Sabtu, 18 Mei 2013

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR, VIDIO, FILM, TELEVISI DAN VCD DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR, VIDIO, FILM,
TELEVISI DAN VCD
DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Oleh : ALFIATU SOLIKAH
A.      Pendahuluan
Tantangan pendidikan masa kini semakin berat karena tuntutan masyarakat modern semakin kompleks. Pendidikan agama bukan hanya sekedar proses transfer of knowledge tapi juga transfer of value yaitu penyampaian nilai-nilai moral Islam, karena tujuan pendidikan agama Islam adalah menjadikan manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Hasil yang diharapkan dari sebuah pembelajaran meliputi tiga aspek yaitu aspek kognitif meliputi perubahan dalam segi penguasaan ilmu pengetahuan dan perkembangan ketrampilan yang diperlukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut, aspek afektif meliputi perubahan segi mental, perasaan dan kesadaran dan aspek psikomotorik meliputi perubahan dalam segi tindakan bentuk psikomotorik.[1]

Memasuki era perdagangan bebas, pendidikan harus mampu mengembangkan sumber daya manusia yang menunjang pembangunan Indonesia, sehingga bangsa Indonesia dapat bersaing dengan bangsa lain. Sumber daya manusia yang bermutu sedikitnya mempunyai tiga komponen yaitu kemampuan menguasai keahlian bidang ilmu teknologi, kemampuan bekerja secara profesional, kemampuan menghasilkan karya yang bermutu.[2]
Secara nasional, pemerintah sebenarnya telah merencanakan bahwa fokus pembangunan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan pendidikan sebagai kunci utamanya. Meski terbilang sulit untuk menentukan ukuran tepat dalam mengukur mutu pendidikan, tapi ada beberapa indicator yang dapat digunakan, yaitu (1) kualitas guru dan (2) alat bantu proses pendidikan.[3] Untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan maka seorang pendidik harus dapat mengelola pembelajaran dengan baik dalam berbagai aspeknya, antara lain dari segi pemilihan metode, media, pendekatan dan teknik mengajar. Seiring dengan berkembangnya arus teknologi dan komunikasi, maka perlu dilakukan inovasi pendidikan agar teknologi dapat dimanfaatkan dalam proses mencetak sumber daya manusia. Salah satunya penggunaan media pembelajaran yang relevan. Penggunaan media pembelajaran yang relevan, memungkinkan murid dapat berpikir konkret dan hal ini berarti mengurangi misunderstanding antara murid dan pendidik.
Ada beberapa faktor yang menghambat proses komunikasi, yaitu :
1.    Hambatan psikologis, yang meliputi minat, intelegensi, dan tingkat pengetahuan
2.    Hambatan fisik, seperti kelelahan, sakit dan cacat tubuh
3.    Hambatan kultural, seperti perbedaan adat istiadat, norma-norma social dan kepercayaan
4.    Hambatan lingkungan, seperti kelas bersebelahan dengan bandara.[4]

Setiap materi pelajaran memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi terdapat materi pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu dalam penyampaiannya, tapi di sisi lain terdapat materi pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu dalam penyampaiannya, berupa media pembelajaran.
Materi pelajaran dengan tingkat kesukaran yang tinggi sangat sulit dipahami oleh murid. Penjelasan guru yang bersifat verbal menyebabkan mereka semakin tidak mengerti akan materi pelajaran dan sering kali mengakibatkan kebosanan murid. Oleh karena itu dibutuhkan media pembelajaran yang dapat membantu murid agar lebih mudah mencerna materi pelajaran secara optimal.
Teknologi yang sedang berkembang sekarang ini, diharapkan juga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Alat bantu yang sering digunakan adalah visual, yaitu berupa gambar, model, obyek dan bentuk visual lainnya.
Dengan masuknya pengaruh audio pada pertengahan abad XX, maka alat visual dalam proses pembelajaran dilengkapi penggunaannya dengan alat audio yang kemudian dikenal sebagai media audio visual.[5] Penggunaan alat audio visual diharapkan mempermudah murid dalam mencerna pelajaran. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan dari Konfusius yang telah dimodifikasi oleh Melvin L. Silberman yang mengatakan bahwa : Yang saya dengar, saya lupa.Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.[6]
Menurut Yusuf Hadi Miarso seperti dikutip Raharjo mengungkapkan bahwa hambatan-hambatan komunikasi yang sering muncul biasanya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Verbalisme ;
2. Kekacauan penafsiran ;
3. Perhatian yang bercabang ;
4. Tidak ada tanggapan ;
5. Kurang perhatian ;
6. Keadaan fisik lingkungan yang mengganggu.[7]

