Minggu, 14 Juli 2013

FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME



FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME
oleh : Alfiatu Solikah

A.    LATAR BELAKANG
Masalah pendidikan, adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusiaMasalah pendidikan tidak dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah semata. Diantara masalah pendidikan adalah masalah filosofis, yang harus dipecahkan dengan menggunakan pendekatan filosofis. Analisa filsafat terhadap masalah pendidikan tersebut dengan berbagai cara pendekatannya akan dapat menghasilkan pandangan tertentu mengenai masalah-masalah pendidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori pendidikan.
Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan tersebut, secara lebih rinci dapat diuraikan :
1.      Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan  dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya, disamping menggunakan metode ilmiah lainnya.
2.      Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu memiliki relevansi dengan kehidupan nyata.
3.      Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik.[1]

Dalam dunia pendidikan, begitu kompleks permasalahan yang muncul dan harus dipecahkan dengan maksud agar tercapainya tujuan pendidikan. Karenanya, hal tersebut memunculkan timbulnya aliran-aliran dalam filsafat pendidikan, yakni :
1.      Aliran  idealisme
2.      Aliran realisme
3.      Aliran materialisme
4.      Aliran pragmatisme
5.      Aliran eksistensialisme
6.      Aliran esensialisme
7.      Aliran perenialisme
8.      Aliran rekonstruksionisme
Pada kesempatan ini akan kita bahas aliran filsafat pendidikan eksistensialisme.

B. FILSAFAT EKSISTENSIALISME
Filsafat eksistensialisme memfokuskan pembahasan pada pengalaman-pengalaman individu. Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Sedangkan eksistensi itu sendiri ialah cara manusia berada di dunia. Untuk lebih memberikan kejelasan tentang filsafat eksistensialisme ini, perlu kiranya dibedakan dengan filsafat eksistensi. Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi adalah benar-benar seperti arti katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.[2]
Sedangkan filsafat eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dalam dunia; ia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu dan salah satu di antaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Artinya bahwa manusia sebagai subyek. Subyek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya disebut obyek.[3]
Eksistensialisme  menjadi salah satu ciri pemikiran filsafat abad XX yang sangat mendambakan adanya otonomi dan  kebebasan manusia yang sangat besar untuk mengaktualisasikan dirinya. Dari perspektif eksistensialisme, pendidikan sejatinya adalah upaya pembebasan manusia dari belenggu-belenggu yang mengungkungnya sehingga terwujudlah eksistensi manusia ke arah yang lebih humanis dan beradab.
Keunikan filsafat eksistensialisme yaitu memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah individu. Dimana, eksistensialisme memberi individu suatu jalan berpikir mengenai kehidupan, apa maknanya bagi saya, apa yang benar untuk saya. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan konkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas.
Beberapa pemikiran eksistensialisme dapat menjadi landasan atau semacam bahan renungan bagi para pendidik agar proses pendidikan yang dilakukan semakin mengarah pada keautentikan  dan pembebasan manusia yang sesungguhnya. Untuk itu, marilah kita pelajari bagaimana pendapat para tokoh filsafat eksistensialisme :



