Pembangunan dalam Bahasa Agama

https://docs.google.com/presentation/d/1JbrQ9rdm0MXDLxZHDS37qcrWOFTNplYYhxaNaKM6DE8/edit?usp=sharing

Jumat, 05 Juli 2013

FAKTOR-FAKTOR KOGNITIF DALAM MOTIVASI



RESUME PSIKOLOGI PENDIDIKAN
KARANGAN JEANNE ELLIS ORMROD
FAKTOR-FAKTOR KOGNITIF DALAM MOTIVASI


Motivasi dalam proses pembelajaran sangat penting, karena akan berpengaruh pada sejauhmana hasil yang dicapai dalam pembelajaran. Sejauhmana motivasi yang dimiliki siswa sehubungan dengan minat, kepercayaan dan tujuan yang hendak dicapai. Sebagai seorang pendidik harus memperhatikan, hal-hal apa yang dapat membangkitkan dan meningkatkan motivasi anak.
Peranan motivasi sangat menentukan dalam meningkatkan kognisi siswa yang ditunjang dengan strategi yang tepat. Aspek-aspek kognitif dalam motivasi adalah minat, nilai-nilai dan tujuan.
1.    Minat
Minat merupakan bentuk motivasi instrinsik. Siswa akan mengejar suatu tugas yang menarik  minatnya akan mengalami efek positif yang signifikan. Siswa yang tertarik pada sebuah topik akan mencurahkan perhatian lebih banyak pada topik itu dan lebih terlibat secara kognitif. Hal ini menjadi lebih bermakna, terorganisir dan terperinci  jika dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya. Sesuatu yang membuat ketertarikan siswa akan diminati dan serius dalam mempelajari bahkan akan tertanam pada dirinya. Minat dibedakan jadi 2 :
a.    Minat Situasional
Minat situasional dipicu oleh lingkungan disekitarnya, yaitu hal-hal yang baru, tak terduga dan berbeda yang dapat menghasilkan minat situasional.
b.    Minat Pribadi
Minat pribadi bersumber dari dalam dan relatif stabil sepanjang waktu. Minat pribadi dan pengetahuan saling menguatkan akan meningkatkan semangat lebih yang akan menambah pengetahuan baru berupa motivasi afektif dan kognitif yang akan mengarah pada perbaikan perilaku. Minat pribadi lebih bermanfaat dari minat situasional. Minat situasional bisa muncul karena bibit dari minat pribadi. Meningkatkan Minat terhadap Topik Pembelajaran di Kelas. Hampir semua siswa belajar lebih banyak ketika dihadapkan pada topik yang menarik.
2.        Ekspektasi dan Nilai
Feather 1982, Wigield dan Eccles,2000 mengemukakan motivasi bisa berperan aktif tergantung pada 2 hal:
a.       Siswa harus memiliki harapan yang tinggi (ekspektasi) bahwa mereka akan sukses.
b.      Nilai, siswa harus yakin dalam mengerjakan tugas pasti ada manfaatnya baik langsung maupun tidak langsung.
b.    Menghayati Nilai-nilai Orang Lain
Semakin dewasa seseorang akan cenderung mengadopsi nilai-nilai yang ada disekitarnya. Fenomena ini dinamakan motivasi yang terinternalisasi/ motivasi yang dihayati.
Tiga hal yang mendorong perkembangan motivasi yang dihayati yaitu :
a)    Anak yang sedang tumbuh membutuhkan lingkungan yang hangat, responsif  dan supportif dari orang-orang terdekat mereka.
b)   Mereka membutuhkan otonomi tertentu.
c)    Mereka membutuhkan panduan dan struktur yang kuat.