Ada banyak media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Mulai dari media yang sederhana, konvensional dan murah harganya hingga media yang kompleks, rumit, modern dan harganya mahal.
Media yang merespon indera tertentu sampai yang dapat merespon perpaduan dari berbagai indera manusia. Dari yang bersifat manual dan konvensional dalam penggunaannya sampai media yang sangat tergantung pada perangkat keras dan kemahiran sumber daya manusia tertentu dalam penggunaannya. Allah telah menyeru kepada manusia agar mereka menggunakan telinga, mata dan hati untuk mencari pengetahuan karena ketiganya merupakan anugrah yang telah diberikan oleh Allah dan akan diminta pertanggung jawabannya, seperti dalam al-Qur’an :
Terjemah:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Q.S. Al- Isra’: 36)[8]

Penggunaan media dalam proses belajar mengajar mempunyai nilai-nilai praktis, yaitu:
1.      Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki murid ;
2.      Media dapat mengatasi ruang kelas ;
3.      Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara murid dengan lingkungan;
4.      Media menghasilkan keseragaman pengamatan;
5.      Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkret dan realistis;
6.      Media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru;
7.      Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang murid untuk belajar;
8.      Media dapat memberikan pengalaman yang integral dari sesuatu yang konkret sampai kepada yang abstrak.[9]

Hal lain yang juga mempengaruhi tercapainya tujuan pengajaran adalah minat murid. Banyak murid yang memiliki minat belajar rendah, hal ini dapat di identifikasi dari berbagai bentuk gejala tingkah laku muridselama pembelajaran. Dalam The Elementary Teacher and Guidance, John A.Barr seperti di kutip Abdul Wahib menyatakan bahwa ada beberapa factor penyebabnya, antara lain:
1.    Kelainan jasmaniah pada mata, telinga atau bagian tubuh lainnya yang sangat mempersukar anak dalam mengikuti pelajaran atau menjalankan tugas
2.    Pelajaran kurang merangsang, karena dirasa kurang memenuhi kebutuhan anak, maka anak merasa bosan
3.    Masalah kejiwaan
4.    Konflik pribadi dengan guru.[10]

B.       Gambar
1.      Hakekat & Pengertian Gambar
Menurut Oemar Hamalik bahwa “gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan atau pikiran”[11]. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “gambar adalah tiruan barang, binatang, tumbuhan dan sebagainya.”
Media gambar merupakan salah satu bentuk media ajar yang termasuk jenis media visual, yang diketahui memberi pengaruh paling besar terhadap siswa di antara jenis media lainnya.
Media gambar memiliki peranan penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa misalnya pada materi Tayamum. Hal ini mengacu pada pernyataan yang menyatakan bahwa :
” penglihatan (visual) memiliki komposisi paling besar (75%) dalam hal rata-rata jumlah informasi yang dapat diperoleh seseorang. Informasi yang diperoleh melalui penglihatan juga lebih mudah ditangkap dan diingat oleh memori seseorang. Media gambar apabila didukung oleh metode pembelajaran yang sesuai, juga dapat membawa siswa pada lingkungan belajar yang aktif dan menyenangkan.”[12]
Dalam pembelajaran PAI/Fiqih, sangat memungkinkan untuk menggunakan media gambar. Apalagi di dunia modern ini, dimana media gambar dapat dengan mudah dibuat atau ditemukan dengan bantuan komputer dan internet. Penerapannya pun sangat mudah, karena tidak memerlukan fasilitas dan sarana khusus, serta dapat diterapkan kepada hampir setiap kelompok peserta didik tanpa menilik usia atau latar belakang lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana guru memadukannya dengan materi dan metode yang sesuai.
Dari sini dapat kami simpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
2.      Kelebihan dan Kelemahan Media Gambar
Adapun kelebihan media gambar menurut Sadiman yaitu antara lain:

...sifatnya kongkrit dan lebih realitas dalam memunculkan pokok masalah, jika dibandingkan dengan bahasa verbal, dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita, memperjelas masalah bidang apa saja, dan harganya murah dan mudah didapat dan digunakan. Sedangkan kelemahan media gambar yaitu hanya menampilkan persepsi indera mata, ukurannya terbatas hanya dapat dilihat oleh sekelompok siswa, gambar diinterprestasikan secara personal dan subyektif, gambar disajikan dalam ukuran kecil, sehingga kurang efektif dalam pembelajaran.[13]
3.      Fungsi Gambar
Secara khusus gambar berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin cepat akan dilupakan atau diabaikan tidak digambarkan. Gambar termasuk media yang relatif mudah ditinjau dari segi biayanya.
Media gambar untuk membantu guru dan siswa dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, Secara umum fungsi media gambar menurut Basuki dan Farida yaitu:
a.       Mengembangkan kemampuan visual
b.      Mengembangkan imajinasi anak
c.       Membantu meningkatkan kemampuan anak terhadap hal-hal yang abstrak atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan di dalam kelas
d.      Meningkatkan kreativitas siswa[14]
Gambar sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik, dan jelas.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa jika penggunaan media gambar tersebut sesuai dengan materi yang disampaikan dan disertai dengan penjalasan – penjelasan yang sesuai dan tepat yang dapat menunjukkan keadaan yang digambarkan serta gambar dan penjelasan – penjelasan tersebut dapat disajikan secara terorganisir, jelas dan spesifik, sehingga dapat  digunakan sebagai alat komunikasi dalam elemen – elemen pengetahuan dalam sebuah pembelajaran, maka kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan. Seperti yang di kemukakan oleh Judy Lever-Duffy, Jean B. Mc Donald and Al P. Mizell yang menyatakan bahwa :
Every visual consists of number of elements presented in adeliberate arrangement. There are three primery categories of design elements: visual, text, and affective elements. Visual elements may include graphics, symbol, real object, or organizational visuals. Text elements include all aspects of textual presentation, ranging from the word choosen to the font style, colors, and size used. Affective elements are those components of visual that can elicit a response from the viewer, such as pleasure, surprise, or humor. Selecting and arranging these elements appropriately result in effective display. Folling the guidelines discussed here will assist you in creating clear and effective visual.
Secara khusus gambar berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin cepat akan dilupakan atau diabaikan jika tidak digambarkan. Maksud dari uraian diatas adalah bahwa dengan penggunaan, media gambar dapat menarik perhatian, jika perhatian siswa sudah tertarik, maka siswa semangat untuk belajar serta membantu memantapkan pengetahuan pada benak para siswa dan dapat menghidupkan pelajaran,sehingga dengan semangat belajar yang meningkat dan disertai penggunaan media gambar y ang tepat dan sesuai dengan materi dapat dijadikan sebagai  alat pengingat, maka hasil belajar siswa akan meningkat.
C.       Video
1.      Pengertian Video
Kamus Besar Bahasa Indonesia  mengartikan video dengan : 1) bagian yang memancarkan gambar pada pesawat televise ; 2) rekaman gambar hidup untuk ditayangkan pada pesawat televisi. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak ; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi.
Karenanya, banyak orang yang memahami video dalam dua pengertian : 1. sebagai rekaman gambar hidup yang ditayangkan (di sini video sama dengan film). Aplikasi umum dari video adalah televisi atau media proyektor lainnya; dan 2. sebagai teknologi, yaitu teknologi pemrosesan sinyal elektronik mewakilkan gambar bergerak. Di sini  istilah video juga digunakan sebagai singkatan dari videotape, dan juga perekam video dan pemutar video.

Video, dilihat sebagai media penyampai pesan, termasuk media audio-visual atau media pandang-dengar.[15] Media audio visual dapat dibagi menjadi dua jenis: pertama, dilengkapi fungsi peralatan suara dan gambar dalam satu unit, dinamakan media audio-visual murni ; dan kedua, media audio-visual tidak murni. Film bergerak (movie), televisi, dan video termasuk jenis yang pertama, sedangkan slide, opaque, OHP dan peralatan visual lainnya yang diberi suara termasuk jenis yang kedua.[16]

 

2.      Kelebihan dan Kekurangan Media Video

Ada banyak kelebihan video ketika digunakan sebagai media pembelajaran di antaranya menurut Smaldino dkk. video merupakan media yang cocok untuk pelbagai milliu pembelajaran, seperti kelas, kelompok kecil, bahkan satu murid seorang diri sekalipun.[17] Hal itu, tidak dapat dilepaskan dari kondisi para murid saat ini yang tumbuh berkembang dalam dekapan budaya televisi, di mana paling tidak setiap 30 menit menayangkan program yang berbeda. Dari itu, video dengan durasi yang hanya beberapa menit mampu memberikan keluwesan lebih bagi guru dan dapat mengarahkan pembelajaran secara langsung pada kebutuhan murid.

Selain kelebihan, video/film juga memiliki kekurangan, di antaranya :  sebagaimana media audio-visual yang lain, video juga terlalu menekankan pentingnya materi ketimbang proses pengembangan materi tersebut ; pemanfaatan media ini juga terkesan memakan biaya tidak murah, terutama bagi guru, maaf, dengan gaji pas-pasan di negeri ini ; dan penanyangannya juga terkait peralatan lainnya seperi videoplayer, layar bagi kelas besar beserta LCDnya, dan lain-lain. [18]

