Pembangunan dalam Bahasa Agama

https://docs.google.com/presentation/d/1JbrQ9rdm0MXDLxZHDS37qcrWOFTNplYYhxaNaKM6DE8/edit?usp=sharing

Rabu, 30 Januari 2013

Sejarah Madrasah Nizamiah di Bagdad



oleh : ALFIATU SOLIKAH


A.   
Pendahuluan

Dinasti Saljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Qiniq dalam masyarakat Turki Oquz. Ia mengabdikan diri kepada Raja Begu (daerah Turkaman) yang meliputi Laut Arab dan Laut Kaspia. Dinasti Saljuk memperoleh tampuk kekuasaan di lingkungan khalifah Abbasiyah setelah menumbangkan kekuasaan Dinasti Buwaihi dan kekuasaanya berlangsung kira-kira dua abad.

 Nizam Al-Mulk (465-485 H) adalah pembesar zaman Saljuq yang diangkat menjadi menteri oleh Malikusyah As-Saljuq pada pertengahan abad yang ke-5 Hijriyah. Menurut ahli sejarah, Nizam Al-Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikan madrasah dalam Islam, karena sebelum masa Nizam Al-Mulk pendidikan agama diberikan di masjid-masjid, bukan di gedung-gedung madrasah. Salah satu jenis lembaga pendidikan tinggi yang muncul pada akhir abad IV Hijriah adalah madrasah.
Madrasah Nizamiah merupakan madrasah termasyhur di dunia karena Madrasah Nizamiah adalah Madrasah yang pertama kali muncul dalam sejarah pendidikan Islam yang berbentuk lembaga pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang dikelola oleh Pemerintah. Diberi nama Nizamiah sesuai dengan nama pendirinya yakni Nizam Al-Mulk yang tidak hanya mendirikan satu madrasah Nizamiah yang ada di Bagdad saja, tetapi juga diberbagai daerah yang berada di bawah kekuasan Bani Saljuk yaitu di Balkh, Naisabur, Harat, Ashfahan, Basran, Marw, Mausul dan lain-lain. Memang diantara madrasah yang didirikan Nizam Al-Mulk yang paling terkenal adalah madrasah Nizamiah di bagdad.
Madrasah Nizamiah ini didirikan di dekat sungai Dijlah, ditengah-tengah pasar Salasah di Bagdad. Mulai dibangun 1065 M selesai tahun 1067 M. Madrasah ini tetap hidup sampai pertengahan abad ke-14, Miladi, yaitu ketika dikunjungi oleh Ibnu Batuthah. Jadi madrasah Nizamiah ini hidup selama 3 abad lamanya. Ahmad Syalabi berkeyakinan bahwa pasar Al-Chaffafin yang terdapat di Baghdad saat ini adalah tempat di mana Madrasah Nizamiyah dulunya berdiri.
Madrasah Nizamiah yang didirikan oleh Nizham al-Mulk bertujuan memperkuat pemerintahan Turki Saljuq dan untuk menyiarkan madzhab keagamaan pemerintahan. Sultan-sultan Turki bergolongan ahli sunnah, sedangkan pemerintah Buwaihi yang berkuasa sebelumnya adalah dari kaum Syiah. Maka Madrasah Nizamiah didirikan untuk menyokong Sultan dan menyiarkan mazhab ahli sunnah ke seluruh rakyat. Namun pada perkembangan selanjutnya pengaruh madrasah Nizamiah ini tidak hanya menguntungkan bagi kaum sunni saja tetapi juga berpengaruh positif terhadap perkembangan dunia islam pada umumnya dan dunia pendidikan pada khususnya.