Mengembangkan Ekspektasi dan Nilai di Kelas
Para ahli motivasi memberikan saran bagaimana mengembangkan nilai yang sejati dalam setiap mata pelajaran :
a.    Jelaskan bagaimana konsep-konsep dan prinsip-prinsip tertentu dapat  membantu siswa memahami dunia sekitar dengan baik.
b.    Hubungkan berbagai informasi dan ketrampilan dengan kepedulian saat ini dan tujuan jangka panjang.
c.    Tanamkan penggunaan kemampuan dasar dalam konteks tugas-tugas dunia nyata yang bermakna.
d.   Contohkan bagaimana cara menghargai aktivitas akademik.
e.    Jangan meminta siswa untuk terlibat dalam berbagai aktivitas yang kurang bermanfaat dalam jangka panjang.
3.        Tujuan
Menurut sasarannya tujuan itu ada tujuan jangka pendek ada tujuan jangka panjang. Secara umum jenis tujuan terbagi menjadi 4:
3.1.       Tujuan Prestasi
Tujuan yang ingin ditunjukkan siswa dalam berbagai bidang melalui motivasi prestasi. Tujuan prestasi terbagi menjadi 4, yaitu
a)         Tujuan penguasaan, yaitu suatu tujuan yang ingin memperoleh       tambahan pengetahuan dengan menguasai ketrampilan baru.
b)        Tujuan performa, yaitu suatu hasrat yang ingin menampilkan diri      sebagai orang yang kompeten dalam bermain dimata orang lain.
c)         Tujuan pendekatan performa, yaitu siswa ingin tampak bagus dan           mendapat penilaian positif dari orang lain.
d)        Tujuan penghindaran performa, yaitu menghindari penampilan           buruk dan berpenilaian negatif.

Pengaruh Tujuan Penguasaan dan Tujuan Performa.
Tujuan penguasaan merupakan situasi optimal. Siswa dengan tujuan penguasaan cenderung lebih aktif terlibat dalam suatu aktivitas, memusatkan perhatian dan menyimpan memorinya untuk tujuan jangka panjang. Mereka sadar belajar adalah keadaan yang harus tetap dipertahankan walaupun dalam keadaan yang sesulit apapun.
Tujuan performa, ada 2 yaitu bersifat positif dan negatif. Khusus untuk  yang negatif disebut juga tujuan penghindaran performa. Tujuan ini cenderung menjauhi tugas-tugas sulit yang suatu aktivitas.
Tujuan pendekatan perforna merupakan pendekatan campuran. Suatu saat akan berdampak positif, bila dikombinasikan dengan tujuan penguasaan. Bisa juga berdampak negatif bila tujuan pendekatan performa ini dilakukan tanpa upaya yang maksimal. Misalnya siswa yang ingin nilai bagus tanpa tujuan penguasaan hanya mencoba menyontek pada waktu ujian.

3.2.       Tujuan Penghindaran Kerja
Tujuan menghindari performa yang buruk sering dilakukan siswa. Namun pada kesempatan lain banyak siswa yang menghindari mengerjakan tugas bahkan enggan untuk berusaha secara maksimal.
Ada 2 tujuan penghindaran performa :
a) Siswa cenderung memiliki self efficacy yang rendah. Dengan      menghindari tugas, mereka dapat menyembunyikan kemampuan      yang rendah.
b) Mereka mungkin tidak mengetahui manfaat dari penguasaan      materi tersebut.
Membangkitkan motivasi untuk menumbuhkan performa menjadi tugas pendidik, mungkin dengan penguatan ekstrinsik dan strategi-strategi yang tepat yang dapat menggugah minat dan tujuan penguasaan.
3.3.  Tujuan Sosial
Berinteraksi dengan semua teman menjadi prioritas tertinggi, mereka dimungkinkan siswa mempunyai tujuan sosial. Tujuan sosial mereka bermacam-macam, ada yang bertujuan status, popularitas, ingin menjadi bagian dan sebagainya.
Tujuan-tujuan sosial siswa mempengaruhi perilaku dan performa akademik mereka dikelas.
1.         Jika ingin memperoleh perhatian dari guru, siswa berusaha mendapatkan nilai baik melalui tujuan performa
2.         Jika mencari hubungan akrab dengan temannya, mereka akan terlibat aktif dalam aktivitas Tertentu yang dapat mengembangkan tujuan penguasaan.
3.         Jika mereka ingin mengembangkan hubungan dengan teman-temannya, mereka akan meminta bantuan dari teman-temannya, kecuali dalam hal kemampuannya.
4.         Jika mereka ingin mendapat persetujuan dari teman yang berprestasi rendah, mereka akan mengerahkan usaha yang minim, mungkin untuk tujuan penghindaran kerja.
Sebagai guru harus membantu siswa dalam mencapai tujuan sosialnya terutama yang berorientasi akademik.
3.4.  Tujuan Karier
Semakin dewasa anak akan semakin stabil dalan menentukan tujuan kariernya. Dulu laki-laki selalu menetapkan kariernya lebih tinggi dari kaum perempuan. Namun kini telah banyak berubah. Bisa jadi wanita yang mempunyai cita-cita lebih tinggi dari laki-laki. Minimal sejajar.