1.        Soren Kierkegaard
Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan. Ide-ide pokok Soren Kierkegaard adalah sebagai berikut :
Ø  Tentang Manusia.
Kierkegaard menekankan posisi penting dalam diri seseorang yang "bereksistensi" bersama dengan analisisnya tentang segi-segi kesadaran religius seperti iman, pilihan, keputusasaan, dan ketakutan. Pandangan ini berpengaruh luas sesudah tahun 1918, terutama di Jerman. Ia mempengaruhi sejumlah ahli teologi protestan dan filosof-filosof eksistensial termasuk Barh, Heidegger, Jaspers, Marcel, dan Buber. Alur pemikiran Kierkegaard mengajukan persoalan pokok dalam hidup; apakah artinya menjadi seorang Kristiani ? Dengan tidak memperlihatkan "wujud" secara umum, ia memperhatikan eksistensi orang sebagai pribadi. Ia mengharapkan agar kita perlu memahami agama Kristen yang otentik. Ia berpendapat bahwa musuh bagi agama Kristiani ada dua, yaitu filsafat Hegel yang berpengaruh pada saat itu. Baginya, pemikiran abstrak, baik dalam bentuk filsafat Descartes atau Hegel akan menghilangkan personalitas manusia dan membawa kita kepada kedangkalan makna kehidupan. Dan yang kedua adalah konvensi, khususnya adat kebiasaan jemaat gereja yang tidak berpikir secara mendalam, tidak menghayati agamanya, yang akhirnya ia memiliki agama yang kosong dan tak mengerti apa artinya menjadi seorang kristiani.
Kierkegaard bertolak belakang dengan Hegel. Keberatan utama yang diajukannya adalah karena Hegel meremehkan eksistensi yang kongkrit, karena ia (Hegel) mengutamakan idea yang sifatnya umum. Menurut Kierkegaard manusia tidak pernah hidup sebagai sesuatu "aku umum", tetapi sebagai "aku individual" yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain.[4]  
·         Pandangan tentang Eksistensi
Kierkegaard mengawali pemikirannya bidang eksistensi dengan mengajukan pernyataan ini ; bagi manusia, yang terpenting dan utama adalah keadaan dirinya atau eksistensi dirinya. Eksistensi manusia bukanlah statis tetapi senantiasa menjadi, artinya manusia itu selalu bergerak dari kemungkinan kenyataan. Proses ini berubah, bila kini sebagai sesuatu yang mungkin, maka besok akan berubah menjadi kenyataan. Karena manusia itu memiliki kebebasan, maka gerak perkembangan ini semuanya berdasarkan pada manusia itu sendiri. Eksistensi manusia justru terjadi dalam kebebasannya. Kebebasan itu muncul dalam aneka perbuatan manusia. Baginya bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan bagi hidupnya. Konsekuensinya, jika kita tidak berani mengambil keputusan dan tidak berani berbuat, maka kita tidak bereksistensi dalam arti sebenarnya.[5] Kierkegaard membedakan tiga bentuk eksistensi, yaitu :
1)   Eksistensi estetis, menyangkut kesenian, keindahan. Manusia hidup dalam lingkungan dan masyarakat, karena itu fasilitas yang dimiliki dunia dapat dinikmati manusia sepuasnya. Di sini eksistensi estetis hanya bergelut terhadap hal-hal yang dapat mendatangkan kenikmatan pengalaman emosi dan nafsu. Eksistensi ini tidak mengenal ukuran norma, tidak adanya keyakinan akan iman yang menentukan.
2)   Eksistensi etis. Setelah manusia menikmati fasilitas dunia, maka ia juga memperhatikan dunia batinnya. Untuk keseimbangan hidup, manusia tidak hanya condong pada hal-hal yang konkrit saja tapi harus memperhatikan situasi batinnya yang sesuai dengan norma-norma umum. Sebagai contoh untuk menyalurkan dorongan seksual (estetis) dilakukan melalui jalur perkawinan (etis).
3)   Eksistensi religius. Bentuk ini tidak lagi membicarakan hal-hal konkrit, tetapi sudah menembus inti yang paling dalam dari manusia. Ia bergerak kepada yang absolut, yaitu Tuhan. Semua yang menyangkut Tuhan tidak masuk akal manusia. Perpindahan pemikiran logis manusia ke bentuk religius hanya dapat dijembatani lewat iman religius.[6]
Ø   Pandangan tentang Teodise
Menurut Kierkegaard, antara Tuhan dengan alam, antara pencipta dan makhluk terdapat jurang yang tidak terjembatani. Ia menjelaskan bahwa Tuhan itu berdiri di atas segala ukuran sosial dan etika. Sedangkan manusia jauh berada di bawah-Nya. Keadaan seperti ini menyebabkan manusia cemas akan eksistensinya. Tetapi dalam kecemasan ini, seseorang itu dapat menghayati makna hidupnya. Jika seseorang itu berada dalam kecemasan, maka akan membawa dirinya pada suatu keyakinan tertentu. Perilaku ini memperlihatkan suatu loncatan yang dahsyat di mana manusia memeluk hal yang tidak lagi masuk akal.[7]
Jadi inti masalah yang menjadi pemikiran  eksistensialisme menurut Kierkegaard adalah :
1)   Eksistensi adalah cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi, manusialah sebagai pusat perhatian, sehingga bersifat humanistis.
2)   Bereksistensi tidak statis tetapi dinamis, yang berarti menciptakan dirinya secara aktif, merencanakan, berbuat dan menjadi.
3)   Manusia dipandang selalu dalam proses menjadi belum selesai dan terbuka serta realistis. Namun demikian manusia terikat dengan dunia sekitarnya terutama sesama manusia.[8]
2.    Jean Paul Sartre
Menekankan pada kebebasan manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai kebebasan untuk menentukan dan mengatur dirinya. Konsep manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri.Ide-ide pokok Sartre adalah sebagai berikut :
Bagi Sartre, manusia itu memiliki kemerdekaan untuk membentuk dirinya, dengan kemauan dan tindakannya. Kehidupan manusia itu mungkin tidak mengandung arti dan bahkan mungkin tidak masuk akal. Tetapi yang jelas, manusia dapat hidup dengan aturan-aturan integritas, keluhuran budi, dan keberanian, dan dia dapat membentuk suatu masyarakat manusia. Menurutnya, manusia tidak memiliki apa-apa sejak ia lahir. Dan sepertinya, dari kodratnya manusia bebas dalam pilihan-pilihan atas tindakannya atau memikul beban tanggung jawab.[9]
Sartre mengikuti Nietzsche yakni mengingkari adanya Tuhan. Manusia tak ada hubungannya dengan kekuatan di luar dirinya. Ia mengambil kesimpulan lebih lanjut, yakni memandang manusia sebagai kurang memiliki watak yang semestinya. Ia harus membentuk pribadinya dan memilih kondisi yang sesuai dengan kehidupannya. Maka dari itu "tak ada watak manusia", oleh karena tak ada Tuhan yang memiliki konsepsi tentang manusia. Manusia hanya sekedar ada. Bukan karena ia itu sekedar apa yang ia konsepsikan setelah ada---seperti apa yang ia inginkan sesudah meloncat ke dalam eksistensi". Sartre mengingkari adanya bantuan dari luar diri manusia. Manusia harus bersandar pada sumber-sumbernya sendiri dan bertanggung jawab sepenuhnya bagi pilihan-pilihannya. Karena itu bagi Sartre, pandangan eksistensialis adalah suatu doktrin yang memungkinkan kehidupan manusia. Eksistensialime mengajarkan bahwa tiap kebenaran dan tiap tindakan mengandung keterlibatan lingkungan dan subyektifitas manusia.