B.
Motifasi & Tujuan didirikannya madrasah Nizamiah

Ada beberapa motifasi dan tujuan didirikannya madrasah Nizamiah oleh Nizam Al-Mulk di antaranya :

1.     
Motifasi Pendidikan


Pendidikan adalah aktivitas sosial yang harus ada ditengah-tengah masyarakat atau komunitas sosial. Masyarakat sebagai subyek sekaligus obyek kian hari, kian bertambah jumlahnya. Dengan bertambahnya anggota masyarakat, bertambah pula kebutuhan dan tuntutan yang harus dipenuhi. Pendidikan adalah bagian dari kehidupan manusia sekaligus tuntutan yang harus dipenuhi. Karena jumlah anggota masyarakat semakin banyak, maka kebutuhan pendidikan bukan lagi persoalan individual tapi juga persoalan massal. Bila sudah menjadi persoalan massal maka perlu dicarikan lembaga kependidikan yang memenuhi tuntutan dan kebutuhan massal, yakni madrasah sebagai institusi alternatif untuk mengatasi persoalan pendidikan.

2.
Konflik Antar Kelompok Keagamaan


Politik Nizham al-Mulk secara langsung berkaitan dengan kondisi politik pada masa itu. Pada abad ke 5 terjadi konflik antara kelompok-kelompok keagamaan dalam islam. Misalnya, Syiah, Mu’tazillah, Asy’ariyyah, Hanafiah, Hambaliah dan Syafi’iyah. Ketika khalifah Abbasiyah lemah, berdiri dinasti baru yaitu dinasti Buwaih yang beraliran Syi’ah Ismailiyah yang mendukung pemikiran rasional dan menganut paham teologi yang sama dengan Mu’tazillah. Pada masa ini pengajaran ilmu-ilmu filosofis dan ilmu pengetahuan yang dijauhi oleh masyarakat Sunni dihidupkan kembali. Banyak tokoh Mu’tazillah yang diberi posisi penting dalam pemerintahan. Menanggapi hal ini Dinasti Saljuk merasa bertanggung jawab untuk melancarkan propoganda melawan paham Syi’ah yang telah ditanamkan Bani Buwaih. Sebagai seorang wazir, Nizham al-Mulk harus memperhatikan suatu sistem administrasi negara yang sangat besar yang melibatkan teritori yang sangat luas, berisi penduduk dengan berbagai latar kebangsaan, budaya dan afiliasi keagamaan. Salah satu adalah membangun satu administrasi sentral yang kokoh dengan sistem kendali yang kuat dan berpengaruh.

3.
Motifasi Politik


Persoalan yang pertama kali timbul setelah wafatnya Rasulullah adalah persoalan politik. Dalam perkembangan selanjutnya dari persoalan politik kemudian berkembang menjadi persoalan teologi. Hal ini berarti bahwa masalah politik menjadi faktor pendorong perkembangan pemikiran dalam Islam. Faktor tersebut sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Berkaitan dengan hal di atas, diketahui bahwa pendirian madrasah Nizamiah tidak terlepas dari faktor politik. Pertama, menyebarkan pemikiran sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran syi’ah, kedua, menyediakan guru-guru sunni yang cakap untuk mengajarkan mazhab sunni dan menyebarkan ke tempat-tempat lain ; ketiga, membentuk kelompok-kelompok pekerja sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantornya, khususnya di bidang peradilan dan manajemen. Nizam Al-Mulk mendirikan madrasah-madrasah itu untuk memperkuat pemerintahan Turki Saljuk dan untuk menyiarkan mazhab keagamaan pemerintahan. Karena sultan-sultan Turki adalah dari golongan ahli sunnah, sedangkan pemerintahan Buwaihiyyah yang sebelumnya adalah kaum syi’ah,[1] oleh sebab itu Madrasah Nizamiah adalah untuk menyokong sultan dan menyiarkan mazhab ahli sunnah ke seluruh rakyat. Untuk memberantas mazhab-mazhab yang ditanamkan oleh golongan syi’ah kepada rakyat yang dianggap batil, maka Nizham al-Mulk berupaya semaksimal mungkin mendirikan madrasah Nizamiah untuk menanamkan mazhab ahli sunnah yang dianggap lebih benar karena kepercayaan yang berdasarkan pelajaran-pelajaran agama yang benar yang lebih memprioritaskan al-Qur’an dan sunnah. Penanaman kepercayaan, menarik perhatian pelajar atau mahasiswa dalam belajar, dan sikap sangat setia kepada khalifah dapat mengukuhkan mazhab ahlussunnah dan melemahkan pengaruh kedudukan syi’ah, karena perhatian ahlussunnah sangat besar terhadap ilmu fikih yang terdapat dalam empat mazhab fikih.