3.      Manfaat
Video juga bisa dimanfaatkan untuk hampir semua topik, dan setiap   ranah : kognitif, afektif, psikomotorik, dan interpersonal.
Pada ranah kognitif, murid bisa mengobservasi rekreasi dramatis dari kejadian sejarah masa lalu dan rekaman aktual dari peristiwa terkini, karena unsur warna, suara dan gerak di sini mampu membuat karakter berasa lebih hidup. Selain itu menonton video, setelah atau sebelum membaca, dapat memperkuat pemahaman murid terhadap materi ajar.
Pada ranah afektif, video dapat memperkuat murid dalam merasakan unsur emosi dan penyikapan dari pembelajaran yang efektif. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari potensi emosional impact yang dimiliki oleh video, di mana ia mampu secara langsung menarik sisi penyikapan personal dan sosial murid. Membuat mereka tertawa terbahak-bahak (atau hanya tersenyum) karena gembira, atau sebaliknya menangis berurai air mata karena sedih. Dan lebih dari itu, menggiring mereka pada penyikapan seperti menolak ketidakadilan, atau sebaliknya pemihakan kepada yang tertindas.
Pada ranah psikomotorik, video memiliki keunggulan dalam memperlihatkan bagaimana sesuatu bekerja. Misalnya dalam mendemonstrasikan bagaimana tatacara merawat jenazah, menyembelih binatang, dan lain-lain. Semua itu akan terasa lebih simpel, mendetail, dan bisa diulang-ulang. Video pembelajaran yang merekam kegiatan motorik murid juga memberikan kesempatan pada mereka untuk mengamati dan mengevaluasi kerja praktikum mereka, baik secara pribadi maupun feedback dari teman-temannya.
Sedangkan pada ranah meningkatkan kompetensi interpersonal, video memberikan kesempatan pada mereka untuk mendiskusikan apa yang telah mereka saksikan secara berjama’ah. Misalnya tentang resolusi konflik dan hubungan antar sesama, mereka bisa saling mengobservasi dan menganalisis sebelum menyaksikan tayangan video.

Lebih dari itu, manfaat dan karakteristik lain dari media video atau film dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran, di antaranya adalah :

·            Mengatasi jarak dan waktu

·            Mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalam waktu yang singkat

·            Dapat membawa murid berpetualang dari negara satu ke negara lainnya, dan dari masa yang satu ke masa yang lain.

·            Dapat diulang-ulang bila perlu untuk menambah kejelasan

·            Pesan yang disampaikannya cepat dan mudah diingat.

·            Megembangkan pikiran dan pendapat para murid

·            Mengembangkan imajinasi

·            Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan penjelasan yang lebih realistik

·            Mampu berperan sebagai media utama untuk mendokumentasikan realitas sosial yang akan dibedah di dalam kelas

·            Mampu berperan sebagai storyteller yang dapat memancing kreativitas murid dalam mengekspresikan gagasannya.


D.      FILM
1.      Pengertian Film
Film secara sederhana dapat didefinisikan sebagai cerita yang dituturkan kepada penonton melalui rangkaian gambar bergerak. Menurut Azhar Arsyad, film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup.
2.      Fungsi Film
Fungsi film dalam proses pembelajaran terkait dengan tiga hal, yaitu untuk tujuan kognitif, untuk tujuan psikomotor, dan untuk tujuan afektif.

Dalam hubungannya dengan tujuan kognitif, film dapat digunakan untuk :
Mengajarkan pengenalan kembali atau pembedaan stimulasi gerak yang relevan, seperti kecepatan obyek yang bergerak, dan sebagainya. Mengajarkan aturan dan prinsip. Film dapat juga menunjukkan deretan ungkapan verbal, seperti pada gambar diam dan media cetak. Misalnya untuk mengajarkan arti ikhlas, ketabahan, dan sebagainya. Memperlihatkan contoh model penampilan, terutama pada situasi yang menunjukkan interaksi manusia.

Dalam hubungannya dengan tujuan psikomotor, film digunakan untuk : memperlihatkan contoh keterampilan gerak. Media ini juga dapat memperlambat atau mempercepat gerak, mengajarkan cara menggunakan suatu alat, cara mengerjakan suatu perbuatan, dsn sebagainya. film juga dapat memberikan umpan balik tertunda kepada siswa secara visual untuk menunjukkan tingkat kemampuan mereka dalam mengerjakan keterampilan gerak, setelah beberapa waktu kemudian.

Dengan hubungannya dengan tujuan afektif, film dapat  : mempengaruhi emosi dan sikap seseorang, yakni dengan menggunakan berbagai cara dan efek. Ia merupakan alat yang cocok untuk memperagakan informasi afektif, baik melalui efek optis maupun melalui gambaran visual yang berkaitan.

3.      Kelebihan
Beberapa kelebihan film sebagai media dalam pendidikan yaitu :
Film sangat bagus untuk menjelaskan suatu proses. Misalnya proses kejadian manusia ; Film dapat menampilkan kembali masa lalu dan menyajikan kembali kejadian-kejadian sejarah yang lampau ; Film dapat mengatasi keterbatasan jarak dan waktu ; Film dapat memikat perhatian anak  ; Film lebih realistis, dapat diulang-ulang, dihentikan, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan ; Hal-hal yang abstrak menjadi jelas.