Mengkordinasikan Berbagai Tujuan
Sebagian siswa mungkin memiliki tujuan yang bermacam-macam. Dalam sekali aktivitas mungkin bisa mencapai dua tujuan misalnya sosial sekaligus tujuan prestasi secara bersama-sama.
Cara mengkoordinir berbagai tujuan dengan mendahulukan tujuan yang lebih penting/ mendesak. Bila tidak dimungkinkan mencapai dua tujuan sekaligus, maka satu tujuan dulu harus didapatkan.
3.5.     Tujuan Inti
Tujuan inti adalah salah satu tujuan diantara banyak tujuan yang     menggerakkan sebagian besar hal yang mereka lakukan. Tujuan inti lebih bersifat jangka panjang. Oleh karena itu membutuhkan waktu dan perhatian yang lebih. Siswa tidak akan berusaha maksimal bila untuk tujuan penguasaan tidak diberikan tugas-tugas yang terlalu menantang, sekaligus sebagai pencapaian tujuan inti.

4.        Atribusi
Sejauhmana siswa membuat hubungan mental antara hal-hal yang mereka lakukan dengan hal-hal yang terjadi pada mereka, faktor apa saja yang mempengaruhi berbagai peristiwa dalam kehidupannya, mengenai hal-hal yang mendorong keberhasilannya juga kegagalannya. Itulah yang dimaksud atribusi.
       Atribusi siswa bervariasi dalam 3 hal:
·      Locus (Internal versus eksternal)
Siswa kadang mengatribusi/ menghubungkan peristiwa dengan hal-hal yang bersifat internal (faktor dari dalam dirinya sendiri).
·      Stabilits (stabil versus tidak stabil)
Siswa kadang percaya suatu peristiwa disebabkan oleh hal-hal yang stabil/ tidak bisa berubah.
·      Tingkat pengendalian (dapat dikendalikan versus tidak dapat dikendalikan)
Suatu saat siswa akan mengatribusi hal-hal yang bisa dikendalikan/bisa diubah.

Atribusi adalah contoh yang sangat bagus tentang proses kontruksi pengetahuan. Siswa menafsirkan peristiwa-peristiwa baru berdasarkan pengetahuan dan keyakinan yang ada tentang diri mereka dan dunia, kemudian mengembangkan apa yang menjadi penjelasan yang masuk akal terhadap apa yang telah terjadi.
Sebenarnya rendahnya bakat (atribusi intern), cara mengajar yang buruk (atribusi ekstern) pada faktor stabil yang tidak bisa dikendalikan bisa berubah menjadi bisa dikendalikan kalau dibantu oleh pendidik/tutor yang lebih memberi pemahaman dengan membangkitkan motivasi kognitifnya dan menunjukkan jalan kesuksesan, maka siswa akan mengatribusi performennya secara positif yaitu dengan usaha dan strategi yang lebih baik.

Bagaimana atribusi mempengaruhi afeksi, kognisi dan perilaku
Atribusi siswa mempengaruhi sejumlah faktor yang secara langsung maupun tidak, mempengaruhi performanya dimasa mendatang :
1.    Reaksi emosional terhadap kesuksesan & kegagalan. Siswa senang jika berhasil. Siswa akan bangga dan puas, jika dapat mengatribusi kesuksesannya dengan penyebab internal. Siswa cenderung bersyukur, jika mengaitkan kesuksesannya dengan tindakan orang lain (penyebab eksternal). Sebaliknya siswa sedih jika gagal yang disebabkan oleh dirinya dan akan memacu semangatnya untuk memperbaiki. Namun siswa yang merasa kegagalannya disebabkan oleh orang lain, dia akan marah dan emosi.
2.    Ekspektasi akan kesuksesan atau kegagalan di masa mendatang. Siswa yang optimis, mereka yang memiliki ekspektasi tertinggi untuk sukses di masa mendatang, yaitu siswa yang mengatribusikan kesuksesan mereka dengan faktor-faktor stabil yang dapat diandalkan, seperti kemampuan bawaan dan etos kerja yang abadi dan mengatribusi kegagalan mereka dengan factor yang stabil yakni kurangnya usaha atau strategi yang tidak tepat.
3.    Pilihan dimasa yang akan datang. Siswa yang percaya akan kesuksesannya dimasa mendatang, tidak akan menghindari aktivitas yang menunjang kesuksesannya.
4.    Usaha & ketekunan. Ketika siswa percaya bahwa penyebab kegagalan adalah kurangnya usaha, maka dia akan semakin tekun. Jika percaya bahwa penyebab kegagalan adalah faktor bawaan, maka dia mudah menyerah bahkan tidak dapat mengerjakan tugas yang sebelumnya pernah sukses dikerjakannya.
5.    Strategi belajar & performa di kelas. Siswa yang berharap sukses di kelas dan percaya bahwa kesuksesan akademik buah dari mereka sendiri lebih mungkin menerapkan strategi belajar yang efektif. Sebaliknya siswa yang meyakini kegagalan mereka di luar kendalinya, akan menolak strategi belajar efektif dan lebih memilih pada metode hafalan.