3.        Friedrich Nietzsche
Menurutnya, manusia yang berkesistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri. pemikiran filsafat Nietzsche terarah pada upaya melahirkan ide yang bisa menjadi jalan keluar untuk menjawab pertanyaan filosofisnya, yaitu “bagaimana cara menjadi manusia unggul (ubbermench)”. Jawabannya adalah manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.
4.        Karl Jaspers
Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri. Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu eksistensi dan transendensi.
5.        Martin Haidegger
Menurut Martin Haidegger bahwa Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka.[10]
Bicara adalah asas yang eksistensial bagi kemungkinan untuk berbicara dan berkomunikasi bagi manusia. Secara apriori manusia telah memiliki daya untuk berbicara, sambil berbicara ia mengungkapkan diri, pengungkapannya adalah sebuah dalam rangka rencana yang telah diarahkan ke arah tertentu.
Terdapat dua aliran pemikiran eksistensialisme, yang satu bersifat theistic (bertuhan), yang lainnya  atheistic (tidak bertuhan). Kebanyakan dari pandangan-pandangan itu masuk kedalam aliran pemikiran pertama dengan menyebut diri mereka sendiri sebagai kaum Eksistensialisme Kristen dan menunjukkan bahwa manusia memiliki suatu kerinduan akan suatu wujud sempurna, Tuhan. Melalui kerinduan ini tidak membuktikan keberadaan Tuhan, orang-orang dapat secara bebas memilih untuk tinggal dalam kehidupan mereka seakan-akan ada Tuhan.
Eksistensialisme atheistic memiliki pemikiran bahwa  pendirian tersebut (theistik) merendahakan kondisi manusia. Dikatakan bahwa kita harus memiliki suatu fantasi agar dapat tinggal dalam kehidupan tanggungjawab moral. Pendirian semacam itu membebaskan manusia dari tanggung jawab untuk berhubungan dengan kebebasan pilihan sempurna yang dimiliki kita semua. Pendirian itu juga menyebabkan mereka menghindari fakta yang ”didapat itu terlepas”, “kita sendirian, dengan tidak ada maaf”, dan “kita terhukum agar bebas”.
Pendidikan adalah masalah khas manusia. Hanya makhluk manusia saja yang eksistensi kehidupannya mempunyai persoalan pendidikan. Lahir dalam keadaan labil adalah fakta kodrati diri manusia. Kodrat labil manusia itu berposes secara terus menerus. Sejak lahir, seorang manusia harus dirawat dan diasuh sampai bisa mandiri dan mencari kehidupan sendiri. Setelah dewasa dan berkeluarga, manusia harus merawat dan mengasuh anak keturunannya secara berbeda dengan perawatan dan sistem pengasuhan sebelumnya.
1.        Eksistensialisme Sebagai Filsafat Pendidikan Religius Theistik
Manusia lahir dalam keadaan labil dan kemudian terus menerus melakukan perubahan dan perkembangan sehingga berproses secara terus menerus adalah fakta kodrati diri manusia. Sementara di balik fakta itu manusia lahir dengan membawa potensi kodrat lainnya berupa tri potensi kejiwaan, yaitu cipta, rasa, dan karsa.[11] Dengan kedua potensi kodrati inilah manusia justru terdorong untuk harus selalu melakukan segala macam perubahan guna mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya. Untuk itu, manusia perlu mendidik dirinya. Pendidikan yang dilakukan oleh dan untuk dirinya sendiri dengan sasaran mengembangkan pengetahuan serta menyusun teori-teori keilmuan dan sistem teknologi dapat menjadi jalan untuk membuat perubahan menuju perkembangan hidup. Pada titik inilah manusia mewujudkan dirinya sebagai makhluk pendidikan.[12]
Secara eksistensial, dengan ketiga potensinya tersebut manusia menjadi berbeda dengan makhluk lainnya. Cipta adalah kemampuan spiritual yang secara khusus mempersoalkan nilai kebenaran. Rasa adalah kemampuan spiritual yang secara khusus mempersoalkan nilai keindahan. Sedang karsa adalah kemampuan spiritual yang secara khusus mempersoalkan nilai kebaikan.
Dengan ketiga potensinya itu, manusia selalu terdorong untuk ingin tahu dan bahkan mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan yang terkandung di dalam segala sesuatu yang ada (realitas). Ketiga jenis nilai itu dibingkai dalam satu ikatan sistem, selanjutnya dijadikan landasan dasar untuk mendirikan filsafat hidup, menentukan pedoman hidup, dan mengatur sikap dan perilaku hidup agar senantiasa terarah ke pencapaian tujuan hidup.
Eksistensialisme menempatkan asal mula kehidupan ini adalah Tuhan sebagai causa prima dan bertujuan untuk kembali kepada-Nya. Tetapi fakta menunjukkan bahwa perilaku negatif banyak dan selalu mewarnai kehidupan manusia sehari-hari. Padahal seharusnya tidak boleh ada kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku manusia sepanjang eksisetensinya. Melalui pendidikan, manusia berusaha mendidik dirinya dengan mencari keselarasan antara pengetahuan dengan perilakunya meskipun mungkin belum sepenuhnya berhasil. Sebab, dalam pandangan eksistensialisme terdapat hubungan erat menurut asas sebab akibat antara asal-mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan. Karena diyakini Tuhan sebagai asal-mula, kembali kepada Tuhan adalah mutlak sebagai tujuan kehidupan, dan tidak ada jenis, bentuk dan sifat perilaku apa pun kecuali perilaku ketuhanan yang dapat mengantar ke tujuan kehidupan.
Dalam konteks ini, Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pe-ngendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang di-perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. Sedang dalam Pasal 3 disebutkan pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta per-adaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, ber-tujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandi-ri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Meskipun pengertian tersebut dimaksudkan untuk pendidikan secara umum, namun jika dicermati tampak ada keidentikan dengan hakikat pendidikan Islam, setidaknya ada nuansa islaminya. Dikatakan, hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing partumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.[13] Apa yang menjadi tujuan fungsional pendidikan Islam adalah membidik esensi fitrah sebagai potensi dinamis dalam setiap diri manusia yang terletak pada keimanan atau keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlak (moralitas) dan pengamalannya.[14] Dengan begitu pendidikan di Indonesia, terutama Islam, dapat dipandang sebagai pendidikan religius dengan tidak mendikotomi antara yang profan dan yang sakral, antara dunia dan akhirat.