E.       Televisi
1.      Pengertian Televisi
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam putih) maupun berwarna. Kata televisi merupakan gabungan dari kata tele (jauh) dari bahasa Yunani dan visio (penglihatan) dari bahasa latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan. Televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Sistem ini menggunakan peratalan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektrik dan mengkonversinya kembali ke dalam cahaya yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar.[19]
Perkembangan dunia informasi dan hiburan saat ini telah berkembang pesat. Televisi salah satunya. Televisi merupakan salah satu media massa elektronik yang memberikan informasi dan hiburan secara audio dan visual. Sejak ditemukannya sejak abad sembilan belas, kini manusia dapat menikmati hanya dengan memencet tombol-tombol pada alat canggih tersebut.
Media pembelajaran berbasis audio visual adalah media penyaluran pesan dengan memanfaatkan indra pendengaran dan penglihatan. Secara umum media audio visual menurut teori kerucut pengalaman Edger Dale memiliki efektivitas yang tinggi dari pada media visual atau audio.[20] Televisi merupakan salah satu media audio visual. Dalam menikmati ataupun menggunakannya membutuhkan indra pengliharan dan pendengaran agar informasi atau hiburan yang diinginginkan diperoleh secara maksimal.
Televisi dapat dijadikan sarana pembelajaran yang efektif dan efisien. Keuntungan ini tersedia melalui berbagai tayangan yang disajikannya. Kita hanya tinggal memilah dan memilih tayangan atau saluran-saluran televisi mana yang cukup memadai sebagai sarana pembelajaran kita. Di sini televisi diletakkan pada kerangka positif, sebagai media pertukaran informasi, pemikiran, dan karya, sebagai media bahan kajian ilmiah, dokumentasi, dan lain sebagainya.[21]
Kita harus mengakui bahwa televisi memegang peranan yang begitu besar dalam perkembangan anak-anak. Sikap anak tehadap televisi, jumlah jam yang mereka habiskan untuk menonton televisi, jenis acara yang ditonton, serta alasan yang mendorong mereka untuk menonton televisi, semuanya sangat mempengaruhi perkembangan pada anak-anak. Meskipun begitu kita tidak bisa mengatakan bahwa televisi memegang peranan yang cukup dominan dalam hal ini karena masalah yang paling mendasar bukanlah jumlah jam yang dilewatkan si anak untuk menonton televisi, melainkan program-program yang ia tonton dan bagaimana peran orangtua serta guru memanfaatkan program-program ini untuk sedapat mungkin membantu kegiatan belajar mereka.[22]

Pendidikan masyarakat yang makin baik diharapkan menangkal masuknya unsur-unsur negative dari acara yang disajikan media televisi.[23] Karena tidak bisa dipungkiri keberadaan media televisi dalam beberapa dasawarsa terakhir ini semakin menarik perhatian masyarakat sehingga dari apa yang tersaji di dalamnya tentu saja membawa dampak positif sekaligus negative bagi penontonnya terutama anak-anak. Televisi juga merupakan salah satu media dalam pembelajaran pendidikan agama islam yang sangat efektif. Hal ini tidak terlepas dari kekuatan media televisi dalam mempengaruhi penontonnya terutama anak-anak dalam menanamkan nilai-nilai dan moral melalui program-program yang disiarkan di dalamnya.
2.      Penerapan Media Televisi Dalam Pendidikan Agama Islam
Penyiaran agama melalui televisi sudah dilakukan untuk pembinaan nilai-nilai keagamaan sejak media tersebut muncul di Indonesia pada tahun 1976.[24] Namun belum banyak yang diketahui mengenai hal-hal yang menyangkut dengan keadaan tersebut, baik aspek isi atau materi siaran maupun minat masyarakat untuk menonton siaran-siaran agama.
Seiring berjalannya waktu, banyak acara televisi yang menyuguhkan acara-acara yang dapat dijadikan sebagai media pendidikan agama Islam, baik dalam bentuk acara dakwah, film, hiburan, dan lain-lain. Beberapa acara tersebut diantaranya : Wisata hati bersama Yusuf Mansur “Merajut Silaturrahim” di ANTV
Acara ini bisa diajarkan untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada MA atau MTs. Standar kompetensi yang bisa diterapkan dengan acara tersebut adalah memahami arti penting silaturrahim. Sedangkan kompetensi dasar dan indicator yang hendak dicapai diantaranya adalah murid diharapkan dapat menyebutkan arti silaturrahim dalam Islam, dapat menjelaskan arti penting silaturrahim sesama umat dan dapat mengaplikasikan silaturrahim dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Kelebihan dan Kelemahan Televisi Sebagai Media Pendidikan
Sebagai media pembelajaran, televisi memiliki beberapa kelebihan dalam menyampaikan pesan dan juga mempunyai kelemahan. Di antara kelebihan media televisi adalah seperti berikut :
a)        Televisi dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio-visual termasuk gambar diam, film, objek, spesimen dan drama.
b)        Televisi bisa menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi murid.
c)        Televisi dapat membawa dunia nyata ke rumah dan ke kelas-kelas, seperti orang, tempat-tempat dan peristiwa, melalui penyiaran langsung atau rekaman.
d)       Televisi dapat memberikan kepada murid peluang untuk melihat dan mendengar diri sendiri.
e)        Televisi dapat menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh murid dengan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda-beda.
f)         Televisi dapat menyajikan visual dan suara yang amat sulit diperoleh pada dunia nyata; misalnya ekspresi wajah, dental operation, dan lain-lain.
g)        Televisi dapat menghemat waktu guru dan murid, misalnya dengan merekam siaran pelajaran yang disajikan dapat diputar ulang jika diperlukan tanpa harus melakukan proses itu kembali. Disamping itu, televisi merupakan cara yang ekonomis untuk menjangkau sejumlah besar murid pada lokasi yang berbeda-berbeda untuk penyajian yang bersamaan.[25]
Adapun kelemahan yang dimiliki media televisi adalah sebagai berikut:
a)        Televisi hanya mampu menyajikan komunikasi satu arah.
b)        Televisi pada saat disiarkan akan berjalan terus dan tidak ada kesempatan untuk memahami pesan-pesannya sesuai dengan kemampuan individual murid.
c)        Guru tidak memiliki kesempatan untuk merevisi film sebelum disiarkan.
d)       Layar pesawat televisi tidak mampu menjangkau kelas besar sehingga sulit bagi semua murid untuk melihat secara rinci gambar yang disiarkan.
e)        Kekhawatiran muncul bahwa murid tidak memiliki hubungan pribadi dengan guru, dan murid bisa jadi bersikap pasif selama penayangan.[26]