Tren perkembangan dalam atribusi
Saat tumbuh semakin dewasa, anak semakin mampu membedakan macam atribusi.


Tabel Trend Perkembangan Motivasi di Berbagai Jenjang
Kelas
Karakteristik Sesuai Usia
Strategi yang Disarankan

1-2

-      Perubahan minat yang cepat, dipicu oleh pengalaman, fantasi atau aktivitas yang menghibur.
-      Mengejar aktivitas yang menarik & menyenangkan tanpa menghiraukan ekspektasi akan kesuksesan
-      Kepercayaan bahwa usaha yang tinggi menandakan kemampuan yang tinggi
-      Kecenderungan mengatribusikan kesuksesan dengan kerja keras dan latihan, yang menghasilkan optimism tentang apa yang dapat dicapai
-      Libatkan minat siswa dalam topic penting melalui aktivitas yang aktif & nyata yang menyerupai permainan.
-      Ajaklah siswa membaca, menulis & mempelajari ketrampilan-ketrampilan dasar, melalui buku & materi pelajaran yang menarik.
-      Tunjukkan pada siswa bahwa mereka telah berkembang sepanjang waktu.
-      Tunjukkan bahwa latihan & usaha berperan terhadap perkembangan itu.
3-5

-    Muncul minat yang agak stabil
-    Meningkatkan focus pada tujuan performa
-    Pengakuan bahwa orang yang kemampuannya lebih rendah harus bekerja lebih keras, agar sukses
-    Meningkatnya kepercayaan tentang kemampuan bawaan yang signifikan
-    Meningkatnya kesadaran tentang jenis atribusi
-      Izinkan siswa untuk mengejar minat pribadi
-      Tunjukkan antusiasmu, komunikasikan banyak topic yang dipelajari untuk dirinya
-      Sediakan dukungan siswa untuk memperoleh kemahirannya
6-8

-    Meningkatnya minat sesuai jender
-    Ekspektasi yang tinggi akan kesuksesan
-    Penurunan nilai yang dirasakan dari banyak bidang
-    Meningkatnya interaksi dengan teman
-      Kembangkan minat siswa
-      Kaitkan pelajaran dengan tujuan jangka panjang siswa
-      Sediakan kesempatan berinteraksi social
-      Fokuskan perhatian untuk memperbaiki mereka
9-12