Terkait dengan corak pendidikan seperti di atas, eksistensialisme dapat dikatakan sebagai satu aliran filsafat yang menaruh perhatian terhadap aspek keagamaan sehingga dapat dikategorikan filsafat pendidikan religius theistik. Secara tidak langsung filsafat ini sebagai reaksi terhadap pendidikan bersifat perenialis. Jika pendidikan perenialis berusaha meletakkan dasar-dasar atau asas-asas pendidikan yang serba mutlak dan serba pasti dengan memberi tekanan pada esensi kehidupan agama,[15] maka eksistensialisme menempatkan eksistensi kehidupan agama lebih penting daripada esensi kehidupan agama. Kenyataannya dapat disaksikan selalu ada jarak antara yang esensi dengan yang intensial. Sejelek-jelek rumah lebih baik daripada tidak ada rumah, begitu pula sejelek-jelek beragama lebih baik daripada tidak beragama. Betapa pun kurang sempurnanya cara-cara beragama seorang individu, harus diterima sebagai lebih baik daripada tidak beragama.
Dalam konteks ini, Tuhan dan agama merupakan hal yang abstrak, dan oleh karenanya dapat menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam respons, baik dalam pemikiran maupun dalam wujud perilaku. Sebagai konsep, maka ketika menerima, merespons, memahami persoalan Tuhan dan agama, manusia memerlukan kerja kejiwaan yang sering disebut direct experience, pengalaman langsung yang merupakan tema sentral eksistensialisme berwujud bentuk-bentuk seperti: kematian, situasi batas kehidupan, dunia nasib, dan lain sebagainya. Saat berkutat dengan pengalaman langsung inilah manusia tidak bisa melepaskan diri dari keterlibatan unsur atau dimensi lain yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya sendiri yang bersifat psikhis, seperti: perasaan (feeling), emosi (emotion), dan sebagainya. Unsur subyektivisme masing-masing tidak dapat terhindari sehingga sangat terbuka bagi adanya pilihan (choise) terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yang beragam.
Gejala timbulnya jarak harapan dan kenyataan eksistensi ini tidak bisa ditimpakan kepada agama atau aliran agama, tetapi lebih banyak ditentukan oleh kenyataan psikologis dan sosiologis yang menentukan perkembangan individu dan masyarakatnya. Kenyataan psikologis memberikan gambaran bahwa tidak ada dua kembar pun yang identik, apalagi bila mereka hidup berkembang dalam kondisi sosiologis berbeda. Dengan begitu, kenyataan yang tidak menyenangkan dan di luar kemampuan kita, selalu terdapat selisih antara apa yang merupakan das sollen dengan das sein, antara yang esensial perennial dengan eksistensial fenomenologis, dalam setiap aspek segi kehidupan manusia, termasuk kehidupan agama mereka.[16]
Seseorang dikatakan pemeluk agama teguh atau individu yang beragama secara sempurna jika memenuhi kriteria jiwa roh keagamaan yang terdiri amal ibadah keagamaan, sikap terhadap lembaga keagamaan dan keyakinan atau iman terhadap Tuhan YME. Tetapi kenyataan yang tidak dapat dielakkan adalah tidak semua ketiga variabel kriteria itu dikembangkan atau berkembang secara sama kuat dalam setiap pribadi religius, sehingga yang eksistensial tidak selalu sejalan dengan yang esensial. Padahal eksistensialisme lebih menekankan eksistensi daripada esensi.
 Jika filsafat pendidikan esensial perennial berusaha merumuskan apa yang disebut dengan “ideal possibilities”, maka kaum eksistensialis selalu bertanya apakah yang esensial itu “bereksistensi” dalam diri setiap individu yang religius. Jika hanya salah satu atau dua kriteria saja yang berkembang, maka apakah individu itu dapat disebut seorang yang religius. Filsafat pendidikan eksistensialisme tetap menjawab positif terhadap hal itu, sedang kaum esensialis perennial menjawab negatif.  Apa artinya yang esensial jika tidak diamalkan atau tidak dalam eksistensi.
Karena bersifat religius theistik, maka eksistensialisme menggariskan pendidikan supaya tidak hanya consern pada pentingnya agama bagi penyiapan anak didik dalam upaya penyelesaian krisis-krisis yang dihadapi manusia ke depan serta mengakui pluralitas dan kekonkretan keberagamaan masing-masing tetapi juga lebih menekankan pada praktik dan implementasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
2.        Eksistensialisme Sebagai Filsafat Pendidikan Humanis
Filsafat pendidikan eksistensialisme merupakan filsafat yang humanis. Sebagai filsafat terapan asas-asas berpikir filsafat dalam menyelesaikan dasar pendidikan, salah satu tugasnya adalah mempersiapkan anak manusia untuk hidup dan sekaligus mati. Hidup dan mati, arti dan nilainya, sangat berbeda dan cepat sekali mengalami perubahan. Perubahan yang cepat ini merupakan akibat dari perkembangan yang cepat pula dari tenaga pengembang sosial manusia, seperti perkembangan pemikiran tentang demokrasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan revolusi industri. Sebagai akibat perkembangan itu adalah manusia diharapkan pada kenyataan-kenyataan timbulnya bermacam-macam kejutan dan peletusan dalam keempat aspek tenaga sosial tersebut. Di lain pihak, manusia dihadapkan pada kenyataan pilihan-pilihan kritis, seperti kemakmuran hidup dan kesejahteraan hidup, antara kepapaan dengan kekayaan, antara destruksi dengan rekonstruksi, atau tegasnya antara hidup dan mati.
Mata rantai perkembangan di atas dan akibatnya dialami manusia sebagai krisis hidup atau krisis kebudayaan, atau lebih sempit krisis sosial yang pada akhirnya menjadi krisis batin yang dalam.[17]  Beberapa cara telah dikembangkan manusia untuk menghadapi krisis hidup dan batin, konflik antara persiapan untuk hidup dan mati, antara lain seperti: skeptisisme, eklektisisme, konservatisme, regresivisme, progresivisme, gradualisme, rekonstruksionisme atau eksistensialisme humanis.
Eksistensialisme humanis menyuarakan nada optimisme. Aliran ini percaya manusia sebagai makhluk pengarah evolusi, manusia adalah pemilik kekuatan bersama, dan pada diri manusia terdapat kekuatan intelegensi. Walau begitu eksistensialisme humanis masih melihat kekurangan dan kelemahan kemampuan serta kekuasaan manusia, dan karena itu manusia harus selalu memohon bimbingan dan pengarahan kepada Tuhan dalam menyelesaikan problem misteri hidup dan mati.