Kelebihan Televisi dari media massa lainnya ialah kemampuan menyajiakan berbagai kebutuhan manusia, baik hiburan, informasi, maupun pendidikan dengan sangat memuaskan. Penonton TV tak perlu bersusah-susah pergi kegedung bioskop atau gedung sandiwara karena pesawat TV menyajikan di rumahnya. Ia tak perlu pergi ke Amerika untuk menonton Mohammad Ali bertanding, atau pergi kesenanyan untuk menonton kebolehan Liem Swie King, sebab peristiwa- peristiwa seperti itu dapat dinikmati dirumah sambil berleha-leha.[27]

4.      Dampak Media Televisi Terhadap Murid
Kehadiran media TV dalam kehidupan modern ini sudah begitu memasyarakat, bahkan TV sudah menjadi kebutuhan tersendiri bagi setiap orang. Hampir setiap rumah tangga telah memiliki pesawat TV dan tidak jarang satu rumah tangga memiliki lebih dari satu pesawa TV. Televisi dapat menjadi guru bertombol, ditambah jika televisi dapat memberikan tampilan acara-acara yang bersifat  edukatif  Program televisi yang bersifat pendidikan, misalnya “si bolang” yang dapat meningkatkan pengetahuan umum, dan “jika aku menjadi” yang mengandung nilai-nilai sosial. Program tersebut dikemas dengan menarik walaupun nuansa pendidikannya tetap ada. Televisi merupakan sumber belajar yang sangat efektif untuk meningkatkan perilaku pembelajaran murid. Televisi juga dapat menyajikan kejadian yang aktual dengan kondisi yang nyata sehingga dapat memberikan informasi sesuai kejadian, seperti kejadian Aceh, Solo, Irak, dan lain-lain.
TV sebagai produk perkembangan teknologi yang lain, bagi masyarakat terutama dalam konteks pendidikan anak-anak di dalamnya memiliki sisi negatif dan sisi positif. Menurut Martin Leman sisi negatif dari TV bagi pendidikan anak yaitu :
a.       Ketidakmampuan sorang anak membedakan dunia yang dilihat di TV dengan apa yang sebenarnya.
b.      Anak menjadi pasif, tidak aktif, dan tidak kreatif.
c.       Anak cenderung lebih gemuk, bahkan bisa overweight karena mereka biasanya menonton TV sambil makan kudapan (cemilan), terus menerus tanpa terasa.
d.      Menyebabkan kecanduan dalam menonton TV menjadikan ana kuper (kurang pergaulan).
e.       Mengakibatkan menurunnya prestasi karena kurangnya waktu belajar gara-gara menonton televisi.
f.       Dengan adanya iklan-iklan TV yang bombastis menyebabkan tanpa sadar menanamkan nilai-nilai konsumerisme dan bahwa kebahagiaan keluarga yang diperoleh diukur dari kemampuan memiliki produk terbaru yang ditawarkan.
g.      Efek untuk orang tua yang malas menjadikan TV sebagai electronik baby sitter akhirnya berkurang kedekatan anak dan orang tua.[28]
b)      Sementara itu sisi positif dari TV pendidikan anak antara lain :
a.       Menambah kosakata (vocabulary) terutama kata-kata yang tidak terlalu sering digunakan sehari-hari.
b.      Anak dapat belajar tentang berbagai hal melalui program edukasi dari siaran televisi. (masih sedikit)
c.       Menambah wawasan dan minat.
d.      Mengenal berbagai aktifitas yang bisa dilakukannya.
e.       Mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
f.       Film pun ada yang bagus dan mendidik, mengajarkan hal baik, sikap baik , tentang nilai kemanusiaan, nilai keagamaan dsb.(masih sedikit).[29]