C.
Metodologi dan Kurikulum serta Materi yang di Berikan Madrasah Nizamiah

Pengajaran di Madrasah Nizamiah berjalan dengan cara para guru berdiri di depan kelas menyajikan materi-materi kuliah (ceramah/talqin), sementar para siswa duduk mendengarkan di meja-meja kecil yang disediakan. kemudian dilanjutkan dengan dialog atau diskusi (munaqasyah) antara guru dan para siswa mengenai materi yang disajikan.
Rencana pendidikan di Madrasah Nizamiah tidak ditemui dengan tegas, menurut Mahmud Yunus rencana pengajarannya adalah ilmu-ilmu syari’ah saja dan tidak  ada ilmu- ilmu hikmah (filsafat), ini terbukti sebagai berikut :

1.
Tidak seorang pun diantara ahli sejarah yang mengatakan bahwa di antara mata pelajarannya ada ilmu kedokteran, ilmu falak, dan ilmu-ilmu pasti, hanya mereka menyebutkan bahwa diantara mata pelajarannya ialah nahwu, ilmu kalam, dan fiqh.

2.
Guru-guru yang mengajar di Madrasah Nizamiah adalah ulama-ulama syariah, seperti as-Syarazi, al-Ghozali, al-Qazwani, Ibnul-Jauzi dan lain-lain. Dan tidak dikenal bahwa disana ada guru filsafat, sehingga madrasah tersebut merupakan madrasah syari’ah bukan madrasah filsafat.

3.
Pendiri madrasah itu Nizamiah bukanlah orang yang membela ilmu filsafat dan bukan pula orang- orang yang membantu pembebasan filsafat.

4.
Zaman berdirinya Madrasah Nizamiah bukanlah zaman filsafat melainkan zaman menindas filsafat serta orang-orang filosof.[2]


