilakukan bertujuan agar pesan yang disampaikan dapat dikerjakan dengan baik dan benar.[35]
Metode demonstrasi dapat dipergunakan dalam organisasi pelajaran yang bertujuan memudahkan informasi dari model (model hidup, model simbolik, deskripsi verbal) kepada anak didik sebagai pengamat. Sebagai contoh dipakai mata pelajaran Pikih kelas II pada madrasah Tsanawiyah yang membahas pelaksanaan shalat Zuhur. Kompetensi Dasar (KD) dari pokok bahasan tersebut adalah: “Siswa dapat melaksanaan ibadah shalat Zuhur setelah mengamati dan mempraktekkan berdasarkan model yang ditentukan”. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, dibutuhkan beberapa kemampuan yang harus dikuasai anak didik dalam indikator pencapaian, yaitu :
Kemampuan gerakan (melakukan posisi berdiri tegak menghadap kiblat, mengangkat tangan sejajar dengan telinga ketika takbiratul ihram, membungkuk dengan memegang lutut ketika ruku’, melakukan i’tidal, melakukan sujud dengan kening menempel di sajadah, melakukan duduk di antara dua sujud, melakukan duduk tahyat akhir yang agak berbeda dengan duduk di antara dua sujud, melakukan salam dengan menoleh ke kanan dan kiri.
Kemampuan membaca bacaan salat (bacaan surat al-Fatihah, bacaan ayat Alquran, bacaan ruku’, bacaan berdiri i’tidâl, bacaan sujud, bacaan duduk antara dua sujud, bacaan tahyat awal dan akhir.
1.      Menganalisis tingkah laku yang dimodelkan. Tingkah laku yang dimodelkan sesuai dengan bahan pelajaran adalah ‘motorik” meliputi keterampilan dalam gerakan salat dan kemampuan membaca bacaan shalat.
2.      Menunjukkan model. Gerakan dalam salat dilakukan berdasarkan urut-urutannya (prosedural) dan bacaan dalam salat diucapkan dengan baik dan benar berdasarkan tata cara membaca Alquran (ilmu tajwid).
3.      Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempraktekkan dengan umpan balik yang dapat dilihat, tiap anak didik mempraktekkan kembali gerakan shalat Zuhur yang ditunjukkan oleh model seiring dengan aba-aba prosedur yang diberikan guru. Demikian pula dengan bacaan salat dapat dipraktekkan anak didik.
4.      Memberikan reinforcement dan motivasi. Guru memberikan penguatan pada anak didik yang telah berhasil melakukan gerakan dengan baik dan benar dan mengarahkan serta memperbaiki gerakan dan bacaan anak didik yang belum sesuai.
Contoh daripada metode ini sangatlah banyak. Dan metode ini adalah metode yang paling sering beliau gunakan dalam mengajar, juga metode beliau yang paling menonjol. Sebab pada dasarnya beliau memang diutus tidak sekedar memberikan teori saja, tetapi sekaligus prakteknya.
Ø   Memberikan pelajaran secara gradual / bertahap
Al Qur’an menempuh jalan bertahap dalam menentang akidah-akidah rusak dan tradisi-tradisi berbahaya dan memberantas segala bentuk kemungkaran yang dilakukan oleh umat manusia pada masa pra Islam (Jahiliyyah). Al Qur’an juga menggunakan cara bertahap dalam menancapkan akidah yang benar, ibadah, hukum, ajaran kepada  etika luhur dan membangkitkan keberanian orang-orang yang berada disekitar Rasulullah agar selalu bersabar dan berteguh hati.
Di antara metode mengajar yang diterapkan Nabi saw, adalah beliau sangat memperhatikan skala prioritas, dan mengajarkannya tidak langsung sekaligus, tetapi berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan pelan-pelan, dengan tujuan agar lebih mudah dipaham dan menancap lebih kuat dalam ingatan.
Salah satu Sahabat Nabi saw, Jundub bin Abdillah ra bercerita : “ketika kita masih dalam masa-masa pubertas, kita belajar pada Nabi, dan beliau mengajari kita tentang keimanan, sebelum kita belajar Al-Qur’an. Setelah itu, baru kita diajari (isi kandungan dan tata caramembaca) al-Qur’an. Sehingga iman kita makin bertambah (dan menguat). (H.R. Ibnu Majah).
Sebagian sahabat juga bertutur, Rosul saw mengajarkan mereka tiap hari 10 ayat, dan beliau tidak akan menambah pelajaran lagi sebelum mereka faham betul dan menguasai serta mengamalkan apa yang di dalam 10 ayat tadi. Baru setelah itu beliau menambah pelajaran lagi (HR Ahmad)[36]
Begitu pula pengajaran akan larangan meminum minuman keras, tidak serta merta langsung, namun wahyu yang berbicara tentang itu, turun berangsur sampai 4 kali.  Pada surat An-Nahl (16) : 67 cuma dijelaskan bahwa dari Kurma dan Anggur bisa dibuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik :
Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.[37]
Pada Surat Baqarah (2) : 219 dijelaskan bahwa pada khamar dan judi ada dosa dan manfaat, namun dosanya lebih besar:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,[38]
Pada Surat an-Nisaa’ (4) : 43 dilarang mendekati sholat dalam keadaan mabuk. Namun larangan disetiap waktu belum dinyatakan :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.[39]
Baru pada Surat Al –Maidah (5) : 90 dinyatakan minum khamar dan juga adalah perbuatan setan dan kita dilarang mengerjakannya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.[40]
Saat itu pun,  jalan-jalan di kota Madinah basah oleh arak dan berbau arak karena seluruh arak langsung dibuang. Hal itu tentu saja akan berbeda jika seorang pengajar memberikan ilmu pada muridnya sekaligus, maka justru akan lebih cepat pula hilang, dan malah kebingungan yang terjadi.