-    Meningkatnya integrasi minat & nilai dalam perasaan diri
-    Tujuan performa adalah l lazim
-    Meningkatnya tindakan menyontek adalah cara mencapai tujuan performa
-    Kurangnya strategi pengaturan diri untuk mencapai tujuan
-      Sediakan kegiatan ekstrakurikuler
-      Berilah ruang siswa untuk memperoleh nilai yang masuk akal
-      Meminimalkan u menyontek
-      Ajarkan strategi pengaturan diri.
Pandangan tentang intelgensi :
1.      Pandangan incremental : kepercayaan bahwa intelgensi dapat dibentuk melalui usaha dan latihan.
2.      Pandangan entitas : kepercayaan bahwa intelgensi adalah kemampuan yang khas yang relative permanen dan tidak dapat diubah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan atribusi :
1.       Kesuksesan dan kegagalan masa lalu. Siswa biasanya sukses, ketika memberikan usaha yang terbaik pada sebuah tugas. Siswa yang gagal mengatribusi kesuksesan berada diluar kendalinya.
2.       Isyarat situasional. Karakteristik  yang spesifik dalam situasi tertentu sering mempengaruhi atribusi siswa. Siswa mengatribusi bahwa kegagalan disebabkan kesulitan tugas, jika siswa yang lain juga gagal. Namun siswa akan mengatribusi kegagalan karena kurangnya kemampuan, jika yang lainnya sukses.
3.       Pesan dari orang lain. Orang tua, guru dan orang penting sering mengkomunikasikan kepercayaan mereka tentang kekuatan dan kelemahan siswa serta tafsiran mereka tentang kesuksesan dan kegagalan siswa.
4.       Manajemen citra (image management). Atribusi yang diekspresikan siswa tidak selalu mencerminkan kepercayaan yang sebenarnya tentang kesuksesan dan kegagalan mereka.

Orientasi Penguasaan  versus Ketidakberdayaan yang Dipelajari
Ø  Orientasi Penguasaan (optimis) : kepercayaan umum yang tertanam pada seseorang bahwa dia mampu menyelesaikan tugas yang menantang. (menetapkan tujuan yang ambisius, mencari situasi yang menantang, tetap tekun  dan bertahan dihadapan kegagalan).
Ø  Orientasi Ketidakberdayaan (pesimis) : kepercayaan umum yang tertanam pada seseorang bahwa dia tidak akan sukses. (menetapkan tujuan yang mudah dicapai, menghindari tantangan dan mudah menyerah). Menghadapi siswa seperti ini bersikaplah konsisten dan gigih dalam usaha untuk membantu mereka berhasil.

Ekspektasi dan Atribusi Guru
Guru biasanya menyimpulkan tentang siswa mereka relative awal di tahun ajaran, dengan membentuk opini awal tentang kekuatan, kelemahan dan potensi masing-masing siswa untuk mencapai kesuksesan akademik.
Guru sering meremehkan siswa yang : secara fisik tidak menarik, berperilaku tidak pantas di kelas, berbicara dalam dialek tidak standart, merupakan anggota kelompok minoritas, dari keluarga berpenghasilan rendah.
Banyak guru menganut paham entitas tentang intelgensi (performa siswa sering disebabkan oleh kemampuan yang relative stabil), hal ini membuat ekspektasi yang stabil, yang pada gilirannya mereka memperlakukan siswa secara berbeda. Misalnya :
1.        Ketika para guru memiliki ekspektasi yang tinggi bagi siswa, mereka menyajikan lebih banyak  materi pelajaran & topik yang sulit, lebih sering kali berinteraksi dengan siswa, menyediakan banyak kesempatan bagi siswa untuk merespon serta memberi umpan balik yang positif dan spesifik.
2.        Ketika guru memiliki ekspektasi yang rendah bagi siswa tertentu, mereka memberikan sedikit tugas sulit, mengajukan pertanyaan yang lebih mudah, menawarkan lebih sedikit kesempatan untuk berbicara, memberikan sedikit umpan balik

Bagaimana Ekspektasi & Atribusi Guru Mempengaruhi Prestasi Siswa
Ekspektasi dan atribusi guru mungkin memunculkan apa yang disebut self fulfilling prophery : apa yang guru ekspektasikan untuk dicapai siswa menjadi benar-benar dicapai siswa. Dalam sebuah penelitian Rosental & Jacobson, Mei 1964 :
1.        Kendati palsu, anak yang terpilih membuat prestasi lebih besar selama tahun ajaran, guru menilai anak-anak ini secara positif, hasilnya dramatis.
2.        Ekspektasi guru tidak selalu menghasilkan self fulfilling prophery. Guru mungkin memiliki ekspektasi yang rendah dengan menawarkan jenis instruksi dan bantuan yang dibutuhkan siswa untuk berkembang, dan siswa tersebut benar-benar berkembang.
3.        Adapula siswa yang mengembangkan sikap “Aku akan menunjukkan kepadamu” yang memacu mereka dalam meraih prestasi yang lebih besar dibandingkan yang diantisipasi gurunya.
4.        Adapula orang tua yang turut campur dan memberikan bukti bahwa anak mereka lebih mampu dibandingkan dengan apa yang diduga guru.
Secara khusus, berhati-hatilah untuk tidak membentuk ekspektasi yang tak berdasar bagi para siswa yang berada dimasa transisi dalam karir akademik mereka.