Dengan keterangan tersebut, dapat diketahui madrasah Nizamiah adalah fakultas agama dan fakultas syari’ah dan tiada memasukkan ilmu filsafat yang berdasarkan bebas berfikir. Rupanya di madrasah Nizamiah diajarkan ilmu Fiqh dalam 4 mazhab. Terbukti bahwa gurunya Ibnu Jauzi, salah seorang kepala mazhab Hambali, tetapi mazhab Syafi’i memiliki kedudukan istimewa, Syeh Al Wajih mula-mula bermazhab Hambali,kemudian berpindah ke mazhab Hanafi, sesudah itu ia ditetapkan jadi guru nahwu. Lalu ia berpindah lagi ke mazhab Syafi’i.
Dari keterangan lain disebutkan bahwa pelajaran di Madrasah Nizamiah mengutamakan  pada pelajaran Al-qur'an (membaca, menghafal, dan menulis), sastra arab, sejarah Nabi Muhammad saw dan berhitung, dengan menitikberatkan pada mazhab Syafi'i dan sistem teologi Asy'ariyah. Ilmu-ilmu hikmah baru berkembang di kancah madrasah Islam setelah Madrasah Nizamiyah. Ilmu- ilmu itu meliputi : ilmu pasti (matematika), kedokteran, filsafat, astronomi, ilmu alam dan kemasyarakatan.
Madrasah Nizamiah mempunyai tugas pokok tersendiri yaitu mengajarkan fikih  yang sejalan dengan satu atau lebih, dari mazhab ahlussunnah, dan juga menjadi tempat-tempat menarik pelajar untuk menggunakan waktu mereka sepenuhnya dalam belajar, karena hampir semua madrasah Nizhamiyah di Baghdad yang mencapai 30 buah semuanya melebihi keindahan istana. Melalui madrasah Nizhamiyah ini, penanaman ideologi sunni yang dilakukan Dinasti Saljuk berlangsung secara efektif, terutama untuk mempertahankan stabilitas pemerintahan dari bahaya pemberontakan yang kerap muncul atas nama aliran Islam tertentu yang berideologi berbeda dari Dinasti Saljuk.
Berdasarkan keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa madrasah Nizhamiyah tidak mengajarkan ilmu yang bersifat duniawi, tetapi lebih terfokus pada pelajaran ilmu agama terutama ilmu fikih. Mazhab fikih yang menonjol adalah fikih Syafi’i dan teologi Asy’ary keduanya secara aktif dipelajari dan dialami. Walaupun yang menonjol adalah mazhab Syafi’i, tetapi mazhab yang lain juga tetap dipelajari dengan adanya imam-imam khusus untuk masing- masing mazhab dan khalifah membentuk kadi yang ahli untuk masing- masing mazhab.
Bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan di Baghdad sebelum Nizamiah, yang mengajarkan seluruh ilmu  pengetahuan hingga ‘Abbasiyah muncul sebagai lembaga pendidikan yang ahli di berbagai macam sains dan teknologi, maka yang menjadi pertanyaan adalah mengapa di Madrasah Nizamiah tidak demikian?
Untuk menjawab hal ini dapat dikatakan bahwa mungkin ini suatu inovasi dari khalifah, karena di Madrasah Nizamiyah selain kepentingan politiknya yang menonjol juga tidak ditemukan dokumen yang konkrit mengenai hal ini. Rencana pengajaran atau kurikulum di Madrasah Nizamiah secara rinci menurut Mahmud Yunus adalah : al-Qur’an (membaca, menghafal dan menulis), sastra arab, sejarah Nabi, Fikih, Ushul Fikih dengan menitik-beratkan kepada mazhab Syafi’i dan system teologi Asy’ariyah.
Selanjutnya dapat dipahami bahwa materi pelajaran di Madrasah Nizamiah hanya mempelajari ilmu agama, tidak ada mengenai ilmu umum, seperti ilmu filsafat, ilmu mantik, dan ilmu keterampilan lainnya. Karena terlihat madrasah ini khusus didirikan untuk menyebarkan mazhab sunni atau kepentingan politik. Sebab dari latar belakang didirikannya Madrasah Nizamiah untuk pengaruh mu’tazilah dan syi’ah yang sangat kuat sebelumnya di lingkungan masyarakat pada masa itu.[3]
Hamid Hasan Bilgrami berbeda pendapat dengan Mahmud Yunus mengenai materi yang diberikan di Madrasah Nizamiah, dia menyatakan bahwa pelajaran yang diberikan di Madrasah Nizamiah juga mencakup ilmu bahasa tradisional, Fikih, kajian-kajian Islam, ilmu hisab, faraidh, ilmu bumi, sejarah sastra, kesehatan, biologi, agronomi, serta beberapa segi dari sejarah kealaman.[4] 
Menghadapi pendapat yang berbeda di atas, persepsi yang bisa diberikan adalah kemungkinan, yaitu:
1)   Mahmud Yunus tidak menemukan dokumen atau narasumber tentang kurikulum pendidikan yang diajarkan di Madrasah Nizhamiyah, seperti yang dikatakan Hamid Hasan di atas.
2)   Boleh jadi kurikulum di Madrasah Nizamiah yang dikemukakan oleh Mahmud Yunus mungkin sekitar Al-Ghazali, Al-Juwaini yang masih mengajar di sana (sekitar satu abad berdirinya), padahal lamanya madrasah Nizhamiyah tersebut tiga abad.
Guna terlaksananya rencana pengajaran (kurikulum) di Madrasah Nizamiah ini ditunjang dengan sarana dan prasarana yang lengkap, gedung-gedung yang megah, perpustakaan dengan jumlah buku yang lebih kurang 6000 jilid  yang merupakan buku-buku wakaf untuk sekolah itu (M. Athiyah al- Abrasy, 1970). Pendanaan juga dibantu sepenuhnya baik bagi guru maupun mahasiswa, mereka free yakni bebas dari biaya pendidikan dan disediakan asrama.
Sekedar untuk memperjelas pelaksanaan kurikulum di madrasah Nizamiah sangat terkait dengan harta wakaf dan penghasilannya yang diperoleh dari pengelolaan harta wakaf itu, sehingga Nizham al- Mulk menetapkan anggaran untuk madrasah Nizhamiyah sebesar 600 ribu dinar setiap tahunnya.[5] Madrasah ini juga diatur dengan sistem dan manajemen yang bagus sehingga menjadi salah satu madrasah yang termasyhur pada saat itu.