Ø  Deduktif (memberitahukan secara global)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

Artinya: Hadis Muhammad ibn Basysyar ibn Dar, katanya hadis Yahya dari Abdullah katanya hadis dari Khubâib ibn Abdurrahman dari Hafs ibn ‘Aśim dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw.bersabda: Tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah di naungan-Nya yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah; pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam keadaan taat kepada Allah; seorang yang hatinya terikat dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah (mereka bertemu dan berpisah karena Allah), seorang yang diajak oleh wanita terpandang dan cantik namun ia berkata ’saya takut kepada Allah’, seorang yang menyembunyikan sadekahnya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya dan orang yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga air matanya mengalir.
[41]
Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah mutqin, sedangkan Abu Hurairah adalah sahabat Rasulullah saw. Menurut Abi Jamrah, metode deduktif (memberitahukan secara global) suatu materi pelajaran, akan memunculkan keingintahuan pelajar tentang isi materi pelajaran, sehingga lebih mengena di hati dan memberi manfaat yang lebih besar.[42]
Ø  Menghindari Kejenuhan murid / memberi kemudahan.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَسِّرُوا وَلا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلا تُنَفِّرُوا وكان يحب التخفيف والتسري على الناس.
Artinya: Hadis Muhammad ibn Basysyar katanya hadis Yahya ibn Sâ’id katanya hadis Syu’bah katanya hadis Abu Tayyâh dari Anas ibn Malik dari Nabi saw. Rasulullah saw. bersabda: Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Rasulullah saw. suka memberikan keringanan kepada manusia.[43]
Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hâfiz, Anas adalah sahabat Rasul saw. Ibnu Hajar al-Asqalâni mengomentari hadis tersebut dengan mengatakan pentingnya memberikan kemudahan bagi pelajar yang memiliki kesungguhan dalam belajar, dalam arti mengajarkan ilmu pengetahuan harus mempertimbangkan kemampuan si pelajar. Sebagai pendidik, Rasulullah saw. tidak pernah mempersulit, dengan harapan para sahabat memiliki motivasi yang kuat untuk tetap meningkatkan aktivitas belajar.[44]
Rosululloh S.a.w dalam cara mengajarnya, sangat memperhatikan waktu dan keadaan psikologi para sahabatnya. Beliau tidak sembarang waktu dalam mengajar, begitu juga tidak monoton dengan ilmu yang itu-itu saja. Hal itu beliau lakukan agar para sahabatnya tidak mengalami kejenuhan dan kebosanan. Sebab kebosanan yang dialami seorang murid, jika berkepanjangan, adalah bisa menjadi sebab dari gagalnya proses belajar mengajar. Dalam dunia pendidikan modern, hal itu diterapkan dengan 5 hari atau 6 hari masa aktif,dengan 2 atau 1 hari waktu libur. Begitu juga dengan pembagian jam pelajaran dengan materi yang tidak sama dan pemberian waktu jeda. Hal itu ditempuh untuk mengembalikan kesemangatan pelajar dan membuat otak mereka fresh kembali, sehingga ilmu tentu dengan mudah akan diterima oleh mereka.
Salah seorang tabi’in  bercerita : ”Abdulloh bin Mas’ud.r.a., salah satu sahabat senior Nabi, setiap hari kamis selalu memberikan nasehat dan petuah pada kita, dan kita sangat menyukainya serta selalu menunggu hari itu. Suatu hari kita meminta beliau untuk menyampaikannya tiap hari. Namun beliau tidak mengabulkan permintaan kami seraya berkata : “sebenarnya aku melakukan ini seminggu sekali, agar kalian tidak bosan. Sebagaimana yang telah Rosululloh lakukan, beliau tidak memberikan kita pelajaran dan mauidhoh setiap hari, khawatir kita BT dan bosan” (H.R.Bukhori).[45]
Ø  Memperhatikan perbedaan kemampuan dan tingkat inteligensi setiap pelajar
Sebagai pengajar, tentu kita memahami, bahwa tidak semua murid yang kita ajar memiliki kemampuan yang sama, tiap murid memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda. Hal ini, oleh Nabi Saw telah beliau contohkan, beliau sangat memperhatikan perbedaan itu (individual difference). Beliau mengajar tiap individu sesuai kadar kecerdasannya. Apa yang beliau ajarkan pada sahabat junior, tidak sama dengan yang beliau ajarkan pada sahabat senior. Dalam menjawab pertanyaan pun beliau tidak asal jawab, tapi melihat bagaimana kemampuan pemahaman dan tingkat kecerdasan yang bertanya. Sebuah kaidah dasar telah beliau berikan pada kita.
Dalam karya monumentalnya, “ihya’ ulumiddin”, Imam Ghozali berkomentar : “Seseorang, yang kita beri pelajaran, namun dia tidak bisa memahami dengan baik apa yang kita ajarkan, karena tidak mampu dijangkau oleh akalnya, itu terkadang malah mengalami kesalah pahaman. Lebih parah dari itu, terkadang kesalah pahamannya itu malah menimbulkan fitnah.” Maka, penyampaian sebuah materi pelajaran, harus sesuai dengan tingkat usia dan tingkat kecerdasan murid. Sebisa mungkin dituntut dari kita, keterangan yang kita sampaikan, bisa dipahami dengan baik oleh semua murid yang kita ajar, baik yang bodoh ataupun yang cerdas. Hal ini juga dikatakan oleh Abdulloh bin Mas’ud ra Dan contoh dari apa yang Rosul lakukan dalam masalah ini, adalah kisah Mu’adz bin Jabal ra.