Terhadap interpretasi fenomena krisis, eksistensialisme humanis memiliki analisis tersendiri berupa prognosa menyeluruh dan cermat terhadap hal itu. Krisis mengandung konotasi dislokasi di segala aspek kehidupan yang fundamental. Oleh karenanya aliran ini menganggap perlu diadakan reorientasi sistem nilai, mengganti yang telah usang dan meremajakan yang kurang sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam masalah agama, eksistensialisme humanis tetap menjunjung nilai dan amal iba-dah agama asal jangan sampai mengalami dislokasi beragama.
Radikalisme sebagai ciri yang lain berarti untuk menghindari agar perubahan yang maha cepat tidak salah arah dan menimbulkan efek samping sehingga menimbulkan krisis baru yang lebih parah dan dapat diserasikannya antara perubahan jangka panjang dan pendek. Untuk itu eksistensialisme humanis menekankan perlunya diadakan perencanaan sosial terarah dan efektif.
Mengenai metode pendidikan dan pengajaran, eksistensialisme humanis mendasarkan asas-asas filsafat metodologinya pada kepercayaan atas kebebasan manusia dan penghormatan atas martabat individu.[18]
Dalam sejarah metodologi pendidikan dan pengajaran umumnya dan pada moral karakter khususnya, dikenal tiga jenis tingkatan, yaitu: pengajaran (instruction) sebagai proses penyampaian informasi pengetahuan tentang sesuatu yang baik dan benar, apresiasi (appreciation) sebagai suatu proses pengembangan perasaan cinta pada nilai dan tingkah laku yang baik dan benar, pembentukan kebiasaan (habituation) sebagai pembentukan kebiasaan dalam berbuat baik dan benar. Tangga-tangga proses metodologi itu dalam batas-batas tertentu masih dapat dipertahankan selama dunia dan kehidupan manusia stabil dan bertahan, tetapi kurang memiliki arti penting bila diterapkan pada masyarakat dinamis yang diselingi dengan krisis-krisis sebagai dislokasi nilai dan tingkah laku yang cepat.
Pendapat yang sedikit berbeda menyatakan terdapat dua kategori kelompok metodologi pendidikan, yaitu: metode indoktrinasi dan metode problem solving eksperimental. Metode di atas dimasukkan ke dalam metode indoktrinasi, sedang eksistensialisme sebagai aliran humanis menerapkan dirinya pada kelompok metodologi problem solving.
Bagi aliran ini, pengertian proses pendidikan adalah suatu proses perubahan tingkah laku dalam rangka penyesuaian diri, adjustment in contingent or uncertain and precarious future, yang selalu dalam keadaan krisis dan dislokasi di segala segi kehidupan. Agar setiap individu siap dan cakap mengadakan penyesuaian, maka kepada mereka harus diberi kesempatan atau disediakan medan untuk dapat mengadakan eksplorasi dan eksperimentasi terhadap dunia dan masyarakat sekitarnya yang selalu dan cepat mengalamai perubahan, sehingga tidak mengalami krisis batin.
Pendapat eksistensialisme diperkuat dengan kenyataan dan kesadaran atas postulat satu-satunya jalan untuk belajar secara fair adalah bermain fair. Asas ini merupakan reaksi atau untuk peniadaan gejala dualisme dalam pendidikan dan pengajaran, antara pengajaran intelek dan pendidikan moral, antara pengertian konsep moral dan etika, antara alim dan salih. Atau postulat untuk mempelajari kebaikan-kebaikan abstrak tanpa harus menjadi baik dulu dalam urusan hidup. Diperdekat jarak antara manusia ahli dan terlatih. Kaum eksistensialis tidak mau terperangkap fallasisokratis, pengetahuan adalah kebaikan-kebaikan, pengertian sudah menjamin perbuatan.
3.        Eksistensialisme Sebagai Filsafat Pendidikan Scientific Humanis
Jika eksistensialisme sebagai filsafat sosial pendidikan disebut eksistensialisme humanis, maka dalam filsafat metodologi disamakan dengan scientific humanism (humanisme ilmiah) atau aliran progresivisme mazhab John Dewey.[19]
Atas dasar itu, Brameld mengajukan asas kreativitas sebagai satu syarat science of education yang baik, yaitu suatu kapasitas untuk menciptakan alternatif tingkah laku dan nilai norma yang sesuai dengan tuntutan situasi yang cepat berubah. Kreativitas sebagai kemampuan akan berkembang dengan baik dalam kondisi atau iklim kejujuran keotentikan pernyataan kebenaran, memberikan kesempatan untuk berimajinasi inovatif, dan pencerahan pengertian (insight). Kejujuran dan keotentikan pernyataan kebenaran sebagai sikap akan berkembang subur bila guru jujur pada dirinya, orang lain (murid) dan kepada kebenaran itu sendiri. Guru harus mendorong anak agar secara bebas mengatakan yang sebenarnya, mengekspresikan dengan caranya sendiri. Relasi sikap guru-murid demikian akan menunjang perkembangan kapasitas imajinasi inovatif sebagai kriteria kedua kreativitas. Untuk itu guru harus memberi-an ruang gerak bagi murid dalam belajar mengadakan deviasi, untuk menciptakan sesuatu yang sedikit berbeda dengan standar yang berlaku. Doronglah mereka untuk melakukan kegiatan ke arah tercapainya sifat dan sikap yang demikian.
Metode problem solving eksperimental dalam rangka pengembangan kreativitas yang demikian akan menunjang ke arah penemuan pencerahan atau pengertian (in-sight). Anak dapat melihat atau mengaitkan obyek yang tidak relevan (benda, peristiwa, pribadi, dan relasi) menjadi relevan terhadap situasi, mampu menjembatani jarak antara situasi seperti apa adanya dengan tujuan yang akan dicapai. Jarak dihubungkan dengan cara melihat situasi sebagai pola jaringan yang dapat disusun begitu rupa se-hingga dapat dicapai tujuan yang diantisipasikan. Insight berarti kemampuan membaca situasi dalam rangka penyelesaian problema.
Relasi guru-murid sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. Karena itu humanisme ilmiah atau eksistensialisme humanis menghendaki agar iklim sosial sekolah harus dibangun dan dikembangkan di atas asas-asas sebagai berikut :
1.         Kenyataan perubahan adalah kenyataan yang abadi dan tetap, sehingga harus dipandang sebagai yang menguntungkan dan bukan perbuatan dosa.
2.         Anak didik harus diperlakukan sebagai tujuan dan bukan hanya sebagai alat, kare-na itu kebebasan dan individualitas harus dihormati.
3.         Guru harus memiliki keberanian moral dalam menghadapi anak dalam mencari kebenaran dan kenyataan, karena guru bukan satu-satunya sumber kebenaran.
4.         Relasi guru-murid harus didasarkan atas saling menghormati dan saling percaya, cinta kasih dan pengorbanan.
5.         Guru harus menyadarkan anak jika pendidikan adalah persiapan hidup yang baik, dan selanjutnya hidup yang baik adalah persiapan maut yang tidak disangka dan diduga takdirnya, mengerikan, kesepian dan kejam bagi mereka yang tidak ber-Tuhan.[20]