D.
Tokoh- tokoh dan Ide-ide Nizamiah

Selain berperan secara fisik terhadap perkembangan madrasah Nizhamiyyah, Nizham al-Mulk juga berperan dalam menetapkan guru-guru yang akan mengajar pada madrasah Nizhamiyyah, beliau menetapkan jabatan-jabatan penting seperti mudarris (staff pengajar yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pengajaran), wa’idh (yang memberikan ceramah-ceramah umum di madrasah), mutawalli al-kuttub (pustaka), muqri’ (yang membaca dan mengajarkan al-Qur’an) dan nahwi (ahli gramitical bahasa arab). Orang-orang yang dipilih oleh Nizham al-Mulk tersebut adalah mereka yang menganut mazhab Syafi’i, paling untuk tiga jabatan (mudarris, wa’idh, dan mutawalli al-kuttub) diharuskan bermazhab Syafi’i karena ketiga jabatan tersebut yang paling berhak dan punya otoritas penuh menentukan arah dan kebijakan madrasah itu, bahkan dalam banyak kasus seorang mudarris juga bisa berfungsi sebagai administrator atas nama pendirinya. Sebagai madrasah terbesar dizamannya, guru-guru yang mengajar pada madrasah Nizhamiyyah adalah tokoh-tokoh yang punya reputasi tinggi.
Guru- guru yang memberikan pelajaran di Madrasah Nizamiah antara lain yaitu :
1.    Abu Ishak al-Syirazi (w. 476 H = 1083 M)
2.    Abu Nashr al-Shabbagh (w.477 H = 1084 M)
3.    Abu Qosim al-‘Alawi (w. 482 H = 1089 M)
4.    Abu Abdullah al-Thabari (w. 495 H = 1101 M)
5.    Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H = 1111 M)
6.    Radhiyuddin alQazwaini (w. 575 H = 1179 M)
7.    Al- Faairuzzabadi (w. 817 H = 1414 M).[6]

Madrasah-madrasah Nizamiah itu dapat disamakan dengan perguruan tinggi di masa sekarang, mengingat gurunya  adalah ulama besar yang termasyhur salah satunya adalah Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali. Al- ghazali  terkenal dengan asas mengajarnya, yaitu :
1. Memperhatikan tingkat daya berpikir anak
2. Menerangkan pelajaran dengan jelas
3. Mengajarkan dari konkrit ke abstrak
4. Mengajarkan ilmu pengetahuan secara berangsur-angsur.[7]

Al-Ghazali juga memberikan pendapatnya tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh peserta didik, diantaranya :
1. Peserta didik harus memuliakan, menghormati dan bersikap rendah hati terhadap guru
2. Peserta didik harus merasa satu bangunan dengan peserta didik lainnya, dll.
      Ide-ide pendidikan yang dikemukan oleh al-Ghazali merupakan hal yang sangat berharga bagi dunia pendidikan, baik untuk kepentingan pendidik maupun peserta didik yang semuanya mempunyai dampak pada diri dan lingkungan. Tidak dapat dipungkiri pendapat al-Ghazali merupakan sumbangan yang besar dalam dunia pendidikan, ini terbukti bahwa ia menjadi rujukan bagi pendidik dan peserta didik tidak hanya didunia Islam tetapi juga diluar Islam dengan adanya renaissance di Eropa.