Beliau bersabda pada Mu’adz :”Siapapun, yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, dengan sepenuh hati (cukup itu saja), maka dia tidak akan masuk neraka.”Mu’adz pun menjawab : ”jika memang begitu, akan saya sebarkan hal ini pada semua orang, biar mereka bergembira” Segera Rosul menjawab : ”Oh, jangan, nanti malah mereka enak-enakan, tidak mau beribadah”. Rosul memberikan isyarat pada Mu’adz, agar jangan setiap orang yang diberitahu, kecuali mereka yang benar-benar telah mantap amal ibadahnya.
Ada juga sebuah kisah, seorang pemuda datang pada Beliau dan bertanya : “Wahai Rosul, jika puasa, boleh apa tidak saya mencium istri saya?”“Tidak boleh”, jawab beliau. Sejenak kemudian datang orang tua dan bertanya hal yang sama pada beliau, dan beliau jawab: “Ya, tidak apa-apa kamu menciumnya”.Tentu saja para sahabat terheran-heran dan saling pandang di antara mereka, mengapa jawaban tidak sama, sementara pertanyaan sama. Mengetahui hal itu, dengan bijak beliau menjawab :”Kalau yang tua tadi, pasti bisa menguasai diri dan nafsunya, jadi tidak akan kebablasan (melakukan senggama).”(H.R.Ahmad)[46]
Ø   Dialog, Diskusi & tanya jawab
Salah satu yang menonjol dari metode Nabi Saw dalam mengajar adalah kerap kali beliau mengajar dengan cara berdialog dan tanya jawab. Sebab dialog sangat membantu sekali dalam membuka kebuntuan otak dan kebekuan berpikir.
Contoh :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح وَقَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا بَكْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُضَرَ كِلَاهُمَا عَنْ ابْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَفِي حَدِيثِ بَكْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا.
Artinya: Hadis Qutaibah ibn Sa’id, hadis Lâis kata Qutaibah hadis Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya? Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda; Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa.[47]
Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut, sedangkan Abu Hurairah adalah sahabat Rasulullah saw. Metode bertanya ini untuk mengajak si pendengar agar fokus dengan pembahasan. Misalnya kata; ”bagaimana pendapat kalian?” adalah pertanyaan yang diajukan untuk meminta informasi. Maksudnya beritahukan padaku, apakah masih tersisa?. [48]
Atau pertanyaan beliau : “Kalian tahu tidak, siapakah muslim itu?” “Allah dan Rosul yang lebih tahu”, jawab para sahabat “Orang muslim adalah, orang yang teman-teman dia selamat dari gangguan lidah dan tangannya; kalau orang Mu’min ?” “Allah dan Rosul yang lebih tahu”.“Adalah orang yang teman-temannya merasa aman atas diri dan harta mereka dari gangguannya. Sedangkan Muhajir, adalah orang yang meninggalkan kejelekan-kejelekan dan menghindarinya”. (H.R. Ahmad)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ.
Artinya: Hadis Qutaibah ibn Sâ’id dan Ali ibn Hujr, katanya hadis Ismail dan dia ibn Ja’far dari ‘Alâ’ dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. bahwasnya Rasulullah saw. bersabda: Tahukah kalian siapa orang yang muflis (bangkrut)?, jawab mereka; orang yang tidak memiliki dirham dan harta. Rasul bersabda; Sesungguhnya orang yang muflis dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat. Dia datang tapi telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah (membunuh) ini dan memukul orang ini. Maka orang itu diberi pahala miliknya. Jika kebaikannya telah habis sebelum ia bisa menebus kesalahannya, maka dosa-dosa mereka diambil dan dicampakkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke neraka.[49]
Hadis di atas tergolong syarîf marfū’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut, şiqah hâfiz, sedangkan Abu Hurairah ra. adalah sahabat Rasulullah saw. Menurut an-Nawâwi, Penjelasan hadis di atas yaitu Rasulullah saw. memulai pembelajaran dengan bertanya dan jawaban sahabat ternyata salah, maka Rasulullah saw. menjelaskan bahwa bangkrut dimaksud bukanlah menurut bahasa. Tetapi bangkrut yang dimaksudkan adalah peristiwa di akhirat tentang pertukaran amal kebaikan dengan kesalahan. [50]
Adapun contoh metode dialog yang sangat terkenal adalah Hadits Jibril, dalam pelajaran penting tentang dasar-dasar teologi, yang disampaikan di hadapan parasahabatnya dalam bentuk dialog antara Beliau S.a.w, dengan malaikat Jibril (yang datang menyamar dalam bentuk manusia).