Membentuk Ekspektasi dan Atribusi yang Produktif bagi Performa Siswa.
1.        Ingatlah bahwa guru dapat membuat perbedaan : kita harus selalu mengevaluasi kembali ekspektasi dan atribusi kita bagi masing-masing siswa.
2.        Carilah kekuatan pada setiap siswa : Pertimbangkan berbagai kemungkinan penjelasan tentang prestasi yang rendah dan perilaku tidak pantas yang ditampilkan siswa : jika kita berfikiran terbuka tentang sumber masalah siswa, kita akan mampu mengatasinya.
3.        Komunikasikan atribusi yang optimis dan dapat dikendalikan : strategi terbaiknya adalah mengatribusikan kesuksesan dengan kemampuan yang relative stabil dan faktor yang bisa dikendalikan (sehingga menumbuhkan optimisme dan kesuksesan di masa depan). Sedangkan dalam mengatribusi kegagalan harus pada strategi belajar bukan kemampuan bawaan.
4.        Belajarlah lebih banyak mengenai latar belakang dan lingkungan rumah siswa : ketika guru memiliki gambaran yang jelas tentang aktivitas, perilaku, nilai dan keluarga mereka, kita jauh lebih mungkin memikirkan mereka sebagai individu yang membawa serangkaian kekuatan individual dan budaya yang unik ke kelas.
5.        Nilailah kemajuan siswa secara obyektif dan sering : guna membuat keputusan instruksional pengajaran.

Keberagaman dalam Aspek-aspek Kognitif Motivasi
1.        Perbedaan budaya dan etnis
-       Para siswa dari latar belakang kebudayaan yang beranekaragam, mendefinikan kesuksesan secara berbeda dan akibatnya mungkin menetapkan tujuan prestasi yang berbeda.
-       Latar belakang budaya dan etnis siswa juga mempengaruhi atribusi mereka.
2.        Perbedaan gender
-       Laki-laki dan perempuan cenderung menemukan nilai (value) yang lebih besar atau lebih kecil dalam berbagai bidang akademik, tergantung pada  apakah mereka memandang bidang-bidang ini secara stereotype sesuai bagi jender mereka.
-       Beberapa study penelitian mengidentifikasikan bahwa laki-laki cenderung mengatribusikan kesuksesan dengan kemampuan yang agak stabil dan kegagalan mereka dengan kurangnya usaha
3.        Perbedaan sosio ekonomi
-       Siswa dari keluarga berpenghasilan rendah akan berkembang baik, jika gurunya memiliki ekspektasi yang tinggi.
-       Tugas kelas yang bermakna dan relevan secara pribadi secara khusus penting untuk memotivasi siswa dari keluarga berpenghasilan rendah.
-       Komunikasikan bahwa kesuksesan akademik mensyaratkan kerja keras tidak hanya di sekolah menengah, melainkan juga di perguruan tinggi.



Mengadopsi Siswa-siswa Berkebutuhan Khusus
Tabel Siswa dalam Kondisi Inklusif
Mendorong Persepsi & Keyakinan yang Memotivasi
pada Siswa Berkebutuhan Pendidikan Khusus
Kategori
Karakteristik yang Mungkin Diamati
Strategi yang disarankan di Kelas
Siswa yang mengalami masalah kognitif atau akademik yang specifik
-        Kecenderungan mengatribusikan kesuksesan dengan penyebab eksternal (Keberuntungan)
-        Cenderung mudah menyerah
-       Ajarkan siswa strategi belajar yang efektif & doronglah siswa mengatribusikan kesuksesan dengan strategi tersebut
-       Doronglah siswa mengatribusi kegagalan dengan kurangnya usaha & strategi yang tidak efektif
Siswa yang mengalami masalah social atau perilaku
-        Mempersepsikan tugas di kelas, kurang relevan dengan kebutuhan & tujuan pribadi
-        Kecenderungan mengatribusi negative dengan factor yang tidak dapat dikendalikan
-       Kaitkan kurikulum dengan kebutuhan dan minat siswa
-       Tekankan hubungan sebab akibat, antara tindakan dan hasil
Siswa yang mengalami keterlambatan umum dalam fungsi kognitif & sosial
-        Kemampuan terbatas untuk mengkonseptualisasikan tujuan jangka panjang.
-        Kecenderungan mengatribusi prestasi yang buruk dengan kemampuan yang rendah
-       Tetapkan tujuan yang spesifik bagi performa
-       Bantulah siswa melihat hubungan antara tindakan siswa dengan konsekuensi yang dihasilkan
Siswa yang mengalami masalah fisik atau sensori
-        Adanya cita-cita karier yang tinggi
-        Bantulah siswa mengidentikasi jalur karier yang cocok dengan specific mereka
-        Perkenalkan siswa yang berprestasi di level yang tinggi meski memiliki kelamahan fisik
Siswa yang perkembangan Kognitifnya tinggi
-        Antusias menghadapi tantangan
-        Keterarahan pada tujuan diatas rata-rata
-        Atribusi internal & self confident akan prestasi di kelas
-        Sediakan waktu pemagangan
-        Doronglah siswa pada tujuan yang tinggi tanpa mengharap kesempurnaan