E.
Pengaruh Madrasah Nizamiah

Madrasah Nizamiah telah banyak memberikan pengaruh terhadap masyarakat, baik di bidang politik, ekonomi, maupun bidang sosial keagamaan.
Dalam batas ini madrasah merupakan kebijakan religio politik penguasa pemerintahan waktu itu, dimana Nizam al-Mulk sebagai pejabat pemerintah yang memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah. Yang mana dalam bidang ekonomi madrasah ini dimaksudkan untuk mempersiapkan pegawai pemerintah, khususnya dibidang hukum dan administrasi serta mengajarkan hukum syari’ah. Madrasah Nizamiah diterima oleh masyarakat karena sesuai dengan lingkungan dan keyakinannya dilihat dari segi sosial keagamaan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
  1. Ajaran yang diberikan di Madrasah Nizamiah adalah ajaran yang sesuai dengan ajaran yang dianut oleh sebagian besar masyarakat pada waktu itu yaitu Sunni.
  2. Madrasah Nizamiah diajar oleh para ulama terkemuka
  3. Madrasah ini memfokuskan pada pelajaran fiqh yang dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya dalam rangka hidup dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran dan keyakinan mereka.
Nizham Al-Mulk mendirikan gedung-gedung ilmiah untuk ahli fikih, membangun madrasah-madrasah untuk para ulama dan asrama untuk orang beribadah serta fakir miskin. Pelajar yang tinggal di asrama diberi belanja secukupnya dari uang Negara dengan jumlah yang tidak sedikit. Akibatnya Nizam al-Mulk mendapat teguran dari Malik Syah karena diadukan orang, bahwa uang yang dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran tersebut merupakan usaha Nizam al- Mulk untuk menaklukkan kota Qustantiah (Constantinopel). Tindakan Nizam al-Mulk ini akhirnya dapat diterima Malik Syah setelah dijelaskan alasan yang logis dan bahkan dapat menyadarkan khalifah. Begitu besarnya perhatian Nizam al-Mulk terhadap pendidikan dan pengajaran sebagaimana yang dinyatakan oleh Ahmad Syalabi : “Tidak satupun negeri yang didapatkan tidak mendirikan madrasah oleh Nizam al-Mulk, sehingga pulau terpencil di sudut dunia yang jarang didatangi manusia juga didirikan madrasah yang besar lagi bagus. Ditemukannya orang terkenal berpengetahuan luas dan mendalam disuruh mengajar dan memberi sekolah itu adalah wakaf, dilengkapi dengan perpustakaan.”[8]
Kehadiran Madrasah Nizamiah telah memberi pengaruh yang besar pada masyarakat baik bidang politik, ekonomi, maupun sosial keagamaan. Dalam bidang ekomomi, madrasah ini telah menghasilkan lulusan yang siap menjadi pegawai pemerintah dibidang hukum dan administrasi. Pada sosial keagamaan, madrasah yang memfokuskan pada ajaran fiqih, dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat umumnya.
Madrasah pada zaman Abbasiyah ini tampaknya ditangani langsung dan serius oleh pemerintah. Melalui lembaga madrasah muncullah kecintaan dan gairah pada intelektual Islam terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai ilmu agama dan sains yang mereka hasilkan.
Meskipun beberapa pendapat para ahli menolak bahwa madrasah Nizamiah bukanlah madrasah yang pertama didirikan, akan tetapi ia merupakan madrasah yang sangat populer di kalangan masyarakat Islam dan non Islam, hal ini disebabkan Nizamiah merupakan  sistem madrasah pertama khusus didirikan oleh negara dan Sunni. Pemerintah terlibat dalam menentukan tujuan-tujuan madrasah, kurikulum, dan memilih guru, serta pemerintah memberikan dana kepada madrasah. Selain itu, Nizamiah memiliki spirit ilmu pengetahuan yang tinggi, baik untuk tujuan politik maupun agama.
Latar belakang berdirinya Madrasah selain termotivasi oleh faktor agama dan ekonomi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, juga termotivasi oleh aspek politik. Seperti halnya, latar belakang lahirnya Madrasah Nizamiyah yang paling mendasar adalah adanya perseteruan antara kelompok Sunni, Dinasti Saljuk dengan kelompok Syi’ah, Dinasti Fatimiyah di Mesir. Dinasti Saljuk berkeyakinan bahwa idiologi harus dibalas dengan idiologi. Dari sinilah, maka Nizhamiyah merupakan senjata atau alat untuk menanamkan doktrin- doktrin Sunni sebagai perlawanan paham Syi’ah.
Menurut sejarah Islam, Nizam al-Mulk adalah orang yang mula- mula mendirikan madrasah. Sedangkan menurut Gibb dan Kramers yang dikutip oleh Drs. Hasbullah disebutkan, bahwa setelah madrasah Nizamiah ini didirikan madrasah terbesar oleh Shalahuddin al- Ayyubi.[9]
Namun demikian harus diakui bahwa pengaruh madrasah Nizamiah, ternyata melebihi pengaruh madrasah-madrasah sebelumnya. Ia merupakan fondasi sekaligus prototipe dari kelanjutan pendidikan Islam saat ini.[10] Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa pendirian universitas-universitas di Barat merupakan hasil inspirasi dari pengaruh madrasah Nizamiah.