Sahabat Umar r.a bertutur : “Ketika kita sedang duduk-duduk dengan Rosul, tiba-tiba datang seseorang dengan pakaian putih bersih, penampilannya sangat rapi, tak satupun dari kami yang mengenalnya. Dan dia segera mengambil posisi dengan duduk sopan berhadapan langsung dengan Nabi saw Lalu dia membuka percakapan. “Muhammad, beri tahu aku tentang Islam.” “Islam itu ; kamu bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya, lalu kamu mendirikan Sholat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Romadlon, dan Haji, jika kamu mampu”. Jawab Rosul saw.“Ya, jawabanmu benar”, kata orang tadi. Tentu saja kami heran, ini orang datang bertanya, dijawab, tapi juga membenarkan jawaban itu.“Sekarang beri tahu aku tentang iman“, tanya orang itu lagi“ Iman adalah kamu percaya pada Allah, Malaikat-malaikatNya, kitab-kitab suci-Nya, para Rosul Utusan-Nya, Hari Akhir (kiamat), dan kamu percaya akan takdir, baik dan buruknya”, jawab Rosul saw “Benar apa yang kamu katakan itu”, komentar orang itu lagi “Beri tahu aku juga tentang Ihsan“, tanya orang itu lagi “Ihsan, kamu menyembah Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya, meskipun kamu tidak melihat-Nya, tapi Dia Melihatmu”. “Kalau hari kiamat?” “Kalau ini, kita sama-sama tidak tahu”, jawab Rosul diplomatis “jika begitu, beri tahu aku tanda-tandanya”. “(di antara) tandanya, jika seorang budak melahirkan tuannya, dan jika kamu melihat orang-orang pedesaan (yang rata-rata miskin itu) saling berlomba membangun bangunan yang tinggi”. Setelah itu orang tadi pun pergi, beberapa hari kemudian Nabi S.a.w bertanya kepadaku : “Umar, kamu tahu tidak, siapa orang yang (kemarin) bertanya padaku itu?” “Allah dan Rosul lebih tahu”,  jawabku “Dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan pada kalian tentang (inti) agama yang kalian peluk” (H.R. Muslim)[51]
Contoh daripada itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad bin Hambal dan Thobaroni, sebagai berikut :
Pada suatu hari datang pada beliau seorang pemuda yang minta legalisasi baginya untuk berzina. Beliau saw tidak lantas memarahinya (padahal sahabat di sekitar beliau sudah hampir meluapkan kemarahan melihat kelancangan pemuda itu). Beliaupun juga tidak menggunakan dalil Al-Qur’an yang menegaskan haramnya zina. Tetapi beliau menyuruh pemuda itu untuk mendekat kepadanya, dan dengan bijak diajaknya pemuda itu berdiskusi. “Kamu suka tidak andai ibumu dizinai orang?” “Tidak wahai Rosul, Demi Allah ! Tak ada seorangpun yang mau ibunya dizinai !” “Nah, kalau sekarang putrimu dizinai, kamu rela tidak?” “Tidak ya Rosul, Demi Allah ! semoga Allah menjadikanku tebusan bagimu, tidak ada orang yang rela putrinya dizinai !” Dan Rosul terus menanyai, bagaimana jika hal itu menimpa saudarinya, bibi-bibinya (atau juga jika istrinya kelak diselingkuhi), jawaban pemuda itu pun juga tetap sama. Lalu Rosul menaruh telapak tangan beliau di pundak pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya”. Sejak itu pemuda tadi tidak lagi punya pikiran dan keinginan untuk berzina.[52]
  Contoh lain :
Pada suatu saat di Hari Raya, Rosul  saw melewati sekelompok wanita, beliau lantas berujar. “Wahai kaum wanita, banyaklah kalian bersedekah, sebab aku melihat penduduk neraka paling banyak adalah kalian kaum wanita”.  “Bagaimana bisa begitu wahai Rosul?” tanya para wanita itu bergidik“ Sebab kalian terlalu banyak mencaci, dan kerap tidak bisa berterima kasih pada suami. Sungguh, aku tidak melihat orang yang minus akal dan agamanya, yang sanggup melenakan lelaki yang teguh dan kuat hatinya daripada kalian, kaum wanita” Para wanita itu bertanya, “Lalu apa kekurangan pada akal kami, dan kekurangan pada agama kami wahai Rosul”. Dengan bijak beliau menjawab sambil bertanya “Bukankah kesaksian satu wanita itu sama dengan setengah laki-laki saja?” “ya benar” “Nah, itu menunjukkan kekurangan, dan minus pada akal wanita. Dan bukankah jika kalian menstruasi, kalian tidak sholat juga tidak puasa bukan?” “Ya, benar”“Nah, itu yang menunjukkan kekurangan pada agama kalian”. (Riwayat Bukhori dan Muslim)[53]
Untuk sabda Rosul ini, kita harus mampu mencermati kata beliau dengan baik. Bukan lantas dengan itu berarti kaum wanita sedikit di surga, tetapi bahkan sebaliknya. Penduduk surga dari kalangan wanita juga lebih banyak bahkan berlipat dari pada kaum laki-laki. Dengan perhitungan dan perbandingan, setiap satu laki-laki di surga nanti, paling sedikit memiliki dua istri dari dunia (bagaimana jika yang di dunianya dia poligami lebih dari dua). Itu belum jumlah bidadari asli surga.
Ø   Observasi kecerdasan murid
Dalam mengajar, Rosululloh saw tidak hanya sekedar menyampaikan wahyu, pesan-pesan profetik, dan nilai-nilai moral dengan stagnan begitu saja, sementara para sahabatnya hanya mendengarkan dan menerima. Namun beliau juga melakukan tes untuk mengetahui tingkat kepahaman sahabatnya, sejauh mana mereka bisa menangkap apa yang beliau sampaikan, sekaligus di waktu yang sama merangsang agar mereka mau berpikir, juga menggali bakat dan mengeksplorasi kemampuan terpendam mereka. Hal itu dicontohkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhori dan Muslim :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ.