Banyak strategi meningkatkan motivasi siswa di dalam kelas yang dapat dirangkum dalam enam kata  : Task Autonomy Recognition Grouping Evaluation Time.
Tabel Enam Prinsip TARGET dalam Motivasi
Prinsip
Implikasi terhadap Pendidikan
Contoh
Tugas (Task) di kelas mempengaruhi motivasi
-       Sajikan topic baru mengenai hal yang menarik bagi siswa
-       Doronglah pembelajaran yang bermakna
-       Kaitkan dengan aktivitas dan tujuan siswa
-      Siswa diminta melakukan penelitian ilmiah
Jumlah Otonomi (Autonomy) yang dimiliki siswa mempengaruhi motivasi intrinsik
-       Berilah siswa pilihan tentang apa & bagaimana mereka belajar.
-       Ajarkan strategi pengaturan diri
-       Mintalah opini siswa tentang praktek & kebijakan di kelas
-       Mintalah siswa mengambil peran kepemimpinan dalam beberapa aktivitas
-      Biarkan siswa memiliki salah satu cara diantara banyak cara lain untuk mencapai suatu tujuan instruksional
Jumlah dan  Bentuk pengakuan (Recognition) yang diterima siswa mempengaruhi motivasi.
-       Akuilah tidak hanya kesuksesan akademik, tetapi juga pribadi dan social.
-       Pujilah siswa atas perkembangan dan penguasaannya
-       Sediakan penguat konkret bagi prestasi hanya ketika siswa kurang / tidak memiliki motivasi intrinsic ketika belajar.
-       Tunjukkan kepada siswa bagaimana usaha dan strategi mereka memainkan peran langsung terhadap kesuksesan mereka.
-      Pujilah siswa atas proyek layanan masyarakat yang sukses
Prosedur pengelompokkan (Grouping) di kelas mempengaruhi motivasi
-       Sering-seringlah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi
-       Rencanakan aktivitas dimana semua siswa dapat membuat kontribusi yang berharga
-       Ajarkan ketrampilan social untuk berinteraksi dengan temannya
-       Ciptakan suasana saling peduli, menghargai dan mendukung.
-      Mintalah siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengatasasi isu yang menantang, yang tidak ada pilihan yang benar
Bentuk evaluasi (Evaluation) di kelas mempengaruhi motivasi
-       Buatlah agar criteria evaluasi itu jelas, tentukan criteria itu sebelumnya.
-       Minimalkan / hilangkan persaingan untuk mengejar nilai
-       Berilah siswa
-      Berilah siswa criteria konkrit yang memandu mereka dalam mengevaluasi kualitas tulisan mereka sendiri
Bagaimana guru menjadwalkan waktu (Time) mempengaruhi motivasi
-       Berilah siswa cukup waktu untuk menguasai topic & ketrampilan yang penting
-       Biarkan minat siswa diakomodasi dalam aktivitas dalam jadwal mingguan
-       Masukkan variasi dalam aktivitas sekolah
-       Sediakan kesempatan pada hari sekolah untuk pembelajaran mandiri
-      Setelah menjelaskan konsep baru, berikan aktivitas yang nyata dan konkret yang memungkinkan  siswa melihat penerapan konsep tersebut secara nyata.