F.
Kesimpulan

Nizamiah adalah sebuah lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah yang dikelola oleh pemerintah pada masa Bani Saljuk. Madrasah ini mempunyai corak yang berbeda dari lembaga pendidikan sebelumnya. Madrasah ini didirikan di kota Baghdad dan sekitarnya, yang didirikan oleh seorang Perdana Menteri yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan disamping faktor politik dan keagamaan. Perdana Menteri itu bernama Nizam al-Mulk dengan memakai sistem modern.
Madrasah Nizamiah mempunyai manajemen yang bagus, dikelola dengan baik dari segi pendanaan, gedung-gedung yang bagus dan dalam jumlah yang banyak. Guru-guru digaji selama masa jabatannya, perpustakaan yang lengkap, asrama dan untuk makan mahasiswanya, biaya gratis dan kurikulum ditetapkan oleh pemerintah Baghdad.
Materi yang diberikan di Madrasah Nizamiah adalah diarahkan untuk mengembangkan mazhab Sunni. Oleh karena itu materinya lebih berorientasi pada ilmu keagamaan melalui empat mazhab, tetapi yang menonjol adalah mazhab Syafi’i. para lulusannya dipersiapkan untuk duduk dipemerintahan Saljuk yang bermazhab Sunni.
Madrasah Nizamiah merupakan madrasah yang tertua yang pernah ada di dalam catatan sejarah Baghdad meskipun telah ada madrasah yang mendahuluinya, akan tetapi kurang tersohor dan kurang berpengaruh bagi masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan sekitarnya.
Tujuannya tak lain tak bukan adalah untuk menghilangkan pengaruh syi’ah yang pemikirannya berseberangan dengan pemikiran mereka. Mereka menganggap bahwa syi’ah terlalu ekstrim dan keluar dari apa yang didatangkan dari Rasul SAW. Selain itu, ada juga tujuan perpolitikan sang wazir (perdana menteri) dengan adanya madrasah Nizamiyah ini.
Demikianlah makalah ini penulis buat, penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan serta jauh dari kesempuranaan, untuk itu penulis mengharapkan wejangan kritik dan saran dari rekan mahasiswa dan dosen pembimbing sekaligus pengasuh mata kuliah ini.









[1]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1990), 172.

[2] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1992), 74- 75.

[3] Prof. Dr. Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2008), 162.

[4] Hamid Hasan Bilgrami, Konsep Universitas Islam judul asli: The Concept of Islamic University, penerj. Machnum Husein (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989), 48.

[5] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, 75.

[6] Ibid., 74


[8]Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 108.

[9] Drs. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999), 160.


[10] Mira Astuti, Lembaga- Lembaga Pendidikan Islam Era Awal, 121.