Artinya: Hadis Quthaibah ibn Sâ’id, hadis Ismâil ibn Ja’far dari Abdullah ibn Dinar dari Umar, sabda Rasulullah saw. Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada sebuah pohon yang tidak akan gugur daunnya dan pohon dapat diumpamakan sebagai seorang muslim, karena keseluruhan dari pohon itu dapat dimanfaatkan oleh manusia. Cobalah kalian beritahukan kepadaku, pohon apakah itu? Orang-orang mengatakan pohon Bawâdi. Abdullah berkata; Dalam hati saya ia adalah pohon kurma, tapi saya malu (mengungkapkannya). Para sahabat berkata; beritahukan kami wahai Rasulullah!. Sabda Rasul saw; itulah pohon kurma.[54]
Ø   Analogy (kias)
حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَنْصُورِ بْنِ صَفِيَّةَ عَنْ أُمِّهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِهَا مِنْ الْمَحِيضِ فَأَمَرَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ قَالَ خُذِي فِرْصَةً مِنْ مَسْكٍ فَتَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهَّرُ قَالَ تَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِي فَاجْتَبَذْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ….

Artinya: Hadis Yahya, katanya hadis ‘Uyainah dari Mansyur ibn Shafiyyah dari Ibunya dari Aisyah, seorang wanita bertanya pada Nabi saw. tentang bersuci dari haid. Aisyah menyebutkan bahwa Rasul saw. mengajarkannya bagaimana cara mandi. Kemudian kamu mengambil secarik kain dan memberinya minyak wangi dan bersuci dengannya. Ia bertanya, bagaimana aku bersuci dengannya? Sabda Rasul saw. Kamu bersuci dengannya. Subhânallah, beliau menutup wajahnya. Aisyah mengatakan telusurilah bekas darah (haid) dengan kain itu.[55]
Sesekali dalam mengajar, Rosul saw menggunakan analogi (perbandingan secara kias dengan bentuk yang sudah ada) terhadap suatu hukum atau ajaran yang kurang bisa dipahami dengan baik oleh sebagian sahabatnya, juga menjelaskan sebab-sebab akan sebuah hukum. Dengan penyepadanan dan analogi itu, para sahabatnya pun kemudian paham terhadap suatu hukum dan tujuan diterapkannya syari’at itu (maqosid at-Tasyri’).
Seperti yang beliau contohkan saat seorang perempuan dari suku Juhainah bertanya pada beliau. “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk haji, tetapi sampai beliau meninggal, belum sempat berhaji melaksanakan nadzarnya itu. Apakah saya bisa berhaji (menggantikannya) atas nama beliau?” “Ya, bisa. Bukankah jika ibumu punya hutang dan belum sempat dilunasinya, lalu dia meninggal, kamu juga kan yang melunasi hutangnya?” jawab Rosul “ya, memang begitu”, kata wanita itu lega (H.R. Bukhori)
Pernah juga salah satu sahabatnya bertanya, “Ya Rosul, apakah jika kita bersetubuh dengan istri kita, kita mendapat pahala?” “Kenapa tidak? Bukankah jika kalian bersetubuh dengan wanita lain (berzina) juga mendapat dosa? Begitu juga jika kalian bersetubuh dengan wanita yang halal bagi kalian (istri-istri kalian), maka kalian juga mendapat pahala”. Jawab beliau (H.R.Muslim).
Oleh Rosululloh saw, hal-hal yang terkadang belum jelas hukumnya, dianalogikan secara logis oleh beliau dengan hal-hal yang sudah jelas hukumnya. Sehingga hal-hal tersebut menjadi jelas dan bisa dipaham dengan baik oleh sahabatnya.
Ø  Allegori dan persamaan
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِي الثَّقَفِيَّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيرُ إِلَى هَذِهِ مَرَّةً وَإِلَى هَذِهِ مَرَّةً .
Artinya; Hadis dari Muhammad ibn Mutsanna dan lafaz darinya, hadis dari Abdul Wahhâb yakni as- Śaqafi, hadis Abdullah dari Nâfi’ dari ibn Umar, Nabi saw. bersabda: Perumpamaan orang munafik dalam keraguan mereka adalah seperti kambing yang kebingungan di tengah kambing-kambing yang lain. Ia bolak balik ke sana ke sini.[56]
Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut, şiqah hâfiz, sedangkan ibn Umar adalah sahabat Rasulullah saw. Menurut ath-Thîby (1417H, XI: 2634), orang-orang munafik, karena mengikut hawa nafsu untuk memenuhi syahwatnya, diumpamakan seperti kambing jantan yang berada di antara dua kambing betina. Tidak tetap pada satu betina, tetapi berbolak balik pada ke duanya. Hal tersebut diumpamakan seperti orang munafik yang tidak konsisten dengan satu komitmen.
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul saw sebagai satu metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah saw. sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat jelas.
Dalam banyak kesempatan saat mengajar, beliau saw juga menggunakan metode allegori (perumpamaan), untuk menjelaskan suatu makna dari ajaran yang beliau sampaikan. Dalam penjelasannya, beliau menggunakan media benda yang banyak dilihat orang, atau yang mereka rasakan, atau yang mereka pegang. Metode ini sangat memudahkan pelajar untuk mendeskripsikan suatu masalah yang mungkin kurang jelas baginya. Metode ini umum digunakan oleh pengajar-pengajar sastra, dan telah disepakati oleh mereka bahwa penggunaan alegori dan persamaan (tasybih) memiliki pengaruh besar dan sangat membantu dalam menjelaskan sebuah arti yang samar dan kurang jelas. Di Al-qur’an sendiri banyak sekali ayat yang menggunakan perumpamaan, dan tentu saja Nabi S.a.w banyak mengikuti metode Al-qur’an ini dalam forum-forum pidato, orasi, dan cara mengajar beliau.