5.      Peranan Orang Tua dan Guru Dalam Mengatasi Dampak Negatif Acara Televisi
Setiap orangtua memiliki tanggungjawab untuk selalu mengawasi anaknya dan memperhatikan perkembangannya, oeh sebab itu hal-hal yang sekecil apapun harus bisa diantisipasi oleh setiap orang tua mengenai dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan oleh hal yang bersangkutan. Begitu juga mengenai hal televisi ini, yang sudah nyata dampak negatifnya, sudah sepatutnya setiap orang tua mempersiapkan senjata untuk mengantisipasinya.
Dari begitu banyak dampak yang diakibatkan oleh tontonan televisi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan oleh setiap orang tua, yaitu:
a.       Pilih acara yang sesuai dengan usia anak
Jangan biarkan anak-anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya, walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak (tidak ada unsur kekerasan, atau hal lainnya yang tidak sesuai dengan usia mereka).
b.      Dampingi anak memonton TV
Tujuannya adalah agar acara televisi yang mereka tonton selalu terkontrol dan orangtua bisa memperhatikan apakah acara tersebut masih layak atau tidak untuk di tonton.
c.       Letakan TV di ruang tengah, hindari menyediakan TV dikamar anak.
d.      Dengan meyimpan TV diruang tengah, akan mempermudah orang tua dalam mengontrol tontonan anak-anaknya, serta bisa mengantisipasi hal yang tidak orang tua inginkan, karena kecendrungan rasa ingin tahu anak-anak sangat tinggi.
e.       Tanyakan acara favorit mereka dan buntu memahami pantas tidaknya acara tersebut untuk mereka diskusikan setelah menonton, ajak mereka menilai karakter dalam acara tersebut secara bijaksana dan positif. Acara yang bisa dilakukan misalnya hiking, tamasya, siraturahim tempat sanak keluarg dan hal lainnya yang bisa membangun jiwa sosialnya.
f.       Perbanyak membaca buku, letakkan buku ditempat yang mudah dijangkau anak, ajak anak ke toko dan perpustakaan
g.      Ajak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi secara positif dengan orang lain.
h.      Perbanyak mendengarkan radio, memutar kaset atau mendengarkan musik sebagai mengganti menonton TV. [30]




F.        VCD
1.         Pengertian VCD
Gambar bergerak, yang disertai dengan unsur suara, dapat ditayangkan melalui video compact disk [VCD]. Sama seperti medium audio, program video compact disk [VCD] yang disiarkan [broadcasted] sering digunakan oleh lembaga pendidikan jarak jauh sebagai sarana penyampaian materi pembelajaran. video compact disk [VCD] mampu menayangkan pesan pembelajaran secara realistik video compact disk [VCD] memiliki beberapa features yang sangat bermanfaat untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Salah satu features tersebut adalah slow motion di mana gerakan objek atau peristiwa tertentu yang berlangsung sangat cepat dapat diperlambat agar mudah dipelajari oleh “pembelajar”. Slow motion, adalah kemampuan teknis untuk memperlambat proses atau peristiwa yang berlangsung cepat. video compact disk [VCD] dapat digunakan sebagai media untuk mempelajari objek dan mekanisme kerja dalam mata kuliah tertentu.
2.         Karakteristik VCD
Media video compact disk [VCD], sebagai media pembelajaran memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.       Gambar bergerak, yang disertai dengan unsur suara.
b.      Dapat digunakan untuk sekolah jarah jauh
c.       Memiliki perangkat slow motion untuk memperlambat proses atau peristiwa yang berlangsung.
3.         Kelebihan & Kelemahan VCD
Video compact disk [VCD], sebagai media pembelajaran juga tidak terlepas dari kelebihan dan kelemahannya.
a.       Kelebihan media video compact disk [VCD], sebagai berikut :
1)        Menyajikan objek belajar secara konkret atau pesan pembelajaran secara realistik, sehingga sangat baik untuk menambah pengalaman belajar.
2)        Sifatnya yang audio visual, sehingga memiliki daya tarik tersendiri dan dapat menjadi pemacu atau memotivasi murid untuk belajar
3)        Sangat baik untuk pencapaian tujuan belajar psikomotorik
4)        Dapat mengurangi kejenuhan belajar, terutama jika dikombinasikan dengan teknik mengajar secara cemah dan diskusi persoalan yang ditayangkan.
5)        Menambah daya tahan ingatan atau retensi tentang objek belajar yang dipelajari “pembelajar”.
6)        Portable dan mudah didistribusikan.
b.    Kelemahan Media video compact disk [VCD], adalah :
1)        Tergantung pada energi listrik, sehingga tidak dapat dihidupkan di segala tempat.
2)        Sifat komunikasi searah, sehingga tidak dapat memberi peluang untuk terjadinya umpan balik.
3)        Mudah tergoda untuk menayangkan kasset VCD yang bersifat hiburan, sehingga suasana belajar akan terganggu.
Untuk pembelajaran pendidikan agama Islam, media video compact disk [VCD] dapat digunakan untuk menayangkan materi pelajaran pendidikan agama Islam yang dikemas dengan baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi, dan metode. Contoh, dapat dikemas suatu program video compact disk [VCD] untuk materi pelajaran ibadah haji, merawat jenazah, materi pelajaran salat, materi pelajaran membaca al-Qur’an, dan sebagainya, sehingga “pembelajar” akan aktif melihat, mendengarkan, mengamati, menafsirkan dan “pembelajar” dapat mempraktekan apa yang telah disajikan lewat program video compact disk [VCD] tersebut.