D.      KONSEP DASAR FILSAFAT EKSISTENSIALISME
1.    Realitas
Realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, kita harus menggambarkan apa yang ada dalam diri kita, bukan yang ada diluar kondisi manusia. Bagi eksistensialisme, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada diluar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia.[21]
2.    Pengetahuan
Pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas dan tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk pada isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran. [22]
3.    Nilai
Pemahaman eksistensialisme pada nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan diantara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan menghasilkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya.

E.  IMPLIKASI ALIRAN FILSAFAT EKSISTENSIALISME DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan individulitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggungjawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan pendidikan, eksistensialisme berhubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan). Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Berikut impilkasi aliran filsafat eksistensialisme dalam dunia pendidikan.
1.  Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum.
2.  Kurikulum
Kaum eksistensialis menilai kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu akan makna dan muncul dalam suatu tingkatan kepekaan personal yang disebut Greene “Kebangkitan yang luas”. Kurikulum ideal adalah kurikulum yang memberi para siswa kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri. Menurut pandangan eksistensialisme, tidak ada satu mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang lainnya. Mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemui dirinya dan kesadaran akan dunianya. Mata pelajaran yang dapat memenuhi tuntutan diatas adalah mata pelajaran IPA, Sejarah, Sastra, Filsafat, dan Seni. Bagi beberapa anak, pelajaran yang dapat membantu untuk menemukan dirinya adalah IPA, namun bagi yang lainnya mungkin saja bisa Sejarah, Filsafat, Sastra, dan lain sebagainya.
Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar pada humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajar harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan.
3.  Proses Belajar Mengajar
Menurut Buber, kebanyakan pendidikan merupakan paksaaan. Anak dipaksa menyerah pada kemauan guru, atau pada pengetahuan yang tidak fleksibel, dimana guru menjadi penguasanya.
Selanjutnya, Buber mengemukakan, hendaknya guru jangan disamakan dengan seorang instruktur, karena ia hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara subjek mater dengan siswa. Kalau guru dianggap sebagai instruktur, ia akan turun martabatnya, hanya sekedar alat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, dan murid akan menjadi hasil dari transfer itu. Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan produk dari pengetahuan itu.
Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan guru dengan murid sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada murid, harus menjadi bagian dari pengalaman pribadinya, sehingga guru akan berjumpa dengan anak sebagai pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru, tidak lagi merupakan sesuatu yang diberikan kepada murid, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri.
Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relatif melalui pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti, guru tidak mengarahkan dan tidak memberi instruksi. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi ialah metode utama dalam pandangana eksistensialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Sekolah ialah suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.
Guru hendaknya memberi semangat kepada murid untuk memikirkan dirinya didalam suatu dialog. Guru menanyakan tentang ide-ide yang dimiliki murid, dan mengajukan ide-ide lain, dan membimbingnya untuk memilih alternatif. Maka siswa akan melihat, bahwa kebenaran tidak terjadi kepada manusia melainkan dipilih oleh mereka sendiri. Lebih dari itu, siswa harus menjadi actor dalam suatu drama belajar, bukan penonton.