Salah satu contoh metode ini, sabda beliau saw yang diriwayatkan Abu Daud : “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alqur’an itu laksana Jeruk, wangi aromanya dan enak rasanya. Sedangkan mukmin yang tidak baca Alqur’an itu seperti kurma, enak rasanya tetapi tidak ada aromanya. Adapun orang munafik yang membaca al-qur’an, itu seperti bunga, baunya harum, tapi rasanya pahit. Sedang orang munafik yang tidak baca qur’an, itu seperti jadam, pahit rasanya juga tidak ada aromanya”. Atau sabda beliau yang lain : “Perumpamaan teman yang baik, itu seperti pedagang minyak wangi, jika kamu tidak diberinya sedikit, maka kamu mendapat harum wanginya. Sedangkan teman yang buruk, itu seperti pandai besi, jika kamu tidak terkena percikan kecilapinya, maka kamu terkena asapnya.”
Sebab dengan perumpamaan seperti itu, terkadang suatu permasalahan tampak lebih jelas dan lebih menancap kuat dalam hati dan ingatan.
Ø  Lemah Lembut
حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ….
Artinya: Hadis dari Abu Ja’far Muhammad ibn Shabah dan Abu Bakr ibn Abi Syaibah, hadis Ismail ibn Ibrahim dari Hajjâj as-Shawwâf dari Yahya ibn Abi Kaşir dari Hilâl ibn Abi Maimũnah dari ‘Atha’ ibn Yasâr dari Mu’awiyah ibn Hakam as-Silmiy, Katanya: Ketika saya salat bersama Rasulullah saw., seorang dari jama’ah bersin maka aku katakan yarhamukallâh. Orang-orang mencela saya dengan pandangan mereka, saya berkata: Celaka, kenapa kalian memandangiku? Mereka memukul paha dengan tangan mereka, ketika saya memandang mereka, mereka menyuruh saya diam dan saya diam. Setelah Rasul saw. selesai salat (aku bersumpah) demi Ayah dan Ibuku (sebagai tebusannya), saya tidak pernah melihat guru sebelumnya dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah beliau tidak membentak, memukul dan mencela saya. Rasulullah saw. (hanya) bersabda: Sesungguhnya salat ini tidak boleh di dalamnya sesuatu dari pembicaraan manusia. Ia hanya tasbîh, takbîr dan membaca Alquran.[57]
Hadis di atas tergolong syarîf marfũ’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut. An-Nawâwi, dalam syarahnya mengatakan hadis ini menunjukkan keagungan perangai Rasulullah saw., dengan memiliki sikap lemah lembut dan mengasihi orang yang bodoh (belum mengetahui tata cara salat). Ini juga perintah agar pendidik berperilaku sebagaimana Rasulullah saw. dalam mendidik.[58]
Pentingnya metode lemah lembut dalam pendidikan, karena materi pelajaran yang disampaikan pendidik dapat membentuk kepribadian peserta didik. Dengan sikap lemah lembut yang ditampilkan pendidik, peserta didik akan terdorong untuk akrab dengan pendidik dalam upaya pembentukan kepribadian.
Ø  Perbandingan.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ أَعْيَنَ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كُلُّهُمْ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ حَدَّثَنَا قَيْسٌ قَالَ سَمِعْتُ مُسْتَوْرِدًا أَخَا بَنِي فِهْرٍ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ وَفِي حَدِيثِهِمْ جَمِيعًا غَيْرَ يَحْيَى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ عَنْ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ أَخِي بَنِي فِهْرٍ وَفِي حَدِيثِهِ أَيْضًا قَالَ وَأَشَارَ إِسْمَعِيلُ بِالْإِبْهَامِ.
Artinya: Hadis Abu Bakr ibn Abi Syaibah, hadis Abdullah ibn Idris, Hadis ibn Numair, hadis Abi Muhammad ibn Bisyr, hadis Yahya ibn Yahya, khabar dari Musa ibn A’yân, hadis Muhammad ibn Rafi’, hadis Abu Usamah dari Ismail ibn Abi Khalid, hadis Muhammad ibn Hatim dan lafaz darinya, hadis Yahya ibn Sa’id, hadis Ismâil, hadis Qâis katanya aku mendengar Mustaurid saudara dari bani Fihrin katanya, Rasul saw. bersabda: Demi Allah tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti seorang yang menaruh jarinya ini, beliau menunjuk kepada telunjuknya di laut, kemudian perhatikan apa yang tersisa di telunjuknya.[59]
Hadis di atas tergolong syarif marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah şubut dan śaduq. Imam an-Nawâwi memberi komentar pada hadis ini, dengan ungkapan” akhirat dibandingkan dengan dunia, dalam hal waktunya dunia itu singkat dan kenikmatannya yang sirna, sedangkan akhirat serba abadi, sebagaimana perbandingan antara air yang lengket pada jari dibanding dengan sisanya di lautan. [60]
Makna hadis di atas yaitu pentingnya metode perbandingan dalam pendidikan, sehingga potensi jasmaniah dan rohaniah si pembelajar dapat memahami hal-hal yang memiliki perbedaan antara suatu permasalahan dengan lainnya.
Ø  Pengulangan.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ.