G.      PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR, VIDIO, FILM, TELEVISI DAN VCD DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Dari uraian diatas, maka dapat buat table contoh penggunaan media dalam Pendidikan Agama Islam

MATERI
MEDIA
GAMBAR
VIDEO
FILM
TV
VCD
Syahadat


Sholat
Zakat
Wakaf
Puasa

Haji
Iman
Ilmu
Amal
Muamalah

Akhlak
BTQ
Merawat Jenazah
Doa
H.      PENUTUP
Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran PAI, karena karakteristik mata pelajaran PAI untuk membentuk perilaku dan keimanan. Oleh karena itu untuk mengembangkan media disarankan untuk mempertimbangkan : kebutuhan,  bukan kecanggihan media yang diutamakan dalam menetapkan media pembelajaran PAI, tetapi keefektifan media untuk belajar murid, bukan kemampuan guru menggunakan media tetapi ditekankan pada aktivitas belajar murid melalui media untuk kemudahan memahami informasi, perlu adanya peningkatan kompetensi guru PAI untuk pemahaman dan kemampuan memproduksi media pembelajaran.



[1] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 197.
[2]  Munawar Sholeh, Politik Pendidikan, (Jakarta: IPE, Grafindo Khasanah Ilmu, 2005),  44-45.
[3] Ibid, 91-92
[4] Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan  (Semarang : Rasail, 2005), 9
[5] Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Misaka Galiza, 2003), 104
[6] Melvin L. Silberman, Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif, terj. Raisul Muttaqien (Bandung: Nusa Media dan Nuansa, 2004), 15
[7] Chabib Toha dan Abdul Mu’ti, PBM PAI di sekolah Eksistensi dan Proses Belajar-Mengajar Pendidikan Agama Islam,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), 270-271.
[8] Al Qur’an : 17 (al Israa’), 36.
[9] Asnawir dan M.Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 13-14
[10] Chabib Toha dan Abdul Mu'ti, PBM PAI, 108-109
[11] Oemar Hamalik, Media Pendidikan (Bandung, Citra Aditya Bakti, 1994), 43.
[12] Udin S. Winata Putra, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : UT, 2005), 55.
[13] Arif Sadiman, Media Pendidikan (Jakarta : Raja, 1996), 35.
[14] Basuki dan Farida, Media Pembelajaran (Bandung : Rosda, 2001), 42.

[15]  Punaji Setyosari & Sihkabuden, Media Pembelajaran (Malang : Penerbit Elang Mas, 2005), 117.

[16] Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, Sebuah Pendekatan Baru, (Ciputat : Gaung Persada Press, 2008), 113.
[17] Sharon E. Smaldino, dkk Instructional Technology and Media for Learning (Ohio : Pearson Merrill Prentice Hall, 2008), 310.
[18] Munadi, Media Pembelajaran, 127.
[19] Sukiman, Pengembangan Media Pembelajaran, (PT Pustaka Insan madani, 2012), 191
[20] Ibid., 184
[21]Mediapembelajaran.blogspot/media-televisi-sebagai-sarana-pembelajaran.html, diunduh hari : Kamis, tanggal 16-05-2013/16:20)
[22]Arini Hidayati, Televisi dan Perkembangan Sosial Anak (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1998), 74.
[23]Adi Badjuri, Jurnalistik Televisi (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2010),  9.
[25] Azhar Arsyad, Media pembelajaran (Jakarta :  Raja Grafindo Persada, 2003), 51.
[26] Ibid., 52.
[27] Onong Uchjana Effendy, ILmu Komunikasi Teori dan Praktiek  (Bandung : CV. Remaja Karya, 1984), 90.
[29] Ibid.
[30] Ningsih, Pengaruh Televisi Terhadap Anak. (2009: Artikel)