F.   KESIMPULAN
Pembahasan eksistensialisme sebagai aliran filsafat pendidikan memberikan pemahaman bahwa eksistensi manusia di dunia ini berbeda-beda tetapi tujuan sama dan di hadapan Tuhan sama pula derajatnya. Perbedaan antara manusia yang satu dengan lainnya dalam cara dan tingkat eksistensinya di dunia, dalam hidup ini.
Cara bagaimana manusia bereksistensi di hadapan Tuhan dipersulit kenyataan bahwa hidup sosial manusia dan kebudayaan sangat cepat berubah sehingga menyebabkan krisis-krisis, baik krisis sosial kultural maupun individual batiniah, sehingga eksistensi manusia sangat ditentukan oleh bagaimana menyelesaikan krisis tersebut.
Eksistensialisme sebagai filsafat pendidikan keagamaan menempatkan eksistensi kehidupan agama lebih penting daripada esensi kehidupan agama karena dalam realita selalu terdapat jarak antara yang esensi dengan intensial. Pada sisi lain eksistensialisme juga merupakan filsafat yang humanis. Filsafat pendidikan eksistensialisme sebagai terapan asas-asas berpikir filsafat dalam menyelesaikan problema pokok pendidikan, salah satu tugasnya adalah mempersiapkan anak manusia untuk hidup dan sekaligus mati, karena manusia dihadapkan pada kenyataan pilihan-pilihan kritis seperti antara kepapaan hidup dan kesejahteraan hidup, antara miskin dan kaya, antara destruksi dan rekonstruksi, atau tegasnya antara hidup dan mati.
Di samping itu filsafat pendidikan eksistensialisme juga sebagai filsafat humanisme ilmiah yang mendasarkan asas-asas filsafat metodologinya pada kepercayaan atas kebebasan manusia dan penghormatan atas martabat individu. Eksistensialisme sebagai aliran humanis menerapkan dirinya pada kelompok metodologi problem solving, bukan metodologi indoktrinasi. Proses pendidikan berarti proses perubahan tingkah laku guna penyesuaian diri dalam kesatuan, ketidakpastian dan masa depan berbahaya, yang selalu dalam keadaan krisis dan dislokasi di segala bidang. Agar individu siap dan cakap mengadakan penyesuaian, mereka harus diberi kesempatan atau disediakan medan untuk dapat melakukan eksplorasi dan eksperimentasi terhadap dunia dan masyarakat sekitar yang selalu dan cepat mengalami perubahan sehing-ga tidak mengalami krisis batin.
Adapun implikasi filsafat eksistensialisme terhadap pendidikan adalah tujuan pendidikan harus didesain untuk memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan kepada siswa. Kurikulum yang diutamakan adalah kurikulum liberal akan tetapi diimbangi dengan  materi pendidiakan sosial, untuk mengajar respek (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua. Guru berperan melindungi dan memelihara kebebasan akademik, serta metode yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan.