Artinya: Hadis Musaddad ibn Musarhad hadis Yahya dari Bahzâ ibn Hâkim, katanya hadis dari ayahnya katanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara dan berdusta agar orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya.[61]
Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah sadũq. Rasulullah saw. mengulang tiga kali perkataan ”celakalah”, ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik dan benar, sehingga materi pelajaran dapat dipahami dan tidak tergolong pada orang yang merugi.
Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental (dimana seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu) maupun latihan motorik (melakukan perbuatan secara nyata) merupakan alat-alat bantu ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah saw. ketika menjelaskan sesuatu yang penting untuk diingat para sahabat.
Ø  Eksperimen
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ ذَرٍّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ إِنِّي أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبْ الْمَاءَ فَقَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فِي سَفَرٍ أَنَا وَأَنْتَ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ وَأَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ ….
Artinya: Hadis Adam, katanya hadis Syu’bah ibn Abdurrahmân ibn Abzâ dari ayahnya, katanya seorang laki-laki datang kepada Umar ibn Khattâb, maka katanya saya sedang janabat dan tidak menemukan air, kata Ammar ibn Yasir kepada Umar ibn Khattâb, tidakkah anda ingat ketika saya dan anda dalam sebuah perjalanan, ketika itu anda belum salat, sedangkan saya berguling-guling di tanah, kemudian saya salat. Saya menceritakannya kepada Rasul saw. kemudian Rasulullah saw. bersabda: ”Sebenarnya anda cukup begini”. Rasul memukulkan kedua telapak tangannya ke tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan keduanya pada wajah.[62]
Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah şubut. Menurut al-Asqalani, hadis ini mengajarkan sahabat tentang tata cara tayammum dengan perbuatan. (Al-Asqalani, I: 444) Sahabat Rasulullah saw. melakukan upaya pensucian diri dengan berguling di tanah ketika mereka tidak menemukan air untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw. memperbaiki ekperimen mereka dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan debu.
Ø  Pujian/memberi kegembiraan.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ.

Artinya: Hadis Abdul Aziz ibn Abdillah katanya menyampaikan padaku Sulaiman dari Umar ibn Abi Umar dari Sâ’id ibn Abi Sa’id al-Makbârî dari Abu Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang paling bahagia mendapat syafa’atmu pada hari kiamat?, Rasulullah saw bersabda: Saya sudah menyangka, wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang bertanya tentang hadis ini seorangpun yang mendahului mu, karena saya melihat semangatmu untuk hadis. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku ada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ”Lâilaha illa Allah” dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya.[63]
Ø  Pemberian Hukuman
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ الْجُذَامِيِّ عَنْ صَالِحِ بْنِ خَيْوَانَ عَنْ أَبِي سَهْلَةَ السَّائِبِ بْنِ خَلَّادٍ قَالَ أَحْمَدُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا أَمَّ قَوْمًا فَبَصَقَ فِي الْقِبْلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ فَرَغَ لَا يُصَلِّي لَكُمْ….
Artinya: Hadis Ahmad ibn Shalih, hadis Abdullah ibn Wahhab, Umar memberitakan padaku dari Bakr ibn Suadah al-Juzâmi dari Shâlih ibn Khaiwân dari Abi Sahlah as-Sâ’ib ibn Khallâd, kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw. bahwa ada seorang yang menjadi imam salat bagi sekelompok orang, kemudian dia meludah ke arah kiblat dan Rasulullah saw. melihat, setelah selesai salat Rasulullah saw. bersabda ”jangan lagi dia menjadi imam salat bagi kalian”…[64]
Memberikan hukuman (marah) karena orang tersebut tidak layak menjadi imam. Seakan-akan larangan tersebut disampaikan beliau tanpa kehadiran imam yang meludah ke arah kiblat ketika salat. Dengan demikian Rasulullah saw. memberi hukuman mental kepada seseorang yang berbuat tidak santun dalam beribadah dan dalam lingkungan sosial.
Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam.
Alternatif lain yang mungkin dapat dilakukan adalah :
1.      Memberi nasehat dan petunjuk.
2.      Ekspresi cemberut.
3.      Pembentakan.
4.      Tidak menghiraukan murid.
5.      Pencelaan disesuaikan dengan tempat dan waktu yang sesuai.
6.      Jongkok.
7.      Memberi pekerjaan rumah/tugas.
8.      Menggantungkan cambuk sebagai simbol pertakut.
9.      Alternatif terakhir adalah pukulan ringan.[65]
Hal yang menjadi prinsip dalam memberikan sanksi adalah tahapan dari yang paling ringan, sebab tujuannya adalah pengembangan potensi baik yang ada dalam diri anak didik.



[1] Ahmad Rohani HM, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1991), 159.
[2] Ahmad Tohardi, Manajemen (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2002), 15.
[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), 1120.
[4] J.S. Badudu dan Sultan Muhammad Zain, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), 1092.
[5] J. S. Badudu, Pelik-pelik Bahasa Indonesia, (Bandung: CV. Pustaka Prima, 1985), 79.
[6] Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 52.
[7] Hj. Chalijah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan, (Surabaya : Al Ikhlas,1994), 107.
[8] M. Sastrapradja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, (Surabaya : Usaha Nasional, 1978), 12.
[9] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), 57.
[10] Tabrani Rosyan, et.al., Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung:Remaja Rosdakarya, 1992), 3.
[11] Tian Belawati, Materi Popok Pengembangan Bahan Ajar (Jakarta : Universitas Terbuka, 2003), 1-3
[12] Muhaimin, Modul Wawasan Pengembangan Bahan Ajar (Malang : LKP2I, 2008), 25
[13] Poerwakatja, Soegarda. Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung, 1982, 56.
[14] Wojowasito, S. W. Wasito Tito. Kamus Lengkap Inggeris-Indonesia, Indonesia-Inggeris. Bandung: Hasta, 1980, 113.
[15] Yasū‘iy, Ma‘lūf, Louwis. Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A‘lam, Cetakan XXVI. Beirut: al- Masyriq, t.t., 465.
[16] Munawwir, Warson Ahmad. Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif, 1997, 849.
[17] Surakhmad,Winarno. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito, 1998, 98.
[18] Yusuf  Tayar Anwar Syaiful,  Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1995, 2.
[19] Poerwakatja, Soegarda, Ensiklopedia Pendidikan, 386.
[20] Ahmad Rohani HM, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1991), 152.
[21] Al-Qur’an, 4 : An Nisa’, 165.
[22] Al-Qur’an, 2 : Al Baqarah, 151.
[23] syaamilquran.com/2012/09/page/2
[24] Al Qur’an, 4 (An-nisa), 113.
[25] Alawy Aly Imron Muhammad, 35 Metode Edukasi Rosulullah Dalam Mendidik & Mengajar, (Jakarta : Dliya Creative Production, 2009), 11-15.
 [26] Ibid, 17.
[27] Ibid, 35.
[28] Ibid, 67.
[29] Al Qur’an , 28 : al-qoshosh, 77.
[30] Al-Bukhari, 1987, I : 193
 [31] Asqalâni, Ahmad ibn Ali ibn Hajar Abu al-Fâdhil,  Fâthul Bâri Syarah Shahih al-Bukhâri (Beirut : Dâr al-Ma’rifah, 1379 H), 591-592
 [32] Hamd Ibrahim Muhammad,  Maal Muallimîn, terj. Ahmad Syaikhu, (Jakarta: Dârul Haq, 2002), 27.
 [33] Al Qur’an , 33 : al Ahzab, 21.
[34] al-Bukhari I, 226.
[35] Grendler, Bell E. Margaret, Belajar dan Membelajarkan, terj. Munandir, (Jakarta : Rajawali, 1991), 369.
[36] http://husein99.wordpress.com/, Halaqah Ad-Du’at Ad-Dakwah Al-Islamiyyah bilQolam (Haddagom)
[37] Al Qur’an, 16 (An-Nahl) : 67.
[38] Al Qur’an, 2 (Al Baqarah), 219.
[39] Al Qur’an, 4 (an-Nisaa’), 43.
[40] Al Qur’an, 5 (Al –Maidah), 90.
[41] Bukhâri, Abu Abdullah bin Muhammad Ismâil,  Al-Jâmi’ al-Shahĩh al-Mukhtasar, Juz 1, (Beirut: Dâr Ibnu Kaşir al-Yamâmah, t.t,), 234.
[42] Andalūsi, Imâm Ibn Abi Jamrah, Bahjât an-Nufūs wa Tahallihâ Bima’rifati mâ Lahâ wa mâ Alaihi (Syârah Mukhtasar Shahih al-Bukhâri) Jam’u an Nihâyah fi bad’i al-Khairi wa an-Nihâyah, (Beirut: Dârul Jiil, 1979), 97.

[43] Bukhâri, Abu Abdullah bin Muhammad Ismâil,  Al-Jâmi’ al-Shahĩh al-Mukhtasar, 38.
[44] Asqalâni, Ahmad ibn Ali ibn Hajar Abu al-Fâdhil, Fâthul Bâri Syarah Shahih al-Bukhâri, (Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H), 62.
[45] http://husein99.wordpress.com/, Halaqah Ad-Du’at Ad-Dakwah Al-Islamiyyah bilQolam (Haddagom)
[46] Ibid, 33.
[47] Muslim, I: 462-463
[48] Asqalâni, Ahmad ibn Ali ibn Hajar Abu al-Fâdhil, Fâthul Bâri Syarah Shahih al-Bukhâri, (Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H), 462.
[49] Muslim IV, t.t,  1997
[50] an-Nawawi XVI , t.t, 36
[51] Ibid, 45.
[52] Muhammad Shidiq Hasan Khan, Ensiklopedia Hadits Shahih, Jakarta : PT Mizan, tt, 25.
[53] http://husein99.wordpress.com/, Halaqah Ad-Du’at Ad-Dakwah Al-Islamiyyah bilQolam (Haddagom)
[54] Ibid, 34.
[55] Bukhâri, Abu Abdullah bin Muhammad Ismâil. Al-Jâmi’ al-Shahĩh al-Mukhtasar, Juz 1, 119
[56] Muslim, IV, 2146
[57] Muslim I, t.t, I, 381.
[58] Nawâwi, Abu Zakaria Yahya ibn Syaraf ibn Maria, Syarah an-Nawāwi ‘ala Shahih Muslim, (Beirut : Dâr al-Fikri, 1401 H), 20-21.
 [59] Muslim, IV: 3193
[60] Nawâwi, Abu Zakaria Yahya ibn Syaraf ibn Maria, Syarah an-Nawāwi ‘ala Shahih Muslim, 192-193
[61] As-Sijistani, t.t, II: 716
[62] al-Bukhari I, 129,
[63] al-Bukhari I, t.t,  49
[64] Sijistani, t.t, I, 183.
[65] al-Syalhub, Terj. Abu Haekal, 2005, 59-60