[1] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), 16-17.
[2]  Fuad Hasan, Kita dan Kami , (Jakarta : Bulan Bintang, 1974), 80.
[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai James, (Bandung : PT. Remaja RosdaKarya, 1992), 192.

[4] Ibid., 195.
[5] M. Dagun, Filsafat Eksistensialisme, (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), 50-51.

[6] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta : Kanisius, 1980), 125.
[7] M. Dagun, Filsafat Eksistensialisme, (Jakarta : Rineka Cipta. 1990), 6.
[8] TIM Pengajar UNIMED, Filsafat Pendidikan, (2011), 7.
[9] M. Dagun, Filsafat Eksistensialisme,96
[10] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, 128.
[11] Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 78.
[12] Ibid., 79.

[13] Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 32.
[14]   Fadlil al-Jamaly, Nahwa Tarbiyyah Mukminah (Tunis : al-Syirkah al-Tunisyah li al-Tauzi’, 1977), 85.
[15]  Filsafat pendidikan perennialis adalah aliran yang berusaha memecahkan dan menjelaskan persoalan dewasa ini dengan terjun ke alam intelektual yang kesempurnaannya tidak terikat waktu. Aliran ini menghendaki agar pendidikan kembali kepada jiwa yang menguasai Abad Pertengahan, karena jiwa pada abad itu telah menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tata kehidupan yang telah ditentukan secara rasional. Abad Pertengahan dengan jiwanya itu telah dapat menemukan adanya prinsip-prinsip pertama yang mempunyai peranan sebagai dasar pegangan intelektual manusia dan yang dapat menjadi sarana untuk menemukan evidensi-evidensi diri sendiri. Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan; Sistem & Metode (Yogyakarta: Andi, 1997), 25.

[16] Ali Saifullah, Antara Filsafat dan Pendidikan, Pengantar Filsafat Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1403 H), 159.
[17] Theodore Brameld, Education as Power (New York: Fawcett Publication, 1965), 145.
[18] Ibid., 164.
[19] John S Brubacher, 175.

[20] Ali Saefullah, Antara Filsafat dan Pendidikan, 167.
[21] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta : Kanisius, 1980)
[22] Usiono, Pengantar Filsafat pendidikan, (Jakarta : Hijri Pustaka,2006), 137.